ASSALAMU ‘ALAIKUM ATAU HALLO??

4 Jul

Manakah yang lebih baik dan utama, ucapan ‘Hallo’ atau ‘Assalamu ‘alaikum’ ?
Seorang muslim pasti akan menjawab ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ lebih baik dan lebih utama.
Maka itu, tinggalkanlah ucapan ‘Hallo’ dan ganti dengan ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ dikala menelepon atau menjawab telepon.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu tidak akan masuk ke Surga hingga kamu beriman, kamu tidak akan beriman secara sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai? Biasakan mengucapkan salam di antara kamu (apabila bertemu).” [HR. Muslim 1/74, begitu juga imam yang lain].

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakannya, maka sungguh telah mengumpulkan keimanan: 1. Berlaku adil terhadap diri sendiri; 2. Menyebarkan salam ke seluruh penduduk dunia; 3. Berinfak dalam keadaan fakir.” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 1/82, dari hadits ‘Amar z secara mauquf muallaq].

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah engkau memberi makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 1/55, Muslim 1/65].

Berikut ini adalah salah satu contoh adab seorang ulama tatkala menerima telepon (dinukil dari http://abusalma.net/?p=1178#more-1178) :

Ini adalah transkrip percakapan seorang penuntut ilmu dengan Asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân hafizhahullâhu via telepon. Dalam percakapan ini, Syaikh mendukung pendapat Syaikh ‘Ali al-Halabî dan masyaikh Syam akan kesalafiyahan Syaikh Muhammad Hassân.

Syaikh : Na’am (iya)*

[Catatan : Ini adalah adab seorang ulama yang patut ditiru, yaitu beliau berupaya menghindarkan diri dari tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir dengan sering mengawali percakapan di telepon dengan kata “hallo”, dan lebih memilih untuk mengucapkan “iya”, pent.]

Penanya : Assalâmu ‘alaikum warohmatullâhi wabarokâtuh

Syaikh : Wa’alaikum as-Salâm warohmatullâhu wabarokâtuh

Penanya : Hayyakumullâhu ya Syaikh

Syaikh : Allôhu yuhyîka

Penanya : Apakah diizinkan Saya merekam pertanyaan ini?*

[Catatan : Ini adalah adab penuntut ilmu, meminta izin terlebih dahulu apabila akan merekam sebuah pembicaraan, pent.]

Syaikh : Pertanyaannya apa dulu sebelum Anda merekamnya?*

[Catatan : Ini menunjukkan pemahaman yang dalam dari diri Syaikh untuk melihat jenis dan bentuk pertanyaannya sebelum beliau mengizinkannya untuk direkam.]

Penanya : Pertanyaannya wahai Syaikh, sesungguhnya sebagian saudara kita –wahai Syaikh-, mereka terpengaruh dengan Syaikh Muhammad Hassân. Saya ingin menasehati mereka, karena itu Saya ingin minta nasehat Anda untuk mereka wahai Syaikh.

Syaikh : Ada apa emangnya dengan Syaikh Muhammad Hassân? Kenapa dengan Syaikh Muhammad Hassân?

Penanya : Demi Alloh, para ulama membicarakan tentang Syaikh Muhammad Hassân.*

[Catatan : Di sini sang penanya tampak agak kaget sebab Syaikh memberikan jawaban yang berbeda dengan yang diinginkannya, Pent.]

Syaikh : Siapa ulama yang membicarakannya? Apakah Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd?!

[Catatan : Di sini Syaikh hendak menunjukkan bahwa Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad seharusnya yang menjadi rujukan di dalam masalah jarh wa ta’dîl karena beliau adalah ulama yang paling obyektif, pent.]

Penanya : Syaikh ‘Ubaid al-Jâbirî telah membicarakannya, dan beliau mengatakan bahwa dia (Syaikh Muhammad Hassân) adalah Quthbî (nisbat kepada Sayyid Quthb-pent) wahai Syaikh.

Syaikh : ‘Ubaid al-Jâbirî ini mengambil posisi ulama tentang hal ini ataukah perkara ini merupakan haknya dan selainnya?

Penanya : Sebagian ikhwah bertanya kepada beliau dan beliau menjawab bahwa dia adalah Quthbî wahai Syaikh.

Syaikh : ‘Ala kulli hâl (biar bagaimanapun) ini merupakan ijtihâd dari Syaikh (al-Jâbirî), yang bisa benar dan bisa keliru. Sesungguhnya, saudara kami al-Akh Muhammad Hassân adalah termasuk seorang yang berilmu (ulama) dan pemilik keutamaan. Kami tidak mendakwakan bahwa beliau itu ma’shûm dan tidak pernah bersalah. Namun beliau adalah termasuk ahlus sunnah dan orang yang membela aqidah dan sunnah serta beliau termasuk jajaran da’i yang terdepan yang menampakkan pembelaan terhadap aqidah dan sunnah di dunia. Beliau banyak memberikan manfaat di Mesir, Syam dan selainnya.

Penanya : Maksudnya wahai Syaikh, Muhammad Hassân itu termasuk ahlus sunnah?

Syaikh : Iya, iya, termasuk ahlus sunnah.

Penanya : Bukannya dia memiliki kesalahan-kesalahan wahai Syaikh?

Syaikh : Tidak ada orang yang tidak memiliki kesalahan wahai saudaraku. Akan tetapi kesalahan-kesalahan beliau ini tidak mengeluarkannya dari ahlus sunnah.

Penanya : Mereka juga mengatakan bahwa dia juga seorang ikhwânî wahai Syaikh.

Syaikh : Tidak, tidak, beliau bukan seorang ikhwânî, bukan…  beliau adalah seorang salafî, dan seorang salafî itu senantiasa tidak akan menyebutkan guru-gurunya kecuali Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimîn –yang beliau sendiri belajar padanya-, menyebutkan Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz dan menyebukan al-Albânî. Tidak akan selamanya dia berargumen dengan salah seorang pun selain mereka.

Penanya : Jazzâkallâhu khoyron wahai Syaikh, bârokallôhu fîka yâ Syaikh, hayyakallohu yâ Syaikh

=============

Maka dari itu, ucapkanlah salam sebelum orang lain mengucapkan salam kepadamu dengan salam penghuni kubur….

 

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

 

Recent Posts :

3 Responses to “ASSALAMU ‘ALAIKUM ATAU HALLO??”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: