SALAH PAHAM TENTANG DOA NABI “ENGKAULAH AZH ZHAHIR, TIDAK ADA SESUATU DI ATAS-MU, DAN ENGKAULAH AL BATHIN, TIDAK ADA SESUATU DI BAWAH-MU. (SERI : ALLAH DI ATAS ARSY)

24 Oct

Pertanyaan “Dimana Allah?” memang merupakan pertanyaan klasik, namun sangat mendasar. Bagaimana mungkin ummat Islam yang sumber hukumnya sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahiihah masih saja berbeda jawaban ketika ditanya “dimana Allah?”? tentulah karena pemahaman mereka yang keliru, yang lebih memilih menggunakan logika daripada atsar/perkataan dan pemahaman para salaful ummah. Jika kita menilik kembali pertanyaan ini, tentulah fitrah seorang hamba akan mengatakan bahwa Tuhannya ada di atas/di langit. Mereka yang menolak bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya terlalu banyak menta’wil(penginterpretasian bebas) keterangan yang amat jelas baik dalam alQur’an maupun hadits. diantaranya menta’wil kata Istawa(bersemayam) dengan arti istawla(menguasai) pada firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.” (QS. Al-A’raaf:54)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa tahrif(mengubah), ta’thil(meniadakan), tamtsil/tasybih(menyerupakan), tafwidh(menyerahkan begitu saja),dan takyif(menanyakan bagaimana).

Dengan tidak menetapkan sifat Allah yang berada di atas arsy-Nya, keyakinan orang yang mengatakan hal tersebut tidak lepas dari 2 hal, yaitu; mengatakan Allah ada dimana-mana, atau mengatakan Allah tidak ada dimanapun. Adapun dalam artikel ini yang akan sedikit dikupas adalah keyakinan yang pertama, yaitu mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana, atau dengan bahasa yang ‘lebih halus’, Dzat Allah meliputi segala sesuatu,  dan paham sesat inilah yang banyak digandrungi kaum muslimin.

Diantara dalih yang mereka bawakan adalah pada doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Aakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu.” [Shahih Muslim IV/2084]

Mereka mengatakan bahwa hadits ini tegas menyatakan bahwa Dzat Allah meliputi segala sesuatu. Maka, kita katakan bahwa terjemahan bagian terakhir dari hadits tersebut(pada kalimat فلَيس دونك شيء) adalah Salah. Dalam kitab Bayan Talbisul Jahmiyyah jilid 4, Ibnu Taimiyyah menjelaskan hadits tersebut secara lebih detail. Intinya ialah bahwa nama Azh Zhahir (isim fa’il dari kata Zhuhur) maknanya adalah ‘tinggi’. Karenanya, Allah mensifati tembok besi yang dibangun oleh Dzulqarnain ‘alaihissalaam dengan ungkapan (فما اسطاعوا أن يظهروه) “Mereka (Ya’juj dan Ma’juj) takkan dapat mendaki/berada diatasnya”, yang berarti bahwa tembok itu sangatlah tinggi.

Allah menamakan dirinya dengan nama azh-Zhahir tersebut sebab Dia lah yang paling tinggi, karenanya dikatakan: falaisa fauqoka syai’un, yang artinya tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Berhubung sesuatu yang tinggi biasanya nampak jelas, padahal Allah bersifat ghaib, maka untuk menepis asumsi tersebut Rasulullah mengatakan bahwa Allah memiliki nama lainnya, yaitu Al-Baathin, yang mengandung pengertian ‘tersembunyi’ dan ‘dekat’. Karenanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam merangkainya dengan kalimat: “فلَيس دونك شيء maka tidak ada sesuatu yang lebih dekat dari-Mu.”

Menurut Syaikhul Islam, kata ‘duuna’ di sini diambil dari kata ‘ad dunuww yang artinya dekat, bukan dari kata ‘ad-duun‘ yang artinya ‘rendah’ atau ‘di bawah’. (Jadi terjemah yang tepat untuk doa nabi di atas adalah dan “Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu yang lebih dekat dari-Mu.“)

Beliau lantas mencontohkan dengan firman Allah dlm Surah Al Kahfi ayat 90

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia(Dzulqarnain) telah sampai ke tempat terbit matahari dia mendapati matahari itu menyinari segolongan kaum yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu (penghalang) yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (QS. Al-Kahfi:90)

Artinya, jika mereka berada di bawah naungan, berarti naungan tersebut ‘duunasy syamsi’, yang artinya ia lebih dekat kepada mereka dari pada matahari, dan matahari menjadi lebih batin dari mereka dibanding naungan tersebut, karena matahari berada di belakangnya.

Intinya, hadits tersebut menunjukkan bahwa Allah maha tinggi namun juga maha dekat sehingga tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi antara Dia dengan hamba-Nya. Oleh karena itu, dalam hadits shahih lainnya, ketika Rasulullah mendapati ada sebagian sahabat yang mengeraskan suara dalam takbir dan tahlil ketika di perjalanan, beliau menegur mereka seraya berkata:

أيها الناس، اربعوا على أنفسكم، إنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إن الذي تدعون سميعا قريبا، وهو معكم. أخرجه البخاري، وفي رواية أبي داود بلفظ:إن الذي تدعونه بينكم وبين أعناق ركابكم

Wahai saudara-saudara, kasihanilah diri kalian, kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli maupun tidak ada. Yang kalian seru adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kalian.” [HR. Bukhari].

Dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya sebagai berikut: “Yang kalian seru ada di antara kalian dan leher hewan tunggangan kalian”.

Tentunya hadits ini tidak berarti bahwa Allah ada di bumi. Namun makna hadits ini adalah ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, sedangkan Dia berada di atas Arsy-Nya.

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allah menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan. Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. [Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal.42]

Satu lagi ‘senjata’ yang ampuh untuk menepis pemahaman bahwa Allah berada dimana-mana ialah perkataan al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam Kitab Ar-Radd ‘alaal Jahmiyyah waz Zanaadiqah;

Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:

1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk di dalam Dzat Allah, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!

2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan  makhluk di luar Dzat Allah, kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya. Maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!

3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari Dzat-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ia(Jahmiy) telah meninggalkan seluruh Aqidahnya dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikian penjelasan singkat mengenai aqidah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana. Terkhusus penjelasan pada hadits “Engkaulah Azh-Zhahir.. Engkaulah al-Bathin..” Semoga Allah mempersatukan kaum muslimin di atas Aqidah yang shahiihah. Wallahua’lam.

Sumber: http://basweidan.wordpress.com/, dengan tambahan dan perubahan redaksi.

http://belajarberislam.wordpress.com

 

Recent Posts :

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: