KENAPA JAKARTA BANJIR?

21 May

jakarta-banjir-7-420x215

Upgrade Tauhid:
– “Gara-gara buang sampah sembarangan akibatnya jakarta kebanjiran terus!”
– “Jakarta banjir akibat polusi lingkungan atau penebangan pohon yang semakin parah!”
– “Jakarta banjir akibat curah hujan yang tinggi dan kiriman air dari Bogor.”

Komentar:
– Bagaimana halnya dengan banjir di zaman Nabi Nuh? Di Zaman Nabi Nuh belum ada cerita kebanjiran karena buang sampah sembarangan? Atau penebangan liar dan polusi lingkungan?! Apalagi di jazirah Arab yang curah hujannya sedikit???

– Begitu juga halnya dengan Jakarta. Jakarta sudah kebanjiran sejak zaman kompeni atau penjajahan Belanda. Padahal di zaman itu juga belum marak penebangan pohon atau buang sampah sembarangan. Lantas kenapa masih banjir?

Menurut Kasubdit Peradaban Sejarah Ditjen Sejarah dan Purbakala Kementerian kebudayaan dan Pariwisata Restu Gunawan di Jakarta, persoalan banjir di Jakarta merupakan masalah klasik sejak kota ini lahir.

Terkait dengan masalah banjir di Jakarta, jelas Restu, Belanda telah melakukan berbagai upaya seperti membangun Kotalama (sekarang Kotatua) pada 1700-an. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda membangun kanal-kanal yang saling memotong di wilayah itu meskipun tujuannya lebih difungsikan untuk transportasi, bukan untuk menangani banjir. Pada 1 Januari 1892, hujan mengguyur Batavia mencapai 286 milimeter yang mengakibatkan beberapa daerah di Weltevreden mengalami banjir. Tak hanya pusat kota, pinggiran Batavia yang merupakan aliran Sungai Ciliwung termasuk Pasarminggu. Setahun kemudian, banjir kembali terjadi yang merusak jalan-jalan di Weltevreden. Selain itu, kapal para nelayan di Pelabuhan Marunda terbalik akibat banjir. “Pada 1893 itu Batavia terendam. Setelah itu, Batavia mengalami kejadian banjir lagi pada 1895, 1899, dan 1904…” (http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/01/19/5/123932/Banjir-di-Jakarta-tidak-Teratasi-sejak-Zaman-Belanda)

– Jangan lupakan perkara Tauhid dalam segala hal. Sesungguhnya masih ada kerusakan yang jauh lebih besar dari itu semua, yaitu kerusakan dalam masalah Aqidah, kesyirikan, Bid’ah, dan maksiat. Jika perkara ini sudah dilupakan, dan menganggap bahwa musibah yang datang merupakan gejala alam semata, maka berhati-hatilah! Hal ini menandakan bahwa Tauhid kita telah rusak. Bisa jadi inilah penyebab itu semua. Musibah tidak melihat tempat dan kondisi, dimanapun bisa terjadi dan kapan saja. Waspadalah selalu….

Firman Allah Ta’ala (artinya):
“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tiada terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99).

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “Yaitu: syirik kepada Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (HR Al-Bazzar dan Ibnu Abi Hatim, isnadnya hasan).

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dosa-dosa besar yang paling besar ialah syirik kepada Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari rahmat Allah dan berputus asa dari pertolongan Allah.”

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: