APAKAH AISYAH SHALAT DI KAMAR YANG ADA KUBURANNYA?

16 Oct

Sejak beliau  wafat, Siti Aisyah selama hidupnya shalat di kamar yang di dalamnya ada kuburan Nabi  yang hanya ada kain yang memisahkannya. Jadi bagaimana? Terus terang ana bingung dengan jawaban Qiblati yang terkesan dipaksakan, semoga tidak menjadi fitnah yang baru. Amin.
===============================

“Sesungguhnya `Aisyah  shalat di kamarnya dengan keberadaan tembok yang membatasi antara dia dengan kuburan Nabi  dan Abu Bakar , dan bukan dibatasi oleh tabir kain. Setelah Umar bin al-Khaththab dikuburkan di sana, `Aisyah meninggalkan kamarnya. Kemudian kondisi `Aisyah  bukanlah sebuah dalil akan bolehnya shalat di dalam masjid yang di dalamnya terdapat kuburan.

Di dalam at-Tamhid syarah Kitab Tauhid oleh Syaikh Shalih bin `Abdil `Aziz Alu Syaikh disebutkan: “”Para sahabat  telah menerima wasiat dari Rasulullah , dan mereka melaksanakannya, maka mereka menguburkan Nabi  di tempat beliau diwafatkan, yaitu di kamar `Aisyah . `Aisyah  mendirikan sebuah tembok antara dia dengan kubur Nabi , maka pada kamar `Aisyah terdapat dua bagian, satu bagian di dalamnya terdapat kubur Nabi , dan satu bagian lagi untuk tempat tinggalnya.

Demikian pula tatkala Abu Bakar  wafat, beliau dikuburkan juga di dalam kamar `Aisyah  pada sisi bagian selatan. Maka tatkala `Umar  dikuburkan di kamar itu juga, `Aisyah  meninggalkan kamar tersebut, kemudian ditutuplah kamar itu.”” (1/364)

Jadi, anggapanmu bahwa `Aisyah  shalat di kamarnya yang di dalamnya terdapat kubur Nabi , dan tidak ada batas antara dia dengan kubur kecuali tabir kain adalah tidak benar. `Aisyah  adalah wanita yang paling alim dan paling faqih, bagaimana mungkin dia telah mendengar larangan Nabi  dalam sabda beliau:

« لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ »

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid.”” (Muttafaq `alaih) kemudian dia menyelisihi larangan dan ancaman beliau bahkan menjadikan kuburan beliau sebagai masjid?! Sekali-kali tidak mungkin itu akan dilakukan oleh Ummul Mukminin.

Kemudian saya peringatkan antum terhadap beberapa perkara:

Sesungguhnya bangunan yang ada di atas kuburan Nabi  bukanlah bangunan yang didirikan di atas kuburan, karena asal bangunan tersebut sudah ada sebelum Nabi  dikuburkan di bawahnya, yaitu bangunan kamar `Aisyah . Jadi, bangunan yang ada di atas kuburan Nabi  tidaklah dengan niat membangun kuburan Nabi , karena masalah bangunan tersebut sudah ada. Oleh karena itu sebagian ulama berpandangan bahwa kubur Nabi  tidaklah berada di dalam masjid, hanya saja bangunan tersebut bersambung dengan masjid. Maka dari yang demikian menjadi jelas bahwa saat dimasukkannya kamar `Aisyah  ke dalam masjid, tidak ada seorangpun di antara para sahabat di Madinah yang tersisa saat itu (semua sudah meninggal). Berbeda dengan saat mereka menguburkan Nabi  di luar masjid, yakni di kamar `Aisyah  yang dihadiri oleh jumhur para sahabat .

Dan bukanlah al-Walid bin `Abdil Walid orang yang pertama kali meluaskan masjid Nabawi, sebelumnya `Umar bin al-Khaththab  juga meluaskan masjid Nabawi, demikian juga `Utsman bin `Affan . Keduanyalah yang menjadi suri tauladan kita, mereka tidak meluaskan masjid Nabi ke arah kamar-kamar para istri Nabi , dan keduanya tidak memasukkan kubur ke dalam bagian masjid.

Sa`id bin al-Musayyib telah mengingkari khalifah al-Walid bin `Abdil Malik saat dia memasukkan kamar `Aisyah ke dalam bagian masjid, agar kubur tersebut tidak dijadikan sebagai masjid. Dari sinilah kita tahu akan perhatian para sahabat, tabi`in dan salafus shalih agar umat ini tidak masuk di dalam laknat yang telah disebutkan di dalam hadits Nabi . Betapa sangat disayangkan, kita melihat keadaan sebagian umat ini pada hari ini, mereka shalat di dalam masjid-masjid yang terdapat kuburan, sementara mereka tidak tahu bahwa shalat-shalat mereka batal, dan mereka dilaknat berdasarkan nash hadits. Kita memohon kepada Allah  agar tidak termasuk bagian dari mereka. Wallahu a`lam. (AR) ”

Sumber:  http://qiblati.com

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: