MENJADI MALAIKAT KECIL

28 Feb

MALAIKAT KECILMenjadi kebiasaan, di hari Jumat seorang Imam dan anaknya yg berumur 11 tahun membagi brosur di jalan2 dan keramaian, sebuah brosur dakwah yg berjudul “thariiqan ilal jannah” (jalan menuju jannah).
Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik2 air hujan yang membuat manusia benar2 malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan utk mencegah dingin, lalu ia katakan,
“Saya sudah siap, Abi!”
“Siap utk apa nak?”
“Abi, bukankah ini waktunya kita menyebar brosur ‘jalan menuju jannah’?”
“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”
“Tapi Abi, tetap saja ada org yg berjalan menuju neraka meski suasana sangat dingin.”
“Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”
“Abi, jika diijinkan, saya inginmenyebarkan brosur ini.”
Sang ayah diam sejenak lalu berkata
“Baiklah, tapi bawa beberapa brosur saja, jangan banyak2.”

Anak itupun keluar di jalanan kota utk membagi brosur kpd org yg dijumpainya, juga dari pintu ke pintu.

Stlh dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi org di jalanan. lalu ia mendatangi sebuah rumah utk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah….tapi tak ada yg mnjawab. Ia pencet lagi..dan tak ada yg keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yg menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ie ketuk pintu dengan keras. Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yg menyiratkan kesedihan yg dalam berkata,
“Apa yg bs saya bantu wahai anakku?”

Dengan wajah ceria, senyum yg bersahabat si anak berkata,
“Sayyidati (panggilan penghormatan utk seorg wanita), mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah utk Anda yg mengabarkan kpd Anda bagaimana mengenal ALlah, apa yg seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”

Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak..hayyaakallah

SEPEKAN KEMUDIAN…

Usai shalat Jumat, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit tausiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yg ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?”
Di barisan belakang, terdengar seorg wanita tua berkata,
“Tak ada di antara hadirin ini yg mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sblm Jumat yg lalu saya merasa blm mnjadi seorg muslimah, dan tidak berfikir utk mnjd seperti ini. Sekitar sebulan suamiku meninggal, pdhl ia satu2 org yg kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yg lalu, saat udara sgt dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, krn tak tersisa lagi harapan utk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap…saya berdiri di kursi…, lalu saya kalungkan ujung tali yg satunya ke leher, saya ingin bunuh diri krn kesedihanku…
Tapi, tiba2 terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tdk menjawab, “paling sebentar lagi pergi”batinku.
Tapi ternyata bel berdering lagi, ditambah ketukan pintu yg makin kuat. Saya ragu, “Siap kira2 yg datang ini, setahuku tak ada satupun org yg mungkin memiliki keperluan atau perhatian thdpku.” Lalu saya lepas tali yg melingkar di leher, dan saya turun utk melihat siapa yg mengetuk pintu.

Saat kubuka pintu, kulihat seorg bocah yg ceria wajahnya, dengan senyuman laksana malaikat dan aku blm pernah mlihat anak spt itu.
Dia mengucapkan kata2 yg sgt menyentuh sanubariku, “saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kpdku yg berjudul, “Jalan menuju jannah.”
Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Stlh mmbacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan dan saya telah mantap utk tdk memerlukan itu lagi selamanya.
Anda tahu…sekrg ini saya benar2 merasa sangat bahagia, krn bisa mengenal ALlah yg Esa, tiada ilah yg haq selain Dia.
Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka asaya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kpd kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yg tlh mendatangiku pada saat yg sangat2 tepat yg dgnnya mdh2an mjd jalan selamat saya dr kesengsaraan mnuju jannah yg abadi.

Mengalirlah air mati para jamaah yg hadir di masjid, gemuruh takbir..Allahu Akbar..menggema di ruangan. Sementara sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf plg depan, tempat dimana puteranya yg tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru…Allahu Akbar!

#Kita bs mengambil faedah dr sgl sisi, baik di posisi wanita tua yg sdg gundah, sebagai ayah dan sebagai anak yg giat berdakwah.

dari Abu Umar Abdillah

http://www.facebook.com/abu.abdillah.7

 

 

One Response to “MENJADI MALAIKAT KECIL”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: