ODOT (ONE DAY ONE TA’ARUF)

21 Oct

3814_3990426896406_1288581680_n
KASUS 1

Ikhwan 1: “Afwan akhi, ana mau tanya, antum atau istri antum punya kenalan akhwat yang siap nikah? Kalo ada, ana mau minta tolong ke antum, ana mau ta’aruf.”

Ikhwan 2: “Ana coba tanya ke istri ana dulu ya. Kemungkinan ada insya Allah, soalnya istri punya banyak teman akhwat.”

Ikhwan 1: “Tapi akhi, ana punya beberapa syarat, ana maunya perawan, pernah kuliah, cantik dan manis, tinggi dan tidak gemuk, bermanhaj Salaf, orangtuanya juga sudah kenal manhaj Salaf, mampu dan berkecukupan kehidupannya, rajin, keibuan, penyabar, qana’ah,…

Ikhwan2: “Stooooppp….! Afwan akhi, Kalau maunya seperti itu, ahsan antum cari sendiri saja.” (Sudah minta dibantu, ngasih persyaratan lagi… #tepukjidat# )

KASUS 2

Akhwat 1: “Ukhti, bagaimana hasil ta’aruf dengan Abu Gugel (nama samaran)?”

Akhwat 2: “Gagal mbak, ana kurang cocok dengannya. Wajahnya kurang menyejukkan pandangan, dan juga pendek. Mau cari yang agak tampan dikit.”

Akhwat 1: “Kalo dengan Abu Fesbuk (nama samaran) gimana?”

Akhwat 2: “Gagal juga mbak. Gajinya kurang mencukupi. Ana maunya yang gajinya minimal 5juta sebulan biar bisa mencukupi kehidupan kami nantinya.”

Akhwat 1: “Kalo dengan Abu Twit (nama samaran) gimana?”

Akhwat 2: “Gagal juga mbak. Orangnya masih baru belajar agama, soalnya belum bisa bahasa Arab, hafalan Qurannya baru 5 juz. Ana mau cari yang sudah jadi ustadz, biar bisa membimbing ana nantinya.”

Akhwat 1: “Ukhti terlalu banyak persyaratan dan pilihan. Sudah puluhan kali ukhti selalu gagal ta’aruf karena sikap ukhti yang seperti ini, terlalu banyak persyaratan. Mau sampai kapan ukhti seperti ini? Tidakkah ukhti melihat kepada diri sendiri, sekarang usia ukhti sudah 40 tahun dan belum menikah, dan ukhti masih saja bersikap seperti ini? Apakah ukhti lebih memilih jadi perawan tua daripada menikah?”

Akhwat 2: “Haaahhhhh???….Astaghfirullah!…ana gak sadar kalo usia ana sudah 40 tahun. Jadi gimana donk mbak??? Aduuuhhh, ana takut kalo jadi perawan tua. Ini salah ana karena terlalu banyak memilih dan persyaratan. Tolong ana mbak, ana sekarang rela menikah dengan ikhwan apa saja, tidak peduli yang seperti apa, yang penting ana bisa segera menikah. Ana tidak mau jadi perawan tua…huh huh huh…”

KASUS 3 (Lanjutan dari Kasus pertama)

Ikhwan 2: “Akhi, ana ada kenalan akhwat, Masya Allah. Kayaknya sesuai dengan kriteria dan persyaratan antum nih.”

Ikhwan 1: “Wah boleh tuh! Akhwatnya bagaimana akh? Boleh kasih tau ciri2 dan biodatanya?”

Ikhwan 2: “Cantik sekali akh, wajahnya juga manis, dijamin setiap laki2 yang melihatnya pasti tertarik, kayak artis! Dan ana sudah pernah melihatnya, sayang sekali ana sudah bukan jomblo lagi. Terus orangnya tinggi dan putih kulitnya, ada peranakan Arabnya dikit. Titelnya S1 di Saudi, jurusan Syariah. Orangtuanya kaya raya, pengusaha besar. Terus orangnya juga rajin, penyabar, pokoknya bagus akh. Antum mau ana ta’arufin akh?”

Ikhwan 1: “Wah boleh tuh akh! Ana mau sekali, kalo perlu gak usah ta’aruf segala, langsung nikah saja ana juga mau akh. Syukran akhi atas bantuannya!”

Ikhwan 2: “Tapi akh…”

Ikhwan 1: “Tapi apa?”

Ikhwan 2: “Seperti halnya antum punya persyaratan, akhwat itu juga punya persyaratan juga akh.”

Ikhwan 1: “Gleeek!… Persyaratannya apa akh??????????”

Ikhwan 2: “Persyaratannya: Dia juga mau ikhwan yang tampan, tinggi, pecinta alam (pendaki gunung), goweser . Terus hafal Al Quran 30 juz, dan ana yakin antum belum hafal semua. Memiliki perkerjaan yang berpenghasilan mencukupi, gaji sekitar 10juta perbulan, katanya sih agar bisa membantu membiayai yayasan yatim piatu yang dikelolanya, dan antum tidak memiliki kriteria ini. Sudah punya rumah sendiri agar setelah menikah bisa langsung mandiri, dan antum tinggalnya masih sama orangtua, itupun ngontrak.”

Ikhwan 1: “Ana mengundurkan diri, akh…..huhuhuhu….”

(Ket: Dialog diatas hanya rekaan. Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan kisahnya)

Faidah:

– Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu).

– Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“ Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (untuk kawin) dari hamba sahayamu laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui “ (Qs. An Nur’ : 32 )

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah :“ ( Pada ayat Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia Nya ) Tidak menghalangi mereka apa yang mereka khawatirkan bahwasannya jika mereka menikah akan menjadi miskin dengan disebabkan banyaknya tanggunan dan yang semisalnya. Didalam ayat ini terdapat anjuran untuk menikah dan janji Allah bagi orang yang menikah dengan diberikan kekayaan setelah sebelumnya miskin “ (Taisiir ar Karimi ar Rahman pada ayat ini )

– Dalam hadits Uqbah bin Amir, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Mahar yang terbaik adalah yang paling murah.” (Hr. Abu Daud, dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim)

Saat hendak menikahkan salah seorang sahabatnya dengan seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Usahakanlah, meskipun mahar (darimu) hanya berupa sebuah cincin dari besi.”

Sahabat tadi tidak juga bisa mendapatkan cincin tersebut, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan wanita itu, dengan mahar mengajarkan sebuah surat al-Quran kepada calon istrinya, sesuai dengan yang dia ketahui.

Mahar para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah lima ratus dirham, yang saat ini kira-kira senilai dengan seratus tiga puluh riyal. Sementara, mahar putri-putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah empat ratus dirham, yang sekarang ini kira-kira senilai dengan seratus riyal. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya, telah ada suri teladan pada (diri) Rasulullah.” (Qs. al-Ahzab: 21)

– ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal 10 hari lagi, niscaya aku ingin pada malam-malam yang tersisa tersebut seorang isteri tidak berpisah dariku.”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (IV/128), ‘Abdurrazzaq (no. 10382, VI/ 170).]

– Maisarah berkata, Thawus berkata kepadaku: “Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan ‘Umar kepada Abu Zawa-id: ‘Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau banyak dosa.'”[ ‘Abdurrazzaq (no. 10384, VI/170), Siyar A’laamin Nubalaa’ (V/47-48). Amirul Mukminin z hanyalah ingin membangkitkan semangat bawahannya itu supaya menikah ketika ia melihat Abu Zawa-id belum menikah, padahal usianya semakin tua. Lihat Fat-hul Baari (IX/91), al-Ihyaa’ (II/23), al-Muhalla (IX/44).]

– Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Bujangan itu seperti pohon di tanah gersang yang diombang-ambingkan angin, demikian dan demikian.”[HR. ‘Abdurrazzaq (no. 10386, VI/171).]

– Seorang wanita menuturkan kisahnya ” Walaupun usiaku mendekati 40 tahun tetapi saya tetap menginginkan agar suami kelak adalah seorang yang memilki kemuliaan, kemampuan materinya diatas pertengahan dan dia memiliki gelar yang tinggi. Tetapi sebenarnya saya setelah umur ini ketika saudara-saudara perempuanku mengunjungiku bersama para suami dan anak-anak mereka, saya merasakan kesedihan yang sangat dahsyat dan saya ingin seperti mereka, saya bisa mengunjungi kelurgaku dan bisa berpergian bersama suami dan anak-anakku.” Inilah diantara kisah seorang wanita yang tertipu dengan idealisme mimpi.

(Foto diatas hanya illustrasi)

 

 

 

Recent Posts :

One Response to “ODOT (ONE DAY ONE TA’ARUF)”

  1. fathonymuhammad 7 November 2014 at 02:56 #

    Izin share akhi,,,,, sangat bermanfaat.. Subhanallah.. Pas yg lagi pemuda mau nikah..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: