IKHWAN HOBI BOLA

25 Feb

Teman saya rajin ini sekali mengaji. Mengaji, dalam arti hadir di pengajian-pengajian, mendengarkan taklim dan wejangan-wejangan para ustadz di berbagai masjid. Tapi melalui obrolan-obrolan singkat di sela-sela pengajian, ia sering curhat kalau dia sangat sulit membiasakan diri shalat malam. Dia cemas bila memikirkan hadits Nabi yang menyindir seorang pria yang bangun malam tapi tak sempat shalat, “Jangan seperti Fulan, dulu dia suka shalat malam, dan sekarang sudah tidak lagi.. ” Tapi, betapa sulitnya membiasakan diri sekadar berdiri untuk shalat dua rakaat plus satu rakaat witir saja.

Nah, yang menjadi persoalan, dia bukan orang yang susah untuk bangun malam. Dia sering tidur sangat larut nyaris setiap malam, bahkan dia tipikal orang yang lebih sulit tidur ketimbang bangun. Lebih dari itu, bila untuk tujuan menonton pertandingan sepak bola, biarpun itu di penghujung dini hari sekalipun, ia tak pernah merasa kesulitan. Dia tak perlu jam beker, tak perlu alarm, sekadar untuk membuatnya terbangun. Sekadar niat di hati, jam berapapun ia tidur, ia bisa bangun tak lama sebelum pertandingan berlangsung. Tapi untuk shalat malam? Nanti dulu.

Tak payah mencari orang seperti teman saya ini. Bola sudah menjadi demam dunia. Demam global, seglobal bentuk bola itu sendiri. Teman saya ini hanya satu dari sekian banyak orang yang menggemari sepak bola lebih dari makanan yang selezat apapun, acara pesta yang semeriah dan seheboh apapun.

Saya mengenal beberapa orang yang sangat membenci tabung canggih yang bernama televisi. Mereka tak sudi benda itu bercokol di rumah mereka dengan alasan karena benda itu berisi banyak maksiat. Benda itu diyakini sebagai sumber masalah dari kenakalan anak-anak mereka. Cukup mengagumkan komitmen mereka itu. Dan sudah sepantasnya ia dan keluarganya tak usah lagi mengenal televisi. Tapi, untuk acara menonton bola, mereka bisa menebeng di mana-mana tanpa perlu malu. Bisa di warung, di rumah tetangga, bisa di terminal, bisa sendirian, bisa juga bersama anak-anak dan isteri mereka!

Saya sendiri kadang merasa aneh, ketika sebagian murid sekolah begitu kesulitan menghafal nama-nama para Sahabat Nabi, orang-orang shalih, ulama atau bahkan nama-nama para nabi yang kesohor. Bila dilihat sekilas, amat mudah kita mengklaim mereka sebagai siswa-siswi yang sedikit bodoh. Tapi, sungguh ajaib, mereka begitu mudah merapal nama-nama para pemain berbagai klub sepak bola nasional, para pemain manca Negara, berikut ciri khas para pemain tersebut, gaya bermainnya, hingga kebiasaan, asal Negara, gaji bulanan, hingga nama pacar mereka!

Tampaknya sepak bola telah membius banyak orang. Para pendahulu kita mungkin tak pernah membayangkan akan ada perhelatan yang mampu menyita perhatian ratusan juta orang di dunia, menghamburkan uang ratusan milyar rupiah bahkan triliunan hanya dalam waktu tak lebih dari satu bulan saja, memaksa banyak orang harus rela terkantuk-kantuk menunggu masa tayangnya di televis, seperti halnya pesta Piala Dunia yang digelar 4 tahun sekali. Hal yang bukan saja mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya, tapi juga tak akan tercerna oleh logika mereka.

Soal tak tercerna logika, bukan terkait dengan kecanggihan otak. Karena, beberapa puluh tahun lalu siapa yang bisa mencerna secara logika kalau anak seusia SD di masa sekarang ini sudah begitu mudah berkomunikasi via telepon genggam ke  manapun dia suka, bisa mengetahui segala bentuk berita dan informasi terkini melalui internet kapan dan di manapun dia mau, bisa  menemukan jawaban dari seluruh soal-soal PR yang diberikan gurunya di sekolah hanya dengan duduk santun memelototi penjelasan ‘Mbah’ Google di layar komputernya……?

Tapi, sepak bola ini bahkan juga merambah segala batasan logika lebih dari segala kecanggihan teknologi tersebut. Siapa yang pernah mengira, bahwa pekerjaan menendang-nendang bola yang diawali dari kebiasaan menendang-nendang kerikil atau kaleng bekas di jalanan, sebuah pekerjaan yang hanya layak dilakukan orang-orang iseng saja, suatu saat bisa menghasilkan lebih dari satu milyar rupiah per minggu bagi seorang pemain sepak bola kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo atau Wyne Rooney?

Tak banyak minat yang bisa direbut dari hati anak-anak negeri ini oleh bius sepak bola tersebut, bila yang dimaksud adalah untuk bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Konon, di negeri Iran –yang notabene negeri Islam berbasis Syi’ah–  ada tak kurang dari 2,8 juta pemain sepakbola Nasional. Sementara pemain bola professional di negeri ini tak lebih dari ribuan orang. Bandingkan dengan total jumlah penduduk masing-masing Negara. Maka sah saja kalau ada orang bilang Indonesia ini bukan negeri sepakbola, tapi negeri penonton sepakbola.

Nah, soal penonton ini yang ingin kita obrolkan.  Justru karena negeri kita ini negeri dengan penonton sepakpola yang tergolong paling fanatik di dunia ini, dan itu terbukti, meski jarang menang, tim nasional kita tak pernah dijauhi para penggemarnya, dan terbukti, pertandingan internasional yang digelar di Istora Senayan Jakarta selalu dibanjiri penonton yang berjubel-jubel mulai dari saat membeli karcis hingga saat menonton dan saat meninggakan stadion dengan berita kekalahan tim kesayangan mereka, justru karena alasan itulah, maka menonton sepakbola di negeri ini menjadi hal yang sangat tidak lumrah secara rasional. Tak hanya pekerjaan yang bisa dikorbankan, tapi uang belanja anak dan isteri, sekolah –bagi para pelajar dan mahasiswa–, hingga waktu terbaik untuk shalat malampun, bisa begitu mudah dikorbankan demi menikmati sebuah tayangan sensasional pertandingan sepak bola. Dan tak hanya untuk menyaksikan pertandingan tim nasional, namun kegilaan pada sepakbola membuat setiap kita mencoba mencari idola dari tim-tim negera lain, baik dalam level klub hingga level tim nasional, dan alasannya sederhana saja: melampiaskan hasrat yang tak terpuaskan dari tim nasional sendiri. Daripada membela tim yang sulit ditunggu kemenangannya, lebih baik  menghibur diri dengan membela tim-tim yang memang sudah terbiasa dengan kemenangan, seperti Barcelona, Real Madrid, MU, bahkan juga Brasil, Argentina, Spanyol, bila perlu tim nasional Negara yang pernah menjajah kita: Belanda!

Baiklah. Bila itu hanya sebatas hobi, dan hobi itu juga hanya sebatas sebuah permainan, dan permainan itu pun terkait dengan olah raga, maka pada tataran itu kita tentu memakluminya. Karena Islam juga menganjurkan kaum muslimin untuk menjadi kuat. Untuk kuat, kita perlu pasokan gizi yang seimbang, olah raga yang cukup, dan istirahat yang berkwalitas. Bermain sepak bola, tak pelak lagi, termasuk olah raga. Jadi, sebatas itu, sah-sah saja kita menggemari sepakbola.

Allah berfirman,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Anfaal : 60)

Tapi, akhirnya, setiap pertimbangan bagi seorang muslim, tetap harus kembali kepada tata nilai dan aturan yang ada dalam agamanya. Islam menganjurkan, bahkan memerintahkan kita untuk menjadi kuat, artinya, untuk tetap menjaga kebugaran tubuh termasuk dengan berolahraga, dan termasuk dengan bermain sepakbola bila memang itu olah raga pilihan kita, tapi, tentu bukan tanpa aturan sama sekali. Dan yang terpenting dalam berolahraga, terutama bila olah raga itu di tempat terbuka yang berpotensi ditonton orang banyak, setiap muslim harus tetap menutup aurat dengan sempurna.

Nah, berkaitan dengan soal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seorang ulama besar Kerajaan Saudi Arabia, menegaskan,

“Berlatih olah raga hukumnya mubah, selama tidak menyebabkan seseorang lalai menjalankan kewajibannya. Apabila karena berolah raga seseorang melalaikan kewajibannya, maka olah raga itu menjadi haram. Apabila ada seseorang yang memiliki kebiasaan berolah raga tanpa mengenal waktu, sama halnya dengan membuang-buang waktu secara sia-sia. Dalam kondisi demikian, olah raga tersebut minimal dihukumi makruh. Namun, apabila saat berolahraga seseorang mengenakan celana pendeka sehingga terlihat aurat dan sebagian aurat lainnya, hukumnya tentu saja haram. Kaum muslimin juga tidak boleh menyaksikan para pembain sepakbola yang terlihat sebagian auratnya .”

Ups, ini persoalannya. Bermain sepakbola di jaman sekarang ini tak lepas dari soal kostum. Dan kostum sepakbola yang umum digunakan masyarakat sepakbola dunia, seperti yang kita maklumi bersama, tak lebih dari selembar kaus ketat yang membungkus tubuh bagian atas, dan sehelai celana pendek yang membiarkan sebagian besar paha –yang notabene adalah aurat bagi kaum pria–  terbuka bebas. Dan persoalannya, itulah para pesepakbola yang kita tonton permainannya di mana-mana. Terlepas apakah saat bermain sepakbola kitapun kadang berpakaian seperti itu, yang jelas, saat menontonnya pun kita sudah terkena konsekuensi hukum, seperti dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin di atas. Hal ini jelas, bahkan bagi penganut madzhab fiqih apapun di dunia ini.

Hal lain tentu soal berlebih-lebihan yang disinggung oleh Syaikh dalam fatwanya itu. Rasanya terlalu mudah untuk dapat mendeteksi betapa sangat berlebihannya para penggemar sepakbola ini dengan olah raga kegemaran mereka  ini. Bukan hanya soal mengorbankan waktu begitu banyak seperti disebutkan dalam fatwa tersebut, tapi juga soal mengorbankan uang yang tidak sedikit, mengorbankan tugas, bahkan mengorbankan waktu beribadah yang begitu berharga bagi seorang muslim. Padahal, waktu berharga itu asset yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah .

Tapi, ketika soal syariat sudah berbenturan dengan hobi yang sudah berdarahdaging, tentu bukan menjadi hal yang mudah untuk dicarikan jalan keluarnya. Sebagian kaum muslimin boleh saja ribut soal perbedaan qunut dalam shalat Shubuh, soal tahlilan, atau soal apalah perbuatan dan ucapan ini dan itu bid’ah atau tidak, yang ini haram atau makruh, yang itu wajib atau sekadar disunnahkan. Tapi, soal kegemaran menonton sepakbola, nyaris menjadi hobi lintas madzhab, lintas aliran, bahkan lintas agama!

Ya, itu betul. Di lapangan kecil di kampung saya, terlihat kerumunan massa berjejalan di tempat yang sangat kurang memadai untuk menampung beratus-ratus orang. Di situ berkerumun kaum pria dan sedikit perempuan, tak peduli suku, tak peduli agama, bahkan tak peduli jenis kelamin. Di hadapan mereka terbentang kain putih menyerupai layar tancap. Sebuah proyektor yang disambungkan ke sebuah televisi tersorot ke kain putih tersebut, menyajikan pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung antara tim kesayangan mereka: PSSI, melawan tim negera tetangga, Malaysia. Hujan mengguyur deras. Dukungan mereka gegap gempita. Semangat meluap-luap. Saya melewati kerumunan tersebut, karena ingin mengambil sedikit uang di mesin ATM yang kebetulan berada berdampingan dengan lapangan tersebut. Agak terkaget saya melihat betapa semangatnya mereka membela tim kesayangan mereka itu. Saya sendiri sangat menyukai PSSI, tapi di masa lampau. Bukan tanpa alasan, karena salah satu kiper PSSI, Rony Pasla, kebetulan bekerja satu ruangan dengan bapak saya di Pertamina Pusat Jakarta. Saya sering berjabatan tangan dengannya, sambil berkhayal kapan saya bisa menjadi penjaga gawang berprestasi seperti dia. Tapi, melihat begitu hebohnya orang-orang itu membela dan mendukung PSSI di tengah guyuran hujan dan sambaran geledek yang memekak telinga saat itu, mau tidak mau saya merasa takjub juga.

Saya pulang. Tapi setengah jam kemudian, saya harus kembali, karena ada uang yang seharusnya saya kirim via ATM, belum jadi saya kirim tadi. Saat tiba di lapangan itu, sebagian penghuninya sudah berbubaran. Sisanya masih berteriak-teriak mengobarkan semangat timnya dari arah yang para pemain itu pasti tak bisa mendengarnya. Tapi, dari wajah mereka saya bisa melihat kekecewaan besar. Akhirnya terjawab, karena PSSI baru saja dibantai lawannya 3-0 di stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia. Saya ikut bersedih. Bukan karena PSSI kalah, tapi lebih karena melihat betapa bersemangatnya orang-orang itu membela tim di tengah kepungan hujan yang begitu lebat ini, dengan mengorbankan waktu dan perhatian mereka, tapi harus pulang dengan  kekecewaan. Entah ini sudah ke berapa kalinya. Yang jelas, membela sesuatu yang nyaris tak bisa diharapkan karena banyak hal itu tentu sangatlah menyakitkan.

Tapi, kata menyakitkan itu sama sekali tak berlaku bagi para penggemar fanatik atas apapun juga. Kefanatikan bisa mengalahkan segala-galanya.  Kefanatikan itu akhirnya bahkan meruntuhkan banyak idealisme lain yang susah-susah dibangun dan dipertahankan, termasuk komitmen terhadap syariat bagi seorang muslim. Mereka yang setiap harinya begitu gigih membela syariat menutup aurat bagi muslim dan muslimah sekalipun, kadang tanpa sadar –atau pura-pura tidak sadar–  rela menyaksikan tayangan  pertandingan sepakbola yang para pemain prianya jelas-jelas mengumbar sebagian aurat mereka. Lebih parahnya, tak sedikit juga penonton dari kalangan wanita muslimah yang ikut menikmatinya. Bahkan wanita yang setiap harinya selalu menjaga aurat, hingga yang serapat-rapatnya. dan di waktu lain pasti merasa ‘jijay’ kalau harus melihat sebagian aurat lawan jenisnya tersingkap. Tapi, untuk sebuah pertandingan sepak bola yang begitu menggemaskan itu, segala rasa malu dan jijik untuk sementara bisa disingkirkan jauh-jauh. Ironis, Kawan. Tapi itulah realitas….

Sumber: Orang Gila Jadi Wali, Abu Umar Basyier,  penerbit shafa publika.

Recent Posts :

One Response to “IKHWAN HOBI BOLA”

  1. rizal fauzi yusuf 27 February 2012 at 11:11 #

    ya itulah realitanya dan menjadi tugas para dai untuk menyadarkannya [perlahan lahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: