TAWASSUL DI GUNUNG SLAMET

9 Aug

397739_1751978936606_886610467_n

Kejadian ini terjadi ketika kami melakukan pendakian ke gunung Slamet Jawa Tengah, gunung tertinggi pertama di Jawa Tengah dan kedua di pulau Jawa, dengan ketinggian mencapai 3428 mdpl (meter diatas permukaan laut) pada tanggal 28 oktober 2011. Alhamdulillah kami bisa sampai puncak pada pagi harinya sekitar jam 8. Tidak lama kami pun bergegas turun kembali. Perjalanan turun sangat memberatkan bagi kami, dikarenakan kondisi hujan sehingga medan menjadi sangat licin. Hujan tatkala pendakian adalah musibah bagi pendaki, karena bisa menyebabkan hypotermia (penyakit akut gunung) yang bisa menyebabkan kematian karena kedinginan, medan menjadi tidak ramah (licin, berlumpur, tidak jelas terlihat karena kabut, datangnya air bah secara mendadak), beban bawaan bertambah berat karena basah (bawaan kami yang beratnya sekitar 15 sd 20 kg bertambah berat menjadi sekitar 25 sd 30 kg), serta kecepatan atau gerakan menjadi berkurang. Perjalanan turun yang bisa ditempuh hanya dengan 5 jam menjadi 10 jam dikarenakan hujan. Qadarullah di hari sebelumnya (saat pendakian) saya sempat terkena hypotermia dikarenakan kehujanan, Alhamdulillah bisa teratasi segera dengan tindakan pencegahan anti hypotermia yang pernah saya pelajari sebelumnya.

Waktu sudah sore dan menjelang maghrib dan kami masih di tengah perjalanan. Kami termasuk rombongan yang paling belakang karena sebagian dari kami tidak bisa berjalan cepat karena faktor medan yang sangat licin, sehingga setiap beberapa langkah kami selalu terjatuh, ditambah lagi tenaga kami yang sudah 5 watt, bahkan mungkin 2 watt, dan kami hanya mampu berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan tergopoh-gopoh seperti orang lansia. Perjalanan kami mengikuti jalan yang pernah kami lewati ketika mendaki, hingga akhirnya rombongan kami tinggal beberapa orang saja dikarenakan sebagian dari kami sudah ada yang mendahului dan ada juga yang tertinggal di belakang. Kemudian beberapa orang yang bersama saya berhenti karena tidak kuat untuk tetap berjalan, mereka butuh istirahat sejenak, sedangkan saya masih mampu untuk tetap melanjutkan karena tidak ingin kemalaman di jalan, akhirnya terpaksa saya berjalan sendirian meneruskan perjalan. Saya mengikuti jalan setapak yang pernah saya lewati ketika naik. Sekali-sekali saya melihat dari kejauhan di depan saya rombongan yang telah mendahului, dengan begitu saya bisa memastikan bahwa jalan yang saya lalui masih benar.

Saya masih terus berjalan sendiri menelusuri hutan pegunungan dengan diiringi suara tetesan air hujan dan suara2 binatang. Sudah sangat jauh saya berjalan sendirian namun orang-orang di belakang saya belum ada satupun dari mereka yang bisa menyusul saya, ditambah lagi rombongan di depan saya sudah lama tidak terlihat lagi oleh saya. Tapi saya tetap meneruskan perjalanan hingga saya menyadari bahwa jalan yang sekarang saya lewati adalah jalan yang asing dan belum pernah dilewati saya ketika naik. Setelah saya benar-benar memastikan bahwa saya salah jalan, saya pun berhenti sejenak mengamati keadaan sekitar, mencari-cari penunjuk jalan atau jejak. Rasa panik mulai melanda, apalagi keadaan sekitar mulai gelap karena hampir masuk waktu maghrib, dan saya sendirian di dalam hutan ini. Setelah saya mengamati keadaan sekitar, saya menemukan beberapa ruas jalan, dan saya mencoba untuk menelusurinya. Kondisi saat itu sangat memberatkan sekali dikarenakan tenaga yang sudah melemah sehingga saya hanya bisa berjalan dengan sangat pelan sekali dan tergopoh-gopoh. Setelah agak jauh saya berjalan menelusuri jalan yang saya temukan, rupanya jalan tersebut buntu karena tidak ditemukan jejak atau penanda jalan (seperti ikatan tali di ranting pohon, sampah manusia atau rumput/semak yang rusak karena pernah dilewati). Saya pun memastikan kembali kalau saya benar-benar sudah tersesat!

Saya mencoba solusi yang lain yaitu dengan berteriak sekeras-kerasnya, mudah-mudahan ada dari rombongan yang mendengarnya dan membalas teriakan saya sehingga saya bisa mengetahui arah asal teriakannya. Saya pun berteriak sekeras-kerasnya dan berulang-ulang, namun tidak ada satupun suara yang membalas teriakan saya itu, yang terdengar hanya suara anjing liar atau srigala dari kejauhan. Rasa panik semakin melanda diri saya. Saya mencoba berjalan kesana kemari mencari penunjuk jalan dengan sisa-sisa tenaga yang masih saya miliki, walaupun dengan berjalan tergopoh-gopoh, belum lagi beban bawaan yang sangat berat karena basah kehujanan. Saya masih belum menemukan penunjuk jalan, sedangkan hari sudah hampir gelap, dan saya tidak mau kemalaman di hutan ini karena akan semakin memperburuk keadaan, ditambah lagi saya sudah tidak memiliki bekal makanan dan air karena sudah kehabisan.

Hingga akhirnya saya istirahat sejenak, berusaha untuk tidak panik dan putus asa. Saya pun mencari solusi yang lain. Saya teringat hadits tentang 3 orang yang masuk gua dan terkurung di dalam gua tersebut, dan dari mereka saling bertawassul dengan amal baik yang pernah dilakukannya, akhirnya Allah mengabulkannya dan menolong ke3 orang tersebut hingga bisa keluar dari gua tersebut. Dan saya pun akan melakukan hal seperti ke3 orang itu, yaitu bertawassul kepada Allah dengan amal baik yang pernah saya lakukan, semoga dengan tawassul tersebut Allah menolong saya dari kondisi ini.

Setelah saya bertawassul kepada Allah dengan perantara amal baik saya, Alhamdulillah spontan saja tubuh saya kembali fit dan bertenaga seperti sedia kala, padahal sebelumnya saya sudah sangat kepayahan sekali, hampir tidak mampu berjalan dan melanjutkan perjalanan ini. Kini saya pun sanggup untuk berjalan dan melanjutan perjalanan kembali, bahkan saya sanggup untuk berlari dengan membawa beban yang berat ini…Masya Allah!!!

Akhirnya saya kembali ke jalan yang pernah saya lewati tadi dengan berlari kencang! iya dengan berlari, tidak dengan berjalan. Saya terus berlari menelusuri jalan, dengan berharap menemukan penunjuk jalan atau jejak. Setelah lama saya berlari, saya akhirnya menemukan ruas jalan yang terdapat jejak, dan sayapun mengikutinya. Saya mengikuti ruas jalan itu tidak dengan berlari, tapi cukup dengan berjalan cepat. Setelah beberapa kilometer saya berjalan, tiba-tiba dari kejauhan saya melihat rombongan pendaki yang sedang berjalan di depan saya. Itulah rombongan yang pernah mendahului saya tadi. Alhamdulillah saya akhirnya menemukan rombongan kami kembali!!! Saya pun berteriak sekuatnya agar terdengar olehnya, dan mereka pun mendengar teriakan saya dan membalasnya, dan mereka berhenti menunggu saya. Saya kembali berlari ke arahnya hingga saya pun sampai ke tempatnya. Setelah saya bertemu mereka saya langsung meminta air karena sudah sangat kehausan sekali, dikarenakan gunung Slamet termasuk gunung yang tidak memiliki sumber air selama di perjalanan, karena mudah kering.

Akhirnya kami pun berjalan kembali bersama-sama hingga kami sampai di perumahan penduduk dan kembali pulang ke rumah masing-masing dengan selamat, Alhamdulillah.

Hikmah dari kisah ini adalah, bahwasanya tawassul kepada Allah dengan amal baik kita adalah dianjurkan jika kita membutuhkan pertolongan Allah, dan ini termasuk dari tawassul yang disyariatkan. Adapun bertawassul kepada Allah melalui orang-orang yang sudah mati (termasuk para nabi, orang shalih atau wali) adalah haram dan termasuk perbuatan syirik. Maka dari itu, tawassul ada yang disyariatkan dan ada juga yang dilarang. Pembahasan masalah tawassul yang disyariatkan dan dilarang bisa dilihat disini:
http://muslim.or.id/tag/tawassul

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3341286148293&set=a.1006164771718.685.1752889223&type=1&relevant_count=1

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: