KATA SIAPA ORANG MUSLIM KALAH OLEH ORANG KAFIR ?

2 Jun

Kata siapa orang muslim kalah oleh orang2 kafir?
Org tertampan di dunia adalah Nabi Adam dan Nabi Yusuf.
Org tercantik di dunia adalah Hawwa dan Sarah istrinya Nabi Ibrahim.
Org terkaya di dunia adalah Nabi Sulaiman.
Org yang menguasai seluruh dunia adalah Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain.
Org terpandai adalah Nabi Adam.
Org yang sdh melewati luar angkasa, bahkan sampai langit ke-7 adalah Nabi Muhammad.
Adakah orang2 kafir yang bisa menandingi mereka?

jika dinilai dari zaman sekarang malah gak ada apa2nya, kelebihan2 yg dimiliki oleh org kapir sekarang. Seperti kekayaannya Bill Gates, malah sangat jauh sekali dan tidak memiliki arti apa2 dibanding Nabi Sulaiman sejak dulu sampai sekarang….
Adapun jika dibandingkan dengan org muslim yg sekarang adalah Wallahu a’lam. Karena survei2 yg byk dilakukan utk menentukan yang terkaya, tertampan, tercantik, terpintar, dan ter..ter…semuanya kebanyakan dilakukan oleh orang2 kapir sendiri, ya jelas saja kalo semuanya itu sesuai dengan kemauannya. Karena mereka menilai hanya dari sebatas apa yg mereka tahu saja dan yakini. Tidak lepas kemungkinan jika kita husnuzhan, byk org2 muslim yg mungkin lebih menandingi mereka (org kapir) namun tidak diekspos oleh orang muslim sendiri, atau dirahasiakan agar tidak terkesan ujub atau riya. Wallahu a’lam.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah Azza wa Jalla membagi keindahan (ketampanan dan kecantikan) ke dalam 10 bagian, 3 bagian utk Hawwa, 3 bagian utk Sarah, 3 bagian utk Yusuf, dan 1 bagian utk seluruh manusia.” (Tarikh Madinati Dimasyqa, hal. 122 ttg biografi para wanita. Dinukil dari ktb Nisa’ul Anbiya’i fi Dhaulil Qur’an was Sunnah)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dlm negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; & Jahannam itu adalah tempat nan seburuk-buruknya. [Ali Imran / 3: 196-197]

Akhir-akhir ini nampak fenomena, adanya sebagian kaum Muslimin nan silau dgn tatanan kehidupan orang kafir nan begitu apik. Ketakjuban sebagian kaum Muslimin, lantaran orang-orang kafir sangat menjaga kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, juga kesehatan. Juga karena kemajuan teknologi informasi, komunikasi ataupun peradaban dunia nan telah mereka capai. Padahal itu hanyalah gambaran secara parsial semata. Di balik itu semua, perangai mereka bagaikan serigala nan sangat lapar, memendam dendam kepada kaum Muslimin. Mereka menunggu waktu nan tepat utk menancapkan kaki-kaki demi menguasai umat Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Belum lagi dgn kekufuran nan menancap dlm hati, maka dgn tipu muslihatnya, mereka berusaha menyembunyikan tipu dayanya kepada kaum Muslimin. Sehingga sangat aneh, apabila ada seorang muslim nan terpana & terpesona, & akhirnya menyanjung orang-orang kafir.

Masih membekas di ingatan, kebengisan mereka, kaum imperialis kolonialis (Barat), ketika menjajah tanah kaum Muslimin. Mereka merampak hak & kehormatan kaum Muslimin. Berbagai jenis siksaan, pembunuhan, pengusiran, hinaan & perampasan serta tindakan aniaya lainnya, mereka lakukan tanpa peri kemanusian. Adapun pada masa sekarang, dgn semangat kapitalis, mereka pun tetap menjajah negeri-negeri kaum Muslimin. Apakah pantas mereka dipuja?
_____________________________________________

PENJELASAN AYAT
Ayat di atas merupakan pesan berharga, utk menjadi peringatan bagi kaum Muslimin agar tak terpedaya dgn kaum kemewahan orang-orang kafir.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan (Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim ( 1 /431 )): “Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian & kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua nan mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; & Jahannam itu adalah tempat nan seburuk-buruknya”.

Ayat-ayat nan senada maknanya dgn ayat ini tidaklah sedikit. Bahwasannya, mereka akan hakikatnya mendapatkan kenikmatan nan tak langgeng & tak kekal. Mereka menikmatinya sejenak, & akan mengalami siksaan panjang karenanya. (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)

Orang nan lemah iman & cinta dunia, ia akan terpesona dgn kemewahan hidup orang-orang kafir, hingga berangan-angan bisa merengkuhnya & hidup bersama mereka, manakala menyaksikan kondisi mereka nan selalu terpenuhi dgn fasilitas duniawi nan serba mewah. Seperti nan telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para pengikut Qarun nan melihatnya dlm kemegahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dlm kemegahannya. Berkatalah orang-orang nan menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa nan telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan nan besar”. [al Qashash/28: 79].

Itulah gambaran orang nan orientasi hidupnya ditujukan kepada dunia, tak memikirkan bahwa dunia ini akan musnah. Apalagi bila sempat mencicipi hidup dlm komunitas sosial di negeri kafir, nan lahirnya terlihat asri, hijau, bersih, dgn pemandangan memikat.

Adapun orang nan kuat imannya, ia tak akan terpana dengannya. Sebab ia membaca pesan-pesan Allah, seperti pada ayat di atas & pada ayat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa nan telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia utk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik & lebih kekal. [Thaha/20: 131].

Seseorang nan kuat imannya, akan mengetahui dgn yakin pula, kemewahan nan dinikmati tersebut tak akan menjadi kebaikan bagi mereka. Sebab ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa harta & anak-anak nan Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak; sebenarnya mereka tak sadar. [al Mukminun/23: 56].

Bagaimana mungkin merupakan kebaikan bagi mereka, kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan menjadikannya sebagai sumber bencana bagi? Allah berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Maka janganlah harta benda & anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dgn (memberi) harta benda & anak-anak itu utk menyiksa mereka dlm kehidupan di dunia & kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dlm keadaan kafir. [at Taubah/9: 55]

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; & bagi mereka adzab nan menghinakan. [ِAli Imran/3: 178].

Alangkah buruk suatu kemewahan & limpahan harta, bila akhirnya menjadi siksaan. Begitu pula, orang nan suka berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun berada dlm kenikmatan duniawi nan berlebih, maka sesungguhnya kenikmatan nan ia reguk hanya merupakan istidraj (penangguhan tempo siksaan dgn memberi kenikmatan.) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu dari Nabi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Bila engkau menyaksikan Allah mencurahkan (nikmat) dunia kepada seseorang nan ia inginkan lantaran maksiat (yang ia kerjakan), itu hanyalah suatu istidraj, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya: Maka tatkala mereka melupakan peringatan nan telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan utk mereka; sehingga apabila mereka gembira dgn apa nan telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dgn sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. –QS al An’am/6 ayat 44-). [HR Ahmad, 4/145 dgn sanad shahih, & dishahihkan Syaikh al Albani dlm ash Shahihah, 413].

Kalaupun orang kafir memiliki kenikmatan & kesenangan di dunia, maka tak ada kenikmatan bagi mereka selain itu saja. Allah Subhanahu a berfirman:

وَلَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang nan segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, & bagi mereka azab nan besar. [Ali Imran/3: 176].

Imam al Bukhari rahimahullah & Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan kisah ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu nan memasuki rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk menjumpai beliau. Ia sangat prihatin dgn keadaan & sedikitnya harta nan beliau miliki. Umar bercerita:

Aku menjumpai beliau. Ternyata beliau sedang berbaring di gelaran di atas pasir tanpa ada (dasar) kasurnya. Kerikil-kerikil membekas pada sisi tubuh beliau. Beliau bersandar pada sebuah bantal terbuat dari kulit nan berisi serabut pohon kurma. Aku pun melontarkan salam kepada beliau…aku duduk ketika melihat beliau tersenyum. Begitu pandangan aku arahkan ke (isi) rumah, demi Allah, aku tak melihat adanya sesuatu nan memikat pandangan, kecuali 3 kulit samakan. Aku pun berkata:

ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللَّهَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِي

“Mintalah kepada Allah agar memudahkan (kehidupan) umatmu. Sesungguhnya bangsa Persia & Rumawi, mereka mendapatkan kemudahan (dalam hidup), & diberi kenikmatan dunia, padahal mereka tak menyembah Allah”. Sebelumnya beliau bersandar (kemudian duduk), setelah itu berkata: “Apakah engkau masih ragu wahai putra al Khaththab? Mereka adalah kaum nan disegerakan kenikmatan mereka di dunia in,i” aku (pun) berkata,”Wahai Rasulullah, mintakan ampunan bagiku. “

Lantaran dunia itu bernilai rendah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikannya kepada orang kafir juga. Pemberian di dunia tak menunjukkan penghormatan bagi nan menerimanya. Sebaliknya, demikian pula dgn terhalanginya seseorang dari rizki, bukan berarti sebagai indikasi penghinaan terhadapnya. Seorang muslim tak berasumsi demikian.
Sehingga ayat di atas bisa menjadi penghibur bagi kaum Muslimin. Syaikh as Sa’di rahimahullah berkata,”Ayat ini (ayat di atas) dimaksudkan sebagai penghibur dari (fenomena) apa nan diperoleh orang-orang kafir dari harta dunia & kehidupan mereka nan menyenangkan, serta tingginya mobilitas mereka di berbagai wilayah dgn bermacam-macam perniagaan, usaha & kenikmatan, juga banyaknya kekuasaan & kemenangan dlm beberapa kesempatan. ” (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

إنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّـنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَ مَن لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانِ إلاَّ مَنْ يُحِبُّ فَإذَا أحَبَّ اللهُ عَبْداً أعْطَاه ُ الإيْمَانٍِ

Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang nan disenangi & orang nan tak disukai. Tidak memberikan karunia iman, kecuali kepada orang nan dicintaiNya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya Allah memberinya karunia iman. [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 34545 & dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dlm Shahih al Adabi al Mufrad, hlm. 209].

Sebabnya, tiada lain, karena dunia itu murah, sedangkan seorang mukmin adalah insan nan bernilai lagi berharga. Allah memberinya anugerah nan paling bernilai, yaitu kebahagiaan di akhirat.

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya akhir (akhirat) lebih baik bagimu dari permulaan (kehidupan dunia). [adh Dhuha/93: 4].

Apabila, dunia ini lepas dari tangan seorang mukmin, & dinikmati oleh orang nan kafir, maka seorang nan mukmin itu tak dirundung duka, & ia tetap bersyukur, lantaran mendapatkan nikmat iman, agama nan shahih & kitab (al Qur`an) nan terbebas dari hawa nafsu & campur tangan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu 7 ayat nan dibaca berulang-ulang & al Qur`an nan agung. Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup nan telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), & janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, & berendah dirilah kamu terhadap orang-orang nan beriman. [al Hijr/15: 87-88].

Dalam 2 ayat di atas, terdapat 4 pelajaran penting.
1. Seseorang nan telah menerima al Qur`an, maka sesungguhnya ia telah memegang kendali seluruh kebaikan, sehingga jangan bersedih?

2. Allah melarang mengalihkan pandangan kepada harta benda milik orang-orang kafir. Tidaklah terperdaya dengannya, kecuali para pecundang. Ibnu Katsir menerangkan: “Merasa cukuplah dgn apa nan diberikan Allah, yaitu al Qur`an dgn melupakan apa nan mereka miliki, berupa harta & kenikmatan nan akan sirna”.

3. Orang-orang kafir tak memiliki daya tarik kebaikan, maka sudah sepantasnya mengarahkan pandangan kepada orang-orang nan beriman & dikaruniai al Qur`an. (3 ini dari al Mawahib ar Rabbaniyah karya as Sa’di (hlm. 64) )

4. Allah memerintahkan kaum Mukminin utk tawadhu`. Dan perintah ini bukan kepada orang-orang kafir.

LARANGAN MEMUJI ORANG KAFIR
Umat Islam merupakan umat terdepan. Tidak sepatutnya mengekor & takjub terhadap orang-orang nan dicela oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan umat Islam ini dgn sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ

Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia & menjadi umat pertama di hari Kiamat. nan pertama ditetapkan keputusannya sebelum makhluk-makhluk lainnya. [HR Muslim, 856].

Bila seorang muslim telah mengetahui kemuliaan nan diberikan Allah berikan kepada umat ini, maka wajib atasnya utk memuliakannya juga, & menjauhi berbagai sikap nan merendahkannya. Terutama sikap nan justru akan mendukung sepak terjang musuh utk memperdaya Islam.

Selain itu, sudah menjadi prinsip dlm Islam, yaitu mencintai kaum Mukminin & wala (loyal) terhadap mereka, & membenci kaum kuffar serta berlepas diri dari mereka. Bertasyabbuh dgn mereka pun tak boleh.

Pujian terhadap kaum kuffar nan muncul dari sebagian kaum muslimin, tak lain karena lemahnya iman & kepribadian mereka, serta kaum Muslimin tersebut lalai dari prinsip di atas. Pada umumnya, faktor pemicunya adalah terkesan dgn apa nan dimiliki mereka, nan didorong oleh cinta dunia.

Bagaimanapun, meski kehidupan kaum kuffar sangat menarik, tetapi mereka, tak lepas dari firman Allah:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui nan lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [ar Rum/30: 7].

Allah membuat permisalan, mereka bagaikan himar atau keledai (al Jumu’ah/62: 5), anjing (al A’raf/7: 175-177), lebih buruk dari binatang ternak (al Furqan/25: 44), atau orang-orang nan bisu, tuli & buta (al Baqarah/2 ayat 171). Apakah seorang muslim ridha utk memuji kaum kuffar dgn pujian & sanjungan, dgn dalih ingin inshaf (……) & bersikap adil? Padahal permisalan dari Allah tentang mereka sedemikian rupa buruknya? Kekufuran merupakan jenis sayyiah (kejelekan), nan akan menampik hasanah (sebelum digantikan dgn keimanan).

Nabi n juga sudah melakukan ini. Begitu mendengar ada pujian nan terlontar kepada kaum kuffar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menepisnya. Dari ‘Aisyah, ia bercerita tentang sebagian isteri beliau nan mengagumi keindahan sebuah gereja Mariyah di Habasyah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka itu makhluk nan paling buruk di sisi Allah. [Muttafaqun ‘alaih].

Larangan memuji orang kafir manfaatnya sangat jelas.
1. Kaum Muslimin akan selamat dari mengekor hal-hal terlarang nan ada pada mereka, sehingga kepribadian sebagai muslim pun tetap terjaga.

2. Pujian nan ditujukan kepada kaum kuffar tidaklah cocok. Sebab, tindak-tanduk lahiriahnya bertentangan dgn jati diri mereka nan asli. Sebagai bukti, yaitu dlm interaksi sosial mereka. Sebagai contoh, mereka mengembangkan cara hidup pergaulan bebas, homo, lesbian, rasialis, & lainnya. Cara mereka dlm menjalin hubungan antar individu menjadi contoh konkrit tentang kebejatan moral nan mereka miliki. Negara-negara nan miskin, justru dijerumuskan ke dlm lembah hutang, nan tak tahu kapan akan terlunasi. Hingga akhirnya, perlakuan layaknya budak menjadi pemandangan sehari-hari di media massa.

Apakah berarti kaum Muslimin dilarang mengambil manfaat hasil teknologi nan sudah mereka capai?

Jawaban pertanyaan ini, tentu saja tidak, selama tak terdapat pelanggaran syariat, & benar-benar berguna bagi kepentingan umat, maka hal itu boleh dibolehkan. Karena, bagaimanapun orang-orang kafir tetap memiliki rasa dendam menguasai kaum Muslimin. Renungkanlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu & janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang nan tak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang nan zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian nan lain, & Allah adalah pelindung orang-orang nan bertaqwa. – [al Jatsiyah/45: 18-19].

Dalam hal ini, jangan sampai ada orang nan memahami secara keliru, bahwa setiap mukmin harus berbuat buruk terhadap orang kafir agar kepribadiannya terjaga. Sebab, qanaah (merasa cukup) dgn akhlak Islam & tetap mewaspadai akhlak-akhlak kaum kuffar. Allah melarang berbuat aniaya nan melampaui batas saat membela diri, apalagi dlm masalah lain. Allah berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan nan serupa, maka barangsiapa mema’afkan & berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tak menyukai orang-orang nan zhalim. [asy Syuura/42: 40].

Oleh karena itu, syariat melalui nash-nashnya memerintahkan utk berbuat baik kepada semua manusia. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wasallam.

(Diangkat dari Raf’u adz Dzulli wa ash Shaghari ‘an al Maftunina bi Khuluqi al Kuffar, karya ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, Cet. I, Tahun 1426 H, dgn sedikit penambahan. (Pen))

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Referensi:
https://www.facebook.com/negara.tauhid?ref=tn_tnmn
http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhal tags: Teknologi Informasi Komunikasi, Alaihi Wa Sallam, Ali Imran, Kemajuan Teknologi, Orang Kafir

 

Recent Posts :

2 Responses to “KATA SIAPA ORANG MUSLIM KALAH OLEH ORANG KAFIR ?”

  1. mir 30 June 2013 at 13:40 #

    benar…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: