PERBEDAAN UCAPAN SEORANG ALIM DENGAN UCAPAN KITA

2 Jun

Perbedaan ucapan seorg alim (Salaf) dengan ucapan kita,
- Alim : “Tadi malam ada bintang jatuh, kebetulan saya belum tidur.”
- Kita : “Tadi malam ada bintang jatuh, kebetulan saya pas shalat tahajud.”
Atau,
- Alim : “Siang ini panas sekali, mudah2an kita bisa cepat sampai tujuan.”
- Kita : “Siang ini panas sekali, mudah2an kita bisa cepat sampai tujuan walaupun saya sedang puasa.”

Dilihat dari kalimatnya, bedanya sangat sedikit. Tapi jika dilihat dari maknanya, bedanya sangat jauh sekali. Wallahu a’lam.

Contoh aplikasi dari status diatas:

Diriwayatkan dari Hushain bin Abdurrahman, dia mengatakan :
Dahulu aku duduk di dalam majelis Sa’id bin Jubair. Sa’id mengatakan, “Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat bintang jatuh?”. Aku jawab, “Aku.”

Lalu kukatakan kepadanya, “Namun saat itu aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena tersengat binatang berbisa.” Sai’d berkata, “Lalu apa yang kamu lakukan?”. Aku jawab, “Aku meminta ruqyah.” Sai’d mengatakan, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”. Maka aku katakan, “Sebuah hadits yang diriwayatkan kepada kami oleh Asy-Sya’bi.”

Sa’id mengatakan, “Apa yang dia riwayatkan kepada kalian?”. Aku jawab : Dia membawakan riwayat dari Buraidah bin Al-Hushaib (yang isinya) Nabi bersabda, “Tidak ada ruqyah yang lebih manjur melainkan untuk menyembuhkan ‘ain atau karena sengatan.”

Sa’id berkata, “Sungguh baik orang yang bersikap mengikuti hadits yang dia dengar. Namun ada hadits lain yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda,

“Ketika itu (peristiwa isra’, pen.) ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Ketika itu aku dapat melihat ada seorang nabi disertai dengan sekelompok pengikut. Ada nabi yang disertai dengan satu dan dua pengikut, bahkan ada nabi yang tidak disertai oleh pengikut. Kemudian tiba-tiba ditampakkan kepadaku sebuah umat yang jumlahnya sangat banyak. Aku mengira mereka itu adalah umatku. Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya.” Lalu aku melihat sekelompok besar manusia dan dikatakan kepadaku, “Inilah umatmu dan bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.” Kemudian Nabi bangkit dari tempat duduknya lantas masuk ke dalam rumah.

Para sahabat pun mulai membicarakan hal itu (70 ribu orang tersebut). Sebagian di antara mereka berkata, “Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang menjadi sahabat dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Sebagian lagi mengatakan, “Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga Islam dan sama sekali tidak pernah melakukan syirik kepada Allah.” Mereka pun banyak mengemukakan dugaannya masing-masing.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan memberitahukan kepada mereka, “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan kay (besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial), dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” Maka Ukasyah bin Mihshan bangkit dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar saya termasuk di antara mereka.” Nabi menjawab, “Kamu termasuk di antara mereka.” Kemudian ada orang lain yang bangkit seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka itu.” Maka Nabi menjawab, “Ukasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari [3410] Muslim [220] Tirmidzi [2448] Darimi [2810] dan Ahmad [1/271])

Kandungan hadits secara global

Hushain bin Abdurrahman menggambarkan kepada kita tentang dialog yang terjadi di majelis Sa’id bin Jubeir yang terkait dengan jatuhnya bintang di suatu malam. Hushain pun memberitakan kepada mereka bahwa malam …itu dia melihat bintang itu jatuh. Sebab ketika itu dia sedang tidak tidur. Hanya saja dia khawatir orang-orang yang hadir ketika itu mengira dia sedang shalat pada malam itu, maka dia ingin menepis anggapan melakukan ibadah yang sebenarnya tidak dia lakukan, sebagaimana halnya kebiasaan kaum salaf yang begitu bersemangat dalam meraih keikhlasan. Maka dia beritahukan kepada mereka sebab sesungguhnya kenapa dia terbangun malam itu yaitu karena musibah yang menimpanya, maka berpindahlah objek pembicaraan menuju tindakan yang dilakukannya ketika mengalami musibah itu. Dia mengabarkan bahwa dia mengobatinya dengan (meminta) ruqyah….dst.

 

Recent Posts :

2 Responses to “PERBEDAAN UCAPAN SEORANG ALIM DENGAN UCAPAN KITA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 200 other followers

%d bloggers like this: