SALAFUSH SHALIH VS DA’I KONDANG

14 Feb

Fenomena Da’i Kondang sudah menjadi hal yang lumrah di negeri ini. Bahkan ‘katanya’, salah satu stasiun televisi di negeri ini mengadakan kontes da’i beken untuk memilih da’i-da’i yang nantinya akan diorbitkan. Maka, tidaklah heran jika kita mengetahui si dia dahulu dikenal sebagai artis atau model, eh… eh… sekarang ternyata sudah jadi ustadz loh!. Julukan ustadz dan ulama begitu murahnya di negeri kita ini, tidak perlu belajar ilmu syar’i secara mendalam, tidak perlu tahu bahasa arab, tidak perlu memahami ilmu hadits dan tafsir, tidak perlu tahu ilmu fiqh, dan lain-lain. Cukup dengan modal tampil beda, tahu sedikit tentang agama dan pintar ngomong, jadi ustadz deh…  Tulisan ini tidak hendak membahas da’i-da’i kondang tersebut, akan tetapi hanya akan membandingkan antara da’i-da’i kondang sekarang dengan para salafus shalih yang terdahulu, seperti apakah amal ibadah mereka dan keikhlasannya.

Rasulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung, kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kirinya”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/124 dari Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya s hohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45). Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no. 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah.”

Dari Abu Hurairah , dia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang diciptakan-Nya, yang Pilihan, yang suka menyembunyikan amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada amir (pemimpin) untuk menghadap, maka mereka tidak diijinkan. Jika melamar wanita cantik, mereka tidak dinikahkan. Jika mereka tidak hadir, maka mereka tidak dicari. JIka mereka muncul, maka kedatangan mereka tidak disambut. Jika mereka sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati tidak dipersaksikan.” (Saya belum mendapat takhrij hadits ini-pent). Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami yang seperti itu?”. Beliau menjawab, “Dia bernama Uwais Al Qarny.” Mereka bertanya, “Siapa Uwais Al Qarny itu?” Beliau menjawab, “Matanya kebiruan, mudah bergaul, bahunya lebar, perawakannya sedang, kulitnya sawo matang, memelihara jenggot hingga ke dada, selalu mengarahkan pandangan kearah sujudnya, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, banyak membaca Al Qur’an, menangisi diri sendiri, mempunyai dua kain yang lusuh dan dia tidak peduli terhadap kainnya itu, berselimut dengan kain dari wool dan sorban dari wool pula. Tidak dikenal diantara penduduk bumi, namun terkenal diantara penghuni langit. Yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Dia akan mengabulkan apa yang dia ucapkan dalam sumpahnya. Ketahuilah, pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada hamba-hamba, ‘Masuklah kalian kedalam Surga’. Sementara dikatakan kepada Uwais, ‘Berhentilah dan mintalah syafaat’. Maka Allah memberinya syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar. ‘Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya, maka mintalah agar dia memintakan ampunan bagi kalian berdua, maka niscaya Allah akan memberikan ampunan kepada kalian berdua’.”

Abu Hurairah menuturkan, “Maka Umar dan Ali terus mencarinya selama sepuluh tahun tak ada hasil. Pada tahun terakhir sebelum Umar meninggal, dia berdiri di atas bukit Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang, ‘Wahai orang-orang Yaman yang menunaikan haji, adakah diantara kalian yang bernama Uwais?’ Ada seorang lelaki tua dengan jenggot panjang berdiri, lalu berkata, ‘Kami tidak mengenal orang yang bernama Uwais. Tapi anak saudaraku ada yang biasa dipanggil Uwais. Namanya hampir tidak dikenal, hartanya sedikit dan keadannya sangat hina sekiranya kami harus membawanya kehadapanmu. Dia biasa menggembala unta milik kami dan hina di tengah kami.’ Umar bersikap seakan-akan tidak menghendaki orang itu. Dia bertanya, ‘Apakah anak saudaramu itu terkena sakit?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Dimana dia berada?’ ‘Dia berada di Arafah.’ Maka Umar dan Ali segera pergi ke Arafah hingga mereka berdua menemukan seseorang sedang berdiri mendirikan shalat di dekat sebatang pohon, sementara sekumpulan unta berada di sekitarnya. Umar dan Ali menambatkan keledainya kemudian menghampiri orang itu, lalu mengucapkan salam, ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’ Orang itu mempercepat shalatnya dan seusai shalat dia menjawab, ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’ ‘Siapa engkau ini?’ Tanya Umar dan Ali. ‘Aku adalah seorang penggembala unta dan orang yang diupah orang-orang itu.’ jawabnya. ‘Kami tidak bertanya tentang penggembalaan dan upahan. Siapa namamu?’ ‘Aku adalah Abdullah,’ jawabnya, yang artinya hamba Allah. ‘Kami sudah tahu bahwa semua penghuni langit dan bumi adalah hamba Allah. Siapa nama yang diberikan ibumu kepadamu?’ ‘Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?’ Tanya orang itu. ‘Muhammad memberitahukan kepada kami seseorang yang bernama Uwais Al Qarny. Kami sudah tahu mata yang kebiru-biruan dan rambut pirang. Beliau juga memberitahukan bahwa dibawah bahumu sebelah kanan ada warna putih yang cemerlang. Maka perlihatkanlah kepada kami bahumu. Kalau memang ada tanda itu, maka engkaulah yang dimaksudkan.’ Ketika orang itu memperlihatkan bahunya, maka tampak tanda putih yang cemerlang. Maka seketika itu pula Umar dan Ali memeluknya dan berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkaulah Uwais Al Qarny. Mohonkanlah ampunan bagi kami, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.’ ‘Apa yang khusus dengan istighfarku atau siapapun dari anak Adam, sementara di daratan dan lautan ada sekian banyak orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, orang-orang muslim laki-laki dan wanita. Rupanya Allah telah memberikan tanda kepada kalian berdua tentang urusanku. Lalu siapa sebenarnya kalian berdua?’ Ali menjawab, ‘Ini adalah Umar Amirul Mukminin, sedangkan aku adalah Ali bin Abu Thalib.’ Seketika Uwais berdiri tegak dan berucap, ‘Assalamu’alaikum wahai Amirul Mukminin wa rahmatullahi wa barakatuh, begitu pula engkau wahai Ali bin Abu Thalib, semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu bagi umat ini.’ Umar dan Ali berkata, ‘Dan engkau semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu.’ Umar berkata kepada Uwais, ‘Tetaplah ditempatmu semoga Allah merahmatimu, hingga aku masuk Mekkah dan memberimu nafkah dari pemberianku dan kelebihan kainku. Tempat ini merupakan tempat yang dijanjikan antara diriku dan dirimu.’ Uwais berkata, ‘Tempat yang dijanjikan antara diriku dan dirimu, padahal aku tidak akan melihatmu lagi setelah hari ini. Beritahukan kepadaku apa yang harus kuperbuat terhadap nafkah dan kain itu? Apakah kau tidak melihat jubah dan kain dari wool ini? Kapan engkau tahu aku akan membakarnya? Apakah engkau tidak tahu sandalku yang sudah kujahit ini? Kapan aku akan membuatnya usang? Sesungguhnya aku sudah mendapatkan empat dirham dari pekerjaanku menggembala ini. Kapan kalian melihat aku meminta tambahan? Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu ada beban yang amat berat, yang tidak dapat dibawa kecuali oleh orang yang menganggapnya ringan. Karena itu, buatlah ia ringan, semoga Allah merahmatimu.’” (Shifatus Shafwah, 4/27).

Dalam riwayat lain, dari Usair bin Jabir, dia berkata, jika datang rombongan dari penduduk Yaman, maka Umar bin Al Khoththob bertanya kepada mereka, “Apakah diantara kalian ada Uwais bin Amir?” Hingga Umar bertemu dengan Uwais dan bertanya kepadanya, “Engkaukah yang bernama Uwais bin Amir?” “Ya,” jawabnya. “Apakah engkau dari Murad kemudian dari Qiran?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Apakah diantara kalian ada yang terkena penyakit kusta kemudian sembuh, kecuali hanya di satu tempat sebesar kepingan dirham?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan datang kepada kalian orang yang bernama Uwais bin Amir bersama rombongan dari penduduk Yaman, dari Murad kemudian dari Qiran. Diantara mereka terkena penyakit kusta, lalu sembuh kecuali di satu tempat sebesar kepingan dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan mengabulkan baginya. Jika engkau mampu agar dia memintakan ampunan bagimu, maka lakukanlah.’” (Ditakhrij Al Hakim dalam Al Mustadrak, seperti yang ditakhrij Muslim dalam Fadha’il Uwais Al Qarny). Maka Umar meminta Uwais agar memintakan ampunan baginya, sehingga Uwais memintakan ampunan baginya. Umar bertanya, “Hendak kemana engkau?” “Ke Kufah,” jawab Uwais. “Bagaimana jika aku menulis surat kepada pejabat disana agar dia memberimu bantuan?” tanya Umar. Uwais menjawab, “Aku lebih suka berdebu bersama orang-orang.” Pada tahun berikutnya ada seseorang yang terpandang diantara penduduk Kufah yang menunaikan haji. Maka Umar bertanya tentang Uwais kepada orang itu, “Bagaimana keadaannya ketika engkau meninggalkannya?” Orang itu menjawab, “Aku meninggalkannya dalam keadaan kusut dan barang bawaannya hanya sedikit.” Maka Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan datang kepada kalian orang yang bernama Uwais bin Amir bersama rombongan dari penduduk Yaman, dari Murad kemudian dari Qiran. Diantara mereka terkena penyakit kusta, lalu sembuh kecuali di satu tempat sebesar kepingan dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan mengabulkan baginya. Jika engkau mampu agar dia memintakan ampunan bagimu, maka lakukanlah.” Setiba di Kufah, orang tersebut mendatangi Uwais dan berkata, “Mohonkanlah ampunan bagiku.” Uwais berkata, “Engkau tampak baru saja mengadakan perjalanan jauh untuk amal yang shalih (yaitu haji-pent), lalu meminta agar aku meminta ampunan? Apakah engkau bertemu Umar?” “Ya,” jawab orang itu. Maka Uwais memintakan ampunan baginya. Tak seberapa lama orang-orangpun tahu keberadaan Uwais, yang membuatnya langsung pergi (mengasingkan diri). (Lihat buku “Koreksi Dzikir Jama’ah M. Arifin Ilham,” oleh Abu Amsaka, cetakan Darul Falah).

Berkata Abdullah bin Mas’ud , “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382). Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi – yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi -pen), yang Nabi telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robbku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunan-Mu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robbnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.
Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan lorong (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pent), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan lorong tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).

Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun berkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pent)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” (ibid).

Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210). Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211). Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211). Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211). Abu Dawud Al Sijistany berkata, “Majelis Ahmad bin Hanbal adalah majelis akhirat, didalamnya sama sekali tidak ada pembahasan urusan keduniaan.” (Lihat Jawaahiru Sifatis Shafwah).

Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423).

Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dhahhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri!”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dhahhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan bajunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hamba-Mu memintaku untuk berdoa kepada-Mu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” (Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47).

Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi , yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Mas’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908). Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”. Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9. Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).

Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).

Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada seorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menyembunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).

Abdah bin Sulaiman Al Mawarzy berkata, “Kami bersama Abdullah bin Al Mubarak dalam suatu detasemen pasukan di wilayah Romawi, lalu kami berhadapan dengan musuh. Ketika kedua pasukan saling berhadap-hadapan, ada seorang dari pihak musuh yang maju kedepan, menantang duel satu lawan satu. Setiap orang yang melawannya dapat dibunuhnya. Lalu ada seseorang dari pasukan kaum Muslimin yang keluar menghadapinya, lalu berhasil membunuh prajurit yang tadinya tangguh itu. Maka orang-orang berhamburan menghampiri prajurit dari kaum Muslimin yang dapat membunuh prajurit musuh yang tangguh itu, yang ternyata dia menutupi mukanya dengan kain lengannya. Aku termasuk orang yang ikut berkerumun. Setelah kain lengannya dapat kusingkap, ternyata dia adalah Abdullah bin Al Mubarak. Maka dia berkata kepadaku, ‘Engkau wahai Abu Amr adalah orang yang telah membuka aibku’.” (Tarikh Baghdad, 10/167). Al Mawarzy berkata, “Aku mendengar Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Allah tidak meninggikan Ibnul Mubarak melainkan karena rahasia yang dia simpan’.” (Shifatush Shafwah, 4/27).

Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dzahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).

Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata: “Janganlah anda menjadi wali Allah di hadapan manusia, tetapi ketika anda sedang sendiri, menjadi musuh-Nya.” (Riwayat Ahmad dalam Az Zuhd (hal 385), Al Faryabi dalam Shifatul Munafiq (91), Abu Fadhl Az Zuhry dalam Hadits-nya (401), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (5/228), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6548) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (10/488-489), Adz Dzahabi di As Siyar (11/518). Sanadnya Shahih, lihat Sittu Duror).

Nah, sekarang bandingkanlah! Dimanakah kedudukan da’i-da’i kondang dibandingkan dengan para salafush shalih yang terdahulu tersebut?! Manakah yang lebih utama, pujian manusia ataukah ridha Allah?

 

Sumber:

– “Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf” oleh Abdul Aziz bin Nashir alJulayyil, Baha’uddin bin Fatih Uqail.

– Artikel “Ikhlas dan bahaya riya’,” oleh Ust. Firanda

– Al Akhfiya’ al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa’id Bahakam

– dan beberapa tambahan lainnya.

 

Oleh: Abu Fahd Negara Tauhid

3 Responses to “SALAFUSH SHALIH VS DA’I KONDANG”

  1. b'jah 12 September 2011 at 15:58 #

    Bermanfaat,,,izin share
    شُكْرً

  2. agus faizal 18 September 2011 at 23:19 #

    ya elaslah jauh bedanya antara da’i kandang dgn salafus soleh,ibarat kayak langit dengan lobang semut dibumi,

Trackbacks/Pingbacks

  1. ARTIKEL-ARTIKEL ISLAM « Yovi_rohman Tamanayu - 22 May 2012

    […] SALAFUSH SHALIH VS DA’I KONDANG […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: