Archive | 16:00

BLS (BADAN LISENSI SALAFI)

21 Jul

 

Istilah salafi atau pengikut generasi salaf yaitu para sahabat adalah istilah yang besar dan penuh dengan makna. Demikian juga istilah mubtadi’ atau ahli bid’ah, ia bukan istilah yang bisa diobral ke sembarang orang hanya gara-gara tidak satu kelompok pengajian atau tidak satu ustadz atau bahkan gara-gara tidak satu organisasi. Sebagian orang begitu mudah mengatakan secara mutlak bahwa si fulan adalah mubtadi’ atau si fulan bukan salafi hanya gara-gara dia melihatnya tidak ikut bersama pengajian yang dia ikuti, atau hanya gara-gara kesalahan fikih yang tidak sampai mengeluarkan dari manhaj salaf. Namun di sisi lain ada juga orang yang terlalu mudah mengatakan bahwa si fulan itu salafi hanya gara-gara pernah ikut satu organisasi dakwah dengannya. Oleh sebab itu dalam masalah ini kita patut berhati-hati. Apalagi gara-gara mengobral istilah-istilah ini tidak pada tempatnya akhirnya membuahkan kekacauan di tengah kaum muslimin terutama di kalangan sesama da’i dan penuntut ilmu. Untuk lebih jelasnya silakan renungkan ucapan Syaikh Utsaimin ketika menjelaskan keadaan orang yang menyimpang dalam hal asma’ wa shifat berikut ini. Continue reading

TAMU TERAKHIR

21 Jul

Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!!  Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!

Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!
Continue reading

FUTUR SYNDROME

21 Jul


Sesungguhnya fenomena berpaling dari komitmen pada agama ini sungguh telah menyebar di kalangan kaum muslimin. Berapa banyak manusia mengeluh akan kerasnya hati setelah sebelumnya tentram dengan berdzikir pada Allah, dan taat kepada-Nya. Dan berapa banyak dari orang-orang yang dulu beriltizam (komitmen pada agama) berkata, “Tidak aku temukan lezatnya ibadah sebagaimana dulu aku merasakannya”, yang lain bekata, “Bacaan al-qur’an tidak membekas dalam jiwaku”, dan yang lain juga berkata, “Aku jatuh ke dalam kemaksiatan dengan mudah”, padahal dulu ia takut berbuat maksiat.
Continue reading

DIALOG ALWIY AL MALIKI DENGAN IBNU SA’DI

21 Jul

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

 

Saat sampai kepadaku syubhat berupa kisah dialog antara as-Sayyid ‘Alwiy al-Maliki dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’di, saya tidak berminat menjawabnya pada waktu ini, mengingat kesibukanku dalam mendakwahi Nasrani dan Syi’ah. Akan tetapi saya terpaksa menjawab syubhat ini tanpa menundanya, karena melihat kepentingannya, bahayanya, dan penyebarannya. Juga karena syubhat tersebut sampai kepada saya dari orang yang tidak mungkin saya menolak permintaannya, yaitu Akhi al-Ustadz Agus Hasan Bashori. Berikut ini adalah teks dari syubhat tersebut:

Suatu ketika, as-Sayyid ‘Alwi bin Abbas sedang duduk di dalam halaqah-nya di Masjidil Haram Makkah. Sementara di sisi lain bagian Masjidil Haram duduk pula as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy, penulis kitab Tafsir (Taisir al-Karim al-Rahmon fi Tafsir Kalam al-Mannan) sementara manusia sedang dalam shalat dan thawaf mereka. Kala itu, langit tengah membawa mendung, kemudian turunlah hujan, dan tertumpah dari talang Ka’bah. Maka orang-orang Hijaz, sebagaimana kebiasaan mereka, berhamburan menuju air yang tumpah dari talang Ka’bah untuk mengambil dan menuangkannya ke baju dan tubuh mereka guna ber-tabarruk dengannya.

Maka terkejutlah ahlul hasbah dari kalangan Badui dan menganggap bahwa manusia telah datang dengan kesyirikan dan menyembah selain Allah!!! Jadilah mereka kemudian berkata kepada ahlul Hijaz tersebut, ‘Wahai orang-orang musyrik, syirik… syirik….!’

Maka bubarlah orang-orang tersebut, kemudian berpaling menuju halaqah as-Sayyid ‘Alwiy, lalu mereka bertanya kepadanya (tentang hal itu). Lantas diapun membolehkan mereka untuk melakukan hal itu dan menganjurkannya. Maka untuk kedua kalinya, orang-orang itu berhamburan menuju talang Ka’bah untuk mengambil air tanpa menghiraukan ahlul hasbah yang badui tersebut. Kemudion orang-orang itu berkata kepada mereka, ‘Kami tidak akan mempedulikan kalian setelah as-Sayyid Alawiy bin ‘Abbas memberikan fatwa kepada kami…’

Maka orang-orang Badui itupun pergi ke halaqah as-Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’diy untuk mengadukan as-Sayyid Alwiy kepadanya. Lantas lbnu Sa’diy pun mengambil sorbannya lalu pergi dan duduk di sisi as-Sayyid dengan adab yang agung, sementara manusia berkumpul di sekitar keduanya. Kemudian lbnu Sa’diy berkata kepada as-Sayyid, ‘Apakah benar wahai Sayyid, bahwa Anda telah berkata kepada manusia bahwa terdapat keberkahan pada air ini?!

Maka berkatalah as-Sayyid, ‘Bahkan saya katakan, terdapat dua keberkahan!!’

Ibnu Sa’di berkata, ‘Bagaimanakah yang demikian itu?’

As-Sayyid menjawab, ‘Dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi…” (QS. Qaaf: 9)

Dan Dia berfirman tentang Ka’bah:

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 96)

Maka keduanya sekarang adalah dua keberkahan; satu keberkahan air langit, dan keberkahon Ka’bah ini.’

Maka takjublah as-Syaikh Ibnu Sa’di seraya berkata, ‘Subhanallah, bagaimana kita bisa lalai dari hal ini?’ Lantas diapun berterima kasih kepada as-Sayyid dan meminta izin untuk pergi.

Maka berkatalah as-Sayyid kepadanya, ‘Tenang wahai Syaikh, apakah Anda melihat orang-orang badui tersebut? Sesungguhnya mereka menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang itu adalah sebuah kesyirikan. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan manusia dan melemparkan tuduhan syirik kepada mereka dalam perkara ini hingga mereka melihat orang seperti Anda menahan mereka, maka bangkitlah menuju talang Ka’bah, lalu ambillah air darinya di hadapan mereka hingga mereka menahan diri dari manusia.’

Maka tidak ada apa pun dari lbnu Sa’di melainkan dia bangkit dan pergi lalu membuka bajunya, mengambil air dan ber-tabarruk dengannya. Lalu pergilah orang-orang badui itu dari manusia.

As-Syaikh ‘Abdul Fattah Rawwah memberitakan kepadaku dengan kisah ini dalam Tsabat-nya. Continue reading