ANTARA HIZBI DENGAN SALAFI

16 Oct

Dulu, aku adalah seorang da`i hizbiyah. Aku dulu memiliki semangat besar dalam mengajak manusia kepada Islam hizbi. Akan tetapi, setelah beberapa tahun, Allah  memberiku hidayah kepada manhaj yang benar, yaitu manhaj salafus shalih, karena salah seorang ikhwah salafiyyin. Namun setelah bergabung dengan dakwah salafiyah ini, aku mendapati permusuhan di antara salafiyyin dalam bentuk umum. Aku sendiri juga mendapatkan tekanan-tekanan dari sebagian salafiyyin di daerahku yang banyak berbuat buruk kepadaku. Aku tidak tahan, dan akupun terpaksa menerima tawaran pekerjaan di Saudi Arabia sebagai seorang sopir, agar dapat menjauh dari tekanan-tekanan tersebut. Maka apakah boleh bagiku untuk mendoakan buruk atas orang-orang yang telah menzhalimiku, ataukah lebih baik aku memperlakukan mereka dengan cara yang sama sebagaimana mereka telah memperlakukanku? Kenapa permusuhan ini sampai terjadi di antara mereka? Dan bagaimanakah nasihat anda untukku? Apakah aku telah bersalah karena pergi meninggalkan dakwah dan bekerja di luar negeri?
=========================================

“Selamat datang di Majalah Qiblati, kami senang engkau bersama kami.

Pertama-tama, kami memuji Allah  yang telah menyelamatkan dan menyembuhkanmu dari penyakit hizbiyah. Penyakit ini adalah kanker ganas yang akan membinasakan tubuh umat pada zaman kita sekarang ini. Tidak ada kemuliaan bagi kaum muslimin kecuali dengan berpegang teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya  berdasarkan pemahaman salaf shalih.

Kemudian aku sangat menyesalkan- tetapi itu semua sudah menjadi takdir Allah-, engkau meminta nasihat setelah engkau keluar dari negerimu. Seharusnya, yang lebih utama adalah engkau tetap tinggal dan tidak safar, terutama saat ini umat membutuhkan da`i-da’i sepertimu.

Yang harus engkau ketahui dan sadari adalah bahwa jalan dakwah itu penuh dengan duri, bukan jalan mulus yang dihiasi oleh taman bunga. Maka manusia yang berdakwah kepada agama Allah akan menghadapi banyak resiko, tantangan, ujian, kesulitan bahkan fitnah dan permusuhan.

Allah menjadikan ujian ini sebagai sesuatu yang mesti bagi para da`i, karena seorang da`i haruslah menjadi suri teladan bagi manusia, maka Allah  kadang menguji seorang da`i hingga dia menjadi contoh hidup bagi manusia. Nabi  adalah suri teladan yang terbaik, Allah  berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”” (QS. Al-ahzab: 21)

Engkau mengetahui bahwa Rasulullah , telah mendapatkan gangguan dan tekanan dari orang-orang munafiq dan orang-orang kafir. Maka saat seorang da`i mengingat berbagai kesulitan ini, dia akan menjadikan dirinya kecil dan mengkerdilkannya, hingga sikap yang demikian akan mendorongnya untuk tetap berada di atas kesabaran.

Sesungguhnya dakwah kepada agama Allah adalah sebuah profesi agung, serta kedudukan yang amat tinggi. Oleh karena itu, dakwah adalah perkara termahal yang dituju oleh seorang muslim pada kehidupan dunia ini setelah keimanannya kepada Allah. Bagaimana tidak, dakwah adalah profesi para nabi dan rasul, dan tugas orang-orang shalih yang bertakwa. Dengan dakwah, seorang da`i dapat mempengaruhi hati manusia, dan bisa menyampaikan pemikiran Islam yang benar kepada mereka. Yang dengannya manusia menjadi berbahagia, keluar dari pekatnya kegelapan dan berganti mengenakan pakaian cahaya, petunjuk, keagungan dan kemuliaan.

Tidak diragukan lagi bahwa perselisihan ikhwan salafiyin adalah perkara yang jelas, dan sumber penentangan itu adalah sebagian kelompok ingin meyakinkan bahwa dirinyalah yang lebih salaf dari kelompok yang lain, dan bahwa merekalah sumber rujukan yang harus menjadi ukuran. Sebagian mereka merasa dan meyakini bahwa merekalah yang telah mewarisi kepemimpinan salafiyah. Kadang, sumber perselisihan itu adalah kecemburuan dan hasad, karena sebagian ikhwah cinta kepemimpinan dan kedudukan, sementara da’i lain telah mendapatkan tempat di hati masyarakat. Semua ini karena sedikitnya ilmu, fiqih, wara` dan pemahaman, serta ketidaktahuan akan metode-metode dakwah. Bukan karena rusaknya aqidah seperti da`i-da`i hizbiyah, dan orang-orang yang memiliki aqidah rusak lain yang juga terjadi perselisihan dan permusuhan di antara mereka. Maka perkara yang demikian tidak hanya terjadi pada da`i-da`i salaf saja namun juga terjadi pada yang lain, bahkan perselisihan serta persaingan di luar kelompok salafiyah lebih parah.

Bagaimanapun keadaannya, maka para da`i salafiyah lebih baik dari selain mereka dari sisi akidah, fiqih, dan ilmu. Mereka adalah orang-orang yang lebih dekat dengan hati kita daripada yang lain. Mereka, sekalipun berselisih di antara sebagian mereka, maka perselisihan itu berada pada sebagian sisi manhaj dan cara menerapkan, bukan pada ushul (pokok ajaran) dan tsawabit (ajaran yang prinsip dan konstan).

Yang demikian itu mewajibkanmu untuk tidak melalaikan kebaikan-kebaikan seluruh salafiyin, yaitu dari sisi bersihnya aqidah mereka, semangat mereka dalam dakwah, serta kesungguhan mereka dalam meluruskan aqidah manusia, dan semangat mengajarkan tauhid kepada mereka.

Oleh karena itu, aku berharap agar engkau tidak tergesa-gesa berdo`a buruk atas mereka. Mereka adalah saudara-saudaramu, sekalipun memusuhimu. Haruslah di dalam hatimu terdapat rahmat, kasih sayang kepada mereka sekalipun kamu berselisih pandang dengan mereka. Allah  berfirman:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”” (QS. Al-Fath: 29)

Sebagaimana pula tidak boleh bagimu untuk membalas orang yang berbuat buruk kepadamu dengan keburukan. Ini bukanlah sifat orang yang berakal dan bijaksana. Allah  berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “”Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”” (QS. Fushshilat: 33)

Dari Abdullah bin `Amr dia berkata:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ  فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Bukanlah Nabi  itu adalah seorang yang berbuat keji dan berkata keji, dan beliau pernah bersabda: “”Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya di antara kalian.”” (HR. al-Bukhari (3295))

Dan ingatlah sabda Nabi :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”” (HR. Muslim (58)

Seandainya engkau serius membantah saudara-saudaramu maka engkau akan turut membuka pintu ghibah dan namimah. Permasalahan tersebut tidak akan berakhir dengan bantahanmu terhadap mereka, bahkan mereka akan membantahmu, kemudian kamu akan membantahnya untuk kedua kalinya, lalu mereka akan membantahmu. Engkau akan mendapatkan dirimu selang beberapa waktu bahwa usiamu telah pergi begitu saja, tanpa guna di antara katanya dan katanya, saling membantah tuduhan, cacian dan tahdzir yang semakin menambah permusuhan dan kebencian diantara kalian. Ini adalah keadaan orang yang meniti manhaj asing yang menyusup kedalam tubuh kaum muslimin ini. Maka barangsiapa tidak berkasih sayang dan tidak berhusnudzan dengan saudaranya, serta tidak mau memberikan udzur kepadanya, maka ketahuilah bahwa dia sedang berada diatas sebuah manhaj yang tidak akan kaitannya dengan manhaj salafus shalih, tidak dari jarak dekat tidak juga dari jauh, sekalipun mereka mengklaim dirinya berada di atas manhaj yang mulia ini.

Pada saat kaum misionaris tengah bekerja siang dan malam, serta kelompok-kelompok sesat bergerak menyebarkan berbagai pemikiran mereka diantara kaum muslimin, usahamu dalam mendakwahi manusia serta membersihkan aqidah mereka menjadi sia-sia karena perkara yang tidak bernilai dan tak berharga jika engkau masuk dalam medan perdebatan tersebut. Maka tinggalkanlah yang demikian, dan jadilah engkau orang yang berjiwa besar, berakal dan lebih bernilai dari perkara yang tak berarti ini, terutama jika kajian dan tulisanmu sesuai dengan kaidah-kaidah al-Qur`an dan Sunnah.

Kemudian, aku mengingatkanmu bahwa seorang da`i haruslah menjadi orang yang kuat dan percaya diri, tidak menghiraukan mereka, karena dia tidak bekerja untuk mereka melainkan bekerja untuk Allah . Maka jadilah engkau orang yang senantiasa bersama dengan Allah, dan jangan kau hiraukan yang lain. Dan janganlan engkau menjadikan tujuanmu adalah keridhaan mereka, akan tetapi jadikanlah tujuanmu adalah keridhaan Penciptamu.

Perselisihan itu adalah sunnatullah dalam alam imi. Allah  berfirman:
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”” (QS. Huud: 118)

Akan tetapi biar bagaimanapun perselisihanmu dengan saudara-saudaramu maka engkau harus bersikap adil dengan mengingat kesungguhan dan kebaikan mereka dalam dakwah. Jika engkau tidak mengingat hal ini, dan orang yang menyelisihimu juga tidak mengingat hal ini, maka ketahuilah bahwa disana terdapat cacat dari sisi tarbiyah dan sisi kejiwaan, yang sumbernya adalah dendam, cemburu dan hasad. Maka bersikap adil adalah mulia sebagaimana dikatakan oleh Imam Dzahabi , tidak akan bisa berbuat baik kecuali orang-orang yang adil. Dan sudah diketahui bahwa jika didapatkan sikap adil, maka sedikitlah pendorong kepada hasad, cemburu dan permusuhan, serta hilanglah sebab-sebab perseteruan diantara ahli ilmu. Dan jika sikap adil itu tertutupi maka ketahuilah bahwa hawa nafsu telah masuk ke dalam jiwa. Barangsiapa mencari kebenaran, maka dia akan mendapati dirinya bersikap adil, dan barangsiapa mencari kebathilan serta membela diri dan hawa nafsunya maka sikap adil akan tertutup baginya.

Maka yang wajib adalah, engkau dan orang yang menyelisihimu harus menjauhi su`udzan (buruk sangka) dan mengghibah. Allah  berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”” (QS. Al-Hujurat: 18)

Dan ingatlah wasiat Nabi , dan amalkanlah wasiat tersebut sekalipun orang yang menyelisihimu tidak mengamalkannya, dan janganlah engkau menghiraukan dia. Nabi  bersabda:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا

“Janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan, janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling membelakangi…”” (HR. Muslim (3650))

Dikarenakan banyak diantara perselisihan-perselisihan, sumber pokonya adalah kecemburuan, dan kedengkian. Maka wajib atasmu berdo`a dengan do`a ini:

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”” (QS. Al-Hasyr: 10)

Yang terakhir, selama engkau telah pergi jauh untuk bekerja, maka manfaatkanlah waktumu untuk menambah ilmu syar`i, terutama Kerajaan Saudi Arabia adalah jantungnya Islam yang di dalamnya terdapat ulama-ulama besar dan para pencari ilmu. Wajib atasmu untuk mengambil manfaat dari ujian yang melewatimu ini, engkau haruslah menjadi seorang yang tangguh, sabar, orang yang memiliki kemauan tinggi, sayang terhadap sesama ikhwah, dan perbanyaklah percaya dirimu dan jangan hiraukan orang yang menyelisihimu. Wallahul Muwaffiq (AR) ”

Sumber: http://qiblati.com

 

Recent Posts :

One Response to “ANTARA HIZBI DENGAN SALAFI”

  1. nizaar 2 November 2011 at 21:28 #

    Baarakallaahu fiikum ya akhil karim..
    Semoga Allah memberi kita istiqamah dalam manhaj salaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: