CERITAKU SAAT MENIKAH

21 Oct

10672379_4696996040193_6694073181222557759_n
Tahun 2006 ana pernah ta’aruf dengan beberapa orang akhwat. Ketika ta’aruf dengan seorang akhwat sepengajian dari daerah Jakarta Utara bersuku Betawi – Ambon (jadi manise akhwatnya) , ana katakan kepadanya: Terus terang ana punya modal utk nikah sebesar 1,5juta. Jika ukhti mau menerima jumlah sebesar itu utk menikah, maka proses ini bersedia ana lanjutkan, namun jika tidak, ana enggan utk melanjutkan proses ini. Ana mampu utk merayakan walimahan dengan besar2an, tapi ana lebih mengutamakan masa depan rumah tangga kelak. Banyak orang yg lbh mengutamakan walimah daripada masa depannya, akhirnya setelah itu hutangnya menumpuk, minta2 ke saudara2nya dan hidupnya menumpang. Ana lbh memilih proses pernikahan yg sederhana, tapi terhindar dari hutang, meminta2 dan menumpang hidup.

Alhamdulillah, si akhwat mau menerima kemauan ana. Tapi bagaimana dengan orangtua dan saudara2nya? Belum tentu mereka mau menerimanya. Banyak pasangan ikhwan dan akhwat yang sudah siap menikah dengan mahar dan biaya yang murah, tapi terhalang oleh kemauan orangtua si akhwat ataupun si ikhwan yang banyak persyaratan. Sehingga sebagian dari mereka terpaksa putus di tengah jalan, atau minimalnya tetap berjalan namun terjadi kekecewaan di salah 1 pihak.

Disini peran akhwat utk mengambil tindakan, berusaha bersandiwara dan mencari jalan utk membujuk, merayu dan mengambil hati orangtuanya agar mau memudahkan urusan pernikahan anaknya. Setelah si akhwat mengeluarkan semua jurus2nya utk membujuk dan merayu orangtuanya, Alhamdulillah orangtuanya bersedia utk memudahkan proses pernikahan kami. Semua rencana2 kami semuanya dimudahkan Allah, sehingga kami bisa melanjutkan proses ini.

Hingga tiba waktunya ana mendatangi orangtuanya utk mengkhitbahnya. Di proses khitbah kami menentukan hari pernikahan kami yang sepakat akan dilaksanakan sepekan kemudian.

Ana keluarkan modal nikah ana sebesar 1,5juta. Yang 700ribu utk biaya KUA (pembuatan surat nikah), dan sisanya yg 800rb utk acara walimahan. Acara walimah cukup mengundang kerabat2 dekat saja. Untungnya teman2 ana semuanya mau mengerti kenapa mereka tidak diundang. Mahar kami cukup dengan 2 stel hijab muslimah.

Modal nikah sebesar 1,5juta di masa itu sangat tidak berharga sekali, kecuali di mata orang2 yg lemah. Disaat teman2 ana menghabiskan dana puluhan juta utk menikah, minimalnya 5jt atau 10jt, sehingga mereka bisa duduk di pelaminan yg berhiaskan bunga2, mengundang banyak orang, dan beraneka macam makanan, adapun ana hanya bisa duduk di lantai bersanding dengan akhwat yang sudah menjadi istri, hidangan makanan yg sederhana, dan kado2 pernikahan yg bisa dihitung dengan jari. Walaupun keadaan kami seperti itu, tidak ada perasaan malu pada kami. Yang kami harapkan hanya rumah tangga yg bahagia dan samara.

Setelah proses pernikahan selesai, istri langsung ana bawa ke rumah ana di Bogor. Dan sekarang doi sudah jadi ibu dari 2 orang jagoan ana, si Fahd dan Fawwaz. Alhamdulillah…

Beruntunglah ikhwan2 yang bisa mendapatkan istri2nya dengan mudah dan murah maharnya. Pengalaman seperti itu bisa dijadikan pelajaran yg berharga utk keturunan2nya kelak, dan juga motivasi utk teman2nya yg hendak menikah tapi kesulitan dalam masalah dana. Semoga saja tidak ada lagi orangtua2 yg mempersulit anak2nya utk menikah, yg bisa mengakibatkan anak2nya jatuh ke perbuatan zina atau pacaran, dan jadi perawan/perjaka tua nantinya.
Wallahul musta’an.

Ket: foto diatas hanya illustrasi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: