MENYEMBUNYIKAN KUBURAN ORANG SHALIH AGAR TIDAK DISEMBAH

21 May

1111Yunus bin Bakr berkata dari Muhammad Ishaq dari Abu Khalid bin Dinar, Abul Aliyah telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika kami menaklukkan Tartar, maka kami mendapatkan sebuah tempat tidur di dalam Baitul Mal Hurmuzan. Di atas tempat tidur tersebut terdapat mayat yang diatas kepalanya terdapat mushaf. Kami mengambil mushaf tersebut dan membawanya ke hadapan Umar bin Khaththab. Lalu Umar memanggil Ka’b. Lantas Ka’b menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Dan sayalah orang yang pertama kali dari kalangan bangsa Arab yang membacanya. Aku membacanya seperti membaca Al Quran. Aku bertanya kepada Abul Aliyah: “Apa kandungan mushaf tersebut?” Ia menjawab: “Sejarah, perkara, dan ucapan-ucapan kalian serta segala sesuatu yang akan terjadi setelahnya.” Aku bertanya: Apa yang kalian perbuat terhadap sosok mayat tersebut?” Ia menjawab: “Kami menggali kubur di siang hari sebanyak tiga belas lubang kubur yang berpencar-pencar. Ketika malam tiba, maka kami menguburnya dan kami ratakan seluruh kuburan tersebut agar orang-orang tidak tahu (kuburan yang mana yang kami gunakan) agar mereka tidak membongkarnya.”

Aku berkata: Apa yang mereka (penduduk Hurmuzan) harapkan darinya (mayat tersebut)?” Ia berkata: “Ketika langit tidak menurunkan hujan, maka mereka menampakkan ranjang tersebut, sehingga hujan pun turun untuk mereka.” Aku berkata: “Siapa yang kalian kira sosok tersebut?” Ia menjawab: “Seseorang yang bernama Daniel.” Aku berkata: “Sejak kapan kalian ketahui ia telah meninggal?” Ia menjawab: “Sejak 300 tahun lalu.” Aku bertanya: “Apakah ada perubahan padanya?” Ia menjawab: “Tidak, hanya beberapa helai rambut yang ada di tengkuknya. Sesungguhnya daging para Nabi tidak akan pernah dimakan tanah dan tidak akan dimakan binatang buas.”

Imam Ibnu Katsir berkata: Sanad riwayat diatas shahih dari Abu al Aliyah. Namun jika benar sejarah wafatnya diketemukan setelah 300 tahun berlalu maka ia bukanlah seorang Nabi, tetapi ia adalah orang shalih. Sebab, antara Isa putera Maryam dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak ada seorang Nabi pun berdasarkan nash hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Sedangkan rentang waktu antara keduanya adalah 400 tahun. Ada yang mengatakan 620 tahun. Boleh jadi sejarah wafatnya diketemukan setelah 800 tahun, maka masa tersebut sangat dekat dengan masa Daniel. Boleh jadi ia adalah orang lain baik dari kalangan para Nabi maupun dari kalangan orang-orang shalih. Namun, kemungkinan besar ia adalah Daniel, sebab Daniel dahulunya pernah dibawa oleh raja Persia dan hidup bersamanya dalam penjara, sebagaimana yang telah dijelaskan di muka.

Dalam riwayat lain, Abu Bakr bin Abi ad Dunya berkata dalam kitab Ihkaamu al Qubuur: Abu Hilal Muhammad bin al Harits bin Abdullah bin Abi Burdah bin Abi Musa Al Asy’ariy telah menceritakan kepada kami, Abu Muhammad al Qasim bin Abdullah telah menceritakan kepada kami, dari Abu al Asy’ats al Ahmariy, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Daniel berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar jasadnya dikubur oleh umat Muhammad.” Tatkala Abu Musa al Asy’ariy membuka kota Tartar, maka ia mendapatkannya berada di dalam sebuah peti yang masih kelihatan urat-uratnya. Sedangkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang dapat menunjukkan keberadaan Daniel, maka berilah kabar gembira berupa surga baginya.” Sedangkan yang menunjukkan keberadaan Daniel adalah seorang laki-laki yang bernama Harqush. Maka Abu Musa al Asy’ariy menulis sepucuk surat kepada Umar yang mengabarkan kepadanya hal tersebut. Maka Umar menulis surat yang isinya perintah untuk menguburkannya dan memerintahkan agar Harqush menghadap kepada Umar. Sebab Nabi shalallahu alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira kepadanya berupa surga. Dari sisi ini, riwayat di atas adalah mursal namun masih diperselisihkan tentang keshahihannya. Wallahu a’lam.

Kemudian Ibnu Abi ad Dunya berkata: Abu Hilal telah menceritakan kepada kami, Qasim bin Abdullah telah menceritakan kepada kami, dari Anbasah bin Sa’id, ia adalah seorang alim, ia berkata: “Abu Musa al Asy’ariy mendapatkan sebuah mushaf dan bejana yang berisikan lemak, dirham dan cincin yang ada bersama Daniel. Maka Abu Musa menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Umar yang berisikan masalah barang-barang tersebut. Umar membalas surat tersebut yang berisikan: “Silahkan mushaf dikirim kepada kami. Adapun lemak (gajih), maka sebagian dikirim kepada kami dan sebagian lagi silahkan diberikan kepada sebagian kaum muslimin untuk obat. Sedangkan dirham silahkan dibagi diantara kalian. Sedangkan cincin maka kami telah memberikannya kepadamu.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abi ad Dunya bahwasanya ketika Abu Musa mendapatkannya, maka orang-orang mengatakan bahwa ia adalah Daniel. Serta merta Abu Musa memeluk dan menciumnya. Ia menulis kepada Umar yang berisikan masalah tersebut. Ia juga melaporkan bahwa ia juga menemukan sejumlah harta di dekat jasad berupa 10.000 dirham. Setiap orang yang datang pasti meminjam harta tersebut. Namun bila tidak mengembalikan maka si peminjam tersebut akan mengalami sakit. Yang tersisa padanya hanya seperempatnya. Umar memerintahkan kepada orang-orang untuk memandikan jasad tersebut dengan air dan daun bidara, mengafani dan menguburnya. Umar memerintahkan agar menyembunyikan kuburnya yang tidak diketahui oleh seorang pun. Ia juga diperintahkan untuk mengembalikan harta tersebut kepada Baitul Mal. Maka hal tersebut dibawa menghadap Umar, sedangkan cincinnya diberikan kepada Abu Musa.

Diriwayatkan dari Abu Musa bahwasanya ia memerintahkan kepada empat orang tawanan untuk membendung sungai, lalu mereka menggali kubur di tengah-tengah sungai tersebut, lalu menguburkan jasad Daniel. Kemudian Abu Musa menghampiri keempat tawanan tersebut dan membunuh semuanya. Oleh karenanya tidak ada yang mengetahui tempat kuburnya selain Abu Musa al Asy’ariy radhiyallahu anhu.

(Qishashul Anbiya oleh Imam Ibnu Katsir, ditahqiq oleh Abu al Fida’ Ahmad Badruddin).

Lihatlah bagaimana para shahabat menyembunyikan kuburan Nabi Danial agar tidak menjadi fitnah untuk manusia, mereka pun tidak bertawassul kepadanya tidak juga membangunkan sebuah bangunan yang megah untuknya. Bayangkan bila yang menemukannya orang-orang di zaman sekarang, terutama dari kalangan pecinta kuburan, pasti mereka akan membelanya habis-habisan, dan mengeluarkan dana yang banyak untuk membangun bangunan dan menjadikannya sebagai tandingan selain Allah dengan alasan mencintai para Nabi, sungguh amat jauh antara mereka dengan generasi para shahabat. Apa yang dilakukan para shahabat itu adalah yang mereka pahami dari agama yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berupa mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan, dan itulah ruh dan intisari dakwah para Nabi dan Rasul.

Dari riwayat diatas menunjukkan bahwa bolehnya menyembunyikan kuburan orang shalih agar tidak disembah, hal ini untuk menghindari kemudharatan yang lebih besar. Apalagi diketahui bahwa kaumnya masih jahil sehingga menjadikan kuburan atau mayat tersebut sebagai sesembahan selain Allah. Wallahul musta’an.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

Ket: Foto diatas hanya illustrasi.

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: