SENJATA TERAKHIR SEORANG ISTRI

25 Apr

Suamiku…
Engkau menginginkan agar aku menjadi istri yang shalihah, namun engkau melupakan dirimu untuk menjadi suami yang shalih. Engkau sering berkata dan berbuat kasar kepada diriku, kurang bersabar atas kelemahanku, dan kurang menghargai diriku.

Suamiku…
Engkau menginginkan agar aku menjadi istri yang berilmu, namun engkau tidak pernah atau jarang …mengajariku ilmu-ilmu tentang agama. Engkau hanya menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang dengan diriku saja dan tersibukkan dengan urusan-urusan pribadi. Engkau biarkan diriku mencari ilmu sendiri sedangkan engkau lepas tangan dari mendidikku.

Suamiku…
Engkau menginginkan agar aku mampu berhijab (menutup aurat) dengan benar seperti halnya wanita-wanita shalihah yang lain, namun engkau tidak pernah atau jarang membelikanku pakaian atau hijab yang syar’i berupa jilbab panjang atau abaya (baju kurung). Bagaimana aku akan berhijab sedangkan aku tidak memilikinya?
Engkau dengan keras mengancamku untuk menceraikanku jika aku tidak mentaatimu untuk berhijab syar’i. Apakah kamu lupa suamiku…dahulu engkau bersikeras agar aku mau menikah denganmu padahal waktu itu aku tidak berhijab atau tidak menutup auratku. Engkau belum pernah mengajariku hal yang jauh lebih penting dari itu, yaitu masalah tauhid. Engkau juga belum menunjukkan akhlaq yang baik terhadap diriku, sehingga engkau tidak bisa mempengaruhi jiwaku. Engkau menginginkan kebaikan pada orang lain dan diriku, namun kenyataannya engkau menghilangkan kebaikan yang ada di dirimu terhadapku. Lantas bagaimana aku bisa mempercayai dirimu?
Bukankah dalam islam seorang laki-laki muslim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab (nasrani atau yahudi) selama mereka menjaga kesuciannya? Padahal mereka tidak memiliki aqidah yang baik, tidak berhijab, dan kafir?! Lantas kenapa engkau tega untuk menceraikanku lantaran aku belum mampu berhijab karena aku masih seorang istri yang awwam?
Seandainya engkau seorang suami yang penyabar, berakhlaq mulia terhadap istrinya, niscaya aku dengan mudahnya bisa mempercayaimu, dan mentaatimu karena kebaikan-kebaikanmu.

Suamiku…
Engkau menginginkan agar aku selalu di dalam rumah, menjadi ibu rumah tangga, namun engkau sendiri adalah suami yang pengangguran dan malas. Jika kondisi seperti itu, maka bagaimana bisa kebutuhan rumah tangga kita terpenuhi? Haruskah kita selalu menjadi pengemis atau orang-orang yang memiliki tangan yang dibawah (mengandalkan pemberian manusia)? Dimanakah harga dirimu sebagai seorang suami yang memiliki tanggung jawab yang berat?

Suamiku…
Engkau memiliki kecemburuan yang besar sehingga engkau selalu melarang aku untuk berhubungan dan komunikasi dengan laki-laki yang bukan mahram, namun engkau sendiri malah asyik berinteraksi dan komunikasi dengan teman-teman wanitamu di dunia maya maupun nyata.

Suamiku…
Jika suatu saat nanti engkau menceraikan diriku karena aku adalah seorang wanita yang awwam dan bodoh, maka mampukah engkau mendapatkan seorang istri lagi yang sesuai dengan yang engkau harapkan? Atau engkau akan gagal yang kedua kalinya lagi?
Keawwaman dan kebodohanku sebenarnya adalah dari dirimu sendiri. Engkau tidak melihat dirimu sehingga engkau merasa tidak bersalah. Semua kesalahan engkau timpakan kepada diriku. Padahal dulu engkau menikahiku karena rasa cintamu kepada diriku. Namun setelah engkau mengaji, rasa cintamu hilang, dan berubah menjadi rasa benci dan permusuhan. Seperti itukah yang diajarkan oleh ustadzmu untuk membenci orang-orang yang awwam. Apakah kesabaran itu ada batasnya? 1 hari…1 pekan…1 bulan atau 1 tahun? Sehingga jika aku tidak mentaatimu dalam 1 tahun ini maka engkau menceraikan aku?
Padahal aku tidak mentaatimu karena perilaku dan akhlaqmu sendiri. Aku lari dari ketaatan akibat dirimu sendiri. Dan aku salah paham tentang Sunnah karena sikapmu sendiri.

Ketahuilah suamiku…walaupun aku adalah istri yang awwam dan bodoh, namun aku memiliki senjata yang sangat ampuh, insya Allah…
Engkau boleh berbuat sewenang2 terhadap diriku, dan engkau juga bebas untuk menzhalimiku…
Hingga tiba saatnya aku keluarkan senjata terakhir yang aku miliki untukmu…
Yaitu doa dari orang orang yang dizhalimi…
Itulah senjata terakhirku yang insya Allah sangat ampuh dan mustajab, karena doanya orang yang dizhalimi adalah dikabulkan, insya Allah…

Tunggulah hari itu wahai suamiku…Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati…

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

Recent Posts :

4 Responses to “SENJATA TERAKHIR SEORANG ISTRI”

  1. lilis nur rolista 3 May 2012 at 13:24 #

    Subhanalloh…benar2 menyentuh kalbu

    • susanti 15 May 2012 at 22:29 #

      terwakili…,alhamdulilah andaikan para suami membaca memahami tulisan ini bersinarlah dunia ,terciptalah istri soleha dan melahirkan generasi yg soleh dan soleha amien

  2. mdi 27 August 2013 at 22:03 #

    Kenapa ya suami selalu aja berprilaku dan berkata kasar padahal belum tentu kita bahagia sama dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: