TANGGAPAN KAMI MENGENAI HUKUM MENDAKI GUNUNG/PANJAT TEBING

22 Mar

038 copy copy

Banyak yang bertanya ke ana mengenai hukum mendaki gunung/panjat tebing, dikarenakan mendaki gunung termasuk olahraga ekstrim dan membahayakan jiwa manusia, ditambah lagi ada fatwa yang melarang mendaki gunung karena bisa membahayakan jiwa. Maka tanggapan ana pribadi terhadap pendapat tersebut adalah (pendapat ini adalah pendapat ana pribadi, bisa diterima dan bisa ditolak), seperti halnya jawaban Syaikh al Albani ketika ditegur oleh seseorang karena mengemudi mobil dengan kecepatan kencang, seseorang tersebut menegur Syaikh Al Albani bahwa ada fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang mengatakan bahwa hal itu termasuk membahayakan dan menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Maka mendengar teguran tersebut maka Syaikh AL Albani tertawa lalu menjawab, “Ini adalah fatwa seseorang yang tidak/belum merasakan nikmatnya mengemudi mobil (dengan kecepatan kencang)!!!”
Oleh karena itu ana juga akan menjawab mengenai mendaki gunung/panjat tebing, “Ini adalah fatwa seseorang yang tidak/belum merasakan nikmatnya mendaki gunung dan alam pegunungan…” (hehehe….)

Dilihat dari sisi yang lain, fatwa mengenai larangan mendaki gunung masih bersifat mutlak/umum dan belum diperinci. Sedangkan mendaki gunung butuh perincian, karena mendaki ada yang sampai ke tingkat membahayakan dan ada pula yang tidak sampai ke tingkat membahayakan, seperti halnya tamasya atau hiburan. Jika melihat dari tujuan awal mendaki gunung, maka itu juga perlu perincian. Ada yang bertujuan untuk kesyirikan seperti menaruh sesajen, mencari wangsit, bertapa, dll. Ada juga yang bertujuan untuk kebid’ahan seperti ziarah kubur yang tidak syar’i, bertabaruk kepada tempat2 bersejarah, dll. Ada juga yang bertujuan untuk kemaksiatan seperti pacaran, mabuk2an, merusak alam, dll. Maka tujuan2 seperti itu jelas terlarang. Adapun tujuan selain itu seperti mencari nafkah karena banyak penduduk sekitar gunung yang mata pencahariannya adalah dengan mendaki gunung seperti bertani, mencari kayu bakar, dll, maka ini jelas diperbolehkan. Sedangkan mendaki gunung yang bertujuan untuk olahraga dan rekreasi, maka inilah yang sedang kita bahas.

Hukum mendaki gunung untuk rekreasi jika masih di negeri kaum muslimin, maka Hukum asalnya diperbolehkan, bahkan jika tujuannya untuk mengambil ibroh atau mencari rezeki yang halal, atau melihat dan memperha­tikan kekuasaan Alloh Ta’ala sang Pencipta atau un­tuk menuntut ilmu maka dianjurkan. Syaratnya adalah tidak terdapat kemungkaran di dalamnya. (lihat QS. Muhammad [47]: 10, al-Ankabut [29]:20, al-Mulk [67]:15, dan an-Nur [24]:122). [Ahkam as-Siyahah wa Atsaruha Dirosah Syar’iyah Muqoronah hlm. 173-174.].

Selengkapnya bisa lihat disini:
ADAB BERTAMASYA

Sedangkan hukum mendaki gunung/panjat tebing untuk olahraga, maka disebutkan dalam majalah Al Hikmah ketika membahas tentang Olahraga yang membahayakan dan tidak membahayakan: “…Adapun hukum olahraga seperti balap motor, balap mo­bil, lomba lari, panjat tebing, gulat, karate, taekwondo, kungfu, dan lainnya, maka hukum asalnya adalah ter­masuk yang dianjurkan sebagaimana Alloh Ta’ala perintahkan hamba-Nya untuk melatih dan menyiapkan kekuatan (QS. al-Anfal [8]: 60), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabatnya berlatih memanah (HR. al-Bukhori: 3122), hanya saja para ulama mensyaratkan kehalalannya jika diduga kuat tidak akan membahayakan peserta, dan menjadi haram jika diduga kuat akan membahayakan pesertanya. (Lihat al-­Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 153-162). (Sumber: Rambu-Rambu Agama Dalam Olahraga. Majalah AL FURQON no. 112 edisi 09 th. Ke 10 Robi’ul Akhir 1432H/Maret 2011M).

Selengkapnya bisa lihat disini:
ADAB BEROLAH RAGA

Dilihat dari sisi objek gunungnya, maka tidak bisa semua gunung disamakan statusnya yaitu membahayakan. Ada gunung yang aman didaki dan dijelajahi seperti halnya sebagian besar gunung2 di indonesia (karena sudah dijadikan tempat wisata umum), contoh: tangkuban perahu, papandayan, sinabung, bromo, gede, dll. Ada juga gunung yang ekstrim dan membahayakan jika didaki seperti: Everest, K2, dll. Ana sering menjumpai anak2 kecil ataupun orangtua ketika ana mendaki gunung2 tersebut. Bahkan diantara mereka ada yang membawa satu keluarga penuh layaknya rekreasi, dan ada juga yang study tour dari sekolah. Jadi hal ini butuh perincian lagi dan tidak bisa disamakan secara mutlak.

Dilihat dari fisik seseorang pendaki, maka ini juga butuh perincian. Sangat berbeda fisik setiap orang. Ada yang mampu bertahan di alam pegunungan dan ada juga yang lemah dan tidak mampu untuk bertahan di alam pegunungan dikarenakan penyakit tertentu yang ada pada dirinya seperti sesak nafas, jantung, alergi, cacat fisik, dll. Untuk orang yang memiliki kelemahan yang ada pada dirinya, hendaknya tidak memaksakan diri untuk mendaki gunung karena bisa beresiko terhadap dirinya. Ada baiknya untuk memeriksakan kesehatan sebelum dia pergi mendaki gunung agar dia bisa mengetahui kondisi dirinya.

DIlihat dari perlengkapan mendaki, maka ini juga sangat dibutuhkan sekali dalam mendaki gunung karena perlengkapan sangat menentukan untuk keamanan dirinya. Jangan sampai seseorang yang akan mendaki gunung lalai atau meremehkan masalah ini sehingga akan beresiko terhadap dirinya jika terjadi sesuatu dengannya. Perlengkapan yang lengkap sangat menunjang bagi dirinya sehingga dia bisa terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, seperti halnya perlengkapan survival atau pertahanan hidup.

Dilihat dari keahlian/skill juga sangat menentukan sekali. Seseorang yang sudah berpengalaman mendaki gunung maka dia bisa mengetahui mana yang membahayakan dan mana yang tidak, mana yang beresiko dan mana yang tidak untuk dirinya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam mendaki gunung. Maka itu bagi orang yang tidak memiliki keahlian dan pengalaman hendaknya dibimbing oleh orang yang sudah berpengalaman dalam mendaki gunung.

Itulah hal2 yang perlu diperinci ketika mendaki gunung sehingga kita tidak bisa menyamaratakannya dan langsung mengambil kesimpulan sebelum mengenalnya lebih dahulu. Sama seperti cabang olahraga lainnya, seperti halnya berenang di kolam renang tidak sama dengan berenang di lautan luas. Kadang pula dimata kita hal itu membahayakan atau ekstrim, tapi bagi mereka belum tentu atau biasa saja. Bagi kita para pekerja bangunan gedung/menara tinggi sangat membahayakan dan ekstrim, tapi bagi mereka hal itu biasa. Bagi kita para pencari madu yang memanjat pohon2 tinggi di tengah hutan begitu membahayakan, tapi bagi mereka hal itu adalah biasa. Bagi kita para nelayan yang mencari ikan ke tengah laut lepas dan menyelam ke dasar laut sangat membahayakan, tapi bagi mereka hal itu biasa. Begitu juga halnya dengan mendaki gunung, bagi mereka mendaki gunung itu membahayakan dan ekstrim, tapi bagi kami hal itu adalah biasa. Karena selalu dilakukan, maka akan menjadi terbiasa….dan biasa…

Begitu juga jika kita melihat histori yang ada, mendaki gunung adalah aktivitas yang pernah dilakukan oleh para nabi dan rasul, begitu juga para salafush shalih terdahulu. Sejarah Nabi Nuh alaihis salam di gunung Judi, sejarah Nabi Musa alaihis salam di gunung Thur, sejarah Nabi Isa alaihis salam di beberapa gunung, sejarah nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam di gunung Nur, begitu juga sejarah para salaf yang berjihad dan mencari hadits sehingga dibutuhkan untuk naik dan turun gunung. Jika suatu saat kita dibutuhkan untuk mendaki gunung seperti untuk berjihad (jika ada panggilan jihad) atau mencari nafkah, maka mampukah kita untuk mendaki gunung sedangkan kita tidak punya pengalaman atau keahlian untuk mendaki gunung?? Haruskah kita mencari orang2 kafir yang memiliki keahlian mendaki gunung untuk membimbing kita??

Tanggapan ini adalah tanggapan ana pribadi yang bisa diterima dan bisa ditolak, dan bisa benar dan bisa salah. Untuk masalah ini ana tidak mau berdebat atau melayani debat. Jika ada yang tidak setuju atau tidak sependapat dengan dengan masalah ini, maka itu adalah haknya, namun mohon jangan sampai memperbesar masalah atau berdebat. Ana tetap menghargai pendapat yang menyelisihi pendapat ana ini (yang melarang mendaki gunung), baik orangnya ataupun pendapatnya, dan itulah salah satu bentuk dari sikap saling nasehat-menasehati. Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah dan jalan menuju kebenaran…
Wallahu a’lam.

Dari seorang pria yang suka dengan tantangan…

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

Sumber: http://www.facebook.com/negara.tauhid/posts/3005854522712

 

Olahraga Juga Bisa Jadi Ibadah

Pola hidup di zaman modern ini kurang baik untuk kesehatan mulai dair makanan junk food dan siap saji yang identik dengan pengawet dan pemanis buatan, kemudian tekanan dan stresor kerja yang menuntut kerja keras, lembur, cepat dan dinamis. Kemudian pola pikir yang menuntut harus berhasil, hasil yang cepat dan mudah putus asa.

Beberapa faktor tersebut menggeser panyakit akibat degeneratif dan penuaan menjadi penyakit akibat pola hidup seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kanker ganas sampai penyakit aneh yang belum pernah ada sebelumnya.

Jadi, Olahraga bagi masyarakat di zaman modern cukup penting, karena olahraga seperti sudah kita ketahui bersama sangat banyak manfaatnya, dari melancarkan peredaran darah, menguatkan fungsi organ utama terutama jantung dan paru-paru, serta saat berolahraga kita mengeluarkan hormon endorphin, yaitu hormon antistress.

 

Menjaga kesehatan adalah anjuran agama

Dan menjaga kesehatan agar menjadi mukmin yang kuat fisik dan imannya adalah anjuran agama Islam.

عن رفاعة بن رافع قَالَ : (( قَامَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ بَكَى فَقَالَ : قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الأَوَّلِ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ بَكَى فَقَالَ : “اسْأَلُوا اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنْ الْعَافِيَةِ” ))

Dari Rifa’ah bin Rafi’ berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri di atas mimbar lalu menangis. Kemudian ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun pertama hijrah berdiri di atas mimbar, lalu menangis, dan bersabda: “Hendaklah kalian memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan/kesehatan. Setelah dikaruniai keyakinan (iman), sesungguhnya seorang hamba tidak diberi karunia yang lebih baik daripada keselamatan/kesehatan.”[1]

Yang dimaksud dengan [الْعَافِيَةِ] “afiyah” adalah keselamatan dunia-akhirat, keselamatan dunia yaitu selamat dari penyakit dengan kata lain adalah kesehatan.

 

Olahraganya orang desa dan ulama

Sebaiknya Jangan kita beralasan dengan orang desa yang jarang berolahraga, tetapi aktifitas mereka sudah berolaharaga, seperti berkuda, mengangkat barang dan aktifitas keseharian yang tidak dimanja dengan remote control atau kendaraan mewah.

 

Begitu juga jangan beralasan dengan ulama atau para ustadz yang sibuk berdakwah sehingga kesannya tidak sempat berolahraga. Tapi ternyata ada juga ulama dan ustadz yang hobi berolahraga. Akan tetapi mereka yang dekat dengan rabb-nya, menjaga kesehatan dengan sebab syar’i yaitu mereka umumnya bisa lebih menjaga tubuh mereka dari maksiat maka Allah menjaga tubuh mereka dari penyakit dan kelemahan. Sebagaimana hadist,

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.[2]

Maka salah satu bentuk penjagaan Allah, jika kita menjaga diri dari maksiat kepada-Nya adalah penjagaan kesehatan.

 

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata menjelaskan hadist ini,

كان بعض العلماء قد جاوز المائة سنة وهو ممتع بقوته وعقله، فوثب يوما وثبة شديدة، فعوتب في ذلك، فقال: هذه جوارح حفظناها عن المعاصي في الصغر، فحفظها الله علينا في الكبر. وعكس هذا أن بعض السلف رأى شيخا يسأل الناس فقال: إن هذا ضعيف ضيع الله في صغره، فضيعه الله في كبره

 

“Sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Ada seorang ulama yang pernah melompat dengan lompatan yang sangat jauh. Kemudian ia diperingati dengan lembut. maka Ulama tersebut mengatakan,

 “Anggota badan ini selalu aku jaga dari berbuat maksiat ketika aku muda. maka, Allah menjaga anggota badanku ketika waktu tuaku.”

Namun sebaliknya, ada yang melihat seorang sudah jompo/ dan biasa mengemis pada manusia. Maka ia berkata,

Ini adalah orang lemah yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”[3]

 

Pola olahraga yang benar dan yang salah

Olahraga sebaiknya dilakukan dengan rutin dan teratur. Teori idealnya olahraga 3-4 kali seminggu selama 30 menit. Namun ini bukan sesuatu yang mutlak, yang bagus adalah yang teratur dan istiqamah. Sebagaimana jika beramal juga harus istiqamah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang terus-menerus [istiqomah] walaupun itu sedikit.[4]

Dan pola yang salah adalah misalnya olahraga hari ini, tiga hari kemudian olahraga, kemudian 2 minggu lagi olaharaga kemudian satu bulan lagi olahraga dan tiga hari lagi olahraga. Artinya tidak teratur waktunya. Ini kurang baik bagi tubuh.

 

Cukupkah “olahraga” di rumah bersama istri?

Olahraga ini teorinya memang cukup menghabiskan energi, terutama jika mencapai puncaknya. Katanya, sama dengan bermain tenis meja ganda satu set. Akan tetapi “olahraga” ini cukup berbeda dengan olahraga yang asli. Karena tidak semua anggota tubuh bergerak sempurna seperti berlari, kemudian belum tentu mencapai puncak karena berbagai faktor, kemudian bagi yang sudah mempunyai anak, dua misalnya, maka agak susah dilakukan dengan bebas.

 

Malas berolahraga?

Memang pola hidup yang kurang baik tidak akan terasa dampaknya ketika masih muda, akan tetapi dampak pola hidup tersebut baru terasa mulai menginjak usia tua. Bisa berupa kelemahan atau penyakit. Sehingga membuat orang semakin agak malas berolahraga. Mungkin dengan sering-sering membaca doa ini, Insya Allah akan bermanfaat, sesuai dengan pembahasan kita,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”[5]

 

Olahraga bisa menjadi ibadah

Tidak hanya olahraga pada hakikatnya semua yang kita lakukan bisa menjadi ibadah, bahkan hal-hal yang mubah bisa menjadi ibadah dengan niat yang baik. Sebagaimana kaidah,

الوسائل لها أحكام المقاصد

“wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuannya”

Dan memang ibadahlah tujuan kita hidup di dunia, sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Adz Dzaariyaat: 56)

 

Demikian semoga bermanfaat

@Perum PTSC, Cileungsi, Bogor , 6 Syawwal 1434 H

penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

7 Responses to “TANGGAPAN KAMI MENGENAI HUKUM MENDAKI GUNUNG/PANJAT TEBING”

  1. Abu Hafidz 24 March 2013 at 23:44 #

    kapan mau ke gunung rinjani? bila ada kesempatan bersama kesana ya. Abu hafidz al lumbuki.

    • negaratauhid 26 March 2013 at 20:44 #

      insya Allah akhi. Rinjani budgetnya terlalu gede…hehehe

  2. Sam Suduri 26 March 2013 at 20:19 #

    Reblogged this on samduri12.

  3. Waroeng Almishbah 27 March 2013 at 06:42 #

    Mendaki gunung dianggap sebagian orang sebagai olah raga ekstrim dan melalaikan,,karena sebagian pecinta alam (pendaki)…kadang kurang baik dalam agamanya…sebagian meninggalkan sholat…masih melakukan kesyirikan dg percaya kepada juru kunci…(lkurang pahamnya tauhid) dengan mentaati pantangan dan menjauhi larangan yang dituturkan si juri kunci dalam hal ghoib….

  4. LP 26 April 2013 at 12:17 #

    apakah dlm islam perempuan tidak boleh mendaki gunung? mohon di jawab ya terima kasih

    • negaratauhid 15 May 2013 at 21:26 #

      hal itu butuh perincian.

      • LP 19 May 2013 at 22:41 #

        maaf bisa dijelaskan perincian yg bagaimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: