KISAH NYATA: TERPERANGKAP 5 HARI DI BLANK 75, GN. SEMERU

8 Sep

10927527_10200174950813816_1997805090886399755_o
Saya (Dian Suanto) yang biasa dipanggil stempel dan hanya ingin berbagi cerita karena teman yang kadang bertanya tentang perjalanan saya. Pada tanggal 18 November 2006 saya dan windarto yang biasa dipanggil metehek adalah anggota Mahapala D3 FE Unej Jember sudah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke gunung semeru setelah akhir ujian semester. Kami berdua mengajak teman yang juga mahasiswa FE Unej yaitu Fuad Haditya dan Sholeh hanafi.


Kami mempersiapkan segala kebutuhan dan bekal untuk ke gunung semeru. Tgl 19 november 2006 Pagi hari itu kami berempat dari jember menuju lumajang dengan menggunakan dua sepeda motor, firasat tidak baik sempat terbesit saat salah satu motor kami mengalami kerusakan pada rantai sepeda motor, tapi kami buang jauh-jauh pikiran tersebut.
Dari lumajang kami mampir ke pasar senduro untuk melengkapi perlengkapan perbekalan utamanya logistik, Dari pasar senduro kami lanjutkan ke ranu pane sekitar pukul 11 siang. Sampai di ranu pane kami titipkan sepeda motor di rumah Pak Tumari. Disana kami sempat bertemu dengan Tim OPA Janagiri dari Jogjakarta. Tim kami melewati jalur watu rejeng, sementara tim janagiri melewati jalur ayak-ayak.

Sore hari kami bertemu kembali di ranu kumbolo, selama perjalanan hari pertama fuad diare, tapi bisa teratasi dengan minum obat. Di ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan memasak makanan. Tgl 20 november Perjalanan dilanjutkan dari ranu kumbolo ke kalimati setelah mengambil air di sumber mani, kami lanjutkan perjalanan ke arcopodo dan kami mendirikan tenda di sana. Pada malam hari Windarto (metehek) mengalami sesak nafas karena asmanya kambuh dan obat yang biasanya disemprotkan ke mulutnya itu habis. Kondisi fisik kawan- kawan saat itu kurang baik dan mereka memutuskan untuk tidak muncak esok hari, dan saya pun mngurungkan niat untuk menuju puncak melihat kondisi fisik kawan-kawan.

Tgl 21 november (hari pertama hilang)

Sekitar jam 3 pagi rombongan Janagiri yang mendirikan tenda di kalimati rupanya mulai menuju puncak dan melewati tenda kami di arcopodo. Mereka menawarkan bantuan oksigen dan mengajak kami untuk ke puncak mahameru. Setelah kami berkoordinasi akhirnya saya dan tim janagiri menuju puncak, sementara 3 teman menunggu di tenda karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan ke puncak mahameru.
Sekitar pukul setengah 6 pagi saya mencapai puncak dan berfoto bersama rombongan Janagiri. Sementara ada satu teman janagiri yang bernama Kolap diantarkan ke tenda kami di arcopodo karena kondisi fisiknya kurang bagus, dan saya juga mendapat kabar bahwa kondisi windarto juga kurang baik, karena itu saya memutuskan turun lebih dulu ke arcopodo untuk melihat kondisi teman saya tersebut.

Karena asyiknya turun dengan medan yang lebih ringan daripada menuju ke puncak akhirnya saya terlalu ke kanan dari jalur yang seharusnya menuju ke cemoro tunggal yaitu jalan menuju Arcopodo. Saya lihat banyak pohon cemara dan saya teruskan ke bawah mengikuti jalan lahar saya pikir akan tembus ke arcopodo atau kalimati, sampai saya terjatuh ke jurang yang tingginya sekitar 14 meter dan kaki kiri saya cidera sehingga terpaksa saya seret untuk berjalan. Dengan kaki kiri yang sakit saya terus berjalan ternyata sampai sore hari saya sudah di bibir tebing curam dan dalam yang dikatakan orang BLANK 75 dan saya tersadar bahwa saya tersesat, nama BLANK 75 ialah tempat biasanya ditemukan survivor yg meninggal atau tempat survivor ditemukan selamat dibibir jurang, itu saya ketahui setelah saya selamat.

Saya naiki punggungan agar tidak terikut air saat hujan karena gerimis saat sore itu dan saya membuat bivak sekedarnya dari tanaman disekitar punggungan itu. Sementara perlengkapan yang saya bawa hanya tas daypack, kamera, tempat minum dan jaket serta pakaian yg melekat di badan. Malam hari sangat gelap sampai saya tidak bisa melihat apapun dan tidak bisa membuat perapian karena hujan dan tidak membawa korek. Situasi psikologi seperti tak percaya bahwa saya tersesat, masih berharap ini hanya mimpi.
Perasaan campur aduk jadi satu antara cemas, takut akan serangan binatang buas dll, dan tak percaya bahwa saya tersesat.

Tgl 22 november (hari kedua survival)

Pada saat matahari mulai terbit saya berjalan dan mencari puncak yang tinggi untuk mencari jalan keluar dan menghangatkan tubuh dengan cara berjalan. Tak seperti yang dibayangkan, pada saat saya menaiki punggungan yang saya rasa tinggi dan bisa melihat sekeliling ternyata masih banyak lagi punggungan yang lebih tinggi dan banyak jurang disekitarnya. Siang hari kepala saya rasanya pusing rupanya karena sudah dua hari saya tidak makan. Mulailah saya ber-survival dengan mencari daun yang bisa dimakan dan banyak tersedia di sana sesuai dengan ilmu diklatsar survival yang saya pelajari di MAHAPALA mengenai ciri tumbuhan yang bisa dimakan.

Awalnya sempat muntah juga karena perut tidak terbiasa. Selama perjalanan saya juga memakan bunga anggrek dan buah murbei yang saya jumpai di punggungan gunungan atau pinggir jurang. Untuk air saya gali di pasir bekas hujan semalam , endapkan airnya dan saya masukkan ke tempat air minum. Sampai sore hari saya belum menemukan jalan keluar, hujan mulai deras sementara saya ada dipinggir jalan lahar, saya perhatikan air semakin tinggi dan terjadi longsor, lalu saya cari tempat yang agak tinggi.
Tidak sempat membuat bivak, saya tidur melingkar di pohon besar agar tidak jatuh ke jalan lahar dan di sapu oleh air dari atas. Malam hari saya berfikir, saya pernah melihat peta kontur Semeru bahwa di sebelah timur adalah tempat yang landai dan biasanya di sanalah letak perkampungan.
Saya putuskan besok saya harus ke arah timur dengan kompas alami yaitu matahari.

Tgl 23 november (hari ketiga Survival)

Pagi hari setelah melihat sinar matahari saya langsung berangkat berjalan ke arah timur menaiki punggungan yang kadang terjal dan terjatuh saat berpegangan ke semak-semak yang tidak terlalu kuat atau terjatuh terguling-guling terpeleset saat menuruni jurang. Uniknya ada suatu lokasi yang datar, setelah saya injak saya terjatuh kedalam, rupanya dataran tersebut adalah anyaman alami dari akar2 pohon. Siang hari saya melewati celah pepohonan dan ada lubang yg dalam diantara pohon tersebut, sepertinya jika terjatuh kesana sulit untuk bisa selamat krn lubang vertical yg sangat dalam.

Selama perjalanan saya tetap memakan dedaunan yang bisa dimakan dan mengambil air dari ceruk-ceruk di bebatuan sisa air hujan semalam. Sampai sore hari saya menggali tanah di lereng di bawah akar pohon besar untuk saya gunakan tidur. Malam hari terdengar suara dentuman beberapa kali sepertinya semeru sedang aktif karena malam-malam sebelumnya tidak terdengar suara sekeras itu. Selama saya tersesat yang paling berat adalah saat hari mulai gelap, malam serasa panjang sekali dan keadaan jiwa juga gak nyaman. Entah kalau saya bikin api apakah perasaan itu sedikit reda, sayangnya hampir setiap malam turun gerimis atau hujan yg agak deras. Ditambah lagi tidak ada korek apik.
Ini hanya pikiran saya, jika saya memaksa membuat api dgn kondisi kayu yg basah dan tidak berhasil, hanya akan melemahkan mental saya dan menguras tenaga, sekali lagi ini hanya pemikiran saya pribadi dan mungkin bertentangan dgn prinsip survival.

Tgl 24 november (hari ke empat survival)

Masih tetap sendiri menuju ke arah timur, sempat putus asa juga karena seperti di kepung oleh bukit-bukit yang tak ada ujung jalan keluarnya. Saya menghibur diri dengan cara bernyanyi dan berusaha berbicara dengan diri saya sendiri. Saya menciptakan teman yang fiktif untuk diajak berbicara agar kejiwaan dan semangat tetap terjaga.
Di punggungan gunung saya sempat melihat kotoran binatang yang besar, saya pikir itu adalah kotoran binatang buas dan saya cepat berlari untuk menghindari hal yg tidak diinginkan.

Cukup berat untuk melewati hutan yang mungkin belum pernah dilewati oleh manusia, vegetasinya sangat rapat sekali sehingga sulit sekali untuk dilewati dan saya tidak membawa pisau tebas untuk membuka jalan. Hampir menjelang malam saya melihat ada bekas potongan pohon, hati sangat gembira sekali seperti ada harapan untuk jalan keluar. Saya lihat di sekitar tapi tidak ada jalan hingga malam datang dan saya membuat bivak dari bekas potongan kayu-kayu tersebut. Sepanjang malam saya berdoa agar esok bisa menemukan jalan keluar karena saya yakin bekas potongan kayu ini menandakan pernah ada orang yang ke sini.

Tgl 25 november (hari ke lima Survival)

Pagi hari saya sangat senang karena setelah mencari di sekitar potongan pohon, akhirnya saya menemukan jalan tikus (jalan setapak) menuju arah barat hingga mentok jalannya buntu, berbalik arah ke timur aya ikuti jalan ini terus sampai saya lelah dan beristirahat sejenak. Kaget rasanya setelah sekian hari untuk pertama kalinya bertemu dengan manusia, orang tersebut adalah pak Suwadi dan pak Tamin.
Rupanya mereka sedang mencari rotan di hutan. Orang tersebut mengatakan jika saya terus mengikuti jalan tikus ini akan sampai di hutan bambu dan perkampungan, tapi saya tidak mau mengambil resiko akhirnya saya menunggu dua orang tersebut menyelesaikan pekerjaannya mencari rotan sampai esok hari baru mereka turun, saya pun tidur di gubuk mereka di hutan, sudah lumayan perut terisi dan air gula hangat yang diberikan oleh mereka.

Tgl 26 november Setelah dua orang tersebut mendapatkan rotan yang mereka inginkan akhirnya mereka turun melewati hutan bambu dan saya mengikuti dari belakang sehingga sampai di sungai kampung Sumber mujur desa Candipuro. Di pinggir sungai saya melihat air sangat jernih, saya minum karena saya beberapa hari hanya minum air keruh campur pasir. Ada seorang pria yang akan mandi di sungai menanyakan saya mau kemana kok membawa tas dan memakai sepatu serta celana yg sudah sobek compang camping di beberapa bagian, rupanya hal yg tak lazim di kampung.

Pria tesebut bernama pak Tohari, saya jawab bahwa saya tersesat di gunung semeru. Dia bertanya kembali apakah saya yang diberitakan hilang di koran, televisi dan radio, saya jawab tidak tahu karena selama saya hilang saya tidak tahu keadaan di luar, lalu orang tersebut membawa saya ke rumahnya, entah siapa yang memberi kabar, di sana sudah banyak orang kampung, setelah mandi di sungai saya diberikan pakaian ganti, makan, minum dan dipinjami HP untuk menghubungi sekretariat Mahapala.
Awalnya teman di sekretariat tidak percaya kalau yang menelepon adalah saya, mereka meminta ciri-ciri pakaian yang saya kenakan. Setelah mereka percaya karena pakaian yang saya kenakan sesuai dengan ciri- ciri pakaian yang terakhir saya gunakan, mereka menghubungi tim SAR yang ada di semeru dan saya di jemput oleh tim SAR gabungan Lumajang. Setelah dibawa ke RSUD Lumajang, saya dibawa ke skretariat PA32, keesokannya dibawa kembali ke Ranupane dan bertemu dengan teman SAR kabupaten Lumajang, TNBTS, teman SAR OPA dan yg lainnya yg tidak bisa saya sebut satu persatu.

Saya sangat berterimaksih kepada mereka yg meluangkan waktu untuk menjadi TIM SAR. Mungkin itu yg bisa saya ceritakan dari kisah saya di semeru. Sekedar pesan saya, bahwa kita hanya manusia biasa yg tidak bisa melawan alam. Dan kita adalah makhluk yang kecil dihadapan Tuhan.

(Sumber: Pendaki Indonesia)

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: