KELIRUNYA ORANG YANG MENGGUNAKAN HISAB SAAT MENETAPKAN AWAL RAMADHAN ATAU SYAWAL

6 Sep

Perlu diketahui bersama bahwasanya mengenal hilal adalah bukan dengan cara hisab. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengenal hilal adalah dengan ru’yah (yaitu melihat bulan langsung dengan mata telanjang).

 

Karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi contoh dalam kita beragama telah bersabda:

 

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

 

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[1] dan tidak pula mengenal hisab[2]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” [HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.]

[1] Maksudnya, dulu kitabah (tulis-menulis) amatlah jarang ditemukan. (Lihat Fathul Bari, 4/127).

[2] Yang dimaksud hisab di sini adalah hisab dalam ilmu nujum (perbintangan) dan ilmu tas-yir (astronomi). (Lihat Fathul Bari, 4/127).

 

Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan:

 

“Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits, akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Bahkan hal ini semakin terang dengan penjelasan dalam hadits:

 

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

 

“Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”

 

Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

 

Sebagian kelompok memang ada yang sering merujuk pada ahli astronom dalam berpatokan pada ilmu hisab yaitu kaum Rofidhoh.

 

Sebagian ahli fiqh pun ada yang satu pendapat dengan mereka. Namun Al Baaji mengatakan:

 

“Cukup kesepakatan (ijma’) ulama salaf (yang berpedoman dengan ru’yah, bukan hisab, -pen) sebagai sanggahan untuk meruntuhkan pendapat mereka.”

 

Ibnu Bazizah pun mengatakan:

 

“Madzhab (yang berpegang pada hisab, pen) adalah madzhab batil. Sunguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu ini kecuali sedikit.” [Fathul Bari, 4/127]

 

*(Dikutip dari http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam MELARANG memulai puasa (Ramadhan) dan MELARANG mengakhirinya HINGGA MELIHAT HILAL, kecuali terhalangnya hilal dari penglihatan sehingga boleh memulai Ramadhan dan mengakhirinya dengan cara menggenapkan bulan Sya’ban dan Ramadhan menjadi 30 hari.

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

 

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang bulan Ramadhan lalu Beliau bersabda:

 

“Janganlah kalian berpuasa (memulai puasa Ramadhan) hingga kalian melihat hilal dan jangan pula kalian berbuka (berhari raya) hingga kalian melihatnya (hilal). Jika terhalang oleh kalian (hilal), maka sempurnakanlah bilangan bulannya.” (HR. Bukhari)

 

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah berkata:

 

“Melihat hilal adalah berkaitan dengan penglihatan mata telanjang. TIDAK PERLU berlebih-lebihan dan menyulitkan diri melihat hilal dengan alat-alat teleskop ATAU DENGAN PERHITUNGAN AHLI HISAB YANG MEMALINGKAN KAUM MUSLIMIN DARI SUNNAH Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga sedikitlah kebaikan pada mereka dan bertambah banyaklah keburukan, wal iyadzu billah.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’al Fatawa (XXV/207-208):

 

“Tidak diragukan lagi bahwa telah ditetapkan dalam Sunnah Nabi yang shahih dan kesepakatan Sahabat Nabi bahwa TIDAK BOLEH BERPEGANG PADA HISAB seperti yang disebutkan dalam sebuah riwayat shahih dalam kitab Ash-Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kami adalah kaum yang ummi, kami tidak menulis dan tidak memakai ilmu hisab. Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya.’”

 

Orang yang berpegang kepada hisab dalam penetapan hilal adalah ORANG YANG SESAT dalam pandangan syari’at, orang yang berbuat bid’ah dalam agama dan ia termasuk orang yang keliru dalam logika dan ilmu hisab itu sendiri.

 

Para ahli astronomi mengetahui bahwa ru’yat hilal tidak dapat ditetapkan dengan hitungan hisab. Paling maksimal, ilmu hisab hanya dapat mengetahui berapa derajat jarak antara hilal dan matahari saat terbenam misalnya. Namun ru’yat tidak dapat ditetapkan dengan derajat tertentu. Sementara ru’yat hilal bergantung kepada perbedaan tajam atau tidaknya pandangan mata, kepada tinggi rendahnya tempat melihat hilal dan kepada cerah tidaknya langit.

 

Sebagian orang barangkali dapat melihatnya pada 8 derajat, sementara yang lainnya tidak dapat melihatnya pada 12 derajat. Oleh karena itu, ahli hisab berbeda pendapat sangat tajam tentang penetapan busur ru’yat. Para tokoh ilmu hisab seperti Bathliyus tidak memberi penjelasan sepatah kata pun dalam masalah ini, karena tidak ada dalil ilmu hisab yang menetapkannya.”

 

(Dikutip dari Mausuu’ah al-Manaahi asy-Syar’iyyah, edisi Indonesia: Ensiklopedi Larangan, jilid 2, Bab Puasa, hal. 158-160, Larangan No. 275: Janganlah Memulai Puasa Hingga Melihat Hilal, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah)

Dinukil dari : http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150776565550175

 

Recent Posts :

5 Responses to “KELIRUNYA ORANG YANG MENGGUNAKAN HISAB SAAT MENETAPKAN AWAL RAMADHAN ATAU SYAWAL”

  1. nurul iman 16 July 2012 at 22:50 #

    kita sesama Islam tidak lah pantas untuk saling menghujat sampai bilang sesat kepada sesama muslim..,, Menurut saya, tidaklah salah menggunakan kemajuan teknologi dalam Islam.. Karena Islam selalu Fleksibel dengan kemajuan..
    Saya berharap tidak ada paksaan dalam beragama,.. Selama prinsip-prinsipnya tetap di pertahankan.

    • gizanherbal 17 July 2012 at 11:57 #

      yg mengatakan sesat adalah ulama (ahli agama). dan yg mengatakan tidak sesat adalah orang awam (bukan ulama). jadi bisa dibedakan mana yg seharusnya dibandingkan/dipilih.

  2. papas 16 July 2012 at 23:12 #

    asalam ilmu astromi yg sekarang tidaklah sama dgn ahli nujum jamana dahulu. jika ahli nujum mereka meramalkan sesuatu yg tidak jelas asal usulnya. namun jika astromi perhitungan secara ilmiah dan bisa di buktikan .cnth adanya gerhana bulan/matahari itu bsa dihisab sblm di rukyat.. .cnth ktka solat terjdi mendung apakta tetap berpatokan pda jatuh bayangan matahari? maaf koment sy agak ngawur

    • gizanherbal 17 July 2012 at 11:55 #

      yg dibahas disini adalah masalah penentuan awal bulan, bukan penentuan gerhana atau waktu shalat.

    • Abdullah 17 July 2012 at 17:18 #

      dalam fathul bari di atas tidak hanya disebutkan ilmu nujum, namun ilmu astronomi atau dalam nama lain ilmu tasyir juga disebutkan. Tentunya penulis kitab fathul bari telah meneliti sebelumnya kenapa muncul istilah ilmu tasyir.. dan memang pada zaman Rasulullah pun, ilmu astronomi telah digunakan untuk menentukan arah mata angin… dan ini sama saja dengan ilmu astronomi sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: