CERITAKU KEMAREN SIANG

21 May

03

 

Kemaren siang, posisi ana saat itu sedang mengendarai motor di daerah Pemda Cibinong karena ada suatu urusan. Di tengah perjalanan, agak sepi waktu itu, tiba2 ada orang yang memanggil dan menyuruh ana berhenti. Ana tidak tahu, apa maksud orang itu? Ana perhatikan sekilas penampilan orang tersebut. Wajahnya agak seram seperti preman, mengenakan baju dan celana berbahan jeans sambil membawa sebuah tas. Dari wajahnya terlihat kesan kurang baik (ini hanya prasangka saja karena sedang kondisi heran).

Ana pun mengurangi kecepatan motor ana, untuk memastikan apa maksud orang itu memanggil ana. Kemudian orang itu berlari ringan mendekati ana, sambil berkata, “Pak, ojek pak… Saya mau ke depan!”

Rupanya dia sedang membutuhkan ojek. Memang di daerah ini sangat jarang sekali angkot yang lewat, yang ada hanya ojek, itu pun kadang2 saja lewat. Berhubung ana bukan ojek dan ana masih ada urusan yang harus segera diselesaikan, akhirnya ana katakan ke orang itu, “Maaf pak, saya bukan ojek.” Setelah itu ana menambah kecepatan motor untuk meninggalkannya.

Tapi rupanya orang itu masih berkata lagi dengan nada keras agar ana terdengar, “Saya bayar pak sampai ke depan, tolong pak, saya sedang buru2.”

Ana masih diam karena bercampur khawatir dengan keraguan. Ana sudah pernah mendengar tentang modus2 kejahatan yang biasa terjadi ke pengendara motor. Apalagi performen orang itu kurang meyakinkan bagi ana. Haruskah ana berhenti untuk menolongnya, atau ana tinggalkan dia? Sebenarnya ana tidak begitu takut kepadanya, karena ana dulu biasa berhadapan dengan para penjahat ketika di dalam bui, sehingga hal itu menjadi pembelajaran bagi ana untuk tidak takut kepada siapapun. Ketika ana masih dalam keraguan, orang itu masih terus berkata ke ana, padahal ana sudah mulai jauh darinya, “Pak, tolong saya pak, saya bayar pak! Saya sedang terburu2…”

Akhirnya ana mengambil sikap berhenti dan menolongnya. “Mau kemana pak?”
“Ke City Mall pak, di depan sana.” Katanya, padahal jaraknya masih sekitar 2 km.
“Wah beda arah pak, saya harus belok di depan situ.” Kata ana.
“Tolong pak, saya buru2. Saya bayar koq. Di depan situ, gak jauh.” Kata orang itu sambil mempersiapkan uang untuk membayar ke ana.
“Baiklah.” Ana mencoba untuk mengalah dan membantunya.

Sepanjang perjalanan ana dalam kondisi siaga, khawatir terjadi apa2 terhadap ana. Apalagi posisi orang itu di belakang ana. Ana mencoba mencium bau kejahatan darinya, tapi masih belum ada tanda2 mencurigakan darinya. Sepanjang perjalanan kami sama2 diam, sangat berat untuk memulai percakapan dengannya, khawatir konsentrasi ana hilang disaat ana sedang siaga.

Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan orang itu, walaupun tujuan ana berbeda arah dengannya dan ana harus kembali memutar jauh. Setelah motor ana berhenti, orang itu segera turun, kemudian dia langsung menyerahkan uang yang sudah disiapkan ke ana, sambil berkata dengan wajah senang, “Ini pak…Terima kasih banyak pak.”
“Gak usah pak.” Kata ana sambil menolak uangnya, karena niat ana hanya sekedar membantu saja.

Orang itu memaksa ana untuk menerima uangnya, dan ana juga memaksa orang itu untuk tidak memberikannya ke ana, hingga akhirnya orang itu yang mengalah dan memasukkan kembali uangnya ke dalam saku celananya. Kemudian orang itu mengangkat tangan ke atas dan menunjuk ke arah atas sambil mendoakan ana, “Semoga yang di Atas memberi keselamatan untukmu, hati2 di jalan.” Setelah itu orang tersebut pergi berlari meninggalkan ana.

Sebelum ana melanjutkan perjalanan kembali, ana mencoba memeriksa barang bawaan ana, khawatir ada yang hilang. Seandainya ada yang hilang, ana masih dalam keadaan siaga sebelum ana kehilangan orang itu. Ana periksa semuanya, tas, saku celana, dompet, dan hape. Alhamdulillah semuanya masih lengkap dan aman.

Dari kejauhan ana masih memperhatikan orang tersebut. Mungkin cerita ini adalah biasa bagi kita dan tidak ada yang istimewa. Namun di akhir cerita ini ada sesuatu yang membuat ana sangat terkesan darinya. Apakah itu?

Orang itu, walaupun tidak tampak dari penampilannya seorang penuntut ilmu atau orang yang alim, terlihat seperti penampilan preman, namun dia mengimani bahwasanya Allah, Rabb Semesta Alam berada di ATAS. Berarti fitrah orang tersebut masih lurus, dan inilah fitrah semua makhluq yang tidak bisa didustakan. Baik disadari atau tidak disadari, fitrahnya akan menuntun dirinya untuk mengimani bahwasanya Allah ada diatas (Arsy). Dan keimanan ini didukung oleh banyak dalil dari Al Quran maupun Hadits2 Shahih serta Qaul (ucapan) Ulama2 Salaf terdahulu. Sangat tidak wajar jika ada seseorang, apalagi dia adalah penuntut ilmu, atau bahkan ustadz atau Kyai yang mencoba mendustai fitrahnya sendiri dengan mengatakan bahwa Allah itu tidak diatas, atau Allah itu tidak bertempat, atau Allah itu dimana2. La hawla wala quwwata illa billah.

Semoga Allah memberinya hidayah untuknya dan untuk kita semua. Pelajaran yang berharga yang ana dapatkan kemaren siang. Berawal dari su’uzhan kepadanya, dan berakhir di status ini.
Wallahu a’lam.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” (QS. Thaha: 5)

Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

“Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

 

 

Recent Posts :

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: