HADITS DHA’IF (LEMAH) DAN PALSU DALAM KITAB AL MA’TSURAT KARYA HASAN AL BANNA

26 Feb

Kitab al-Ma’tsurat oleh Hasan al-Banna adalah kitab yang sangat populer di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan wirid-wirid yang terkandung di dalamnya dijadikan sebagai amalan harian wajib bagi para pengikut kelompok Ikhwanul-Muslimin dan kebanyakan para aktivis pergerakan Islam di Indonesia.

Beberapa bulan yang lalu telah masuk kepada kami pertanyaan dari sebagian pembaca tentang kitab al-Ma’tsurat ini, apakah kitab ini layak untuk diamalkan kandungannya, karena banyak dari kaum Muslimin di daerahnya yang mengamalkan wirid-wirid dalam kitab ini.

Maka dengan memohon pertolongan kepada Allah dalam pembahasan kali ini akan kami paparkan studi kelayakan kitab al-Ma’tsurat ini untuk dipakai dan diamalkan kandungannya.

Penulis Kitab “al-Ma’tsurat”

Penulisnya adalah Syaikh Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna, pendiri jama’ah Ikhwanul-Muslimin. Ia dilahirkan pada tahun 1906 M di Mahmudiyyah Buhairah, Mesir, dan meninggal di Kairo, Mesir tanggal 12 Februari 1949 M.

Hasan al-Banna adalah pengikut tarikat shufiyyah Hashshofiyyah sejak usia muda. Dia mengenal tarikat Hashshofiyyah semenjak duduk di Madrasah Mu’allimin UIa di Damanhur. Dia kemudian berbai’at di hadapan mursyid Tarikat Hashshofiyyah, Syaikh Abdul-Wahhab al-Hashshofi, dan kemudian aktif dalam kepengurusan Jam’iyyah Hashshofiyyah al-Khoiriyyah.

Semasa hidupnya, Hasan al-Banna selalu mengamalkan ritual-ritual tarikat Hashshofiyyah tersebut seperti Wadhifah (wirid) Rozuqiyyah tiap pagi dan petang. Nampaknya Wadhifah Rozuqiyyah ini adalah asal dari Wadhifah Kubra (nama lain dari al-Ma’tsurat sebagaimana tertera dalam judul cetakannya).

Hasan al-Banna tidak hanya mengamalkan Wadhifah Rozuqiyyah saja, bahkan dia juga mengikuti ritual Hashshofiyyah di kuburan-kuburan dengan cara menghadap kepada sebuah kuburan yang terbuka dengan tujuan untuk mengingat kematian, kemudian ritual Hadhrah setelah sholat Jum’at, dan ritual Maulid Nabi.

Abul-Hasan an-Nadwi berkata: “Hasan al-Banna selalu mengamalkan wirid-wirid dan ritual-ritual ini hingga akhir hayatnya.” (Tafsir Siyasi lil-Islam halaman 83).

Adapun dalam segi aqidahnya, Hasan al-Banna adalah Asy’ari Mufawwidhah sebagaimana nampak dalam kitabnya, Aqa’id (lihat Mudzakkirat Da’wah wa Da’iyyah, Nazharat fi Manhaj Ikhwanul-Muslimin dan Thoriqoh Hasan al-Hanna wa Ashumul-Waritsin)

Wirid-Wirid “al-Ma’tsurat” yang Lemah atau Tidak Ada Asalnya

Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk diantara ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah wajib dilandaskan atas dalil yang tsabit (kuat) dan tidak boleh menetapkan suatu ibadah tanpa dalil atau dengan dalil yang dha’if (lemah). Maka tidak boleh seorang Muslim mengamalkan suatu dzikir tertentu kecuali setelah meyakini bahwa dzikir tersebut dinukil dengan dalil yang tsabit dari al-Qur’an dan as-Sunnah (lihat bahasan “Hadits Dha’if dalam Fadho’il-A’mal” dalam Majalah al-Furqon Edisi Spesial Ramadhan-Syawwal Tahun 6).

Setelah kami meneliti do’a-do’a dan dzikir-dzikir dalam kitab al-Ma’tsurat ini ternyata ada beberapa dzikir yang lemah dalilnya atau bahkan tidak ada asalnya sama sekali, di antara do’a-doa dan dzikir-dzikir tersebut ialah:

– Wirid Pertama

Ashbahnaa wa asbaha al-mulku lillahi laa syariikalahu wa alhamdu kulluhu lillahi laa syarikalahu laa ilaha illa allahu wa ilaihi an-nusyuur.

Artinya: “Sesungguhnya kami terjaga di pagi hari dengan (kesadaran bahwa)/kerajaan (bumi dan segala isinya) ini seluruhnya adalah milik Allah. Dan segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Rabb selain Dia dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.

Wirid ini datang dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul-Mufrod 1/211 nomor 604 dan, Ibnu Sunni dalam Amal Yaum wa Lailah halaman 74 dari jalan Abu Awanah dari Umar bin Abi Salamah dari bapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu.

Riwayat ini dikatakan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah: “Dha’if dengan lafazh ini, di dalam sanadnya terdapat Umar bin Abi Salamah az-Zuhri al-Qodhi, fihi dha’fun (padanya terdapat kelemahan).” (Dho’if Adabul-Mufrad halaman 60).

– Wirid Kedua

Allahumma ma ashbaha bii minni’mati faminka wahdaka laa syariika laka falaka alhamdu walaka asy-syukru.

Artinya: “Ya Allah nikmat apapun yang kuperoleh dan diperoleh seseorang di antara makhluk-Mu adalah dari-Mu, yang Tunggal dan tak bersekutu, maka bagi-Mu segala puji dan syukur.

Wirid ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Ghonam al-Bayadhi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya 4/318, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 3/143, Nasa’i dalam Sunan Kubro 6/5, Abu Bakar asy-Syaibani dalam Ahad wal-Matsani 4/183, dan Baihaqi dalam Syu’abul-Iman 4/89 dari jalan Rabi’ah bin Abi Abdirrahman dari Abdullah bin Anbasah dari Abdullah bin Ghonam al-Bayadhi.

Abdullah bin Anbasah dikatakan oleh adz-Dzahabi rahimahullah: “Hampir-hampir tidak dikenal.

Riwayat ini dilemahkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Kalimu Thoyyib halaman 73 dan Dho’if Jami’ Shaghir : 5730.

– Wirid Ketiga

Yaa rabbi laka alhamdu kamaa yanbagii lijalaali wajhika wali’adhiimi sulthaanika.

Wirid ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya 2/1249, Thabrani dalam Mu’jam Ausath 9/101 dan Mu’jam Kabir 12/343, dan Baihaqi dalam Syu’abul-Iman 4/94 dari jalan Shadaqah bin Basyir dari Qudamah bin Ibrahim al-Jumahi dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhuma.

al-Bushiri rahimahullah berkata: “Sanad ini, terdapat kritikan padanya.” (Mishbahu Zujajah 4/130).

Shadaqah bin Basyir dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Taqrib: “Maqbul (yaitu diterima haditsnya jika ada penguatnya, kalau tidak ada penguatnya maka haditsnya lemah).”

Qudamah bin Ibrahim dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Taqrib: “Maqbul.”

Riwayat ini dilemahkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah halaman 308 dan Dha’if Jami’ Shoghir : 1877.

– Wirid Keempat

Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wanabiyyika warosuulika an-nabiyyi al-ummii wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallim tatsliimaa ‘adada ma ahaatho bihi ‘ilmuka wakhoththo bihi qolamuka wa ahshoohu kitaabuka…

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah shalawat atas junjungan kami Muhammad hamba-Mu, nabi-Mu, dan rasul-Mu, nabi yang ummi, dan atas keluarganya; dan limpahkanlah salam sebanyak yang diliput oleh ilmu-Mu dan dituliskan oleh pena-Mu, dan dirangkum oleh kitab-Mu.

Shalawat ini adalah shalawat yang bid’ah yang tidak ada asalnya, tidak ada di dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar sepanjang penelitian kami.

Wirid-wirid diatas (1 s/d 4) adalah yang lemah atau tidak ada asalnya. Di samping itu, di dalam kitab al-Ma’tsurat ini banyak wirid-wirid lain yang shahih lafazhnya tetapi bid’ah dari segi kaifiyyat (tatacara)nya karena memberikan bilangan bacaan-bacaannya yang tidak pernah ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Do’a “Rabithah” yang Bid’ah

Pada akhir kitab al-Ma’tsurat ini tercantum Do’a Rabithah yang berbunyi:

Allahumma innaka ta’lamu anna hadihi al-quluuba qodijtama’at ‘alaa mahabbatika waltaqot ‘alaa thoo ‘atika watawahhadat ‘alaa da’watika wa ta’aahadat ‘alaa nushroti syarii’atika fawassiq allahumma roobithhaa wa adim wuddahaa.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah (kecintaan) hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di (jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya ya Allah, abadikan kasih sayangnya…

Syaikh Ihsan bin Ayisy al-Utaibi rahimahullah berkata: “Di akhir al-Ma’tsurat terdapat wirid rabithah, ini adalah bid’ah shufiyyah yang diambil oleh Hasan al-Banna dari tarikatnya, Hashshofiyyah.” (Kitab TarbiyatuI-Aulad fil-Islam Ii Abdullah Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi halaman 126).

Hukum Wirid-Wirid Bid’ah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk di antara ibadah-ibadah yang paling afdhal (utama), dan ibadah dilandaskan atas tauqif dan ittiba’, bukan atas hawa nafsu dan ibtida’, Maka do’a-do’a dan dzikir-dzikir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling utama untuk diamalkan oleh seorang yang hendak berdzikir dan berdo’a. Orang yang mengamalkan do’a-do’a dan dzikir-dzikir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang berada di jalan yang aman dan selamat. Faedah dari hasil yang didapatkan dari mengamalkan do’a-do’a dan dzikir-dzikir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam begitu banyak sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Adapun dzikir-dzikir dari selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kadang-kadang diharamkan, kadang-kadang makruh, dan kadang-kadang didalamnya terdapat kesyirikan yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Tidak diperkenankan bagi seorang pun membuat bagi manusia dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang tidak disunnahkan, serta menjadikan dzikir-dzikir tersebut sebagai ibadah rutin seperti shalat lima waktu, bahkan ini termasuk agama bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla. Adapun menjadikan wirid yang tidak syar’i maka ini adalah hal yang terlarang, bersamaan dengan ini dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang syar’i sudah memenuhi puncak dan akhir dari tujuan yang mulia, tidak ada seorang pun yang berpaling dari dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang syar’i menuju kepada dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang bid’ah melainkan (dialah) seorang yang jahil atau sembrono atau melampaui batas.” (Majmu’ Fatawa 22/510-511).

Beliau rahimahullah juga berkata:

Seseorang yang berpaling dari do’a yang syar’i kepada yang lainnya -walaupun itu adalah hizb-hizb- (wirid-wirid) sebagian masyayikh (para syaikh)- maka yang paling bagus baginya adalah hendaknya tidak meluputkan bagi dirinya do’a yang lebih afdhal dan yang lebih sempurna, yaitu do’a-do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dia yang lebih afdhal dan lebih sempurna dari do’a-do’a yang lainnya dengan kesepakatan kaum Muslimin, meskipun do’a-do’a yang lain tersebut diucapkan oleh sebagian masyayikh, apalagi jika do’a-do’a tersebut di dalamnya terdapat kesalahan atau dosa atau yang lainnya? Diantara orang-orang yang paling tercela adalah orang yang menjadikan hizb (wirid) yang tidak ma’tsur (dinukil) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -walaupun itu adalah hizb-hizb sebagian masyayikh- dan meninggalkan hizb-hizb Nabawiyyah yang diucapkan oleh Penghulu Bani Adam, Imam para makhluk, dan hujjah Allah atas para hamba-Nya.” (Majmu’ Fatawa 22/525).

Badal (Pengganti) Kitab Ini

Setelah melihat banyaknya hal-hal yang bid’ah dalam kitab al-Ma’tsurat ini, kami memandang bahwa kitab ini tidak layak dijadikan pegangan di dalam wirid-wirid keseharian seorang Muslim.

Kami menganjurkan agar saudara-saudaraku kaum Muslimin memilih kitab-kitab dzikir lainnya yang mengacu kepada do’a dan dzikir yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantara kitab-kitab yang kami anjurkan untuk dipakai adalah:

  1. aI-Adzkar oleh aI-Imam an-Nawawi bersama penjelasan derajat haditsnya dalam kitab Shahih wa Dha’if aI-Adzkar oleh Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali.
  2. al-Kalimu Thayyib oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dengan takhrij Syaikh al-Albani.
  3. Tuhfatul-Akhyar oleh Syaikh Abdul-Aziz bin Baz.
  4. Shahih Kalimu Thayyib oleh Syaikh al-Albani.
  5. Hishnul-Muslim oleh Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia).

<!– SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 15.417 ms –>

Oleh: al-Ustadz Abu Ahmad, diambil dari Majalah Al Furqan.

http://ahlussunnah.info/2009/12/16/artikel-ke-11-bidah-dalam-kitab-al-matsurat-karya-hasan-al-banna

http://www.facebook.com/note.php?note_id=445738381711

13 Responses to “HADITS DHA’IF (LEMAH) DAN PALSU DALAM KITAB AL MA’TSURAT KARYA HASAN AL BANNA”

  1. Aku 27 August 2012 at 10:16 #

    Saya mau tanya pak, jika menurut tulisan ini ” Tidak diperkenankan bagi seorang pun membuat bagi manusia dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang tidak disunnahkan, serta menjadikan dzikir-dzikir tersebut sebagai ibadah rutin seperti shalat lima waktu, bahkan ini termasuk agama bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla. ”

    Berarti saya tidak boleh berdoa untuk misalkan lulus kuliah? Kan tidak ada kuliah di jaman rasulullah?
    Berarti saya tidak boleh berdoa dengan bahasa indonesia? Kan rasulullah tidak bisa berbahasa indonesia?

    Mungkin Bapak membuat tulisan ini juga berdasar hawa nafsu, karena menurut saya tidak baik menyerang aliran lain, karena walaupun mereka berbeda paham, toh tuhan mereka tetap Allah, nabi mereka tetap muhammad saw, mereka tidak syirik kok.

    • gizanherbal 27 August 2012 at 18:39 #

      Berarti saya tidak boleh berdoa untuk misalkan lulus kuliah? Kan tidak ada kuliah di jaman rasulullah?
      Berarti saya tidak boleh berdoa dengan bahasa indonesia? Kan rasulullah tidak bisa berbahasa indonesia?
      ========================================
      Jika berdoa seperti itu diyakini memiliki fadhilah/keutamaan sendiri (seperti doa2 yg disunnahkan) serta dijadikan amalan rutinitas (seperti amalan2 sunnah lainnya), maka itu yang tidak diperbolehkan. Itulah yang dimaksudkan dari isi artikel tersebut.
      Setiap perbedaan paham tidak diharuskan utk saling toleransi selalu, karena kebenaran itu hanya ada 1. Maukah anda toleransi/menghargai pemahamannya JIL atau Syiah?
      Orang yang berzina juga tidak melakukan kesyirikan, lantas apakah anda ingin toleransi kepadanya dan sama2 berbuat zina?
      Sepertinya anda yang berbicara dengan hawa nafsu.

  2. Aku 28 August 2012 at 21:26 #

    “Jika berdoa seperti itu diyakini memiliki fadhilah/keutamaan sendiri (seperti doa2 yg disunnahkan) serta dijadikan amalan rutinitas (seperti amalan2 sunnah lainnya), maka itu yang tidak diperbolehkan.”

    doa itu berbeda dengan amalan, memang kalau amalan yg tidak ada tuntunan rasulullah akan tertolak, tetapi apakah doa yg tidak ada tuntunan rasulullah juga tertolak, padahal Allah sendiri menyuruh kita berdoa, yg tidak mau berdoa ya dianggap sombong, doa kan meminta, nah meminta kita kan masih kepada Allah yg maha memiliki segalanya.
    Berarti doa itu berbeda dengan amalan, artinya doa lebih luwes dan fleksibel.

    Sekarang pertanyaan nya begini, misal saya seorang mahasiswa, yg setiap selesai shalat 5 waktu berdoa untuk kelulusan saya, dan itu berlangsung selama 4 tahun masa kuliah saya, nah itu kan tidak ada di jaman rasulullah, doa nya pun dengan bahasa indonesia, apakah itu tertolak??

    • gizanherbal 29 August 2012 at 20:43 #

      1. doa itu berbeda dengan amalan, memang kalau amalan yg tidak ada tuntunan rasulullah akan tertolak, tetapi apakah doa yg tidak ada tuntunan rasulullah juga tertolak, padahal Allah sendiri menyuruh kita berdoa, yg tidak mau berdoa ya dianggap sombong, doa kan meminta, nah meminta kita kan masih kepada Allah yg maha memiliki segalanya.
      Berarti doa itu berbeda dengan amalan, artinya doa lebih luwes dan fleksibel.
      ========================================
      Itu menurut pemahamna siapa?
      Ana ingin bertanya kepada ant, apakah arti dari kata ‘Amal?
      Jangan ant memahami islam dari pemahaman atau bahasa sendiri. Kata ‘Amal diambil dari bahasa Arab yang memiliki makna yang tidak sama dengan apa yang ant maksud. Dan jangan ant artikan kata ‘Amal yg berbahasa Arab dengan kata Amal yang berbahasa indonesia.
      Apalagi doa itu termasuk dalam kategori ibadah yang tidak boleh sembarang orang berinovasi. Dalam hadits disebutkan: “Doa adalah otaknya ibadah.” (HR. At-Tirmizy no: 2969, 3247 , 3371). Sedangkan ibadah bersifat mutlaq.

      2. Sekarang pertanyaan nya begini, misal saya seorang mahasiswa, yg setiap selesai shalat 5 waktu berdoa untuk kelulusan saya, dan itu berlangsung selama 4 tahun masa kuliah saya, nah itu kan tidak ada di jaman rasulullah, doa nya pun dengan bahasa indonesia, apakah itu tertolak??
      ========================================
      Disini ant mencoba lari atau mengeluarkan dari pembahasan. Apa yang ant qiyaskan berbeda dengan apa yang ada dalam al ma’tsurat. Sudah ada dzikir yang shahih dari Nabi untuk Pagi dan Petang, sedangkan di al ma’tsurat menukil dalil2 yang lemah untuk dijadikan amalan khusus dan rutinitas, seolah-olah hal itu memiliki keutamaan dari Nabi.
      Kalau ant masih belum bisa memahami apa yg ana maksudkan, ana kasih contoh…
      Sehabis shalat fardhu ada dzikir yang sudah valid diajarkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, lantas ada orang yang mencoba mengganti dzikir setelah shalat tersebut dengan dzikir bikinannya sendiri untuk diamalkan setiap hari secara rutinitas dengan bahasa indonesia, sedangkan dzikir setelah shalat tersebut dihilangkan dan tidak diamalkan. Apakah hal itu dibolehkan??????????

  3. Aku 28 August 2012 at 21:36 #

    “Setiap perbedaan paham tidak diharuskan utk saling toleransi selalu, karena kebenaran itu hanya ada 1. Maukah anda toleransi/menghargai pemahamannya JIL atau Syiah?”
    Pendapat saya kemarin kan jelas batasannya toleransi itu jelas yaitu syirik nya, batas toleransi dalam urusan agama itu adalah akidahnya, (syirik atau tidak syirik)
    Syirik itu sendiri pengertiannya sangat luas,
    Kalau untuk misal JIL / SYIAH itu jelas jelas syirik, karena ada cacat dalam akidah mereka.


    Orang yang berzina juga tidak melakukan kesyirikan, lantas apakahanda ingin toleransi kepadanya dan sama2 berbuat zina?” toleransi itu tidak harus bermakna bersama sama berbuat, atau menghormati, tetapi toleransi itu bisa berarti menerapkan peraturan agama, tetapi dengan menyesuaikan manfaat dan maslahat bagi syiar agama itu sendiri.

    • gizanherbal 29 August 2012 at 20:47 #

      1. Pendapat saya kemarin kan jelas batasannya toleransi itu jelas yaitu syirik nya, batas toleransi dalam urusan agama itu adalah akidahnya, (syirik atau tidak syirik)
      Syirik itu sendiri pengertiannya sangat luas,
      Kalau untuk misal JIL / SYIAH itu jelas jelas syirik, karena ada cacat dalam akidah mereka.
      ================================
      Hmm….sekiranya ant jangan banyak berkata panjang lebar karena akan membuka aib ant sendiri dan menambah dosa2 ant karena berkata tanpa ilmu (dalil).
      Apakah definisi syirik?
      Apakah kesyirikan di JIL dan Syiah?
      Apakah selain syirik dimutlakkan utk boleh toleransi?
      Apakah hal2 maksiat dan bid’ah boleh atas kita utk toleransi? Karena maksiat dan bid’ah tidak sampai perkara syirik (kecuali bid’ah mukaffirah)

  4. Aku 28 August 2012 at 21:46 #

    Kesimpulannya, menurut saya, yg dipermasalahkan bukan tentang masalah hadits yg kuat / lemah / palsu / lainnya, tetapi yg paling penting sebelum itu adalah apakah yg berdoa / berdzikir itu paham mengerti arti dan makna saat dia melakukannya.
    Ibaratnya kita berdzikir dan berdoa itu kan mengingat Allah dan meminta kepada Allah, nah apapun lafadz dzikir dan doanya kalau kita tidak tahu tidak paham apa yg kita ucapkan, bagaimana coba?? Bukankah sama saja tidak menghargai Allah??

    • gizanherbal 29 August 2012 at 20:51 #

      Sekali lagi hendaknya ant jangan berkata panjang lebar karena akan membuka aib ant sendiri sehingga kami mengetahui akan kejahilan ant dalam perkara agama ant sendiri. Ana ingin tahu, pemahaman/pendapat ant seperti itu atas pemahaman siapa? apakah berasal dari pemahaman/pendapat ulama/kitab? kalo iya, sebutkan siapa ulamanya atau apa kitabnya dan di halaman berapa? Kalo hal itu hanya berdasarkan pemahaman ant sendiri, maka siapakah ant yang berani berkata ttg agama tanpa ilmu/hujjah? Wallahul musta’an….Allahu yahdik….

  5. Aku 2 September 2012 at 09:07 #

    Perdebatan ini tidak ada gunanya.
    “Anda” dan “Aku” sama sama berdebat / berdiskusi tanpa tahu dasar nya. Cuman berbekal katanya, kata kitab, kata si x,
    Kalau perdebatan diantara ulama sih masih mending, lha ini, bukan ulama, bukan ustadz, hanya para pengikut yg ilmunya baru seujung jari.

  6. damar (abu salma) 22 September 2012 at 09:28 #

    Abu fahd, ana minta izin mau copy artikelnya.

  7. nisa 13 October 2012 at 15:18 #

    waduh itu wirid yang saya sering baca dari smp bahkan sampe sma sekarangpun masih sering baca, dulu diajarin sama guru pas smp bahkan pas sma sekarangpun pernah dikasih tau mbak bbq suruh baca. itu dasarnya bid’ah darimana ya? trs kalo memang bid’ah gimana caranya ngehindarinnya?

    • fauzil 2 August 2013 at 13:20 #

      trimudilah.blogspot.com/2010/03/wirid-al-matsurat-hasan-al-banna-bidah.html?m=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: