MANA DALILNYA?

30 Dec

A : “Assalamu alaikum!…Apa kabar akhi? Baru ketemu lagi nih…”

B : “Wa’alaikumus salam. Alhamdulillah baik akhi. Iya…”

A : “Oya, tadi ana melihat antum shalat.”

B : “Iya, kenapa?”

A : “Ana mau tahu kenapa antum shalatnya seperti itu?”

B : “Memang ada apa dengan shalat saya? Ada yang aneh?”

A : “Oh tidak apa2. Hanya saja ana ingin tahu dalil dari shalat yang antum lakukan tadi. Siapa tahu ana bisa mendapat tambahan ilmu dari antum.”

B : “Ana sejak masih kecil shalatnya sudah seperti ini. Dan seperti inilah shalat yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam saat ini. Apakah ada yang salah?”

A : “Jika antum telah memiliki pegangan dalil yang shahih (benar), maka tidak masalah. Karena kita diperintahkan untuk shalat seperti shalatnya Rasulullah. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shallu kama ra’aitumuni ushalli’ (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku [Rasulullah] shalat).”

B : “Iya ana tahu itu. Namun beginilah apa yang diajarkan oleh ustadz ana dulu. Jadi ana shalat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ustadz ana.”

A : “Tapi apakah yang diajarkan oleh ustadz tersebut antum tahu dalilnya?”

B : “Ana tidak tahu dalilnya. Tapi ana yakin kalau ustadz tersebut pasti tahu dalilnya, namanya juga ustadz.”

A : “Kalau antum tidak tahu dalilnya, berarti selama ini shalat antum masih mengikuti shalatnya ustadz, bukan Rasulullah. Apakah Rasulullah mengatakan: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat ustadz shalat’?! Tidak…akan tetapi Rasulullah mengatakan ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku [Rasulullah] shalat.”

B : “Jadi seperti apa shalatnya Rasulullah?”

A : “Selama gerakan2 shalat tersebut bersumber kepada dalil2 yang shahih, maka seperti itulah shalatnya Rasulullah.
Contohnya, ana melihat antum ketika takbiratul ihram selalu menempelkan jari ke telinga kemudian memutar-mutar tangan. Apakah antum tahu dalilnya?”

B : “Ana tidak tahu dalilnya. Tapi seperti itu yang diajarkan ustadz ana.”

A : “Antum juga tatkala bersedekap, meletakkan tangan di pusar. Apakah antum tahu dalilnya?”

B : “Ana juga tidak tahu dalilnya.”

A : “Ketika doa iftitah, antum membaca dengan doa ‘…..’. Apakah itu juga ada dalilnya?”

B : “Tidak tahu. Ana tidak ada yang tahu dalilnya. Semuanya dari ustadz. Kalau antum mau tahu dalilnya, tanya saja ke ustadz ana.”

A : “Itu bukan tanggung jawab ana bertanya ke ustadz antum, tetapi itu adalah tanggung jawab antum sebagai muridnya. Antum yang seharusnya bertanya langsung ke ustadz antum mana dalilnya? Bukankah kita diperintahkan untuk tidak taqlid atau mengikuti seseorang tanpa ilmu?
Seorang ustadz tidaklah ma’shum seperti Rasulullah, baik itu ustadz antum atau ustadz ana sendiri, karena mereka bisa saja keliru.
Alhamdulillah ana sudah berusaha untuk mengetahui dalilnya dari setiap gerakan2 shalat yang ana lakukan.”

B : “Apakah di setiap gerakan shalat ada dalilnya masing2?”

A : “Iya. Semuanya sudah ada dalilnya masing2, baik dari awal shalat seperti takbiratul ihram sampai akhir shalat yaitu salam. Dalil ketika bersedekap, posisi tangan, gerakan jari, pandangan mata, posisi kaki, bacaan shalat, dzikir, doa, dll, semuanya ada dalilnya.”

B : “Wah…darimana kita bisa mengetahui dalil2 itu semua?”

A : “Dari banyak belajar atau menuntut ilmu di kajian2 yang sesuai Sunnah. Atau dengan banyak membaca buku2 tentang shalat sesuai Sunnah (seperti halnya buku Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani). Kalau antum ingin membaca bukunya, akan ana pinjamin. Mau?”

B : “Wah mau sekali…! Syukran akhi.”

Beberapa bulan kemudian…

B : “Assalamu alaikum!…Apa kabar akhi? Baru ketemu lagi nih…”

C & D : “Wa’alaikumus salam. Alhamdulillah baik akhi. Iya…”

B : “Oya, tadi ana melihat antum shalat.”

C & D : “Iya, kenapa?”

B : “Ana mau tahu kenapa antum shalatnya seperti itu?”

C & D : “Memang ada apa dengan shalat saya? Ada yang aneh?”

B : “Oh tidak apa2. Hanya saja ana ingin tahu dalil dari shalat yang antum lakukan tadi. Siapa tahu ana bisa mendapat tambahan ilmu dari antum.”

…dan seterusnya…hampir mirip dengan dialog diatas…

Alhamdulillah dengan dialog yang bermanfaat tersebut, telah menjadikan si B mengenal Manhaj Salaf sehingga si B berusaha mencocokkan seluruh ibadah2nya (tidak hanya shalat saja) sesuai Sunnah Nabi (dalil). Metode dialog tersebut kemudian dipakai oleh si B untuk mengenalkan manhaj Salaf ke teman2nya yang masih awam terhadap agamanya. Dan begitulah seterusnya…

(Dialog diatas diadopsi dari kisah nyata dengan beberapa penambahan dan penyesuaian).

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

Recent Posts :

One Response to “MANA DALILNYA?”

  1. AHMAD 9 January 2012 at 14:31 #

    MARI BELAJAR PADA GURU YANG TEPAT……
    SEPERTI BELIAU?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: