THE CODES OF HADITH (KODE-KODE DI DALAM ILMU HADITS)

9 Feb

– Al-‘Adalah

Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa, dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik. Dalam definisi lain, rawi yang adil ialah: yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.

– Al Jarh (at-Tajrih)

Celaan yang dialamatkan pada rawi hadist yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari dirinya.

– Al-Jarh wa at-Ta’dil

Pernyataan adanya cela dan cacat, dan pernyataan adanya “al-adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari seorang rawi hadist.

– Al-Mutaba’ah

Hadist yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadist gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.

– Ashhab as-Sunan

Para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu majah.

– Ash-Shahihain:

Dua kitab shahih yaitu: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

– Asy-Syaikhain :

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

– At-Ta’dil :

Pernyataan adanya “al-‘Adalah” pada diri seorang rawi hadist.

– Ala Syartil Bukhari:

Hadis yang dianggap sah karena memenuhi syarat-syarat Imam Bukhari, maksudnya rowi-rowi pada hadis itu rowi-rowi yang dipakai oleh Imam Bukhari.

– Ala Syartis Syaikhin:

Hadis yang dianggap sah karena memenuhi syarat-syarat dua syekh, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim. Maksudnya rowi-rowi pada hadis itu rowi-rowi yang dipakai oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

– Ahwali:

Hadis yang menceritakan hal ihwal Rasulullah, misalkan keadaan fisik, sifat, dan karakter Rasulullah.

– Atsar:

Sebagian ulama mengatakan bahwa atsar adalah hadis yang disandarkan kepada Sahabat Rasulullah.

– Aushatut Tabi’in:

Tabi’in pertengahan, yaitu Tabi’in yang tidak terlalu banyak menerima hadits dari Sahabat. Seperti: Kuraib dan Muhamad bin Ibrahim At-Taimi.

– Aziz:

Hadis yang diriwayatkan melalui dua jalan sanad

– Bayan:

Menjelasakan, artinya hadis berfungsi untuk menjelaskan kandungan isi Al-Qur’an.

– Bayan At-Taqrir:

Hadis berfungsi sebagai bayan at-taqrir, artinya hadis berfungsi untuk menetapkan dan memperkuat apa yang diterangkan didalam Al-Qur’an.

– Bayan At-Tafsir:

Hadis berfungsi sebagai bayan at-tafsir, artinya memberikan tafsiran terhadap ayat Al-Qur’an.

– Dhabit:

Dia seorang perowi yang dhabit, artinya dia seorang periwayat hadis yang kuat hapalannya.

– Dhaif:

Hadis yang lemah

– Dirayatan:

Ilmu untuk menetapkan sah atau tidaknya suatu riwayat.

– Fi’liyyah:

Hadis yang menerangkan keadaan/perbuatan Rasulullah.

– Gharib:

Hadis yang diriwayatkan hanya melalui satu jalan sanad

– Hadist:

Sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah. baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrirnya.

Hadist Ahad :

Hadist yang snadnya tidak mencapai derajat mutawatir.

Hadist Dha’if :

Hadist yang tidak memenuhi syarat hadist hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.

Hadist Hasan :

Hadist yang sanadnya bersambung , yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.

Hadist Masyhur :

Hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dalam setiap tabaqah, tetapi belum mencapai derajat mutawatir.

Hadist Matruk :

Hadist yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.

Hadist Maudhu’ :

Hadist dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Hadist Munkar :

Hadist yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dha’if (lemah) dan bertentangan dengan riwayat rawi yang tsiqah (kredibel).

Hadist Mutawatir :

Hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.

Hadist Shahih :

Hadist yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.

– Hammi:

Hadis yang menerangkan keinginan kuat Rasulullah, akan tetapi tidak sempat terealisasi.

– Ikhtisarul Hadis:

Meringkas hadis, misalkan dari hadis yang panjang diambil bagian yang dianggap perlu saja.

– I’lam:

Memberi tahukan, yaitu seorang syekh memberi tahu kepada seorang rowi dengan tanpa disertai ijin untuk meriwayatkan darinya.

– Ijazah:

Mengijinkan, yaitu seorang guru mengijinkan muridnya untuk meriwayatkan hadis atau riwayat, dengan cara memberi ijin dengan ucapan maupun tulisan.

– Ikhtilat:

Kerusakan pada hapalan seorang rowi

– Isnad:

Menyandarkan, misal Imam Muslim berkata, Abdun bin Humaid menceritakan kepadanya. Hal seperti ini disebut Isnad, artinya Imam Muslim menyandarkan kepada Abdun bin Humaid.

– Ittisal:

Persambungan sanad, dari awal sanad sampai akhir sanad.

Ihalah :

Isyarat yang diberikan seorang mu’allif, berupa tempat yang perlu dirujuk berkaitan dengan hadist atau masalah bersangkutan.

Illat :

Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadist yang dapat merusak keshahihannya.

Inqitha’ :

Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.

Jahalah :

Tidak diketahui secara pasti, yang berkaitan dengan identitas dan jati diri seorang rawi.

– Khabar:

Khabar secara bahasa artinya berita, dan pengertiannya secara istilah para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang datang dari Nabi, sahabat, dan tabi’in. Ada pula yang mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi.

– Kibarut Tabi’in:

Tabi’in besar, yaitu tabi’in yang banyak meriwayatkan hadist dari sahabat, seperti: Basyir bin Nasikh As-Sadusi, Abul Aswad Ad-Dili, Rib,I bin Hirasy, Zaid bin Wahb Abu Sulaiman Al-Kufi, Humaid bin Hilal Al-‘adwi, Said bin Al-Musaiyyab.

Layyin :

Lemah.

Lidzatihi :

Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah, hadist yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya, tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.

Lighairihi :

Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya, Shahih Lighairihi ialah, hadist yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadist hasan yang lain, maka dia menjadi Shahih Lighairihi.

Majhul :

Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali seorang saja.

Majhul al-‘Adalah :

Tidak diketahui kredibilitasnya.

Majhul al-‘Ain :

Tidak diketahui identitasnya.

Majhul al-Hal :

Tidak diketahui jati dirinya.

Maqthu’ :

Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan atau perbuatan. baik sanadnya bersambung atau tidak bersambung.

Marfu’ :

Yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam baik ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat. baik sanadnya bersambung atau terputus.

Mauquf :

(Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat. baik perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau, riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, dan tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, baik sanadnya bersambung atau terputus.

Mu’allaq :

(Hadist) yang sanadnya terbuang dari awal, satu orang rawi atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.

Mudallis :

Rawi yang melakukan tadlis.

Mu’dhal :

Hadist yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih terbuang secara berturut-turut.

Munqathi’ :

Hadist yang di tengah sanadnya ada rawi yang terbuang, satu orang atau lebih, secara tidak berurutan.

Mursal :

(Hadist) yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya, sebelum tabi’in. Gambarannya, adalah apabila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda, …” atau “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam melakukan ini dan itu …”.

– Ma’ruf:

Hadis yang diriwayatkan oleh rowi yang lemah serta menentang riwayat dari rowi yang lebih lemah. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Ma’lul:

Hadis yang kelihatannya shah, akan tetapi setelah diperiksa terdapat cacat padanya. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Maqlub:

Hadis yang pada sanad atau matannya ada pertukaran, terbalik. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Maqbul:

Hadis yang dapat diterima kehujjahannya, karena telah memenuhi syarat-syarat hadis shahih.

– Mardud:

Hadis yang ditolak karena tidak memenuhi syarat-syarat hadis maqbul.

– Masruq:

Masruq artinya yang dicuri, dan secara istilah para ahli hadis ialah suatu hadis yang ditukar rawinya dengan rawi yang lain, supaya menjadi ganjil dan supaya diterima dan disukai hadisnya oleh ahli hadis. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Masyhur:

Hadis yang jalan sanadnya cukup banyak, akan tetapi tidak memenuhi syarat mutawatir.

– Matan:

Isi hadis, lafal-lafal hadis.

– Matruk:

Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh berdusta, banyak kekeliruan, lalai, fasik. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Maudlu:

Hadits maudlu ialah hadis yang disandarkan kepada Rasulullah, padahal Rasulullah tidak pernah berkata atau berbuat demikian. Dalam kata lain hadis maudlu disebut juga hadis palsu. Hadis ini tidak bisa dijadikan dalil.

– Mubbayyin:

Yang memberikan penjelasan, dalam arti hadis sebagai mubbayyin terhadap Al-Qur’an.

– Mubham:

Hadis yang pada matan atau sanadnya ada orang yang tidak disebut namanya. Hadis ini tergolong hadis dhaif, akan tetapi seorang ulama mengatakan, bagi kitab bukhari sudah tidak bisa dikatakan mubaham lagi pada hadis-hadis mubhamnya, sebab nama-nama itu sudah dijelaskan/ disebutkan oleh Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam kitab Fathul-Baari. Melainkan hanya beberapa rowi mubham dalam matan saja.

– Muharraf:

Hadis yang pada sanad atau matannya terjadi perubahan karena harakat, dengan tetap adanya bentuk tulisan yang asal. Misalkan pada matan, “abiy” (bapakku), padahal yang sepenarnya, “ubay” (nama salah seorang sahabat Rasulullah. Hadis ini tergolong hadis dhaif. Diantara ulama ada yang menganggap hadis Muharraf sama saja dengan hadis Mushahhaf. (Lihat Mushahhaf dibawah pada jajaran Mus).

– Muhmal:

Hadis yang pada sanadnya terdapat nama, gelar, sifat rowi yang memiliki kesamaan dengan rowi yang lain, dan tidak ada perbedaan (dalam aspek peninjauan ilmu hadis). Misal dalam sebuah hadis terdapat rowi yang bernama Ismail bin Muslim. Selain rowi itu, ada juga rowi lain yang bernama Ismail bin Muslim. Sehingga tidak bisa ditentukan pada hadis itu yang meriwayatkan Ismail bin Muslim yang mana. Maka dari itu hadis ini dinamakan hadis Muhmal, artinya ditinggalkan dan dikategorikan hadis dhaif.

– Mukhtalit:

Rowi yang mengalami kerusakan pada hapalannya dengan beberapa sebab, yakni berkurangnya usia (bertambah tua), mengalami kebutaan, hilang kitab-kitabnya, hadis yang diriwayatkan rowi tersebut dikategorikan dhaif, karena riwayat yang dia riwayatkan disertai keragu-raguan.

– Mukhadramun:

Orang yang hidup separuh dijaman jahiliyah dan separuh di jaman Rasulullah. serta masuk Islam, akan tetapi tidak pernah bertemu dengan Rasulullah.

– Mu’dhal:

Hadis yang ditengah sanadnya gugur dua orang rowi atau lebih. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

-Mu’annan:

Hadis yang pada sanadnya ada lafadz “anna” atau “inna”, misalkan “anna aisyata” (sesungguhnya aishah). Lafadz seperti ini menunjukan bahwa dia tidak pernah bertemu dengan Aisyah. Jika didalam bahasa Indonesia, biasanya dengan kata “bahwa”, misalkan si A berkata, “Imam Ar-raghib menjelaskan bahwa asal arti dari kata fatana ialah….”. Kalimat seperti itu menunjukan bahwa si A tidak pernah bertemu dengan Imam Ar-Raghib. Hadis ini tergolong hadis dhaif, akan tetapi apabila rowi-rowinya ternyata orang-orang jujur, bukan mudallis, dan ada keterangan yang menerangkan bahwa rowinya bertemu dengan orang yang disandarinya dalam menerima hadis itu maka bisa hilang kelemahannya.

– Mu’an’an:

Hadis yang pada sanadnya ada lafadz “an”. Keterangannya sama seperti hadis muannan, yaitu tergolong hadis dhaif, kecuali ada syarat-sayarat yang terpenuhi sehingga hilang kelemahannya.

– Mu’allaq:

Hadis yang tergantung. Hadis yang dari permulaan sanadnya gugur seorang rowi atau lebih dengan berturut-turut. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Muddalas:

Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rowi dari seseorang, yang mana rowi itu bertemu dan sejaman dengannya. Akan tetapi sebenarnya dia tidak mendengar dari orang tersebut, dan ragu-ragu, seolah-olah rowi itu merasa mendengar dari orang tersebut. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Muddalis:

Pelaku hadis Muddalas.

– Mudawwin:

Sebutan bagi orang yang membukukan hadis, seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim.

– Mudraj:

Hadis yang sanad atau matannya bercampur dengan yang bukan dari bagiannya. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Mudraj Matan:

Hadis yang tercampuri perkataan rowi, baik di awal matan, pertengahan matan, dan akhir matan. Sehingga seolah-olah semuanya adalah sabda Nabi. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Mudraj Isnad:

Hadis yang tercampuri pada sanad, misalkan ada dua hadis yang sama matannya akan tetapi berbeda sanadnya. Lalu ada rowi yang meriwayatkan hadis tersebut dengan menyatukan dua sanad yang berbeda tersebut. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

-Mudltharib:

Hadis yang sanad atau matannya, atau sanad dan matannya diperselisihkan, dan tidak bisa diputuskan mana yang kuat. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Munkar:

Hadis yang diriwayatkan oleh rowi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat yang lebih ringan lemahnya, hadisnya tunggal, matannya tidak diketahui selain dari orang yang meriwayatkannya, dan rowinya jauh daripada kuatnya hapalan. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Munqalib:

Sebenarnya munqalib sama seperti maqlub, akan tetapi hadis munqalib terjadi keterbalikannya pada matan (isi hadis), jadi munqalib adalah hadis yang terbalik pada isinya sehingga berubah maknanya. Hadis ini tergolong kepada hadis dhaif.

– Mursal Al-Jali:

Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rowi, yang mana dia meriwayatkan dari seseorang, padahal rowi tersebut tidak sejaman dan tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Mursal Al-Khafi:

Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rowi dari seseorang, dia sejaman dan bertemu dengan orang tersebut, akan tetapi padahal dia tidak menerima hadis itu atau tidak pernah menerima satupun hadis darinya. Atau Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rowi dari seseorang, dia sejaman dengan orang tersebut, akan tetapi dia tidak pernah bertemu. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Mushahhaf:

Hadis yang pada huruf sanad atau matannya terjadi perubahan karena titik dengan tetap adanya bentuk tulisan yang asal. Misalkan pada matan, “Iddahinuw ghibbaan”, menjadi “idzhabuw a’nnaa”. Pada contoh ini perubahan terjadi pada, dal yang ditambah titik menjadi dza, nun yang berpindah titik menjadi ba, gha yang hilang titiknya menjadi ain, dan ba yang berpindah titik menjadi nun. Hadis ini tergolong hadis dhaif.

– Musnad:

Sebutan untuk kumpulan hadis dengan menyebutkan sanadnya. Sebutan untuk sebuah kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan cara penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat.

– Mutafaqun Alaihi:

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

– Mutashil:

Orang yang tashahul (lihat tashahul dibawah)

– Musnid:

Yang menyandarkan atau sebutan bagi orang yang meriwayatkan hadis dengan menyebutkan sanadnya.

– Mutabi’:

Hadis yang sanadnya menguatkan sanad yang lain dalam hadis yang sama. Mutabi’ terbagi kepada dua, yaitu:

– Mutabi’ Tam:

Mutabi’ yang sempurna, yaitu apabila sanad itu menguatkan rowi yang pertama. Misal Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari A, A dari B, B dari C, C dari Nabi. Lalu kita temukan Imam Muslim meriwayatkan hadis yang serupa dengan jalan sanad yang sama, maka Imam Muslim disebut Mutabi’ Tam, karena telah menguatkan rowi yang pertama yaitu Imam Bukhari.

– Mutabi’ Qashir:

Mutabi’ yang kurang sempurna. Kembali pada contoh diatas, ternyata kita tidak menemukan rowi lain yang menggantikan Imam Bukhari, melainkan yang kita temukan pengganti A, misalkan M. Maka M disebut Mutabi’ qashir. Jadi hadis itu sanadnya selain yang diatas, ada juga yang begini Imam Bukhari dari M, M dari B, B dari C, C dari Nabi. Hadis Mutabi’ ada yang shahih, hasan, dan dhaif.

– Mutawatir:

Hadis yang diriwayatkan dengan banyak sanad, yang mustahil mereka sepakat untuk berdusta.

– Mutawatir Lafdzi:

Hadis yang mutawatir secara lafadz.

– Mutawatir Ma’nawi:

Hadis yang berbeda akan tetapi makna dan tujuannya sama.

Nakarah :

Makna hadist yang bertentangan dengan makna riwayat yang lebih kuat. Bila diaktakan, “Dalam hadist tersebut terdapat nakarah” artinya, di dalamnya terdapat penggalan kalimat atau kata yang maknanya bertentangan dengan riwayat shahih.

– Riwayatan:

Ilmu untuk membicarakan riawayat yang sudah ditetapkan melalui Ilmu Dirayatan.

– Sahabat:

Orang yang hidup sejaman dan bertemu dengan Rasulullah, mengimani dan membenarkan risalah Nabi (Islam).

– Sanad:

Sandaran.

Syadz :

Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang pada hakikatnya kredibel, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan riwayat rawi yang lebih utama dan lebih kredibel dari dirinya.

Syahid :

Hadist yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadist, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.

– Shigharut Tabi’in:

Tabi’in kecil, yaitu Tabi’in yang sedikit sekali meriwayatkan hadits dari sahabat. Seperti: Ma’ruf bin Khurrabudz Al-Maki dan Al-Ja’d bin Abdurrahman.

– Sima’:

Penerimaan hadis dengan cara mendengarkan sendiri perkataan gurunya.

– Ta’dil:

Kebalikan dari Jarh, artinya Ta’dil ialah upaya untuk menetapkan bahwa seorang rowi termasuk bisa diterima hadisnya. Ada beberapa syarat seorang rowi bisa diterima hadisnya, yaitu: muslim, baligh, berakal, adil, benar, bisa dipercaya, amanah, tidak suka maksiat, sadar, hafazh (dhabit), tidak dungu, tidak pelupa, tidak berubah akalnya (ikhtilat), tidak sering salah, tidak sering menyalahi orang lain dalam meriwayatkan, dikenal oleh ahli hadis, tidak menerima talqin, tidak suka mempermudah, bukan ahli bid’ah yang menjadikan kekufuran. Untuk mengetahui apakah syarat-syarat tersebut ada pada diri seorang rowi, diantaranya dengan ilmu ta’dil.

– Tabi’in:

Orang yang hidup sejaman dan bertemu dengan Sahabat, serta beragama Islam.

– Tabi’ut Tabi’in:

Pengikut tabi’in.

– Talqin:

Menerima hadis dengan cara diajarkan oleh seseorang untuk menyebutkan nama rowi-rowi yang dia suka dalam sanadnya, padahal rowi itu tidak mendengar riwayat itu dari orang yang disebutkan.

– Tadwin:

Pembukuan atau penulisan hadis.

– Taqrir:

Hadis yang berisi ketetapan atau tidak berkomentarnya Rasulullah terhadap apa yang diperbuat oleh Sahabat.

– Tashahul:

Mempermudah, maksudnya mempermudah suatu urusan. Dalam hadis, mempermudah suatu riwayat. Orang yang selalu mempermudah suatu urusan sering kali keliru dan salah, maka dari itu jika dalam suatu riwayat ada rowinya yang tasahul, maka riwayatnya di tolak/ lemah.

Tadh’if :

Pernyataan bahwa hadist atau rawi bersangkutan dha’if (lemah).

Tadlis :

Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadist, dan membaguskannya secara zhahir.

Tahqiq :

Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadist, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.

Tahsin :

Pernyataan bahwa hadist bersangkutan adalah hasan.

Takhrij :

Mengeluarkan suatu hadist dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dhaif

Ta’liq :

Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadist dan sebagainya yang biasanya berbentuk catatan kaki.

Targhib :

Anjuran, atau dorongan, atau balasan baik.

Tarhib :

Ancaman, atau balasan buruk.

Tashhih :

Pernyataan shahih.

Tsiqah :

Kredibel, di mana pada dirinya terkumpul sifat al-‘Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

REFERENSI:

– Taisir Mushthalah al-Hadist, Dr. Mahmud ath-Thahhan.

– Manhaj an-Naqd Fi Ulum al-Hadist.

– Taujih al-Qari’ Ila al-Qawa al-Fawa’id al-Ushuliyah Wa al-Hadistiyah Wa al-Isnadiyah Fi Fath al-Bari, al-Hafizh Tsanallah az-Zahidi.

– Program CD Harf Mausu’ah al-Hadist asy-Syarif. (Ar-Rajihi).

– E-book kitab terjemahan AtTarghibWatTarhib.pdf

– DAFTAR ISTILAH ILMIAH DALAM ILMU HADIST oleh Abu Salman Al-farisy

– KAMUS KECIL ISTILAH-ISTILAH ILMU HADITS, Tafsir Hadits Forum

Diposting oleh Abu Fahd.



Recent Posts :
[ archives limit=10]

One Response to “THE CODES OF HADITH (KODE-KODE DI DALAM ILMU HADITS)”

  1. nurzamanf27 16 September 2014 at 22:59 #

    Reblogged this on nurzamanfadliansyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: