DIUNDANG MAKAN BERSAMA PARA MASYAIKH

25 Feb

Kira2 11 tahun yang lalu, ana mendapat undangan makan siang bersama para Masyaikh Saudi (alim ulama) pada suatu acara tertentu. Kala itu ana belum banyak mengenal Sunnah, karena ana baru belajar tentang Sunnah. Mendapat kehormatan seperti itu, maka ana mempersiapkan segalanya. Ana mencoba untuk mempelajari etika ketika makan, berhubung yang akan ana hadapi adalah para tokoh2 ulama/Masyaikh (Syaikh2) dan orang2 terhormat. Sekilas ana ingat terhadap nasehat dan pelajaran dari sekolah atau teman mengenai etika ketika makan. Diantara etika yang ana ingat kala itu adalah:

– Ketika makan tidak boleh berbicara, kecuali terpaksa.
– Jangan menimbulkan suara berisik ketika makan, baik suara sendok atau piring.
– Posisi sendok di tangan kanan, dan garpu di tangan kiri.
– Jika selesai makan, maka taruh sendok diatas piring dengan posisi terbalik.
– Duduk yang sopan dan posisi tangan diatas meja makan (kayak anak TK…hehehe).
– Jika duduk dibawah, maka duduklah dengan posisi sila, jangan mengangkat kaki (seperti duduk di Warteg).
– Jangan mengambil makanan terlalu banyak (karena memalukan dan terlihat rakus).
– Makanan jangan dihabiskan semua sampai bersih, sisakan sedikit.
– Jika makanan terjatuh, jangan diambil, biarkan saja.
– Jangan menjilati jari, tidak sopan.
– dll.

Setelah ana mempersiapkan semuanya tentang etika makan, maka sampailah pada acara tersebut. Ana sangat tegang dan gugup pada jamuan itu. Acara itu dihadiri oleh banyak orang2 penting dan ulama. Timbul taqlid ana untuk mengikuti mereka, karena mereka adalah orang2 yang ditauladani oleh kami. Kesempatan ini akan ana manfaatkan dengan baik yaitu dengan memperhatikan segala sikap dan tingkah laku mereka. Dan ana juga harus mempraktekkan ilmu yang telah ana dapati dan pelajari mengenai etika ketika makan. Semoga apa yang ana terapkan nanti ketika makan, tidak memalukan bagi ana yang terlihat kuper atau ‘ndeso’ istilahnya sekarang.

Makan siangpun dimulai…

Namun apa yang ana lihat?
Apa yang terjadi pada acara makan siang itu?
Bagaimana cara makan mereka (yaitu para Masyaikh)?

Suatu pemandangan yang sangat mengejutkan bagi ana…
Seperti inikah seorang yang berilmu menyantap makan siang?
Semuanya berbeda dengan pandangan ana sebelumnya…
Semuanya berbeda dengan etika makan yang ana ketahui dan pelajari selama ini…

Seperti inilah pemandangan yang ana lihat:

– Mereka makan dilantai semuanya, tidak ada yang diatas meja makan atau tempat duduk, semuanya sama padahal diantara mereka ada orang2 terhormat dan berpangkat.
– Gaya duduk mereka bermacam2, ada yang sila, ada yang kaki satunya diangkat dan kemudian kaki yang satunya lagi diduduki (seperti duduk ala Warteg), ada yang kakinya di duduki dua2nya.
– Mereka makan memakai nampan atau alas makan, sedangkan 1 nampan diisi sekitar 4 atau 5 orang.
– Ketika memulai makan, mereka cukup mengucapkan ‘Bismillah’. Tidak ada yang mengangkat tangan ketika berdoa, atau memimpin doa secara jama’i, atau membaca doa ‘Allahumma bariklana …dst’
– Mereka makan sambil mengobrol, bahkan tertawa, sehingga suasana saat itu berisik dan ramai.
– Mereka makan tanpa memakai sendok dan garpu, langsung dengan jari2nya sendiri.
– Sekali2 mereka menjilati jari2nya, begitu juga setelah selesai makan.
– Makanan yang terjatuh, mereka pungut kemudian mereka makan kembali.
– Tidak ada dari mereka yang makan dan minum dengan tangan kiri. Bahkan mereka tidak segan2 menegur orang yang ketahuan makan dan minum dengan tangan kiri.

Ana bertanya dalam hati, sebenarnya siapakah yang tidak beretika, ana atau mereka?
Kalau mereka yang tidak beretika, bagaimana mungkin? padahal mereka adalah orang2 yang berilmu dan ditauladani.
Kalau ana yang tidak beretika, hm….bukankah ana masih baru mengenal tentang Sunnah? dan baru belajar tentang Sunnah?
Untuk mencari jawabannya, maka ana harus mempelajari etika makan sesuai Sunnah. Jika ana dapati bahwa apa yang mereka lakukan adalah menyelisihi Sunnah, maka merekalah yang tidak beretika. Namun sebaliknya, jika ana yang menyelisihi dan tidak sesuai SUnnah, maka ana yang keliru selama ini.

Dan Alhamdulillah, sekarang ana telah mengetahui adab2/etika ketika makan dengan banyak2 belajar mengenai Sunnah. Rupanya, apa yang mereka lakukan ketika itu tidak menyelisihi Sunnah, bahkan sesuai dengan Sunnah. Sedangkan pemahaman ana saat itulah yang menyelisihi Sunnah, terpengaruh ajaran2 tradisi dan budaya2 barat.
Wallahu a’lam.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

Baca juga:
ADAB MAKAN DALAM ISLAM

Recent Posts :

One Response to “DIUNDANG MAKAN BERSAMA PARA MASYAIKH”

  1. abu4zan 7 March 2012 at 16:15 #

    izin share ya akh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: