BAPAKKU TIDAK DITAHLILIN

21 Oct

Tahlilan

“Kenapa tidak di tahlilin?”

Itulah pertanyaan yg sering mampir ke kami pasca meninggalnya bapak rahimahullah. Pertanyaan yang keluar dari lisan saudara2 kami, tetangga maupun kawan. Pertanyaan tersebut tidak lain untuk mengusir rasa penasaran yang membisikkan ke hati-hati mereka. Namun Alhamdulillah kami bisa menjawabnya dengan baik ke mereka semua, tanpa harus ditutup-tutupi atau disembunyikan dengan berbagai macam alasan. Dan mereka pun mau memahami serta memaklumi atas jawaban kami tanpa ada bantahan atau perdebatan sedikitpun dari mereka.

Selepas menguburkan bapak rahimahullah, ana mendatangi beberapa orang tokoh warga untuk menjelaskan kepada mereka secara baik2 dan meminta maaf jika selama penyelenggaraan jenazah sampai menguburkan ada hal2 yang tidak sesuai atau berbeda dengan tradisi masyarakat setempat. Mereka menerimanya dengan baik dan toleran terhadap kami, tidak ada sedikitpun kekecewaan atau sikap yang aneh dari mereka.

Sejak dulu masyarakat tempat kami tinggal sudah memaklumi terhadap manhaj yang kami pegang, walaupun awalnya sempat menghangat, dikarenakan kami lah orang yang pertama yang manhajnya berbeda dengan warga sekitar (dalam contoh: tidak ikut maulid, tidak tahlilan/selamatan kematian, tidak ikut yasinan setiap malam jumat, tidak melafazhkan niat, dll). Seiring berlalunya waktu, merekapun akhirnya bosan juga sehingga tidak lagi terdengar bisik2 tetangga, entah tidak tahu kalau dibelakang kami.

Hingga saat ini, kami masih sama2 saling menghargai. Mereka juga segan terhadap kami, enggan untuk ikut campur terhadap urusan kami khususnya dalam masalah agama. Jika ada urusan2 agama yang tidak kami lakukan, mereka sudah tahu dan paham tentang itu, seperti meminta iuran untuk acara Maulid Nabi, kami sudah tidak pernah dimintai atau diikut sertakan dalam acara mereka. Sedangkan untuk acara atau sesuatu diluar hal itu, maka kami masih dilibatkan dan diikut sertakan oleh mereka, seperti kegiatan kerja bakti, ronda, ta’ziyah, dll.

Terus terang kami termasuk orang yang punya prinsip kuat, sehingga mereka menjadi segan terhadap kami. Apalagi dalam masalah agama atau ibadah, prinsip (punya sikap) itu sangat diutamakan. Jika kita tidak punya prinsip dalam bersikap di hadapan manusia, niscaya kita tidak akan bisa beragama dengan baik. Contohnya sikap yang tidak punya prinsip adalah: masih mengikuti apa kata orang dan masih mudah dipengaruhi. Seperti halnya ingin memelihara jenggot, nanti apa kata orang? Ingin berjilbab panjang dan syari, nanti apa kata orang? Ingin shalat sesuai sunnah, nanti apa kata orang? Ingin meninggalkan bid’ah, nanti apa kata orang? dan lainnya.

Memang sikap seperti itu banyak resikonya. Namun jangan kita merasa takut dan khawatir. Kita tidak sendirian. Banyak saudara2 kita di belakang yang mengamalkan sunnah kemudian dia menghadapi resiko yang besar karenanya, dan mereka bersabar hingga Allah menetapkan perkara yang baik untuknya. Celaan atau gangguan disaat mengamalkan sunnah adalah hal yang biasa. Bukankah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memperumpamakannya orang yang berpegang kepada Sunnah seperti menggenggam bara api? Jika dilepas bara api itu maka akan jatuh/hilang, dan jika digenggam maka tangan kita terbakar?!

Bersabarlah terhadap gangguan manusia sampai mereka bosan, dan Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Sudah jutaan manusia di belakang kita yang menghadapi berbagai macam ujian dan rintangan ketika berpegang terhadap sunnah. Lantas dimanakah posisi kita, apakah kita termasuk dari orang2 yang istiqamah tersebut, ataukah menjadi pihak yang anti terhadap Sunnah?

Alhamdulillah, ini merupakan sebuah nikmat dan karunia yang besar dari Allah kepada kami sehingga kami bisa mengurus proses penyelenggaraan jenazah bapak dimulai dari dimandikan sampai dikubur dengan mengikuti Sunnah atau dalil shahih, insya Allah. Tidak ada ritual2 yang diada2kan atau yang tidak bersumber dari dalil shahih. Hingga ana pergi meninggalkan kuburan bapak dengan nisan yang kosong, tanpa ditulisi, dan juga tanpa dipenuhi dengan kembang2…
Wallahu ta’ala a’lam.

 

 

 

Recent Posts :

One Response to “BAPAKKU TIDAK DITAHLILIN”

  1. anton amri 21 July 2015 at 16:22 #

    ijin share ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: