ADABUL MAJELIS

26 Feb

Berikut ini adalah adab-adab dalam bermajelis (Disarikan dari Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Al-Jaza’iri, hal.139-141, Fashlu Tsamin (Bab VIII), fi Adabi Al-Julusi wa Al-Majlisi (Adab dalam bermajlis) :

1. Mengucapkan salam kepada ahli majelis jika ia hendak masuk dan duduk pada majelis tersebut, hendaknya ia mengikuti majelis tersebut hingga selesai. Jika ia hendak meninggalkan majelis tersebut, ia harus meminta izin kepada ahli majelis lalu mengucapkan salam.

2. Tidak menyuruh seseorang berdiri, pindah atau bergeser agar ia menempati tempat duduknya, dan selayaknya bagi ahli majelis yang telah duduk dalam majelis merenggangkan tempat duduknya, agar seseorang yang mendatangi majelis tadi mendapatkan tempat duduk. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian menyuruh temannya bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi hendaklah kamu memperluasnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

3. Tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk agar ia dapat duduk di tengah-tengahnya, kecuali dengan seizinnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : “Tidak halal bagi seorang laki-laki duduk di antara dua orang dengan memisahkan mereka kecuali dengan izinnya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi, hadits Hasan).

4. Apabila seseorang bangkit dari tempat duduknya meninggalkan majelis kemudian kembali lagi, maka ia lebih berhak duduk di tempat yang ditinggalkannya tadi. Sebagaimana dalam sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam : “Apabila seseorang bangkit dari duduknya lalu ia kembali, maka ia lebih berhaq duduk ditempatnya tadi.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi, hadits Hasan).

5. Tidak duduk di tengah-tengah halaqoh/majelis, dalilnya : “Rasulullah melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halaqoh.” (Abu Dawud, Hadits dho’if dalam Dho’if Abu Dawud. Walaupun dha’if dan tak dapat digunakan sebagai hujjah, namun hendaklah kita menghindarkan diri dari duduk di tengah halaqoh, sebagai sikap berjaga-jaga dan berhati-hati.

6. Seseorang di dalam majelis hendaknya memperhatikan adab-adab sebagai berikut :

– Duduk dengan tenang dan sopan, tidak banyak bergerak dan duduk pada tempatnya.

– Tidak menganyam jari, mempermainkan jenggot atau cincinnya, banyak menguap, memasukkan tangan ke hidung, dan sikap-sikap lainnya yang menunjukkan ketidak hormatan kepada majelis.

– Tidak terlalu banyak berbicara, bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia.

– Tidak berbicara dua orang saja dengan berbisik-bisik tanpa melibatkan ahli majelis lainnya.

– Mendengarkan orang lain berbicara hingga selesai dan tidak memotong pembicaraannya.

– Bicara yang perlu dan penting saja, tanpa perlu berputar-putar dan berbasa-basi ke sana ke mari.

– Tidak berbicara dengan meremehkan dan tidak menghormati ahli majelis lain, tidak merasa paling benar (ujub) dan sombong ketika berbicara.

– Menjawab salam ketika seseorang masuk ke majelis atau meninggalkan majelis.

– Tidak memandang ajnabiyah (wanita bukan mahram), berbasa-basi dengannya, ataupun melanggar batas hubungan lelaki dengan wanita muslimah bukan mahram, baik kholwat (berdua-duaan antara laki-laki dan wanita bukan mahram) maupun ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram).

7. Disunnahkan membuka majelis dengan khutbatul hajah, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membacanya setiap akan khuthbah, ceramah, baik pada pernikahan, muhadharah (ceramah) ataupun pertemuan, dan sunnah inipun dilanjutkan oleh sahabat-sahabat lainnya dan para as-Salaf Ash-sholeh. (Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal 144-145).

8. Disunnahkan menutup majelis dengan do’a kafaratul majelis. Diriwayatkan pula oleh Turmudzi, ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang do’a tersebut, beliau menjawab, untuk melunturkan dosa selama di majelis.

<span>BID’AH-BID’AH DALAM MAJELIS :</span>

1. Ra’isul (pemimpin) majelis mengajak jama’ah (ahli majelis) membaca atau mengucapkan basmalah secara bersama-sama, dengan suara yang jahr (keras) dalam rangka membuka majelis. (Bid’ah dari amalan ini adalah dari segi :

(1). Mengucapkan basmalah secara bersama-sama, padahal Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wasallam tak pernah menuntunkan mengucapkan basmalah secara jama’i (bersama-sama).

(2). Mengucapkannya dengan jahr (keras), dimana dhowabithnya jika dilazimkan (disenantiasakan) akan terjerumus kepada sunnah baru (bid’ah).

(3). Membacanya basmalah adalah masyru’ (disyari’atkan) pada permulaan melakukan sesuatu, namun biasanya, ra’isul majelis membacanya pada pertengahan majelis, ini berarti menyelisihi sunnah. Ini semua, jika disenantiasakan atau dilakukan terus menerus, maka tak syak lagi termasuk bid’ah. Termasuk pula membaca Al-Fatihah pada permulaan majelis sebagai pembuka).

2. Membuka majelis dengan senantiasa melazimkan tilawah Al-Qur’an, yakni dengan cara menyuruh seseorang membaca ayat dari Al-Qur’an. (Bid’ah tilawah ini ditinjau dari segi :

(1). Menyenantiasakan membaca Al-Qur’an pada pembukaan majelis atau muhadharah (pengajian,ceramah), maka hal ini termasuk memuqoyyadkan ibadah qiro’ah Al-Qur’an dengan waktu khusus, yakni pada saat akan bermajlis, padahal tak ada satu pun sunnah yang menunjukkan hal demikian. Apalagi jika timbul perasaan ataupun pikiran, jika tidak tilawah, ada yang kurang dalam majelis tersebut , maka ini adalah bid’ah yang nyata.

(2). Menyuruh seseorang membaca Al-Qur’an, padahal biasanya ra’isul majelis yang membuka majelis telah membaca ayat-ayat Al-Qur’an pada muqoddimahnya, maka yang demikian pada hakikatnya telah mencukupi.

(3). Terkadang, ayat yang dibaca berlainan dengan bahasan atau tema majelis/muhadhoroh. Misalnya, dalam muhadhoroh yang membahas mengenai pernikahan, dibacakan ayat-ayat tentang qishahs atau jihad. Ini adalah kurang sesuai atau tidak pada tempatnya.

Mengenai hal ini, dalam kitab Al-Bida’ (Al-Bida’ wal Muhdatsat wa ma la ashla lahu hal. 539-540, kitab ini merupakan kitab kumpulan dari fatwa-fatwa Kibaril Ulama’ dan Lajnah Da’imah seputar permasalahan bid’ah), Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah, ditanya sebagai berikut :

Pertanyaan : Pembukaan muhadharah (ceramah) dan nadwah (pertemuan) dengan membaca sesuatu dari Al-Qur’an, apakah termasuk perkara yang disyari’atkan?

Jawab : Saya tak mengetahui sunnah yang demikian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, padahal Nabi ‘alaihi sholatu wa salam pernah mengumpulkan para sahabatnya ketika hendak perang atau ketika hendak membahas perkara penting kaum muslimin, tidaklah aku ketahui, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam membuka pertemuan tersebut dengan sesuatu dari Al-Qur’an. Akan tetapi jika pertemuan atau muhadharah tersebut mengambil suatu tema/bahasan tertentu dan ada seseorang yang ingin membaca sesuatu dari Al-Qur’an yang ada hubungannya dari bahasan tema tersebut untuk dijadikannya sebagai pembuka, maka tidaklah mengapa. Dan adapun menjadikan pembukaan suatu pertemuan atau muhadharah dengan ayat Al-Qur’an secara terus menerus seolah-olah sunnah yang dituntunkan, maka yang demikian ini adalah tidak layak diamalkan).

3. Selalu mengucapkan atau memulai dengan salam setiap hendak berbicara dalam majelis, baik saat akan memberikan usulan di tengah-tengah majelis ataupun setiap dimintai pendapat. Yang termasuk sunnah adalah mengucapkan salam setiap akan masuk atau meninggalkan majelis. (Salam adalah termasuk ibadah mutlak, dan untuk memuqoyyadkan dibutuhkan dalil khusus. Adapun selalu mengucapkan salam selama di tengah-tengah majelis adalah termasuk perkara yang tak ada tuntunannya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena dalil yang warid dari Rasulullah adalah salam setiap hendak meninggalkan majelis ataupun memasukinya).

4. Mengakhiri majelis dengan mengajak jama’ah (ahli majelis) untuk membaca sholawat, hamdalah, istighfar dan kafaratul majelis secara bersama-sama, dengan suara yang jahr dan secara terus menerus. (Yang menjadi titik rawan terjerumusnya kepada bid’ah amalan ini adalah :

(1). Membacanya dengan bersama-sama/jama’i, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan kaifiyat yang demikian dari hadits-hadits Rasulullah.

(2). Membacanya secara jahr, kecuali do’a kafaratul majelis, karena sesungguhnya telah warid hadits tentangnya.

(3). Mengkhususkan hamdalah, sholawat dan istighfar, dalam menutup suatu majelis, padahal untuk menetapkannya dibutuhkan dalil dari Rasulullah.

(4). Menyenantiasakannya atau melakukannya secara terus menerus / istimrar).

5. Mengakhiri majelis dengan selalu berdo’a, di mana ahli majelis mengamini bacaan do’a ra’isul majelis. Lebih parah lagi jika ra’isul majelis menyebut “Al-Fatihah!!!” pada akhir do’a dengan keras, dan jama’ah membacanya secara bersama-sama, kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan. (Berdo’a pada akhir majelis pada asalnya diperbolehkan, karena mengingat bahwa do’a termasuk ibadah mutlak, yang tidak terikat dengan waktu. Namun menyenantiasakannya berarti termasuk memuqoyyadkan waktunya tanpa ada dasarnya dari Rasulullah. Adapun membaca amin dengan keras dan mengusap wajah serta menyebut Al-Fatihah!!! Adalah termasuk kaifiyat baru yang tak dituntunkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

6. dan kesalahan-kesalahan lainnya yang menyelisihi kaidah amaliyyah sehingga termasuk ibadah, dan yang bersifat adab, sebagaimana dalam penjelasan di depan. Wallahu’alam.

(Diringkas dari artikel “Adabul Majelis, Kesalahan dan Bid’ah-bid’ahnya” oleh Ibnu Burhan At-Tirnaty).

Posting by: Abu Fahd

http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150092786331712#!/notes/abu-fahd-negaratauhid/adabul-majelis/10150092786331712

Recent Posts :

3 Responses to “ADABUL MAJELIS”

  1. andik 19 September 2011 at 18:06 #

    bid’ah melulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: