WANITA ITU WAFAT DI BUKIT SHAFA

13 Sep

Allah telah menciptakan makhluk-makhlukNya, kemudian memilih di antara mereka laki-laki mukmin dan wanita-wanita mukminah. Mereka seperti mushaf-mushaf Al-Qur’an yang berjalan di permukaan bumi, juga seperti mau’izhah-mauizhah yang diam. Jika seorang mukmin melihat mereka, maka dia akan mendekat kepada Rabb-nya, kemudian menghisab diri dan mensucikan hatinya. Di kehidupan mereka, mereka adalah air hujan yang menyenangkan, kapanpun ia turun maka tetap memberikan manfaat. Setelah meninggal, mereka adalah bunga mawar, menjadi taman sorga bagi setiap pengunjung, dan menjadi perisai bagi setiap yang mendengar.

Di antara contoh-contoh da’iyah (dai wanita) mulia, shalihah lagi istiqamah insyaallah, ini hanya sekedar penilaianku belaka, adapun hakikat penilaiannya ada di sisi Allah, dan aku tidak mensucikan siapapun atas Allah, adalah Ummu Walid an-Najim yang telah wafat pada waktu subuh hari Kamis bulan kemarin (7 Agustus 2008). Sungguh kehidupan dan kisah kematiannya adalah buku pembelajaran dan pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ? Karena adanya hubungan kekerabatan dengan orang yang mengenal da’iyah tersebut maka aku lebih memahami kisah-kisahnya. Kisahnya seakan-akan sebuah kisah tentang seorang wanita dari generasi awal.

Beberapa kejadian dalam kehidupannya :

· Pada saat dia melahirkan anak terakhirnya, Khalid yang telah berumur 9 tahun, kelahiran itu dilakukan dengan cara operasi caesar, banyak menguras tenaga. Maka di saat dia telah melahirkan dengan selamat, datanglah sang suami Abu Walid dan berkata kepadanya : “Segala puji bagi Allah, atas keselamatanmu, mintalah sesuatu kepadaku wahai Ummu Walid, mka akan kupenuhi untukmu, aku tidak akan menolak permintaan apapun darimu.”

(Seandainya bukan dia, mungkin dia akan meminta HP baru, atau mungkin stelan pakaian mewah, perhiasan dan sejenisnya akan tetapi semangatnya, dan cita-citanya lebih tinggi dari itu semua)

Dia berkata kepada suaminya, “Aku akan meminta sebuah permintaan, apakah engkau berjanji akan memenuhinya? Sang suami menjawab, “Ya”. Dia berkata : “Aku meminta kepadamu agar engkau memelihara jenggotmu agar sesuai dengan Rasulullah!” Maka sejak saat itu, jenggot telah menghiasi wajah suaminya yang mulia. Maka betapa mulianya permintaannya, meminta suaminya agar memelihara sunnah jenggot menyerupai dan mengikuti para anbiya’ dan salaf shalih. Subhanallah, bandingkan dengan kebanyakan kaum hawa yang malah meminta suaminya mencukur kesayangan Nabi tersebut.

Ummu Walid dikenal sebagai seorang yang lihai dalam berdakwah kepada Allah. Hampir-hampir dia tidak menghadiri suatu acara, perkumpulan atau walimah pernikahan kecuali dia meminta dari para hadirin untuk berbicara kepada mereka beberapa menit. Maka pembicaraannya sesuai dengan seorang mukmin, dengan mengingatkan yang hadir akan keagungan Allah, dan menganjurkan untuk selalu merasa diawasi oleh Allah.

Itu semua di luar muhadharah rutin yang dia sampaikan di mushalla-mushalla khusus wanita, dan di daurah-daurah tahfizh Al-Qur’an. Dia juga memiliki kajian rutin tiap pekan, setiap ba’da ashar hari Jum’at di rumahnya, hingga rumahnya dipenuhi oleh kaum wanita dari lingkungannya. Tidak henti-hentinya dia mengingatkan kepada Allah, dan menasihati setiap orang yang melenceng dari jalan-Nya.

Pernah datang imam masjid di sisi rumah mereka untuk menyatakan bela sungkawa akan wafatnya Ummu Walid seraya berkata : “Halaqah di masjid akan kehilangan seorang penyangga dan ketua yang tidak pernah mundur mendukung halaqah-halaqah. Anak-anak di lingkungan ini akan kehilangan arloji-arloji dan hadiah-hadiah yang disediakan bagi mereka yang menjaga shalat lima waktu di antara mereka, dan yang memberikan hadiah-hadiah tersebut adalah Ummu Walid.”

Imam tersebut berkata demikian karena dia mengira bahwa suami dan anak-anaknya telah mengetahui akan hal tersebut. Namun dia terkejut saat mengetahui bahwa mereka baru mendengar kabar tersebut. Ternyata Ummu Walid menyembunyikannya dari orang yang terdekat dengannya sebagai bentuk keikhlasan kepada Rabb-nya. Seperti dia mengamalkan perkataan Az-Zubair bin Al-‘Awwam, sahabat Rasulullah saat dia berkata, “Barang siapa di antara kalian mampu untuk memiliki amal shalih rahasia maka lakukanlah”.

Yang unik dari perkara ini adalah, salah seorang di antara putra-putranya pernah berhasil mendapatkan arloji-arloji tersebut karena rajin menjaga shalat. Dia datang dengan memberikan kabar gembira kepada ibunya, kemudian ibunyapun bergembira dan mendo’akan kebaikan bagi sang anak atas segala kesungguhannya. Betapa indahnya keikhlasan dan para pelakunya.

Di bulan terakhir sebelum kematiannya, dia mengumpulkan uang banyak dan berkata kepada pembantunya, “Bagikanlah uang ini kepada fakir miskin!  Kemudian diapun mengumpulkan uang yang lain kemudian dia menetapkannya untuk penggalian sumur bagi air minum kaum muslimin. Sungguh, dia telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menopang madrasah khusus wanita untuk menghafal Al-Qur’an yang sedikit sekali orang yang mendatanginya.

Suatu ketika dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sebuah acara, “Sesungguhnya kami tengah membangun sebuah masjid, maka siapakah yang ingin membantu kesempurnaannya?”  Subhanallah, Maha Suci Dzat yang telah menjadikan baginya sebaik-baik saham bagi setiap kesempatan, dan bekas kebaikan bagi setiap bumi.

Dia adalah seorang yang ahli puasa dan shalat malam. Anak-anaknya berkata bahwa pada tahun terakhir dari kehidupannya, dia banyak berpuasa sehari dan berbuka sehari. Jika makanan lezat telah terhidangkan, yang dia siapkan untuk suami dan anak-anaknya, dia meminta maaf kepada mereka dengan lembut, dan mengatakan bahwa dia dalam keadaan puasa karena Allah.

Dia adalah wanita yang ahli shalat malam. Salah seorang wanita tua itu bercerita kepadaku bahwa Ummu Walid pernah bermalam di rumah mereka : “Aku terbangun dua jam sebelum adzan subuh, kudapati ada bayangan hitam di ujung kamar, dan ternyata Ummu Walid sedang shalat”.

Jika orang-orang tengah terlelap dalam tidur, dia menggelar sajadah, seakan-akan dia menjauhkan lambungnya dari peraduan. Dia hafal firman Allah tentang orang-orang yang bertakwa yang artinya :

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzariat : 17-18)

Dia bertekad untuk menjadi bagian dari mereka, dan tekad itu dilakukan dengan perbuatan sebelum berkata-kata. Maka betapa fasihnya bahasa perbuatan.

Dia dikenal sebagai orang yang sedikit bicara, dan jika berbicara lisannya manis. Tidak pernah disebut bahwa dia pernah mencaci atau mengumpat seseorang. Dia termasuk orang yang gemar memandikan mayat secara sukarela. Dia tidak pernah meninggalkan satu kesempatanpun dalam memandikan mayat jika keadaan mengizinkan.

Kisah Kematiannya

Dia banyak berdo’a di berbagai muhadharahnya agar Allah mewafatkannya saat dia menyampaikan pelajaran atau mewafatkannya di Masjidil Haram, maka Allah pun mengabulkan do’anya.

Dalam pekan kematiannya, salah seorang putranya terpilih dalam sebuah jabatan baru, maka Ummu Walid menolaknya kecuali jika dia memulainya dengan umrah sebelum dia menerima jabatannya, dan Ummu Walid meminta untuk menyertainya dalam umrah tersebut. Maka dipenuhilah permintaan Ummu Walid tersebut.

Beberapa hari sebelum perjalanan Umrah, Ummu Walid bermimpi sebuah mimpi. Kemudian dia kabarkan kepada putrinya bahwa dia telah melihat mimpi baik, dan jika mimpi itu benar, maka putrinya itu akan tahu beberapa hari kedepan, dan Ummu Walid tidak memberitahu apapun.

5 hari sebelum kematiannya dia menyampaikan sebuah kajian tentang kematian, dia berbicara tentang masalah ta’ziyah, hukum-hukumnya, dan bid’ah-bid’ah yang diperbuat oleh manusia dalam ta’ziyah. Kajian tersebut dihadiri oleh kaum kerabatnya, seakan-akan dia merasa ajalnya sudah dekat. Subhanallah.

Yang mengherankan, putrinya ingat bahwa ibunya memiliki mushalla khusus (di dalam rumah) yang di dalamnya terdapat sebuah terhampar yang tidak pernah dilipat. Sebelum kepergiannya bersama putranya untuk umrah dia melipat sajadahnya, berbeda dengan hari-hari kebiasaannya. Saat putrinya merasa aneh dengan hal itu, Ummu Walid meminta kepada putrinya untuk menjaga sajadahnya, dan permintaan ini pun berbeda dengan kebiasaannya. Subhanallah.

Tatkala dia berkeinginan untuk keluar menuju bandara, dia berpamitan kepada putra-putranya dan suaminya, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdo’a untuk suaminya, dia banyak berdo’a dan berkata, “Mudah-mudahan Allah membalasmu dan membalasku dengan sebaik-baik balasan, sungguh engkau telah memberikan kemudahan kepadaku untuk berdakwah bagi Rabbku, mudah-mudahan Allah tidak mengharamkan pahalaku bagimu karena engkau tidak menghalangiku dari berdakwah di jalan Allah”. Dia terus memaksa berdo’a selama seperempat jam sementara sang suami mendengarkannya.

Sampailah mereka di Masjidil Haram pada sepertiga malam terakhir, diapun tawaf bersama putra dan putrinya. Dia berdo’a dengan memaksa agar kematiannya datang di tempat yang suci ini. Setelah itu mereka menuju sa’i, muadzdzin mengumandangkan adzan untuk shalat subuh, maka dia berkata kepada putra-putrinya pagi hari ini kita puasa. Dan itu adalah hari Kamis dari bulan Sya’ban. Di pagi hari itu, ketiga orang tersebut berpuasa.

Tatkala Ummu Walid naik ke shafa pada permulaan putaran kelima, antara adzan dan iqamah, di waktu yang paling mulia dan di tempat yang paling suci, sementara dia dalam keadaan berpuasa, dia menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangannya berdo’a pada awal putaran kelima sedang putrinya berdiri di sisinya. Sang putri bercerita, “Ibu saat itu membaca Al-qur’an di tengah-tengah sa’i dan bertepatan dengan ayat sajadah, maka ibupun merendah dan sujud kepada Allah. Aku menunggu berdirinya dari sujud. Tatkala sujudnya telah lama, akupun membangunkannya namun dia tidak bangun lalu aku mencoba untuk mendirikannya dengan lembut, diapun terjatuh di atas tanah. Kami meminta dokter di Masjidil Haram, dia segera memeriksanya, lantas berkata : “Dia telah meninggal”.

Ya Allah, betapa indah akhir kehidupannya, mati di hadapan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Alah, di bumi Allah yang terbaik, sementara dia dalam keadaan berpuasa dan menunaikan manasik umrah.

Ya Allah, jadikanlah dia termasuk orang yang akan dipanggil dari ke delapan pintu sorga.

Setelah itu wahai saudara-saudaraku. Itu adalah Ummu Walid, dia jujur terhadap Allah, maka Allahpun membenarkannya. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan taufik husnul khatimah kecuali kepada orang yang berbuat baik terhadap amalnya di kehidupan dunianya dan menyibukkan dirinya dengan mentaati Allah. Adapun yang menyembah nafsu, dan yang meninggalkan ketaatan, maka dia akan mati dalam keadaan taat kepada sesembahannya selain Allah yaitu nafsunya. Maka sungguh berbeda dua kelompok tersebut. Tidaklah sama kematian penghuni sorga dan penghuni neraka, kecuali yang dirahmati oleh Al-Ghaffar (Yang Maha Mengampuni).

Bukankah Allah telah berfirman yang artinya :

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”. (QS. An-Naziat : 37-41)

Di manakah sekarang wanita-wanita kaum muslimin, bila dibandingkan dengan contoh ini ? Bahkan dimanakah para pemuda kaum muslimin ? Di manakah para da’i mereka ? Ini adalah sebuah contoh yang patut untuk ditiru.

Atas namaku dan seluruh kru Qiblati dan para pembacanya yang mulia, aku ucapkan bela sungkawa terhadap suami, dan putra putrinya.

Ya Allah, rahmatilah Ummu Walid An-Najim, muliakanlah tempatnya, bersihkanlah dia dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran.

Ya Allah, gantilah baginya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya, kumpulkanlah, dia bersama para Nabi, dan Shiddiqqin dan Firdaus yang tertinggi.

Ya Allah, janganlah Engkau memfitnah kami setelahnya. Ya Allah, berikanlah ilham kepada suami dan putra-putrinya untuk sabar, dan kumpulkanlah mereka semua dengannya di sorga.

Allahumma aamin ya rabbal ‘alamin.
(dinukil dari majalah Qiblati)

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: