BUKAN BASA BASI

7 Feb

Beberapa obrolan yang ana dapati dari beberapa ikhwah:
(Semoga bisa menjadi bahan koreksi dan intropeksi diri kita sendiri, untuk berbenah diri dalam menghadapi fitnah syubhat dan syahwat. Berusahalah untuk selalu berhusnuzhan/prasangka baik kepada saudara2 kita, dan carikan alasan yang baik untuk membela mereka selama masih ada sela untuk berprasangka baik ke mereka. Karena fitnah tidak hanya datang kepada kita yang lemah ini, namun juga bisa mendatangi kepada orang2 yang kuat dan berilmu.)

Obrolan pertama: Tentang sekolah.

A : “Ana lagi bingung mau menyekolahkan anak ana…dimana ya?

B : “Bingung kenapa? Ke Pesantren atau ma’had aja, insya Allah lebih aman, apalagi pergaulan anak2 sekarang sangat memprihatinkan!”

A : “Nah…yang bikin bingung adalah pesantrennya!”

B : “Kenapa?”

A : “Pesantren/ma’had sekarang mahal2! ada yang biaya masuknya minimal 5 juta, 10 juta juga ada, dan ada yang lebih dari itu, belum lagi iuran bulanannya, melebihi dari gaji ana. Kalau ana orang mampu sih gak masalah…Akankah dakwah yang haq ini hanya dimiliki oleh orang2 yang mampu atau kaya saja? Sedangkan kita yang lemah ini tidak bisa menikmati dakwah yang haq ini. Kalau anak ana dimasukkan ke sekolah negeri yang murah, nanti mudharatnya juga besar. Banyak pendidikan2 yang menyelisihi syariat, ditambah lagi jam pelajaran agama di sekolah negeri sangat minim sekali.”

B : “Tapi kan masih ada pesantren yang murah2, bahkan gratis…!”

A : “Memang ada, tapi pesantren2 tersebut dimiliki oleh orang2 yang manhajnya menyelisihi kita. Bisa2 selesai lulus di pesantren tersebut nanti anak ana jadi pelaku bid’ah. Masak kita kalah sama mereka?! Mereka mampu menciptakan sekolah2 yang murah bahkan gratis, sedangkan kita tidak mampu?! Padahal diantara kita banyak orang2 kayanya…
Seandainya ada pesantren kita yang murah atau gratis, namun itu sangat jauh dijangkau tempatnya oleh kita. Belum lagi di dalamnya banyak kasus bermasalah dari murid2nya, walaupun sekolah yang mahal juga tidak lepas dari kasus nakal di dalamnya.”

B : “Hm….jadi anak bapak mau dimasukkan dimana?”

A : “Mau tidak mau ya terpaksa disekolahkan ke sekolah negeri saja…murah dan gratis…apa boleh buat?”

B : “Mudah2an akan ada nanti di daerah kita, orang kaya yang bermanhaj lurus yang terdorong hatinya untuk menciptakan sekolah2 yang murah atau gratis agar dakwah yang hak ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, dan tidak sebatas kalangan orang mampu saja…Insya Allah”

Obrolan kedua : Tentang buku.

A : “Buku ini harganya berapa pak?”

B : “sekian…”

A : “Wah mahal ya…kalo yang ini?”

B : “sekian…”

A : “Wah mahal juga…padahal tipis…”

B : “Yang ini berapa?”

A : “sekian…”

B : “Mahal lagi…Kalo yang dijual di kereta koq bisa murah2 ya? padahal bukunya lebih tebal. Perbandingan harganya jauh sekali.”

A : “Ilmu itu kan mahal pak.”

B : “Memang yang dijual di kereta bukan ilmu?”

A : “Ilmu juga, tapi tidak dijamin shahih ilmunya, banyak amalan2 yang tidak berdasarkan dalil dalam buku tersebut.”

B : “Harusnya yang shahih itu yang lebih murah, karena mereka yang menulis dan mencetaknya sudah memiliki ilmu yang benar, jadi lebih memprioritaskan kepada dakwah, dan tidak mengutamakan komersil. Kalo mereka yang manhajnya beda dengan kita mampu menjual buku yang sangat murah, kenapa kita tidak mampu?? Lihatlah…jika kondisi ini akan terus berjalan seperti ini, maka siapa yang akan menang dalam berdakwah? Jelas yang akan menang dalam berdakwah adalah mereka, karena dakwah mereka mudah dijangkau oleh semua kalangan baik yang miskin sekalipun. Tahukah kamu kalau buku2 kita itu terkenal mahalnya?”

A : “Namun kualitas buku kita baik pak, itu sudah disesuaikan dengan harganya. Mereka murah karena kualitasnya jelek, seperti kertas koran, atau cetakannya kurang bagus. Semakin bagus kualitasnya, maka akan semakin awet bukunya.”

B : “Ahh…saya kan orang percetakan juga, jadi tahu seluk beluknya. Buku yang kualitas bagus juga bisa dijual murah kalau royaltinya murah.”

A : “Ya sudah, kenapa bapak tidak mencetak saja dan menjual buku2 yang murah agar kami bisa mendapat manfaat dari bapak?”

B : “Saya bukan penulis dan tidak memiliki keahlian dalam hal itu. Lagi pula saya bukan pemilik percetakan, tapi hanya pekerja saja. Insya Allah kalo saya jadi seorang penulis dan memiliki percetakan, saya akan menerbitkan buku2 yang murah.”

A : “……………..amiin.”

Obrolan ketiga : Tentang kajian.

A : “Antum kenapa tidak ikut kajian disana?”

B : “Kajiannya bayar. Kalo gratis ana mau datang.”

A : “Tapi bayarnya juga untuk kita2 juga. Dengan membayar, kita difasilitasi oleh panitia, dapat buku gratis, makan dan snack gratis, alat tulis, dan ada hadiah2 yang lain.”

B : “Kata siapa buku gratis?? makan dan snack gratis? alat tulis dan hadiah2?? Itu bukan gratis…itu didapat dari uang mereka juga. Mereka atau antum sama saja dengan membeli ke panitia. Dan panitia secara tidak langsung menjual ke mereka.”

A : “Tapi akh…dengan begitu kita juga jadi lebih fokus dan konsentrasi untuk belajar. Cobalah kalo gak ada makan siang atau buku, kita lebih fokus kepada yang lain. Kalo ingin makan, terpaksa nyari warung. Dan kalo sudah ada buku, kita jadi tidak repot menulis saat kajian, tinggal menyimak kajian saja.”

B : “Kalo model orang yang mampu dan banyak uang gak masalah. Tapi ana kan belum kerja, jadi gak punya banyak uang. Kalo pergi ke kajian harus minta ke orangtua dulu, dan orangtua ana gajinya pas2an.
Soal makan itu bisa diatur oleh orang model ana, dan gak harus beli ke panitia. Ana bisa bawa bekal dari rumah untuk dimakan disana, dan itu lebih menghemat. Soal kajian juga gak harus punya buku. Ana bisa menulis setiap yang disampaikan oleh ustadz. Malah dengan menulis lebih mengikat daya hafal suatu ilmu, dibandingkan dengan membaca saja. Kalo sekedar mengandalkan buku bacaan saja, untuk apa gratis alat tulis?!
Jadi sebenarnya pelaksanaan kajian tanpa harus membayar sebenarnya bisa diusahakan, namun yah…itu hak mereka. Lagi pula ana gak butuh2 amat kajian tersebut, karena masih banyak ilmu yang bisa didapat selain harus ikut kajian tersebut.”

A : “Terserah ant dech…ana mendukung antum aja”

Obrolan keempat : Tentang ustadz.

A : “Akhi…ana mau ngadain kajian di daerah ana. Apakah antum ada saran siapa ustadz yang cocok untuk mengisi di daerah ana?”

B : “Hmmm…gimana kalo ustadz C ?”

A : “Wah…ana gak mampu untuk kasih amplopnya akh…soalnya tarifnya tinggi, maklum namanya juga da’i ternama/kondang.”

B : “Kalo ustadz D ?”

A : “Walaupun beliau tidak ditarif, namun beliau agak banyak permintaan ini dan itu, harus begini dan begitu, nginapnya minta di hotel lagi…mungkin karena beliau asalnya dari daerah yang jauh.”

B : “Nah…sama ustadz E aja?”

A : “Ana sudah pernah nanya ke beliau, tapi beliau tidak mau kalo tempatnya kecil atau tidak bisa menampung jamaah diatas 1000 orang, khawatir gak muat kalo datang jamaah yang banyak. Sedangkan masjid kami gak sebesar itu.”

B : “Siapa lagi ya…gimana kalo ustadz F ?”

A : “Ana juga pernah nanya ke beliau, dan beliau tidak mau, karena di daerah kami sudah dipegang oleh ustadz E. Katanya gak enak kalo ngisi di daerah yang sudah ada ustadznya. Padahal waktu kajiannya beda, akh…”

B : “???….Hm…sama ustadz G aja?”

A : “Ustadz G? Hmm…masih meragukan akh…soalnya belum mendapat rekomendasi dari ustadz2 besar…ana gak berani.”

B : “Kenapa harus minta rekomendasi dari ustadz2 besar?”

A : “Mereka kan lebih mengetahui siapa yang manhajnya lurus dan menyimpang…”

B : “Tapi apakah ustadz2 besar tersebut benar2 mengetahui tentang biografi seluruh da’i2 yang ada di indonesia yang jumlahnya mungkin ribuan atau jutaan?”

A : “Bukan begitu…maksudnya biar lebih selamat.”

B : “Berarti kalo ada orang yang mau berdakwah harus minta izin dulu sama ustadz2 besar, githu??? Antum berdakwah di fesbuk ini izin dulu ke ustadz2 besar gak? hehehe…”

A : “Ya enggak githu lha…ana khawatir nanti jamaah yang datang sedikit.”

B : “Hmm…berarti niat ant untuk mengadakan kajian adalah supaya didatangi oleh banyak orang? bukan karena menyampaikan kebenaran? Perlu diluruskan niatnya akh…Karena dalam menyampaikan kebenaran tidak memandang harus di depan banyak orang atau sedikit orang.
Ya sudah…saran ana sama ustadz H saja!”

A : “Ustadz H? beliau kurang terkenal akhi…nanti juga sedikit jamaahnya..”

B : “Ya akhi…ant mau ngadain kajian atau mau bisnis kajian? Ant ambil ilmunya, dan bukan melihat karena popularitasnya. Beliau walaupun tidak terkenal tapi memiliki ilmu yang banyak dan bermanhaj lurus, insya Allah. Terserah antum mau mengambil saran ana atau tidak…ana sudah tidak punya saran lagi!”

A : “…………???!”

Tambahan :

Obrolan kelima: Mengundang ceramah.

Kami : “Ya Syaikh (guru kami Syaikh Fulan di Saudi) …Kami memiliki perkumpulan para tenaga kerja Indonesia di Saudi. Setiap bulan kami mengadakan pertemuan. Kami mengundang anta untuk mengisi ceramah pada pertemuan kami ini, bersediakah ya Syaikh?”

Syaikh : “Masya Allah…suatu kehormatan bagi ana untuk bisa mengisi ceramah pada pertemuan kalian. Dengan senang hati…insya Allah.”

Kami : “Tapi Syaikh, sebenarnya ada yang tidak mengenakkan bagi kami.”

Syaikh : “Apa itu?”

Kami : “Pertemuan kami bertempat di rumah sahabat kami di daerah fulan. Namun berhubung rumah tersebut adalah rumah pekerja (TKI), jadi tempatnya agak kurang baik. Kamarnya kecil dan sempit, agak kumuh, di dalamnya juga panas karena AC-nya sedang rusak, dan tidak memiliki fasilitas apa2. Bagaimana Syaikh?”

Syaikh : “Tidak masalah bagi ana. Seandainya tempat tersebut seperti neraka sekalipun, bukan merupakan kendala bagi ana dalam berdakwah, insya Allah.”

Kami : “Syukran ya Syaikh. Kita kumpul di depan toko ana jam sekian, setelah itu kita sama2 ke tempat tujuan.”

Syaikh : “Thayyib..”

Pada hari H-nya, Syaikh tersebut sudah menunggu di tempat yang dijanjikan sesuai dengan waktunya, tidak terlambat sedetikpun. Kami merasa kagum kepadanya akan ketepatan waktunya dalam hal janji. Akhirnya kami pergi bersama2 menuju lokasi.
Sampai di lokasi rupanya belum ada jamaah yang hadir seorang pun. Kami merasa bersalah karena lalai dalam hal ini. Sudah dimaklumi sebelumnya kalau jadwal orang2 kita ibarat jam karet. Akhirnya kami meminta maaf kepada Syaikh, dan meminta Syaikh untuk menunggu atau kembali pulang dan kembali lagi setelah sejam berikutnya. Syaikh pun memilih kembali pulang dan berjanji akan kembali lagi sejam kemudian, setelah para jamaah dipastikan sudah berkumpul semua.
Sejam kemudian Syaikh kembali kepada kami dengan tepat waktu, barulah beliau memberi tausiyah kepada kami. Selesai beliau berceramah, kami kebingungan untuk memberikan amplop kepada beliau, dan berapa jumlah yang harus kami berikan. Masalah tersebut kami konsultasikan kepada rekan kami yang sudah mengenal kepribadian Syaikh tersebut. Rekan kami menjelaskan bahwa Syaikh tidak suka dikasih amplop, beliau pasti akan menolaknya atau marah jika diberi amplop. Akhirnya ana tidak jadi memberikannya amplop kepada Syaikh tersebut.

Obrolan keenam : Mengajak kajian.

A : “Afwan akhi, ana mau mengajak antum untuk hadir secara rutin pada pengajian kami setiap pekan ba’da shalat jum’at sampai dengan ashar. Antum akan mendapat banyak fasilitas dari pengajian kami, diantaranya:
– Mendapat jemputan pulang pergi. Dijemput dari depan rumah, dan diantar pulang sampai ke rumah setiap kajian dengan bis jamaah pengajian.
– Mendapat makan siang gratis. Menunya untuk 1 nampan (4 atau 5 orang): Ayam panggang 1 ekor, nasi Bukhari (nasi Arab), lalapan, buah2an, softdrink 1 botol besar.
– Mendapat buku2 terjemahan/asli secara gratis (sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa), seperti kitab tauhid, ushul tsalatsa, jalan golongan yang selamat, dan puluhan buku2 lainnya.
– Mendapat kesempatan untuk umrah/haji gratis setiap tahunnya, dengan pembimbing dan pelayanan2 yang gratis semuanya.
– Mendapat banyak hadiah yang bermacam2 untuk setiap acara yang kami adakan.
– Mendapat banyak kenalan teman2 yang shalih dan berilmu.
– Dan yang lebih utamanya adalah, mendapat banyak ilmu yang bermanfaat sesuai dengan manhaj Salaf.
Bagaimana, mau??”

B : “Maaf akhi, ana tidak bisa karena ada kesibukan.”

C : “Ana juga tidak bisa akhi, ada acara.”

D : “Ana juga tidak bisa, sudah lelah…butuh istirahat.”

E : “Ana ada kerjaan, jadi tidak bisa.”

F : “Ana tidak diizinkan oleh majikan, padahal ana mau…”

A : “Hmmm….tidak dimana2, yang namanya kebaikan itu lebih sedikit peminatnya. Wallahu a’lam.”

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

Recent Posts :

One Response to “BUKAN BASA BASI”

  1. ningzcute 28 March 2012 at 10:19 #

    kurang begitu paham sama maksud ceritanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: