RAHASIA DIBALIK PAHITNYA DIMADU

7 Jan

1496685_3837778880301_290138307_n

 

Syaikh Utsman al-khamis – hafidzahullah- seorang ulama dari Kuwait bercerita:

Saya pergi ke kampus sambil mengendarai mobil jadul saya, maklumlah mobil mahasiswa, tapi walaupun model lama larinya masih kencang loh.

Biasanya sambil menyetir saya mendengar radio Idza’atul Quran atau ceramah dan pelajaran dari para ulama lewat mp3…
Dari pada kesal sama sopir-sopir saudi di lampu merah lebih baik dengar yang bermanfaat, orang Saudi kalau nyetir semau gue, jalan raya dikirain shahra’ (padang pasir).

Waktu itu di Idza’atul Quran ada syaikh Said bin Musfir Al-Qahtani –hafidzahullah- seorang Da’i terkenal di Saudi Arabia. Syaikh Said bercerita tentang seorang perempuan yang menelpon beliau sambil menangis.

Apa gerangan yang terjadi ?

Ternyata ia dimadu, bukan manisnya madu yang dirasa tapi pahitnya empedu, karena pahit tak tertahan lagi, air mata mengalir sendiri.

Syaikh bertanya kepadanya, “Apakah kamu senang suamimu berzina dengan perempuan lain atau menikah dengannya?”

“Menikah,” jawabnya.

“Bukankah kamu setiap hari sibuk mencuci, memasak, mengurus anak-anak dan mengatur rumah tangga?”

“Iya”

“Apakah merupakan sebuah kesalahan jika tugasmu itu dibagi dengan saudari muslimahmu, sehingga engkau pada hari yang suamimu tidak berada bersamamu,
engkau bisa berpuasa sunnah yang mungkin sudah kamu tinggalkan karena mengurus suamimu, membaca Al-Quran yang banyak terhalang oleh pekerjaanmu, shalat malam yang tak bisa kau lakukan karena bersama suamimu”.

Sebulan kemudian…

Kriing, kriing… telepon berbunyi.
Ternyata wanita itu telepon lagi.

” Apakah Syaikh masih ingat saya? Saya adalah perempuan yang menelpon Syaikh, yang mengadukan suaminya yang telah menikah lagi”

“Apakah yang terjadi?” Tanya Syaikh.

Perempuan itu bercerita, kemudian perempuan itu berkata, “Saya memilki satu permintaan?”

“Apakah itu?”

“Engkau menasehati para istri agar menyuruh suaminya kawin lagi!”

“Kalau itu permintaannya, saya tidak mau mengabulkannya,” jawab Syaikh Said bin Musfir Al-Qahtani.

Saya akhirnya mengetahui kalau ta’addud itu adalah baik untuk istri pertama, kedua dan masyarakat pada umumnya.

(Sumber: FP STDI Imam Syafi’i – Jember)

Ket: Foto diatas hanya illustrasi.

 

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: