KISAH MUSISI ROCK

13 Jan

1016814_4817391690009_9063471815242047057_n

Cerita seorang ikhwan:

‘Fade to Black (Metallica)’… itu lagu yang terakhir kami bawakan ketika pentas musik, dikarenakan beberapa bulan ke depan guwe harus cabut dari negeri ini untuk ke luar negeri karena tuntutan pekerjaan. Terus terang hari2 guwe selalu aktif di musik, karena pergaulan guwe memang nongkrongnya dengan anak2 band. Walaupun kondisi guwe seperti itu, Alhamdulillah guwe nggak termasuk anak2 yang nakal seperti anak2 band lainnya yang terjerumus kepada narkoba, perzinahan, khamr (minuman keras) dan kerusakan2 fatal lainnya, dan guwe masih termasuk muslim yang nggak ninggalin shalat.


Hingga tiba waktunya guwe harus ninggalin negeri ini menuju negeri yang belum guwe kenal sama sekali, ninggalin orangtua, saudara dan sahabat2 dekat guwe dalam jangka waktu yang lama, paling cepat 2 tahun. Ada tawaran pekerjaan yang menarik disana yang sesuai dengan keahlian guwe. Negeri yang butuh perjalanan sekitar 13 jam via pesawat, dan memiliki selisih waktu sekitar 4 jam dengan Indonesia. Itulah negara Saudi Arabia, negara yang akan merubah kehidupan guwe nanti.

Setelah bermukim disana, guwe baru menyadari bahwa guwe harus vakum dari musik, padahal musik adalah suatu kenikmatan bagi guwe yang nggak bisa guwe tinggalin, walaupun sesaat saja dalam sehari. Guwe nggak bisa nemuin musik yang biasa guwe dengar dan mainkan di negeri ini. Disana juga nggak ada toko yang menjual alat2 musik yang biasa guwe mainin seperti gitar, begitu juga nggak ada yang jual kaset2 Rock idola guwe, semisal Deep Purple, Yngwie Malmsteen, Metallica, dll, kecuali alat2 musik khas Arab yang nggak guwe sukai. Ini yang bikin guwe galau abis, bagaimana bisa guwe kehilangan musik di tempat asing seperti ini dengan jangka waktu yang lama. Akhirnya hari2 guwe lalui dengan be-te tanpa musik. Guwe coba nikmati sebisanya dengan menyibukkan diri dengan kerjaan2 yang menumpuk.

Setelah beberapa waktu berlalu, guwe punya rencana pergi ke kota besar untuk mencari apa yang guwe cari selama ini, yaitu alat musik, siapa tau disana guwe bisa menemukannya. Akhirnya ketika liburan, guwe manfaatin ke kota besar untuk mencari alat musik. Perjalanan ke kota besar membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih. Guwe pergi bareng teman dengan menaiki taksi. Sampai di kota besar, guwe keliling pasar dan pertokoan. Hingga tiba disudut pasar ada sebuah toko besar elektronik, guwe masuki toko itu, dan guwe temukan sebuah gitar Yamaha 12 senar tergantung di dalam toko itu. Muncul perasaan gembira karena guwe berhasil menemukan apa yang guwe cari selama ini. Tanpa pikir panjang, guwe pun membeli gitar itu walaupun harganya terbilang mahal sekali sekitar 2500 Riyal Saudi atau lebih dari 5juta Rupiah.

Sejak saat itu, guwe isi hari2 dengan bermain gitar, minimalnya untuk menghilangkan rasa kesepian guwe disini. Guwe mulai menciptakan beberapa lagu ciptaan sendiri sebagai kenangan disini. Dan waktu terus berjalan seperti biasa hingga tanpa terasa guwe sudah setahun di negeri ini.

Disuatu siang disaat jam istirahat, tiba2 pintu kamar guwe diketuk seseorang. Guwe coba buka pintunya, dan ternyata dibalik pintu itu berdiri seorang Syaikh berjanggut panjang, lengkap mengenakan baju gamis putih panjang dan gutroh (surban) dikepalanya seperti halnya pakaian orang2 Arab, sedangkan disebelahnya berdiri teman guwe mendampinginya. Wajah Syaikh itu tampak indah dan menyejukkan dengan dihiasi senyuman tipis yang tertuju ke guwe, sambil berkata: “Assalamu alaikum”. Guwe menjawab salam tersebut sambil mempersilahkan masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar, teman guwe menceritakan pengalamannya dengan Syaikh tersebut, dia berkata, “Waktu guwe sedang di jalan, guwe ketemu sama Syaikh ini kemudian beliau ngajak berkenalan dengan guwe. Nama beliau Syaikh Musa as Suwaidi. Setelah saling kenal, beliau mengajak guwe untuk mengaji di Islamic Center setiap pekannya. Katanya, kalo ngaji disana bakal difasilitasi macam2, antara lain: pulang pergi di jemput sama bus pengajian dari depan rumah sampai tujuan, ada penerjemah tiap2 negara, free makan siang dengan hidangan macam2, free kitab2 dengan banyak judul dan banyak terjemahan (ada terjemahan bahasa indonesia juga), umroh gratis setiap tahun, dan hadiah2 lainnya. Asli guwe tertarik mau ikut pengajian ini, mumpung difasilitasi semuanya. Setelah itu Syaikh ini bilang ke guwe, kalo boleh beliau minta diantarkan ke rumah2 teman guwe untuk diajak ngaji jika nggak keberatan. Makanya guwe bawa Syaikh ini kemari dengan harapan loe mau ngaji juga.”

Setelah mendengar penjelasan dari teman guwe perihal Syaikh tersebut, Syaikh tersebut juga ngomong ke guwe seperti yang teman guwe ceritakan sebelumnya. Beliau mengajak guwe agar bersedia hadir di majelisnya setiap pekan yaitu di Maktab Jaliyat atau Islamic Center. Guwe sempat kagum sama Syaikh tersebut, bela2in menemui orang kayak guwe untuk diajak ngaji, semangat dakwahnya Masya Allah, bikin orang seperti guwe tertarik untuk mencoba mengenalnya. Terus terang guwe nggak punya kenalan orang2 shalih jadi ini merupakan kesempatan bagi guwe untuk mendekatinya.

Mulai saat itu guwe aktif ngaji di Islamic Center setiap pekannya. Alhamdulillah setelah beberapa bulan guwe ngaji, banyak ilmu2 bermanfaat yang guwe dapat, selain itu guwe punya banyak kenalan dan guru para Masyaikh yang mereka semuanya baik2 ke guwe. Kajian2 yang dibahas adalah yang mendasar, seputar ilmu tentang Tauhid atau Aqidah, Manhaj, Fiqih dasar, Tafsir, Hadits, Tajwid, dan lainnya.

Suatu hari, ketika guwe sedang di kamar, guwe kembali kedatangan tamu. Rupanya yang datang adalah Syaikh Musa as Suwaidi. Kali ini beliau datang hanya untuk bertamu saja. Di dalam kamar, tiba2 pandangan Syaikh Musa tertuju kepada sebuah gitar Yamaha milik guwe yang digantung di tembok. Spontan raut wajah Syaikh Musa berubah menjadi masam. Beliau bertanya, “Gitar siapa itu?”. Guwe jawab, “Milik saya ya Syaikh.”
Beliau berkata, “Itu haram ya akhi…” sambil menjelaskan dalil2nya.
Perkataan Syaikh Musa itu bikin guwe kaget bukan main, karena sebelumnya guwe belum tau kalo musik itu haram dalam Islam. Tapi untungnya Syaikh Musa tidak terus memojokkan guwe tentang keharaman musik, beliau hanya sebatas menasehati dan menyampaikan saja, karena setelah beliau memberikan sedikit penjelasan tentang itu, beliau langsung beralih ke bahasan yang lain. Hingga akhirnya beliau pulang.

Terus terang perkataan Syaikh Musa membekas di hati guwe. Bikin guwe jadi bimbang dalam menilai tentang musik, apakah benar haram atau nggak. Beberapa waktu guwe mulai mendalami seputar hukum musik, dengan banyak bertanya ke orang2 dan banyak baca. Hingga tiba waktunya guwe yakin bahwa musik itu benar diharamkan dalam Islam. Namun ada satu penghalangnya, yaitu walaupun guwe yakin musik itu haram, tapi guwe belum sanggup 100% bisa meninggalkan musik. Guwe masih menikmati musik2 yang sudah sekian lama mendarah daging, agak sulit untuk meninggalkannya. Sempat guwe konsultasi ke beberapa orang minta nasehatnya agar bisa murni meninggalkan musik. Diantara mereka ada yang memberikan saran untuk memperbanyak teman2 dekat yang baik atau shalih yang tidak mendengarkan musik, dan menjauhi teman2 dekat yang masih bermusik, mudah2an bisa ikut terbawa.

Guwe coba menjalani saran tersebut, yang sebenarnya berat buat guwe. Hingga tiba waktunya guwe berhasil meninggalkan gitar Yamaha itu dan berusaha untuk tidak menyentuhnya, namun sesekali guwe masih mendengarkan musik yang diputar melalui kaset. Guwe beralasan meninggalkan musiknya dengan bertahap2, dan yakin suatu saat nanti guwe bisa meninggalkan musik secara keseluruhan.

Dan Alhamdulillah, Allah semakin menguatkan hati guwe hingga akhirnya guwe mampu meninggalkan musik secara total. Seiring semakin banyaknya sahabat2 guwe yang tidak bermusik, guwe jadi semangat untuk mengikuti mereka, berpegang kuat dengan agama ini. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk selalu istiqamah diatas agama-Nya.

===========================
Dari seorang ikhwan yang meninggalkan musik demi keridhaan Allah.
Maaf, Lakonnya terpaksa dirahasiakan.

Disini tidak membahas tentang dalil2 keharaman musik. Bagi yang ingin mengetahui tentang dalil2 pengharamannya, bisa merujuk kesini:

https://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/21/musik-polusi-terbesar-zaman-ini/

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: