KETIKA SEORANG ULAMA MENDIDIK ANAKNYA

2 Jun

Yusuf bin Ahmad asy Syirazi pernah menyatakan dalam bukunya Arba’in al Buldan (kisah 40 negeri),
“Tatkala aku mengembara menemui guru kami (yg memang tujuan pengembaraan kami di dunia kala itu adalah ulama ahli isnad masa itu dan tujuan perjalanan menghabiskan waktu), Allah menakdirkan diriku utk dapat menemui beliau di ujung negeri Kerman (di daerah Iran skr). Aku segera memberi salam kepadanya, menciumnya dan duduk dihadapannya. Beliau lalu bertanya kpdku, ‘Angin apa yg membawamu datang ke negeri ini?’ Aku menjawab, ‘Aku memang bermaksud datang kpd anda, dan tujuanku setelah Allah adalah diri anda. Aku telah menulis setiap yang sampai kepadaku dari hadits anda dgn tanganku sendiri, aku datang menemui anda dengan kakiku sendiri; utk mendapatkan berkah nafas2 dan memperoleh bagian dari ketinggian sanad anda.’Beliau menanggapi, ‘Semoga Allah mengaruniai taufiq kpd kita semua menuju keridhaan-Nya, menjadikan usaha dan tujuan kita hanya kepada-Nya. Apabila engkau mengetahui siapa diriku sebenarnya, niscaya engkau tidak akan memberi salam kepadaku dan tidak akan duduk belajar di hadapanku.’ Lalu beliau menangis lama sekali dan membuat org2 disekelilingnya ikut menangis. Kmd beliau berkata, ‘Ya Allah, tutupilah dosa2 kami dgn hijab-Mu yg terbaik, seusai Engkau tutupi dosa2 kami, sisakan perbuatan yg membuat-Mu ridha kpd kami.'”

Beliau melanjutkan, “Wahai anakku, kamu tentu tahu, bahwa aku dahulu juga mengembara mencari hadits shahih dgn berjalan kaki bersama ayahku dari Herat (di Afghanistan skr) menuju Dawudi di Bushanj, umurku kala itu belum genap sepuluh tahun. Biasanya ayahku meletakkan 2 buah batu di genggaman dua tanganku sambil berkata, ‘Bawa kedua batu itu.’ Saking takutnya, aku membawa batu itu dgn hati2 sambil berjalan, sementara ayahku terus memantau diriku. Apabila beliau telah melihat diriku kelelahan, beliau menyuruhku utk membuang 1 dari 2 batu itu. Aku pun membuangnya sehingga terasa lebih ringan. Aku terus berjalan, hingga terlihat kelelahanku. Setelah itu beliau bertanya, ‘Kamu lelah?’Karena takut, aku menjawab, ‘Belum.’ Beliau bertanya lagi, ‘Kalau begitu, kenapa engkau perlambat jalanmu?’ Maka aku segera berjalan cepat2 di depan beliau selama beberapa saat. Setelah itu aku lemas. Beliau segera mengambil batu yang satunya dan membuangnya. Aku lalu berjalan hingga tak sanggup lagi. Saat itulah beliau memanggul dan membawaku. Di tengah jalan, kami bertemu dgn sekelompok petani dan lainnya. Mereka berkata, ‘Wahai Syaikh Isa, biarkan kami membonceng anak itu, bila perlu denganmu sekalian menuju Bushanj.’ Beliau menjawab, ‘Kami berlindung kepada Allah utk berkendaraan dalam mencari hadits2 Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Kami berjalan saja. Kalau anakku capek, biarkan aku menggendongnya diatas kepalaku demi memuliakan hadits Rasulullah dan mengharapkan pahala dari-Nya.

Sang guru melanjutkan, “Tidak ada teman seangkatanku yg masih hidup hingga kini. Hanya aku yg masih hidup. Sehingga berbagai utusan (penuntut ilmu) mendatangiku dari berbagai penjuru.’ Kemudian beliau meminta kpd sahabat kami Abdul Baqi bin Abdul Jabbar al Harawi untuk menyuguhkan makanan ringan buat kami. Aku segera berujar, ‘Wahai tuan, membaca satu juz karya Abu al Jahm lebih aku sukai daripada memakan makanan ringan itu.’ Beliau tersenyum seraya berkata, ‘Apabila sudah masuk makanannya, baru bisa keluar pembicaraan kita.’ Beliau segera menyuguhkan makanan basah, dan langsung kami santap. Lalu aku mengeluarkan Juz Abu Ashim tersebut dan meminta beliau utk mengeluarkan naskah aslinya. Beliau pun segera mengeluarkan aslinya. Beliau berkata, ‘Jangan khawatir dan jangan keburu nafsu. Sesungguhnya aku telah banyak melahirkan murid2 yg kini telah tiada. Mintalah keselamatan dari Allah.’ Aku pun segera membaca juz tersebut, dan aku sungguh senang sekali. Lalu Allah memberi kemudahan bagiku utk mempelajari hadits2 dalam ash Shahih dan yg lainnya berkali2. Aku terus menemani dan merawat beliau hingga beliau wafat di Baghdad malam selasa bulan Dzulhijjah.”
(siyar A’lam an Nubala, 20/307, 308).

Recent Posts :

3 Responses to “KETIKA SEORANG ULAMA MENDIDIK ANAKNYA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: