SOLUSI JIKA ISTRI MENOLAK MANHAJ SALAF

13 Sep

Assalamu alaikum Syaikh, ana mau tanya mengenai problem rumah tangga. Ana menikah sudah 3 tahun dan dikaruniai anak laki-laki umur 1,7 tahun yang montok. Istri ana orang yang sulit untuk didakwahi/dinasehati dengan manhaj Salaf, karena istri ana orang tradisional dan keluarganya juga orang tradisional. Istri ana selalu ana nasehati untuk selalu belajar ilmu agama walau baca buku, tapi dia gak mau baca dan gak mau ikut manhaj Salaf, dia akan terus ikut kelompok tradisional, bahkan dia menganggap Salaf itu sesat.

Istri ana lebih percaya dan lebih patuh pada bapaknya daripada ana, suaminya. Bapaknya seperti dukun yang kental dengan khurafat, tathoyur, dan tahayul, apalagi kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Istri ana bila di rumah ortunya gak mau pakai jilbab. Alasannya selalu, gak apa-apa ini di kampungku sendiri, kalau keluar jauh baru pakai jilbab, itu saja jilbab mini. Dia gak mau pakai baju lebar/besar (yang menutupi tubuhnya dengan sempurna). Istri ana selalu pakai baju ketat. Dia selalu membantahku dalam hal agama. Ia dikit-dikit marah padaku. Diriku selalu diawasi dan bertanya mau kemana dan dari mana. Itu selalu diucapkan apabila ana mau pergi dan pulang dari bepergian. Ia juga gak mau dimadu walau ana kaya sekalipun.  Dia minta cerai apabila ana poligami.

Semua keluarganya benci dengan Salaf,istriku juga. Sampai kapanpun istriku gak akan ikut manhaj Salaf dan dia patuh pada bapaknya, apalagi hal-hal tahayul, tathayur dan khurafat. Padahal dia selalu ana nasehati bahwa itu syirik, tetap dia akan patuh bapaknya. Ana sekarang gak betah dengan istriku, ana bingung Syaikh, apakah ana harus ceraikan dia dan mencari yang lebih baik dari dia, jujur ana ingin nikah dengan akhwat bercadar yang bermanhaj Salaf, tetapi ana selalu lihat anakku yang masih kecil. Sekarang ana stress. Apakah ana harus ceraikan dia Syaikh, ana minta tolong bagaimana jalan keluarnya. Syukran.

Jawab:

Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati.

Pertama, izinkan saya untuk banyak menyalahkan Anda pada cara pergaulan Anda terhadap kehidupan suami istri. Yang tampak bagi saya adalah bahwa perlakuan Anda kadang dengan cara yang tidak bertanggung jawab. Anda seperti orang yang menikahi seorang wanita yang pendek, kemudian setelah menikah dengannya, Anda ingin menceraikannya untuk menikahi seorang wanita yang tinggi.

Maka Anda, Anda telah menikah, dan Anda mengetahui bahwa dia dan keluarganya adalah dari saudara-saudara kita dari kalangan tradisional (mengikuti tradisi meski menyalahi sunnah Rasul shalallahu alaihi wasallam). Ini bukanlah suatu perkara yang mengagetkan bagi Anda. Dan janganlah anda mengira bahwa sebagian kalimat perasaan Anda yang Anda ingin meraih perasaan saya terhadap Anda akan mempengaruhi jawaban saya. Maka sesungguhnya saya melihat perselisihan itu dengan pandangan seorang hakim sebelum pandangan seorang yang memberikan obat bagi perselisihan itu.

Wahai saudaraku, jika Allah Azza wa Jalla telah membolehkan kita menikah dari wanita ahli kitab yang kafir, maka bagaimana Anda ingin dengan sederhana menyamakan istri Anda yang shalat dengan wanita-wanita kafir bahkan Anda ingin menjadikannya lebih ringan darinya?

Segala perkara yang telah Anda sebutkan tentang istri Anda, dari berbagai keteledoran dalam masalah hijab dan lainnya, tidak akan memasukkannya ke dalam lingkup kekufuran, terutama Anda telah menikahinya di atas keterangan yang jelas dari perkaranya, maka bertaqwalah kepada Allah, pasti Allah akan menjadikan jalan keluar bagi Anda.

Sesungguhnya keluarga kita, dari kalangan tradisional, betapapun perselisihan kita dengan mereka, maka mereka adalah saudara-saudara kita, sekalipun ada diantara mereka yang mendatangi berbagai perkara yang menyelisihi syariat, maka itu adalah karena kebodohan mereka dari urusan agama. Jika tidak, maka tidak akan mungkin salah satu dari mereka akan mendatangi segala penyimpangan ini kecuali orang yang menentang lagi sombong. Anda belum memahami bahwa dia, atau bapaknya, atau saudaranya, tidak akan menerima arahan dan nasihat dari Anda dengan mudah bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari bid’ah, dan khurafat, karena keberadaan Anda adalah orang yang memiliki manhaj yang berbeda dengan manhaj mereka. Ini adalah sebuah perkara lumrah dalam kebiasaan perlakuan bersama agama-agama, sekte-sekte, dan madzhab-madzhab.

Perhatian saya tertuju kepada ucapan Anda bahwa dia senantiasa mendebat Anda dalam perkara agama, maka sesungguhnya saya katakan, ‘Mana yang lebih baik dari dua hal; dia mendebat Anda, atau dia menolak berbicara bersama Anda dalam urusan agama?’ Tidak diragukan lagi bahwa debatnya bersama Anda adalah salah satu pintu masuk untuk merubahnya kelak, dengan izin Allah. Bahkan anda harus menggunakan perdebatannya dengan perdebatan yang sesuai agar Anda bisa menjelaskan kebenaran kepadanya dengan sebaik-baik gambaran.

Adapun tentang bapaknya, maka istri Anda tidak akan menanggung dosa orang lain. Maka janganlah anda menghukum istri Anda dengan dosa bapaknya. Ini adalah penghalang Anda, yaitu bahwa seharusnya Anda telah mengetahui keadaan bapaknya sebelum menikah. Maka bagaimana sekarang Anda datang dan mengeluh serta ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga karena satu perkara yang sebelumnya Anda sudah mengetahuinya, atau apakah sebelumnya Anda kurang mengetahui dan menelitinya?!

Apa yang telah berlalu adalah diagnosa ringkas dari permasalahan Anda, dan berikut ini adalah obatnya dengan izin Allah:

Sesungguhnya saya, dari sela-sela penyampaian permasalahan Anda, saya merasa bahwa istri Anda adalah seorang wanita yang baik. Akan tetapi Anda belum merasakannya hingga sekarang, apakah Anda mengetahuinya, mengapa? karena Anda memusatkan perhatian kepada sisi negatifnya saja, dan selalu mengkritiknya. Oleh karena itu, agar Anda merasakan kebaikan hati istri Anda, wajib bagi Anda sekarang adalah melupakan penyimpangan syar’inya sama sekali, lalu pusatkanlah perhatian pada perbaikan hubungan suami istri diantara kalian berdua, tanpa masuk dalam perdebatan agama dan selainnya. Menjauhlah sama sekali dari kritik apapun terhadapnya, lalu perbanyaklah memuji dan bercanda dengannya. Maka anda, saat anda mengatakan bahwa ketaatannya kepada bapaknya lebih besar, maka tahukah Anda penyebabnya? Yaitu karena Anda hingga hari ini gagal meraih hatinya. Inilah yang menyebabkan ketaatannya kepada Anda menurun. Oleh karena itu, raihlah hatinya, dengan memuji dan bercanda dengannya.

Sesungguhnya saya merasa heran, Anda orang kaya, Alhamdulillah, lalu mengapa Anda tidak menundukkan kekayaan Anda guna memperbaiki hubungan bersama istri Anda dan mengubahnya? Apakah Anda telah berfikir untuk membawanya tanpa anak ke sebuah tempat yang jauh, lalu Anda habiskan hari-hari indah di dalamnya bersamanya lalu Anda buat dia merasakan cinta Anda yang mendalam untuknya?

Apakah anda sudah berfikir untuk memiliki hatinya, dengan memberikan hadiah kepadanya dengan segala sesuatu yang indah, yang membawa makna-makna tinggi seperti serangkai bunga atau yang lainnya?

Wahai saudaraku, berkenaan dengan mendakwahinya, maka janganlah Anda mendakwahi istri Anda secara langsung, akan tetapi dengan melalui dua sarana; pertama, senantiasalah memutar kaset di rumah dan di kendaraan yang berisikan kajian tentang tauhid, tanpa Anda memasukkan dia dalam perbincangan. Dan janganlah terpengaruh jika dia menampakkan ketidak perhatiannya dengan mendengar. Kadang manusia itu berpura-pura, akan tetapi dia mendengar suara. Oleh karena itulah dia akan mendengar sekalipun dia tengah melakukan pekerjaan rumahnya.

Kemudian, dimana peran para akhowat pada kehidupannya, apakah Anda telah turut memberikan andil dengan mengenalkannya sekalipun satu orang dari mereka?

Adapun tentang ucapan Anda, bahwa Anda ingin menikahi seorang wanita yang bercadar dan konsisten dengan manhaj salaf, maka sesungguhnya saya bertanya kepada Anda, apakah akan ada pahala bagi Anda dengan seorang wanita yang telah berpegang teguh dengan manhaj Salaf ataukah pahala itu akan lebih besar jika Anda berhasil mengubah istri Anda?

Oleh karena itu, hanya dengan sekedar usaha Anda yang terus menerus, Anda akan mendapatkan pahala di dalamnya, lalu mengapa Anda menghalangi diri Anda dari pahala hidayahnya istri Anda kelak. Oleh karena itu janganlah tergesa-gesa, dan berusaha meyakinkan diri dengan alasan-alasan yang lemah dan tidak rasional (tidak logis). Saya mohon agar Anda melihat kepada istri Anda dengan pandangan positif, dan janganlah Anda melihat kecuali kebaikan-kebaikannya, dan sesungguhnya saya merasa optimis bahwa istri Anda, jika Anda berupaya bersamanya dengan upaya yang bersungguh-sungguh, lagi ikhlas, maka Allah akan menetapkan untuknya mengikuti manhaj Salaf hingga Anda akan beruntung dengan keuntungan yang besar.

Adapun masalah menikahi yang lain, maka jangan sekali-kali berfikir tentangnya, minimal untuk saat ini. Jika Allah menetapkan hidayah baginya ke manhaj Salaf, saat itu lihatlah perkara Anda, apakah Anda akan meninggalkan pemikiran tersebut ataukah masih tetap ada. Jika masih tetap ada, maka wajib bagi Anda untuk menjalin kesefahaman bersamanya, maka saat itu, dia akan lebih banyak kesefahamannya daripada sekarang, karena dia saat itu berada di atas manhaj Salaf dan memungkinkan baginya untuk memahami dan menyetujui.

Terakhir, saya bersyukur atas perhatian Anda kepada putra Anda, dan lebih mendahulukan kemaslahatannya, diatas kemaslahatan apapun yang lainnya, maka mudah-mudahan Allah membalas anda dengan sebaik-baik balasan. Saya memohonkan taufik kepada Allah, bagi Anda dan istri Anda.

(dinukil dari majalah Qiblati edisi 12/tahun VI, dalam rubrik Konsultasi Keluarga, bersama Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi)

Diposting oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

 

Recent Posts :

4 Responses to “SOLUSI JIKA ISTRI MENOLAK MANHAJ SALAF”

  1. dsusetyo 18 September 2011 at 03:12 #

    Subhanallah. Sungguh jawaban yang amat adil dan bijaksana. Semoga Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi senantiasa dalam lindungan Allah dan Allah tambah keluasan ilmu dan hatinya. Demikian juga untuk Abu Fahd.

  2. ulivin alfaris 20 September 2011 at 04:21 #

    Subhanallah, jwbn yg adil& bijak, sy trharu membaca jwbn dr bliau.
    Jazakallah, sy jd bljr 1 hal dlm mnyikapi sesuatu.

  3. ummu sara 30 July 2013 at 14:47 #

    afwan ko ustadnya tidak mengeluarkan dalil dlm mengeluarkan pendapat beliau ya dan lebih banyak mengungkapkan dari segi pertimbangan pengutamaan keduniawian..bukankah anak2 kita adl cobaan bagi kita saat kita harus berdiri menentukan jalan terbaik bagi keselamatan agama kita?..“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)..pengalaman ana sbg seorg perempuan,ketika ana dapati suami ana tdk memiliki ketegasan dlm larangannya melarang ana,mk ana akan memandang sebuah larangan hanyalah sebuah gertakan yang tidak bernyali dan ana biasanya akan merasa diatas angin untuk tetap pd sikap ana..bukankah wanita jika dibiarkan bengkok mk ia akan tetap bengkok?ana tidak tau dari sisi lelaki,namun ana melihat kasus diatas sgt beresiko sekali thdp fitnah akhir zaman..knp dmn jika kita memiliki hubungan yg kurang baik dg pasangan kita mk otomatis hubungan kasurnya pun tidak akan terlalu berkesan sama sekali dan mngkin bahkan sebagiannya justru bisa menambah hubungan perkawinan yang kurang sehat diantara suami istri..ana melihat suami maupun istri memiliki hak untuk mendapatkan tidak terganggu emosionalnya dg mndapatkan hubungan yg harmoni dari k2 belah pihak..trs jika salah satunya malah timbul stress dan kekacauan yg lainnya bukankah adlh lebih baik bagi mrk untuk berpisah drpd harus terfitnah dg diluar klg tsbt yg justru bisa diharapkan embentuk klg assunnah yg kuat ,sakinah mawaddah warohmah,insya Allah..wallahu’alam

    • negaratauhid 8 August 2013 at 19:01 #

      afwan ko ustadnya tidak mengeluarkan dalil dlm mengeluarkan pendapat beliau ya dan lebih banyak mengungkapkan dari segi pertimbangan pengutamaan keduniawian
      ================================
      fatwa berbeda dengan makalah. Jika ant terbiasa membaca fatwa2 ulama, maka yg dibutuhkan adalah jawaban yg singkat dan secukupnya. Kebanyakan cukup menjawab iya atau tidak saja tanpa harus/wajib menyertakan dalil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: