KETIKA AHLU BID’AH WAFAT

24 Sep

mkgcwgSeorang muslim yang berada diatas Al-haq tentunya sebagaimana ia bersedih ketika mendengar kabar wafatnya para Ulama Ahlus Sunnah dan para Da’i di jalan Allah, maka hendaknya ia senang ketika mendengar kabar meninggalnya Ahlul bid’ah, terlebih jika yang meninggal itu adalah para tokoh dan pendekar-pendekarnya Ahlul Bid’ah. Karena dengan meninggalnya, terhentilah pena-pena dan pemikiran-pemikiran mereka yang selalu menipu manusia.

Lihatlah sikap Para Salaf, mereka tidak hanya mewanti-wanti untuk menjauh dari ajaran Ahlul Bid’ah ketika mereka masih hidup, bahkan setelah meninggalpun mereka jelaskan keadaan orang-orang Ahlul Bid’ah, dan disaat tokoh Ahlul Bid’ah meninggal mereka saling mengabarkan dan bergembira dengan kematiannya.

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengatakan untuk mereka-mereka ini:

والعبدُ الفاجرُ يَستريحُ منه العبادُ والبلادُ، والشجرُ والدَّوابُّ

” Adapun (kematian pent) seorang yang fajir, akan merasa bebas darinya para hamba, Negara, pepohonan dan binatang-binatang ” (HR. Bukhari no 6512 dan Muslim No 950 )

Ketika tersebar kabar dipasar tentang meninggalnya Almuraysi (Ad-Dhal) dan Bisyr Ibnu Al-Harits merka mengatakan: ” kalau bukan karena ia adalah orang yang sudah terkenal, maka ini adalah saatnya untuk bersyukur dan sujud, segala puji bagi Allah yang telah menhabisi hidupnya ” (lihat kitab Tarikh Bagdad, 7/66 dan Lisanul Mizan 2/308).

Dikatakan kepada Imam Ahmad Rahimahullah: Apakah seseorang senang dengan apa yang menimpa para pengikut Ibnu Abi Duaad mendapatkan dosa? beliau menjawab: Siapa yang tidak senang dengan ini?! (lihat kitab As-Sunnah li Al-Khallal, 5/121).

Salamah Bin Syubaeb mengatakan: ketika saya bersama Abdur Razzaq ( yaitu As-Shan’any) datanglah kabar kematian Abdul Majied, lalu beliau (Abdur Razzaq) mengatakan: Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan ummat Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dari Abdul Majied (lihat kitab Siyar A’lam An-Nubalaa’ 9/435). Abdul Majied dia adalah Ibnu Abdil Aziz Bin Abi Rawwad, dan dia adalah seorang tokoh Murji’ah.

Ketika datang kabar kematian Wahab Al-Qurasy – dia adalah seorang yang sesat dan menyesatkan – kepada Abdurrahman Ibnu Mahdi, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kaum muslimin darinya”. (lihat kitab Lisanul Mizan Karya Ibnu Hajar, 8/402).

Kemudia Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah 12/338) beliau mengabarkan tentang kematian salah seorang tokoh ahlul bid’ah beliau mengatakan: “Allah telah membebaskan kaum muslimin darinya pada tahun ini di bulan Dzulhijjah dia dikuburkan di tempatnya, kemudian dipindahkan ke pekuburan Quraisy. Segala puji bagi Allah, ketika dia meninggal orang-orang Ahlus Sunnah sangat senang, tidaklah kalian menjumpai mereka terkecuali mereka memuji Allah.

Inilah sikap para Ulama Salaf ketika mendengar kematian tokoh-tokoh Ahlul Bid’ah, akan tetapi terkadang ada sebagian orang berhujjah dengan apa yang di nukilkan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab (Madarij As-Salikin, 2/345) tentang sikap gurunya (Ibnu Taimiyah) ketika dikabarkan oleh muridnya dengan kematian musuhnya.

Beliau (Ibnu Qoyyim) menceritakan: “Suatu hari aku datang mengabarkan kepadanya tentang kematian musuh besar, dan orang yang paling menyakiti beliau. Lalu beliau membentak dan mengingkariku dan beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun, -pent) lalu beliau dengan cepat berdiri dan pergi kerumah keluaga yang ditinggal menta’ziahi mereka dan mengatakan kepada mereka: sayalah yang menggantikan tempatnya bagi kalian………)”.

Siapa saja yang memperhatikan ini, maka sungguh tidak ada yang bertentangan dalam dua perkara ini, yang ini termasuk kelapangan dada Ibnu Taimiyah, maka beliau tidak serta merta untuk membela dirinya, karenanya ketika muridnya datang mengabarkan kematian orang yang paling memusuhi dan menyakitinya, justru beliau melarang dan mengingkari muridnya. Kenapa? Karena muridnya menampakkan senangnya di hadapan gurunya dengan kematian seseorang sebab alasan pribadi, yaitu sebagai musuh, dan bukan senang karena kematian seseorang sebagai salah seorang tokoh dari Ahlul bid’ah.

Kita memohon kepada Allah Azza wajalla agar menjadikan kita senang dengan kematian orang-orang yang menyeru kepada bid’ah yang menyesatkan. Kita memohon juga semoga Allah senantiasa menampakkan kepada kita kebenaran dan diberikan hidayah untuk mengikutinya, kita memohon Kepada Allah agar menampakkan kepada kita kebathilan dan diberikan taufiq untuk menjauhinya, kita memohon semoga Allah Azza wajalla menetapkan kita diatas agama-Nya diatas kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya Shallallahu alaihi wasallam, sampai kita menjumpai-Nya.

Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari karya tulis yang berjudul:

“الموقف الشرعي الصحيح من وفاة أهل البدع والضلال” (البوطي، مثالاً)

Ditulis oleh: Alwi Bin Abdil Qadir As-Saqqof yang dicantumkan di www.dorar.net

Semoga bermanfaat dan jadi tambahan ilmu.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والله تعالى أعلم

(Akhyar Rasyid, Thaif 9/7/1434 H)

Ket:
– Status ini hanya membahas makna Ahlul Bid’ah secara umum, bukan individu/person tertentu.
– Status ini tidak bisa untuk menghukumi individu/person tertentu.
– Orang yang melakukan atau mengajarkan bid’ah belum tentu disebut sebagai ahlul bid’ah atau dicap sebagai ahlul bid’ah. Butuh penelitian dan perincian dari ahlu ilmu dalam masalah ini.
– Berkaitan dengan wafatnya seorang habib terkenal baru2 ini, maka posisikan pada tempatnya. Jika beliau seorang muslim, maka dia masih memiliki hak2nya yang harus kita sikapi dan perlakuan sebagai seorang muslim.
– Kadangkala seorang ahlul bid’ah masih diposisikan sebagai seorang muslim, yang mana dia masih mendapat hak2nya sebagai seorang muslim, namun bukan berarti kita meninggalkan posisinya sebagai ahlul bid’ah sehingga kita tidak merasa senang akan kematiannya.
– Bukan kapasitas kami menghukumi seseorang/individu adalah ahlul bid’ah atau bukan karena keterbatasan ilmu yang kami miliki.

Wallahu a’lam

 

 

Recent Posts :

 

One Response to “KETIKA AHLU BID’AH WAFAT”

  1. Ahlus Sunnah Kolaka-Utara 20 August 2014 at 16:21 #

    BAGAIMANA SIKAP PARA ULAMA SALAF, AHLUSSUNNAH WALJAMAAH KETIKA MENDENGAR KEMATIAN TOKOH AHLI BID’AH DAN ALIRAN SESAT?

    Kaum salaf tidak hanya membatasi tahdzir (peringatan untuk waspada) terhadap ahli bid’a itu di kala para ahli bid’ah itu masih hidup saja -yang kemudian ketika mati lantas mengucap tarahhum dan menangisi kepergian mereka. Tidak hanya begitu, bahkan kaum salaf itu tetap
    menjelaskan ihwal para ahli bid’ah setela kematian mereka.
    Kaum salaf menampakka kegembiraan atas kematian para ahli bid’ah dan saling memberikan kabar gembira atas hal itu …

    ﻓﻔﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﻣﻮﺕ ﺃﻣﺜﺎﻝ
    ﻫﺆﻻﺀ : )) ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻭﺍﻟﺒﻼﺩ ﻭﺍﻟﺸﺠﺮ ﻭﺍﻟﺪﻭﺍﺏ (( ﻓﻜﻴﻒ ﻻ ﻳﻔﺮﺡ
    ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺑﻤﻮﺕ ﻣﻦ ﺁﺫﻯ ﻭﺃﻓﺴﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻭﺍﻟﺒﻼﺩ .
    Di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda tentang kematian orang-orang semisal mereka, “Diistirahatkan dari (keburukan)nya para hamba, negeri-negeri, pepohonan, dan hewan-hewan.” Maka bagaimana mungkin seorang muslim tidak berbahagia dengan kematian orang yang membuat gangguan dan kerusakan terhadap para hamba dan negeri-negeri.

    ﻟﺬﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﺧﺒﺮ ﻣﻮﺕ ﺍﻟﻤﺮﻳﺴﻲ ﺍﻟﻀﺎﻝ ﻭﺑﺸﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ
    ﻗﺎﻝ : ﻟﻮﻻ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺷﻬﺮﺓ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺷﻜﺮ ﻭﺳﺠﻮﺩ، ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ
    ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻣﺎﺗﻪ … – ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺑﻐﺪﺍﺩ ‏( ٧ /٦٦ ‏)، ﻟﺴﺎﻥ ﺍﻟﻤﻴﺰﺍﻥ ‏( ٢/٣٠٨ ‏)
    Oleh karena itu, tatkala datang kabar tentang kematian al-Marisi adh-Dhal (yakni Bisyr al-Marisi, seorang ahli kalam dan tokoh mu’tazilah – pent ), maka Bisyr bin al-Harits yang saat itu sedang berada di pasar pun lantas berkata, “Kalaulah bukan di tempat keramaian (pasar)
    tentu ini merupakan saat untuk bersyukur dan bersujud. Segala puji bagi Allah yang telah mematikannya.”
    –Tarikh Baghdad (7/66), Lisan al-Mizan (2/308)

    ﻭﻗﻴﻞ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ : ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻔﺮﺡ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﺰﻝ ﺑﺄﺻﺤﺎﺏ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ
    ﺩﺅﺍﺩ، ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺇﺛﻢ؟ ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﻦ ﻻ ﻳﻔﺮﺡ ﺑﻬﺬﺍ؟ – !ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻠﺨﻼﻝ
    ‏( ٥/١٢١ ‏)
    Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal “Apakah berdosa jika seseorang merasa senang dengan musibah yang menimpa pengikut Ibn Abi Du-ad (yang mendakwahkan al-Quran adalah makhluk –pent)?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, “Siapa yang tak merasa senang dengan hal itu?”
    –as-Sunnah karya al-Khallal (5/121)

    ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻠﻤﺔ ﺑﻦ ﺷﺒﻴﺐ : ﻛﻨﺖ ﻋﻨﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ – ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺼﻨﻌﺎﻧﻲ- ، ﻓﺠﺎﺀﻧﺎ
    ﻣﻮﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﺠﻴﺪ، ﻓﻘﺎﻝ : ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺍﺡ ﺃُﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻦ ﻋﺒﺪ
    ﺍﻟﻤﺠﻴﺪ ‏) – . ﺳﻴﺮ ﺃﻋﻼﻡ ﺍﻟﻨﺒﻼﺀ ‏( ۹/٤٣٥ ‏) ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﺠﻴﺪ ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﺑﻦ
    ﻋﺒﺪﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﻭﺍﺩ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺃﺳﺎً ﻓﻲ ﺍﻹﺭﺟﺎﺀ.
    Salamah bin Syu’aib berkata: aku berada di deka ‘Abd ar-Razzaq –yakni ash-Shan’ani- lalu datanglah kepada kami berita kematian ‘Abd al-Majid, maka ‘Abd ar-Razzaq pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengistirahatkan umat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari (keburukan) ‘Abd al-Majid.”
    –Siyar A’lam an-Nubala’ (9/435)- dan yang dimaksud dengan ‘Abd al-Majid adalah Ibn ‘Abd al-‘Aziz bin Abi Rawad, salah seorang tokoh al-Irja’ (Murji’ah).

    ﻭﻟﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻧﻌﻲ ﻭﻫﺐ ﺍﻟﻘﺮﺷﻲ – ﻭﻛﺎﻥ ﺿﺎﻻً ﻣﻀﻼً- ﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻣﻬﺪﻱ
    ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺍﺡ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻨﻪ – .ﻟﺴﺎﻥ ﺍﻟﻤﻴﺰﺍﻥ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ
    ‏( ٨/٤٠٢ ‏)
    Dan tatkala kabar kematian Wahb al-Qurasyi –seorang yang sesat menyesatkan- sampai kepad ‘Abd ar-Rahman bin Mahdi, dia pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengistirahatkan kaum muslimin dari (kesesatan)nya.”
    – Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar (8/402).

    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ‏( ١٢ /٣٣٨ ‏) ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﺭﺅﻭﺱ
    ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ : ‏( ﺃﺭﺍﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ
    ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺩﻓﻦ ﺑﺪﺍﺭﻩ، ﺛﻢ ﻧﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﻣﻘﺎﺑﺮ ﻗﺮﻳﺶ ﻓﻠﻠﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻭﺍﻟﻤﻨﺔ، ﻭﺣﻴﻦ
    ﻣﺎﺕ ﻓﺮﺡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﻓﺮﺣﺎً ﺷﺪﻳﺪﺍً، ﻭﺃﻇﻬﺮﻭﺍ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻟﻠﻪ، ﻓﻼ ﺗﺠﺪ
    ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ ﺇﻻ ﻳﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ‏)
    Al-Hafizh Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (12/338) tentang salah seorang pemimpin ahli bid’ah, “Allah membuat kaum muslimin beristirahat dari (kesesatan)nya pada bulan Dzul Hijjah di tahun ini. Orang ini dimakamkan di rumahnya kemudian dipindahkan ke pekuburan Quraisy. Maka hanya milik Allah saja segala puji dan karunia. Pada hari tersebut Ahlus-Sunnah merasa gembira dengan kegembiraan yang besar atas musibah kematiannya seraya menampakkan rasa syukur
    kepada Allah. Tiada seorang pun kaudapati Ahlus-Sunnah melainkan dia memuji Allah karenanya.”

    ﻫﻜﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﻗﻒ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﻳﺴﻤﻌﻮﻥ ﺑﻤﻮﺕ ﺭﺃﺱٍ ﻣﻦ
    ﺭﺅﻭﺱ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ، ﻭﻗﺪ ﻳﺤﺘﺞ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻤﺎ ﻧﻘﻠﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ
    ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻓﻲ ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ‏( ٢ /٣٤٥ ‏) ﻋﻦ ﻣﻮﻗﻒ ﺷﻴﺨﻪ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ
    ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻣﻦ ﺧﺼﻮﻣﻪ ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻭﺟﺌﺖ ﻳﻮﻣﺎً ﻣﺒﺸﺮﺍً ﻟﻪ ﺑﻤﻮﺕ ﺃﻛﺒﺮ ﺃﻋﺪﺍﺋﻪ
    ﻭﺃﺷﺪﻫﻢ ﻋﺪﺍﻭﺓ ﻭﺃﺫﻯ ﻟﻪ، ﻓﻨﻬﺮﻧﻲ ﻭﺗﻨﻜَّﺮ ﻟﻲ ﻭﺍﺳﺘﺮﺟﻊ، ﺛﻢ ﻗﺎﻡ ﻣﻦ ﻓﻮﺭﻩ
    ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺃﻫﻠﻪ ﻓﻌﺰﺍﻫﻢ ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻲ ﻟﻜﻢ ﻣﻜﺎﻧﻪ (… ﻭﻣﻦ ﺗﺄﻣﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺟﺪ ﺃﻧﻪ
    ﻻ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻣﺮﻳﻦ ﻓﻤﻦ ﺳﻤﺎﺣﺔ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﺘﻘﻢ
    ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺃﺗﺎﻩ ﺗﻠﻤﻴﺬﻩ ﻳﺒﺸﺮﻩ ﺑﻤﻮﺕ ﺃﺣﺪ ﺧﺼﻮﻣﻪ ﻭﺃﺷﺪﻫﻢ ﻋﺪﺍﻭﺓ
    ﻭﺃﺫﻯ ﻟﻪ= ﻧﻬﺮﻩ ﻭﺃﻧﻜﺮ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﺎﻟﺘﻠﻤﻴﺬ ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﺸﻴﺨﻪ ﻓﺮﺣﻪ ﺑﻤﻮﺕ
    ﺧﺼﻢٍ ﻣﻦ ﺧﺼﻮﻣﻪ ﻻ ﻓﺮﺣﻪ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺃﺣﺪ ﺭﺅﻭﺱ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ.
    Demikianlah sikap para salaf – rahimahumullah ketika mendengar kematian seorang pemimpin dari para pemimpian ahli bid’ah dan kesesatan.
    (Hanya saja) sebagian orang berhujjah dengan apa yang telah dinukil oleh al-Hafizh Ibn al-Qayyim di kitab Madarij as-Salikin (2/345) berkaitan dengan sikap Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah terhadap musuhnya. Di (kitab itu) Ibn
    al-Qayyim berkata: “Pada suatu hari aku datang kepada Ibn Taimiyah untuk memberikan kabar gembira tentang
    kematian musuh terbesar sekaligus yang paling keras permusuhan dan gangguannya terhadap beliau. Ternyata Ibn Taimiyah menghardik, mengingkari sikapku, dan mengucapkan istirja’ (yakni ucapan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), kemudian langsung berdiri menuju rumah
    keluarga (musuh)nya itu. Di sana Ibn Taimiyah menghibur keluarga musuhnya itu, juga mengatakan, “Sesungguhnya aku menjadi penggantinya bagi kalian ….”
    Barang siapa yang merenungkan (kisah) tersebut, niscaya dia mendapati bahwa sikap Ibn Taimiyah itu tidaklah bertentangan dengan (sikap dan ucapan) para salaf di atas. Hal tersebut termasuk di antara sikap lapang dada Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah bahwa dirinya tidaklah menyimpan dendam terhadap musuhnya. Oleh karena itu, ketika muridnya (yakni Ibn al-Qayyim) mendatanginya sambil memberi kabar gembira tentang kematian salah seorang musuh yang paling keras permusuhan dan gangguannya, Ibnu Taimiyah pun menghardik dan mengingkari sikap muridnya yang hanya menampakkan kegembiraan atas kematian salah seorang musuh di antara musuh-musuh gurunya, bukannya menampakkan kegembiraan atas kematian salah seorang pemimpin bid’ah dan kesesatan [1].
    ____
    [1]. Maksudnya: Ibn Taimiyah mengingkari sikap muridnya karena muridnya itu bergembira atas kematian musuh gurunya. Seharusnya muridnya itu menampakkan kegembiraan bukan karena kematian musuh gurunya, tetapi karena kematian pemimpin ahli bid’ah dan kesesatan … wallahu a’lamu …

    Syaikh Abu ‘Amr Usamah bin ‘Uthaya al-‘Utaibi – hafizhahullah- berkata:
    ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻤﻮﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ ﻭﺍﻻﻧﺤﺮﺍﻑ ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺻﺪﻕ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ
    ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﻭﻳﻮﻣﺌﺬ ﻳﻔﺮﺡ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﻨﺼﺮ ﺍﻟﻠﻪ ‏) ﻓﺎﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﻔﺮﺡ ﺑﻨﺼﺮ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻮ ﻗﺪﺭﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻳﺪ ﻋﺪﻭٍ ﻛﺎﻓﺮٍ ﺃﻭ ﻣﺠﺮﻡ ﻓﺎﺟﺮٍ، ﺃﻭ ﻭﺣﺶٍ ﻛﺎﺳﺮٍ
    ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ، ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻷﺟﻞ ﻣﺎ
    ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻣﻦ ﺇﺳﻼﻡ ﻭﻧﺤﻦ ﻟﻤﺎ ﻧﻔﺮﺡ ﺑﻤﻮﺕ ﻃﺎﻏﻴﺔ ﺃﻭ ﻣﺠﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻳﺪ ﻛﺎﻓﺮ ﺃﻭ ﻭﺣﺶ
    ﻛﺎﺳﺮ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻧﻨﺎ ﻧﻜﻔﺮﻩ، ﺃﻭ ﻧﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻳﻘﺘﻠﻪ !!
    ﻣﺜﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻗﺘﻞ ﻛﺴﺮﻯ ﻭﻓﺮﺡ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻘﺘﻠﻪ ﻫﻞ ﻳﻌﻨﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺘﻮﻟﻮﻥ
    ﻣﻦ ﻳﻘﺘﻠﻪ؟
    ﻛﺬﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﻓﺮﺣﻮﺍ ﺑﻨﺼﺮ ﺍﻟﺮﻭﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﺮﺱ ﻫﻞ ﻳﺪﻝ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻋﻠﻰ ﺣﺐ ﺃﺣﺪ
    ﺍﻟﺨﺼﻤﻴﻦ؟
    ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﻻ
    ﻓﻨﺤﻦ ﻟﻤﺎ ﻧﻔﺮﺡ ﺑﻘﺘﻞ ﻣﺠﺮﻡ ﻻ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺣﺐ ﻭﻣﻮﺍﻻﺓ ﻣﻦ ﻗﺘﻠﻪ، ﻭﻻ ﻋﻠﻰ
    ﺍﻟﺒﻐﺾ ﺍﻟﺘﺎﻡ ﻟﻤﻦ ﻣﺎﺕ ﺇﻻ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﺮﺍً
    ﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ
    ﻳﺤﺪﺙ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣُﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺠﻨﺎﺯﺓ ، ﻓﻘﺎﻝ :
    ‏(ﻣﺴﺘﺮﻳﺢ ﻭﻣﺴﺘﺮﺍﺡ ﻣﻨﻪ. ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﻳﺢ ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺍﺡ
    ﻣﻨﻪ؟ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ ﻣﻦ ﻧﺼﺐ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺃﺫﺍﻫﺎ ﺇﻟﻰ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ،
    ﻭﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﻔﺎﺟﺮ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻭﺍﻟﺒﻼﺩ ﻭﺍﻟﺸﺠﺮ ﻭﺍﻟﺪﻭﺍﺏ ‏) .
    … ﻭﻟﻤﺎ ﻭﺟﺪ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻤﺨﺪﺝ ﺍﻟﺨﺎﺭﺟﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺘﻠﻰ ﺳﺠﺪ ﻟﻠﻪ
    ﺷﻜﺮﺍً … ﻭﻫﻨﺎﻙ ﺁﺛﺎﺭ ﻋﺪﻳﺪﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﺮﺡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻤﻮﺕ ﺭﺅﻭﺱ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ
    Sesungguhnya kegembiraan atas kematian ahli bid’ah, kesesatan, dan penyimpangan termasuk di antara tanda-tanda kebenaran iman …
    Allah ta’ala berfirman:
    ﻭﻳﻮﻣﺌﺬ ﻳﻔﺮﺡ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﻨﺼﺮ ﺍﻟﻠﻪ
    “Dan pada hari itu orang-orang Mukmin bergembira karena pertolongan Allah.” (QS. ar-Rum: 4-5)
    Maka orang-orang mukmin akan bergembira dengan pertolongan Allah meskipun Allah menetapkannya melalui tangan musuh yang kafir, fajir yang keji, atau binatang buas. Dan wajib berlepas diri dari ahli bid’ah dan kesesatan bersamaan dengan adanya kecintaan dasar atas keislaman mereka …
    Dan kami, ketika kami bergembira atas kematia orang yang sewenang-wenang atau keji –meskipun kematiannya melalui tangan orang kafir atau binatang buas- tidaklah berarti kami mengkafirkannya, tidak pula kami bersikap wala’ (memberikan loyalitas) kepada orang yang membunuhnya …
    Umpama: Tatkala Kisra terbunuh dan kaum Muslimin bergembira atas kematiannya, apakah itu berarti kaum Muslimin memberikan loyalitas kepada orang yang membunuhnya? Demikian juga tatkala kaum Muslimin bergembira dengan ditolongnya Romawi atas Persia, apakah kegembiraan itu menunjukkan atas kecintaan
    terhadap salah satu musuh-musuh kaum Muslimin?
    Sebagai jawabannya, tentu saja tidak. Oleh karena itu, tatkala kami bergembira atas terbunuhnya orang yang sewenang-wenang, tentu tidaklah menunjukkan kecintaan dam loyalitas terhadap pembunuhnya, dan tidak pula menunjukkan kebencian penuh terhadap orang
    yang terbunuh kecuali jika dia itu kafir.
    Imam al-Bukhari dan Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Abu Qatadah al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu , dia menceritakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilewati oleh (orang-orang yang memikul) jenazah, lalu beliau pun bersabda, “Ada yang beristirahat dan ada pula yang diistirahatkan darinya.” Para shahabat
    bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksud yang beristirahat dan yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari cobaan duniawi dan kepayahannya menuju rahmat Allah, sedangkan seorang hamba yang fajir, maka diistirahatkanlah para hamba, negeri-negeri, pepohonan, dan hewan-hewan darinya.”
    … dan tatkala ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu -menemukan al-mukhdaj (orang pendek) Khawarij dalam peperangan, dia pun bersujud syukur kepada Allah … dan masih ada sejumlah atsar yang menjelaskan tentang kegembiraan Ahlus Sunnah atas kematian para pemimpin ahli bid’ah

    Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah – rahimahullah -berkata:
    ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺦ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ : ‏(ﻭﻗﺎﺗﻞ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﺃﺑﻰ ﻃﺎﻟﺐ
    ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ، ﻭﺫﻛﺮ ﻓﻴﻬﻢ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺘﻀﻤﻨﺔ ﻟﻘﺘﺎﻟﻬﻢ،
    ﻭﻓﺮﺡ ﺑﻘﺘﻠﻬﻢ، ﻭﺳﺠﺪ ﻟﻠﻪ ﺷﻜﺮﺍً ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﺃﺑﺎﻫﻢ ﻣﻘﺘﻮﻻً ﻭﻫﻮ ﺫﻭ ﺍﻟﺜُّﺪَﻳَّﺔ ‏) –
    ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ‏( ٢٠ /٣۹٥ ‏)
    Amir al-Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- memerangi Khawarij, dan dia menyebutkan Sunnah Rasulullah tentang kaum Khawarij yang mengandung perintah untuk memerangi mereka (yakni perintah kepada penguasa –pent). Dia merasa gembira dengan terbunuhnya kaum Khawarij itu, bersujud syukur kepada Allah tatkal melihat pemimpin mereka, Dzu ats-Tsadayah, terbunuh.
    –Majmu’ al-Fatawa (20/395)

    Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: