WAWANCARA DENGAN MUSLIMAH BERCADAR ASAL THAILAND

27 Mar

735140_193821780741447_1324984848_nWawancara Salah Satu Admin PPMB dengan Pelajar dari Thailand
Exclusive dari Sudan untuk para member PPMB di Indonesia

Ini merupakan wawancara saya dengan salah satu pelajar bercadar dari Negara Thailand. Mahasiswi di salah satu jami’ah (universitas) di Sudan ini akrab disapa Nuha. Saya lihat hijabnya paling sempurna di antara teman-temannya dari Thailand. Kenapa saya katakana demikian, karena hijabnya memenuhi syarat hijab dalam Islam. Karena itu, saya tertarik untuk mewawancarainya. Berhubung saya tidak bisa bahasa Thailand dan ukhtuna Nuha tidak bisa bahasa Indonesia,saya memutuskan mewawancarainya dengan bahasa arab. Berikut adalah terjemahan wawancara saya dalam bahasa Indonesia.

Admin : Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Nuha : Wa’alaykumussalam warohmatullahi wabarakatuh

Admin : Yaa ukhtana, Bagaimana kabar anti?

Nuha : Alhamdulillah baik. Tamaan jiddan. Dan bagaimana anti?

Admin : Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Bolehkan saya bertanya pada anti tentang hijab?

Nuha : Yaa,,Silahkan.

Admin : Apakah di Negara Thailand banyak yang memakai cadar atau tidak ?

Nuha : Sedikit diantara kami yang bercadar. Tetapi di Patani (salah satu nama kota di Thailand) lebih banyak yang bercadar daripada di daerah tempat tinggal saya.

Admin : Bisa ceritakan bagaimana anti bisa berhijab dan berniqob ?

Nuha : Awalnya saya orang yang awam masalah agama. saya memang beragama Islam tetapi hanya sebatas pengakuan di mulut saja. Yang saya ketahui Islam itu hanya sholat dan membaca Qur’an saja. Setelah lulus dari SMA negeri di Thailand, saya melanjutkan kuliyah di Bangkok (nama ibukota Thailand). Ya sama seperti kondisi bangku perkuliyahan umumnya. Campur antara laki-laki dan perempuan, mahasiswinya berpakaian ketat, pacaran, dll. Namun ada hal yang membuat saya tertarik yaitu saya punya kakak tingkat ia memakai cadar. Hanya satu orang tersebut yaitu kakak tingkat saya yang bercadar. Karena ia bercadar, tak seorangpun mau ngobrol dengannya. Mahasiswa laki-lakipun menjauhinya seakan merasa jijik padanya. Rasa penasaran saya padanya semakin kuat, akhirnya saya beranikan diri berkenalan dan bertanya kepadanya mengapa ia bercadar,apakah hukum cadar dalam islam, apakah istri rasulullah juga bercadar, dlll.. Segudang pertanyaanpun saya ajukan padanya. Subhanallah saya terkejut mendengar semua penjelasannya.

Admin : Kenapa anda terkejut mendengar penjelasannya?

Nuha : Setelah mendengar penjelasannya ternyata Islam bukan hanya sekedar sholat dan membaca Al-qur’an. Saya kanget ternyata hijab itu bukan hanya kerudung-kerudung saja. Tetapi hijab itu menutupi seluruh tubuh tanpa terkecuali. Adapun mata tidak ditutup tidak mengapa karena digunakan untuk berjalan. Kalaupun ditutuppun tidak mengapa.
Saya semakin gigit jari ketika tau bahwasanya wanita-wanita pada zaman Rasulullahpun berhijab yakni menutup semua tubuhnya termasuk wajah dan telapak tangan. Inilah haditsnya : Asma’ binti Abi Bakar berkata: “Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisiri rambut sebelum itu di saat ihram.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.
Ini menunjukkan bahwa menutup wajah wanita sudah merupakan kebiasaan para wanita sahabat. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 68-69, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Saya merasakan betapa jauhnya saya dari Allah. Untuk apa hidup saya ini kalau bukan untuk taat kepada-Nya? Lalu kenapa saya tidak melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Kenapa saya tidak bercadar? Kenapa saya tidak belajar aqidah, fiqih, hadits, tafsir, dll sehingga saya tau mana yang merupakan perintah Allah dan mana larangan-Nya? Karena kebodohan saya,dunia saya menjadi sempit.

Admin : Apakah setelah kejadian itu anti mulai bercadar dan menutup aurat secara sempurna?

Nuha : Saat itu saya memiliki azzam untuk berhijab secara kaffah. Namun ketika saya bertanya kepada orang tua, umi saya melarang keras cadar,jilbab besar. Umi saya melarang karena permasalahan dunia, takut tidak selesai kuliyah,tidak dapat kerjaan, takut dikeluarkan dari tempat kuliyah,takut tidak ada laki-laki yang mau meminang saya,dll. Saya hanya bisa menangis merasakan betapa susahnya untuk berhijab secara syar’i. Dalam setiap sujud saya, saya selalu mengadu dan mengeluh pada Allah.
Kuatnya keinginan saya, membuat saya memberanikan diri bercadar. Tanpa sepengetahuan orang tua saya, saya sudah mulai memakai cadar saat dibangku kuliyah dan saat pergi-pergi. Namun ketika saya dirumah dan dilingkungan sekitar rumah, saya tidak berani memakainya karena takut pada umi. Lama-kelamaan, akhirnya umi tahu juga bahwasanya saya bercadar. Umi marah mengetahuinya. Di bangku kuliyahpun perlawanan dari para dosen, dan teman-temanpun semakin kuat. Karena saya memakai cadar, kerap kali saya di usir dan tidak boleh ikut mata kuliyah. Hal itu semakin berat bagi saya, karena kakak tingkat saya yang mengajari cadar kini ia sudah lulus kuliyah. Saya seorang diri disitu. Di dalam kesendirian saya, saya berfikir, berarti kakak tingkat saya juga merasakan apa yang saya alami dikarenakan cadar. Dikarenakan melaksanakan salah satu Syari’at Allah.

Admin : Selanjutnya bagaimana kuliyah anti?

Nuha : Hati saya sudah sesak dengan berbagai ujian setelah saya bercadar, namun saya berusaha kuat. Saya berusaha tegar. Saya bersabar hingga saya lulus kuliyah. Alhamdulillah, saya bisa menjalaninya hingga lulus kuliyah. Perasaan saya bagaikan kupu-kupu beterbangan bebas di angkasa setelah lulus dari kuliyah. Bebas dan lepas, begitulah perasaan saya. Setelah selesai kuliyah saya memutuskan belajar bahasa arab di Negara saya. Setelah belajar bahasa arab di Thailand, saya ingin ke daerah timur tengah untuk menimba ilmu disana.. Setelah saya selesai belajar bahasa arab di Thailand, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya menghirup udara di Sudan. Di Sudan, kini saya bisa belajar agama lebih banyak. Betapa besar nikmat Allah, kini keluarga saya di Thailand mulai faham tentang agama. Adik laki-laki sayapun kini telah memulai belajar agama dari masyayikh (jamak dari kata syaikh,disebut juga guru/ustadz) di Sudan.

Admin : Subhanallah,,luar biasa. Jazakillah khairan jaza’ atas pengalamannya.

Nuha : Wa iyyaki.

Admin : Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh

Nuha : Wa’alaykumussalam warohmatullahi wabarakatuh

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=451774188203891&set=a.235105749870737.51922.227623633952282&type=1

 

 

 

4 Responses to “WAWANCARA DENGAN MUSLIMAH BERCADAR ASAL THAILAND”

  1. MOH. Ansoriyadi 29 March 2013 at 16:28 #

    Asslamualakum… bolehkah saya tanya tentng agama atau hukum agama islam…

  2. winni 17 April 2013 at 16:40 #

    Assalamua’alaikum
    mau tanya apa hukumnya wanita yang berhijab tapi tidak memakai cadar ?

    • negaratauhid 17 April 2013 at 21:01 #

      Waalaikumussalam. Hukum cadar ada perbedaan antara ulama, ada yg mewajibkan dan ada yg menyunnahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: