Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” “kapan seseorang bisa beristirahat?” Ia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” (“Jika kita telah menginjakkan kaki di Surga, maka disanalah kita akan beristirahat”). Artinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirahat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat (tidak ada kamus berleha-leha bagi para da’i kecuali setelah mati).
Apabila datang pendekar kemalasan kepada kita dengan berkata, “Kiranya anda mau istirahat bersama kami?” Maka jawablah dengan perkataan ‘Umar bin ‘abdul aziz, “Dimanakah terdapat istirahat? Sungguh ia telah tiada. Tidak ada istirahat kecuali di sisi Allah. Ketahuilah tidak ada tempat istirahat bagi seorang hamba kecuali di bawah pohon Thuba (keberuntungan) di surga tempat berbagai kenikmatan.” Continue reading


























