TAHUN BARU DI DALAM PENJARA (SERIAL 153 MALAM)

13 Jan

1517653_3878746024454_1317661570_n
Masih ingat setahun yang lalu, saat itu ana masih di dalam Lapas. Ketika menjelang tahun baru nasrani/non muslim (1 januari), suasana di dalam Lapas penuh kesibukan, padahal yang sibuk adalah mereka-mereka yang muslim, mungkin karena awamnya mereka terhadap agama mereka sendiri.

Menjelang malam tahun baru, ada intruksi dari setiap Kepala Kamar untuk semua anak2 kamar, yaitu diwajibkan kepada seluruh anak2 kamar (tahanan) untuk membeli terompet yang sudah disediakan di Lapas guna merayakan malam tahun baru Nasrani. Suatu intruksi yang sangat memperihatinkan bagi ana pribadi, apalagi harga terompet di dalam Lapas terbilang sangat mahal karena memanfaat kesempatan sekaligus ladang bisnis bagi mereka yang punya proyek ini. Terus terang, walaupun anak2 kamar tidak mempermasalhkan perayaan tahun baru di dalam Lapas, namun kebanyakan dari mereka sangat keberatan untuk membeli terompet tersebut. Jangankan untuk membeli sebuah terompet, untuk membeli sebungkus nasi atau lauk saja banyak dari mereka yang tidak mampu. Dari mana mereka bisa mendapat uang jika bukan dari keluarga atau saudara mereka yang datang membesuk mereka? Jika tidak ada dari keluarga atau saudara mereka yang membesuk, maka mereka akan menjadi gelandangan di dalam Lapas, mereka hanya bisa merasakan pahitnya nasi cadong setiap harinya.

Akhirnya ada kebijakan dari Kepala Kamar untuk anak2 kamar yang tidak mampu membeli terompet, yaitu mereka dibolehkan patungan berempat atau berlima untuk membeli sebuah terompet, walaupun ujung-ujungnya mereka juga tetap diharuskan membeli. Tahu sendiri hukumannya jika melanggar atau tidak menaati intruksi di dalam Lapas, maka resikonya adalah ‘digulung abis’. Jadi ada 2 pilihan untuk kami sebagai anak kamar, membeli terompet atau ‘digulung’?

Akhirnya mau tidak mau mereka pun terpaksa membeli terompet untuk merayakan malam tahun baru. Berbeda dengan sikap ana saat itu. Ana lebih memilih ‘digulung’ daripada aqidah ana dipertaruhkan hanya untuk membeli terompet. Ana teringat di dalam sebuah hadits, seseorang bisa masuk neraka hanya karena seekor lalat, dikhawatirkan juga dengan sebuah terompet maka ancamannya juga sama, apalagi ini adalah masalah aqidah atau prinsip beragamanya seseorang yang tidak ada toleransi dalam hal ini.

Saat itu ana siap pasang badan tatkala KM (Kepala Kamar) sudah menagih setiap anak2 kamar untuk membeli terompet kemungkaran itu. Mereka tunduk kepada aturan KM. Masing2 mereka dengan pasrah memberikan uangnya ke KM ketika ditagih. Hingga sampai beberapa lama ana masih belum ditagih oleh KM. Ana berharap KM lupa akan hal ini sehingga ana terbebas dari membeli terompet. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mengadu ke KM memberitahu kalau ana tidak mau membeli terompet dan tidak mau berpartisipasi dalam perayaan tahun baru. Ana kaget mendengar aduan orang tersebut. Ingin rasanya ana memarahi orang tersebut, namun berhubung orang tersebut adalah orangtua, jadi ana terpaksa menahan rasa marah kepadanya. Mendengar aduan orang tersebut, KM hanya diam saja dan memaklumi. Ana yang sudah siap pasang badan menjadi heran melihat sikap KM seperti itu terhadap ana, kenapa KM tidak marah kepada ana? Hinggar akhirnya KM berkata kepada orang yang mengadu itu, “Si Abu (panggilan ana di dalam Lapas) biarkan saja, tidak apa2, gue sudah paham sama ajarannya. Kalau tidak mau, tidak mengapa.”

Alhamdulillah, jawaban dari KM membuat ana merasa lega sekaligus bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan ana atas segala urusan2 ana. Tidak menyangka kalau KM akan berkata seperti itu. Setidaknya dia sudah mulai membedakan ana dengan tahanan2 yang lain dimatanya. Dia sudah bisa memaklumi akan sikap2 ana selama sekamar dengannya, padahal banyak perbuatan ana yang berbeda bahkan menyelisihi amalan-amalan tahanan lainnya, seperti tidak ikut acara Tahlilan, acara Yasinan setiap pekan, dzikir jamaah, dan lainnya, namun hal itu tidak membuat ana diintimidasi di dalam Lapas ini, bahkan tidak pula ada paksaan. Dan KM akhirnya memaklumi setiap sikap dan perbuatan ana didalam sini walaupun berbeda dengannya dan berbeda dengan para tahanan, mungkin juga sebab perkelahian ana dengan tahanan pelaku pembunuhan sehingga KM jadi lebih mengenal ana. KM adalah orang yang banyak melalaikan kewajiban2 agamanya, dan juga banyak menzhalimi manusia disini, namun ana tetap berusaha memenuhi hak-haknya sebagai pemimpin di kamar ini dan berbuat baik kepadanya, hingga akhirnya KM pun menghargai dan membebaskan ana untuk beramal sesuai keyakinan ana. Alhamdulillah…

Maka itu, jangan sampai kita menggadaikan aqidah kita demi perayaan orang-orang non muslim yaitu perayaan tahun baru ini, walaupun hanya beramal dengan amalan yang dibolehkan dan yang diharamkan. Kita saja dilarang beramal dengan amalan-amalan yang mubah/boleh/halal untuk merayakan tahun baru, apalagi beramal dengan perbuatan yang haram??? Jadikan hari tahun baru ini seperti hari-hari biasa, dan jangan diistimewakan atau dikhususkan, seperti bertamasya untuk menyambut tahun baru, meniup terompet, menyalakan kembang api/petasan, bakar jagung/ayam/daging/ikan, memakai topi tahun baru, mengucapkan selamat, doa berjamaah, konvoi/pawai, pentas musik, berpacaran, berzina, mabuk2an, dll yang semuanya itu adalah dilarang. Sesungguhnya harga diri seorang muslim itu mahal harganya…

Wallahu a’lam.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

One Response to “TAHUN BARU DI DALAM PENJARA (SERIAL 153 MALAM)”

  1. abu salma 23 January 2014 at 14:41 #

    maa syaa Allohu la quwwata illa billah. baarokallohu fiikum ya akhii …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: