KAWAN BERANTEM ANE

29 May

11115587_10200487291662142_6990653613882878461_n

Foto yang kiri adalah kawan2 ana waktu masih di perantauan. Ke-4 org tsb berkewarganegaraan Filipina. Semuanya muallaf (belum lama masuk Islam), kecuali orang yg sebelah kiri masih beragama Nasrani (semoga Allah memberinya hidayah).

Kami sering berkumpul seminggu 2 atau 3x. Biasanya acara perkumpulan kami diisi dengan latihan beladiri atau sparring. Diantara mereka ada yg ahli di beladiri Wushu maupun Karate. Kami saling belajar dan tukar ilmu. Namun latihan tsb tidak berjalan lama dikarenakan keterbatasan waktu dan kondisi masing2 dari kami. Hanya berjalan beberapa bulan saja. Mereka walaupun muallaf namun mereka memiliki semangat yg tinggi sekali utk mempelajari islam secara murni sesuai manhaj Salaf. Sehingga kami selalu rutin mendatangi majelis ta’lim (Islamic Center) setiap pekan sekali. Hingga akhirnya ana yg terlebih dahulu berpisah dari mereka karena diharuskan meninggalkan perantauan utk pulang ke kampung halaman.

Adapun foto yg sebelah kanan adalah kawan dekat ana juga selama di perantauan. Namanya Moideen atau Muhyiddin, berkewarganegaraan India. Ana paling sering latihan beladiri dan sparring dengannya. Beliau adalah salah seorang mantan preman atau mafia di India. Sayangnya beliau tidak punya basic beladiri. Beliau hanya mengandalkan gaya tarung jalanan, cukup mengandalkan power tanpa tehnik atau seni beladiri. Akibatnya dari sekian banyak ana sparring dengannya, dia mudah dikalahkan dengan bermain tehnik, karena itulah kelemahannya. Walaupun begitu, ana tetap suka jika berlatih dan sparring dengannya, krn secara tidak langsung bisa menambah pengalaman dalam masalah bertarung.

Beliau juga seorang muslim. Tapi kadang masih suka meninggalkan shalat. Faktor pergaulan sehingga beliau termasuk orang yg mudah terpengaruhi atau diwarnai oleh orang lain. Ana sering menyuruh bahkan memarahinya utk tidak meninggalkan shalat. Sudah 15 tahun ana berkawan dengannya. Bahkan sampai sekarang kami masih terus berkomunikasi via telp atau whatsapp walaupun dia sudah di negaranya India.

Teman berlatih dan sparring ana yg lain ketika masih di perantauan adalah seorang warga negara Afghanistan, namanya Fairuz. Beliau juga seorang muslim dan menguasai beladiri Kungfu. Darinya ana banyak mengambil ilmu ttg tehnik2 kungfu. Berawal dari saling tukar ilmu, dia mengajari ana tehnik kungfu dan ana mengajari dia tehnik taekwondo, namun rupanya ana yg justru malah banyak belajar darinya.

Figurnya mirip sekali dengan Bruce Lee, dari body sampai stylenya. Di perantauan beliau bekerja sebagai tukang pembuat roti. Biasanya kami selesai kerja jam 23 malam, kemudian kami sama2 janjian sepulang dari kerja utk berlatih dan sparring, setiap 2 hari sekali. Alhamdulillah kami dikasih sarana utk latihan berupa Gym tempat latihan Karate milik teman kami. Teman kami itu bernama Muhammad, warga negara Mesir. Beliau guru Karate sabuk hitam Dan 3 (kalo gak salah) dan peringkat ke-7 di negaranya. Di perantauan ini beliau bertugas mengajar Karate di Gym-nya. Di Gym itulah kami diizinkan utk berlatih sepuasnya dangan berbagai macam fasilitas yg lengkap.

Disaat itulah ana benar2 berlatih serius dengan Fairuz. Segala macam tehnik diajarkan beliau, dibantu juga oleh Muhammad guru Karate. Namun ada 1 hal yang tidak ana suka saat berlatih dengannya. Yaitu bau badannya. Disaat latihan ada moment2 yg ana harus berdekatan dengannya, bahkan harus menempel dengan badannya, seperti disaat pemanasan, belajar kuncian, sparring atau lainnya. Moment seperti ini sebenarnya agak menyiksa bagi ana karena harus menahan nafas dari bau badannya yang berbeda dan membuat ana mual. Mau menegur tapi gak enak. Mau gak mau ana terpaksa mengeluarkan jurus kesabaran…sabar mencium bau badannya.

Itulah sebagian masa lalu disaat ana masih semangat2nya belajar dan berlatih beladiri. Ketika usia2 ana masih jomblo. Adapun saat ini, sudah sangat jauh berbeda, tidak ada yg perlu dibanggakan lagi. Semua sudah byk berubah. Usia sudah sederajat dengan om-om atau bapak2. Rambut sudah mulai tumbuh uban. Berat badan sudah naik drastik, yg awalnya max 65 kg sekarang sudah hampir 80 kg. Jangankan utk loncat2an atau salto, buat jongkok saja sudah mulai susah krn sudah ada yg ngeganjel di perut. Tehnik2 beladiri sudah banyak yg lupa. Tendangan setinggi perut aja sekarang sudah susah, apalagi disuruh split? Nafas sudah bunyi2 kalo sedang capek. Biasanya dulu kalo turun gunung bisa sambil lari, kalo sekarang bisa buat jalan aja sudah bersyukur, itupun jalannya harus tertatih2. Ana menyadari sudah byk kekurangan dibanding yg dulu. Kematian sudah bertambah dekat.

Disaat ana sudah banyak kekurangan2, Alhamdulillah ana bersyukur kalo ana sudah laku… ana sudah terbebas dari ‘jomblo’…
Sudah ada yg mau dan selalu mendampingi ana…hehe…
Piiss aahh…

 

Foto yang kiri adalah kawan2 ana waktu masih di perantauan. Ke-4 org tsb berkewarganegaraan Filipina. Semuanya muallaf…

Posted by Fitria Kurniawan on Monday, April 13, 2015

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: