‘NGAJI DIMANA?’

21 Oct

5977119824_df7d06a7a3_z

Pertanyaan seperti itu, kadang sering menimbulkan fitnah disaat berkenalan dengan seseorang. Ini hanya ditinjau dari berdasarkan pengalaman yg sering ana alami dan ketahui. Walaupun tidak mutlak selalu, namun biasanya diantara kita pernah mengalaminya.

Contoh 1 :
A dan B saling berkenalan. Mereka asyik berbincang macam2 dan saling ta’aruf (mengenal lbh dalam). Kemudian timbul pertanyaan dari A : “Antum ngajinya dimana?”
B menjawab : “Ana ngaji disini sama ust.fulan.”
Berhubungan jawaban B tidak sesuai dengan kemauan A, karena bukan sepengajian dan beda ustadznya (walaupun masih sesama muslim atau ahlussunnah), akhirnya apa yg terjadi?
Yang tadinya terlihat akrab, akhirnya pelan2 suasana menjadi dingin. Mulai mengurangi pembicaraan, keakraban, atau jadi saling diam dan jaga jarak.

Contoh 2 :
A dan B saling berkenalan. Mereka asyik berbincang macam2 dan saling ta’aruf (mengenal lbh dalam). Kemudian timbul pertanyaan dari A : “Antum ngajinya dimana?”
B menjawab : “Ana ngaji disini sama ust.fulan.”
Berhubungan jawaban B sesuai dengan kemauan si A, karena sama2 sepengajian dan sama ustadznya, lalu apa yg terjadi?
Sebaliknya, jadi semakin tambah akrab, perhatian dan loyal. Beda sikapnya dengan yang pertama.

Terlihat ada perbedaan dalam bersikap dan bergaul dengan sesama muslim, sehingga pertanyaan ‘Ngaji dimana?’ sering dijadikan umpan dan tolak ukur dalam menilai seseorang. Bahkan byk dari mereka yg tertipu dengan umpannya sendiri. Mereka mengira kalau orang2 yg sudah sepengajian sudah ‘aman’ dari segalanya. Padahal mereka jg manusia sama seperti yg lainnya, bisa benar dan bisa salah/khilaf.

Ana pribadi sering ditanya dengan ‘umpan-umpan’ seperti itu disaat berkenalan. Kadang ana ikut balas kasih ‘umpan’ juga ke mereka. Ketika ana ditanya ‘Ngajinya dimana?’
Ana menjawab : “Wah banyak…dimana2… ”
Ditanya lg : “Dimana saja?”
Ana jawab : “Wah repot kalo disebutin 1 per 1…dekat rumah juga ada, dijakarta banyak, di bogor banyak..dll… ”
Ditanya lg : “Ustadznya siapa?”
Ana : (kepo ni orang…dalam hati)
Ana jawab : “Kalo ana jawab khawatir ant gak kenal… ”
Masih ditanya lagi : “Salah 1nya aja…”
Ana : (bener2 nih orang…capek dech…emangnya mancing ikan )
Ana jawab : “Ust. Fulan ” (ana ambil ustadz yg gak terkenal dan jarang dikenal orang2)
“Ant kenal dengannya?”
“Gak kenal…” jawabnya.
“Naah…”

Terus terang dulu ana juga seperti itu, menjadikan pertanyaan2 semacam itu sebagai tolak ukur dan umpan utk setiap orang yg ana kenal. Ana khawatir dengan pertanyaan itu, akhirnya ana membedakan seorang muslim dalam bermuamalah, padahal mereka masih sesama muslim atau ahlussunnah yg memiliki hak atas kita dalam muamalah. Sering dijumpai seseorang diasingkan dan dijauhi hanya karena pertanyaan semacam ini, padahal orang itu masih ikut2an atau sebatas simpatisan sj krn masih baru belajar, walaupun bisa jadi org tsb dimata Allah lbh mulia dari orang2 yg sombong (merendahkan orang lain) dan lbh mulia juga dari orang2 yg ujub (membanggakan diri).

‪#‎StatusEdisiCurhat‬

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: