MANTAN KYAI NU BERCERITA

9 Aug

VJJ“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

“Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)

Beliau adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.

Keberanian beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu bukan berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.

Kyai Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada beliau.

Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat pada umumnya.

Seandainya para Kyai itu mau mengkaji kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat). Sehingga Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat sebagai pewaris para Nabi.

Namun sayang, dakwah yang disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata oleh para Kyai NU setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU. Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari kepengurusan keanggotaannya sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri, sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren. Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.

Walaupun beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.

Siapakah yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari’at Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.

Kyai Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh cobaan dan ujian.

Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul, namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau gandrungi.

Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.

Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:

“Untuk itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an, maulidan, haul dan selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”

(Dinukil dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku Putih Kyai NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)

catatan: Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.

-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan

 

Sumber: http://www.facebook.com/negara.tauhid/posts/3364891538413

 

 

Recent Posts :

21 Responses to “MANTAN KYAI NU BERCERITA”

  1. nugi 10 August 2013 at 15:18 #

    assalamu’alaikum wr. wb
    numpang baca.. jika menurut antum tahlilan adalah bid’ah karena mendoakan orang yg telah meninggal, berarti sholawat juga bid’ah karena sama2 mendoakan yang telah meninggal..

    • negaratauhid 19 September 2013 at 20:25 #

      Waalaikumussalam:
      – Tahlilan (selamatan kematian): adakah dalilnya?
      – Shalawat: Ada dalilnya.
      – Mendoakan org yg meninggal: Ada dalilnya juga.

      Jadi yg dibahas adalah yg tidak ada dalilnya.

      • NUGROHO TRI 20 September 2013 at 20:15 #

        waduh kang…. belum tau dalil tahlil ko da ngaku jadi kyai? itu jenengan da tau kalo mendoakan orang yg meninggal ada dalilnya, sebenarnya untuk tahlil tidak harus menunggu ada kematian dan tidak salah juga kalo dilaksanakan pada waktu tersebut..”alaa bi dzikrillahi tathma’innul quluub”

        Pada 19 September 2013 20.25, Abu Fahd Negara Tauhid menulis:

        > ** > negaratauhid commented: “Waalaikumussalam: – Tahlilan (selamatan > kematian): adakah dalilnya? – Shalawat: Ada dalilnya. – Mendoakan org yg > meninggal: Ada dalilnya juga. Jadi yg dibahas adalah yg tidak ada dalilnya.” >

      • negaratauhid 21 September 2013 at 19:32 #

        silahkan disebutkan dalil tahlilannya atau selamatan kematian….

      • NUGROHO TRI 22 September 2013 at 12:41 #

        sebelumnya saya tanya dulu ke panjenengan kang? dosa atau salahkah baca tahlil?

      • negaratauhid 24 September 2013 at 18:57 #

        Tahlil berbeda dengan Tahlilan. Perbedaannya antara Timur dan Barat. Bagi orang2 yang mengetahui.
        Membaca Tahlil (kalimat Laa ilaha illallah) sangat dianjurkan. Dalilnya banyak sekali.

      • NUGROHO TRI 24 September 2013 at 20:38 #

        wahaha ya jelas anak SD pun tau kalu tahlil itu bahasa arab, hailala, yuhaililu hailalatan dst. sedangkan tahlilan itu bahasa jawa. oh iya kemaren tanya dalil ini kitabnya silahkan di baca sendiri (Taudhihul adillah) jangan lupa sama nahwu shorofnya biar pemahamannya bagus

      • ahmad abdullah mustafa 6 October 2013 at 01:24 #

        Saya orang islam yang belum begitu mendalami tentang Tahayul, Bid’ah, Churofat. yang saya tau di dalam ajaran islam menyarankan ,kepada setiap pemeluk agama islam agar senantiasa mencari persamaan bukan perbedaan karena perbedaan dapat menyebabkan pertengkaran dan perpecahan. ketika sesama muslim bertengkar sementara orang yahudi tengah membangun kekuatan dengan orang nasrani, sangat ironis kan….., yang saya tahu dalam setiap misinya orang yahudi sangat senang jika bertemu , dengan orang muslim yang panatik karena dapat berpotensi perpecahan terhadap orang muslim lainnya, seperti negara2 islam yang saat ini sangat mudah untuk diadudombakan dan akhirnya menjelang kehancuran. Allah SWT adalah Tuhan saya dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan-Nya, sampai saat ini saya menjalankan sholat 5 waktu, menghadap kiblat, shalat berjamaah, membaca alqur’an, zakat, berpuasa, dan alhamdulilah sudah daftar Haji. walaupun kita masih punya perbedaan dalam cara beribadah tapi toh kita masih punya persamaan. saya sangat sedih mendengar dan melihat sesama muslim membicarakan perbedaan sementara orang yahudi dan nasrani sedang membangun kekuatan. semoga tulisan ini bisa bermanfaat….

      • negaratauhid 8 October 2013 at 14:03 #

        Para ulama sangat bersemangat menjelaskan penyimpangan yg ada di dalam islam, melebihi dari penyimpangan yg ada di luar islam. Maka karenanya, menjelaskan penyimpangan yg ada di dalam islam (seperti kesyirikan, bid’ah, dll) lebih utama daripada menjelaskan penyimpangannya nasrani dan yahudi. Karena orang2 awam atau jahil sekalipun sudah tahu penyimpangan yg ada di dalam nasrani dan yahudi, adapun penyimpangan yg ada di dalam islam sangat banyak sekali org2 islam yg tidak tahu, bahkan sekelas profesor, guru atau ustadz sekalipun byk yg tdk tahu. Wallahu a’lam.

      • NUGROHO TRI 8 October 2013 at 19:44 #

        kalo menurut saya perbedaan itu indah kang, ijtihad itu kan mengenai perbedaan? dan untuk menjadi mujtahid ato orang yang berijtihad itu saratnya berat dan seandainya salah pun masih mendapat pahala (ini juga da ada dalilnya). yang penting jangan sampai mengarah ke perpecahan silahkan beda tapi tetap mempunyai pegangan ato dasarnya. oh ya semoga menjadi haji mabrur kang

        Pada 8 Oktober 2013 14.03, Abu Fahd Negara Tauhid menulis:

        > ** > ahmad abdullah mustafa commented: “Saya orang islam yang belum begitu > mendalami tentang Tahayul, Bidah, Churofat. yang saya tau di dalam ajaran > islam menyarankan ,kepada setiap pemeluk agama islam agar senantiasa > mencari persamaan” >

      • negaratauhid 9 October 2013 at 16:01 #

        Tidaklah disebut ijtihad terhadap perkara2 yang menyelisihi sunnah.

      • NUGROHO TRI 9 October 2013 at 23:02 #

        lho sampean itu gimana… kalo sudah ada sunnah ya ngapain ijtihad lagi??? ijtihad itu jelas karena belum ditemukan dalil dari quran dan hadis (sunnah nabi). capek deeeeechhhh

        Pada tanggal 09/10/13, Abu Fahd Negara Tauhid

      • negaratauhid 14 October 2013 at 16:05 #

        Harap baik2 baca komentar ana. Ana tidak ada mengatakan bhw ijtihad itu utk perkara yg ada sunnahnya.
        Banyak perkara2 yg belum ditemukan dalil, namun perkara tsb adalah menyelisihi dalil atau sunnah. Sebagai contoh: Perayaan Maulid Nabi. Maka tidak bisa dikatakan bhw itu adalah hasil ijtihad krn perkara tsb menyelisihi sunnah.

      • NUGROHO TRI 17 October 2013 at 18:05 #

        owala kang… kang… coba baca sejarah… – awal maulid nabi adalah karya dari Sholahuddin al-ayyubi untuk membangiktkan tentara atau pejuang muslim pada perang salib, dan terbukti keberhasilannya beliau tidak terkalahkan bahkan raja inggris pun sungkan terhadap beliau.dan namanya harum sampai sekarang, kalau ente masih belum tidak menerima toh ilmu bukan dipake untuk debat, biarkan pembaca yang budiman yang menilai. – kalo ente juga masih memperdebatkan itu, bahwa maulid nabi itu menyelisihi sunnah, tidak masalah bagi saya, kan ente secara tidak langsung juga melakukan hal yang sama?. gak percaya? nich contoohnya… ente melakukan browsing internet yang jelas pada waktu nabi itu tidak ADA! weleh weleh weleh…….

        Pada tanggal 14/10/13, Abu Fahd Negara Tauhid

      • negaratauhid 17 October 2013 at 20:12 #

        1. Sebutkan referensi shahih yg menyatakan bahwa Shalahuddin al Ayyubi merayakan Maulid Nabi.

        2. Shalahuddin tidak ma’shum, beliau bisa benar dan bisa salah. Adapun yg dianjurkan kita utk dijadikan teladan adalah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ada Ratusan ribu shahabat Nabi yg tidak merayakan Maulid, kenapa mereka tidak diikuti? Yg diikuti malah 1 orang yg lahir jauh setelah mereka wafat.

  2. Fendi haris 4 September 2013 at 17:36 #

    selama itu sangat baik untuk kita cerna dan kita mengambil berbagai nasihatnya maka kita akan termasuk orang-orang yang beruntung,,

  3. aroklawe 14 September 2013 at 22:06 #

    saya tidak pernah mengenal anda di kediri sebagai kyai dan saya baru mengenal anda sebagai kyai di tulisan anda ini…smg Allah mengampuni kekhilafan anda

  4. dzikra radja 11 October 2013 at 15:27 #

    di desa saya orangnya udah brubah smua trimaksh telah menyadarkan saya…..tentang bidah dan kesyirikan tapi pak …dulu setiap ada kematian tahlilan 7 hari.sekarang karena takut syirik eh malah pada maen kartu pak lumayan pinggiranya bisa bantu yg kena musibah.. ketika jagong bayi pun sama….lumayan pa gak perlu sodakoh makanan….. tapi dapt uang bisa beli popok he he trus kalo sekrng mlm jumat yasinan juga di tiadakan pak sekarang di ganti karoke bersama…..he klo hbis sholat gak ada yg zikir lagi ngbuang waktu mendingan untuk ngrumpi lumayan bisa gosip…. trim ksh bpk telah mberikan perubhan kepada kami…

    • negaratauhid 14 October 2013 at 16:00 #

      Itu masih lebih baik daripada org yg tahlilan tapi juga main kartu, org yg yasinan tiap malam jumat tapi juga karaoke tiap malam, org yg dzikir jamai tapi juga ngegosip.

    • budiman 18 October 2013 at 06:54 #

      Satu dosa. Kali bidah dan maksiat dua dosa.

    • thohir 25 October 2013 at 11:59 #

      lucu….gara2 takut sirik ganti main kartu.. moso sih? hehehe lucu..wong deso nya saja yang suka maen kartu plus suka mabok, judi..yasinan tidak ada diganti karaoke an lebih lucu lagi ini piye tho..halah alasan opo iku ? ktoprak? dasar orangnya saja yang suka senang2 ora pikir ada tetangga lagi sakit, bayi mau tidur, orang kerja cape mau istirahat woalah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 210 other followers

%d bloggers like this: