PEMULUNG YANG MENGGENDONG JENAZAH ANAKNYA

3 Dec

Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong jenasah anak, khaerunisa (3 thn).

 

Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.

 

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

 

 

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.

 

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp.6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.

 

Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

 

 

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik.

 

Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

 

 

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

 

Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

 

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

 

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

 

Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.

 

Sumber: http: //www.facebook.com/note.php?note_id=10150653592515570

 

Recent Posts :

 

8 Responses to “PEMULUNG YANG MENGGENDONG JENAZAH ANAKNYA”

  1. meutya~halida 4 December 2011 at 19:12 #

    Ya Allah… :(((

    • uut 6 December 2011 at 09:58 #

      aku cuma bisa menangis, bahkan saat ada kucing mati di jalan depan rumahku pun dikubur dg layak , ya Allah Khaerunnisa adalah manusia……..

  2. syah indra 6 December 2011 at 17:23 #

    astaghfirrallahaladzim,kejamnya dunia ke mana hati kita sebagai sesama manusia,ku hanya dapat berdoa untuk khairunisa semoga engkau di tempat yg terbaik di sisi ALLAH SWT,Amien.untuk ayah dan kakak almarhumah khairunisa semoga mendapatkan kehidupan yg lebih baik,agar si kakak menjadi manusia yg berguna di dunia dan di akhirat,Amien.

  3. amel zain 29 February 2012 at 22:21 #

    Ya Alloh….Ya Robbii…., betapa memilukan peristiwa ini, mengapa hal seperti ini harus terjadi???, semoga peristiwa ini tak dialami oleh khaerunnisa-khaerunnisa yang lain,semoga alloh menjadikan kubur khaerunnisa roudhoh min riyaadhil janah, & ayah serta kakaknya semoga diberi ketabahan, amiin Ya Robbal Alamiin….

  4. Aneuk rutoen 22 March 2012 at 19:47 #

    Manusia skarang sudah hilang ksih sayang antar sesama….inilah salah satu tanda kiamat

  5. Muhajir 22 March 2012 at 19:49 #

    Itulah manusia saat ini,,sudah tidak ada kasih sayang sesama…salah satu tanda kiamat

  6. aries... 26 March 2012 at 19:53 #

    meneteskan air mata baca cerita ini. nyesel ngga sempet ketemu sama bapak si pemulung itu. kalo ketemu pasti aku kasih uang buat si bapak. malah aku beliin kain kafan buat almarhum anaknya. kalau memang belum di kafani. yang tabah ya pak. dan untuk adik khaerunisa. ya allah terimalah dek khaerunisa di sisimu dengan baik. amin…

  7. Hidayat 31 March 2012 at 18:15 #

    Allahuakbar,astagfirullah kita semua ikut berdosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: