MEREKA MEMBOLEHKAN JABAT TANGAN DENGAN SELAIN MAHRAM

29 May

11140354_10200470481961910_4201987530518241502_n.jpg

Fatwa2 Aneh Hizbut Tahrir :

– Membolehkan laki-laki berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

Hal ini seperti dikatakan oleh Taqiyyuddin al-Nabhani dalam bukunya al-Nizham a-Ijtima’i fi al-Islam:

يَجُوْزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يُصَافِحَ الْمَرْأَةَ وَلِلْمَرْأَةِ أَنْ تُصَافِحَ الرَّجُلَ دُوْنَ حَائِلٍ بَيْنَهُمَا.

Orang laki-laki boleh berjabat tangan dengan orang perempuan, dan sebaliknya orang perempuan boleh berjabat tangan dengan orang laki-laki tanpa ada penghalang.

– Membolehkan laki2 mencium wanita yg bukan mahram :

Hal ini seperti tertulis dalam selebaran tanya jawab Hizbut Tahrir tertanggal 24 Rabiul Awal 1390 H berikut ini:

السُّؤَالُ: مَا حُكْمُ الْقُبْلَةِ بِشَهْوَةٍ مَعَ الدَّلِيْلِ؟ الْجَوَابُ: … قَدْ فُهِمَ مِنْ مَجْمُوْعِ اْلأَجْوِبَةِ الْمَذْكُوْرَةِ أَنَّ الْقُبْلَةَ بِشَهْوَةٍ مُبَاحَةٌ وَلَيْسَتْ حَرَامًا… لِذَلِكَ نُصَارِحُ النَّاسَ بِأَنَّ التَّقْبِيْلَ مِنْ حَيْثُ هُوَ تَقْبِيْلٌ لَيْسَ بِحَرَامٍ لأَنَّهُ مُبَاحٌ لِدُخُوْلِهِ تَحْتَ عُمُوْمَاتِ اْلأَدِلَّةِ الْمُبِيْحَةِ لأَفْعَالِ اْلإِنْسَانِ الْعَادِيَةِ، فَالْمَشْيُ وَالْغَمْزُ وَالْمَصُّ وَتَحْرِيْكُ اْلأَنْفِ وَالتَّقْبِيْلُ وَزَمُّ الشَّفَتَيْنِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ اْلأَفْعَالِ الَّتِيْ تَدْخُلُ تَحْتَ عُمُوْمَاتِ اْلأَدِلَّةِ…فَالصُّوْرَةُ الْعَادِيَةُ لَيْسَتْ حَرَامًا، بَلْ هِيَ مِنَ الْمُبَاحَاتِ، وَلَكِنْ الدَّوْلَةُ تَمْنَعُ تَدَاوُلَهَا…وَتَقْبِيْلُ رَجُلٍ لاِِمْرَأَةٍ فِي الشَّارِعِ سَوَاٌء كَانَ بِشَهْوَةٍ أَمْ بِغَيْرِ شَهْوَةٍ فَإِنَّ الدَّوْلَةَ تَمْنَعُهُ فِي الْحَيَاةِ الْعَامَّةِ…فَالدَّوْلَةُ فِي الْحَيَاةِ الْعَامَّةِ قَدْ تَمْنَعُ الْمُبَاحَاتِ…فَمِنَ الرِّجَالِ مَنْ يَلْمَسُ ثَوْبَ الْمَرْأَةَ بِشَهْوَةٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى حِذَائِهَا بِشَهْوَةٍ، وَيَسْمَعُ صَوْتَهَا مِنَ الرَّادِيُو بِشَهوْةَ،ٍ وَتَتَحَرَّكُ فِيْهِ غَرِيْزَةُ الْجِنْسِ عَلىَ وَجْهٍ يُحَرِّكُ ذَكَرَهُ مِنْ سَمَاعِ صَوْتِهَا مُبَاشَرَةً، أَوْ مِنَ الْغِنَاءِ، أَوْ مِنْ قِرَاءَةِ إِعْلاَنَاتِ الدِّعَايَةِ أَوْ مِنْ وُصُوْلِ رِسَالَةٍ مِنْهَا، أَوْ نَقْلٍ لَهُ مِنْهَا مَعَ غَيْرِهَا…فَهَذِهِ أَفْعَالٌ بِشَهْوَةٍ كُلُّهَا تَتَعَلَّقُ بِالْمَرْأَةٍ، وَهِيَ مُبَاحَةٌ لِدُخُوْلِهَا تَحْتَ أَدِلَّةِ اْلإِبَاحَةِ. اهـ.

Soal: Bagaimana hukum ciuman dengan syahwat beserta dalilnya?

Jawab: Dapat dipahami dari kumpulan jawaban yang lalu bahwa ciuman dengan syahwat adalah perkara yang mubah dan tidak haram… karena itu kita berterus terang kepada masyarakat bahwa mencium dilihat dari segi ciuman saja bukanlah perkara yang haram, karena ciuman tersebut mubah sebab ia masuk dalam keumuman dalil-dalil yang membolehkan perbuatan manusia yang biasa, maka perbuatan berjalan, menyentuh, mengecup dua bibir dan yang semacamnya tergolong dalam perbuatan yang masuk dalam keumuman dalil… makanya status hukum gambar (seperti gambar wanita telanjang) yang biasa tidaklah haram tetapi tergolong hal yang mubah tetapi negara kadang melarang beredarnya gambar seperti itu. Karena negara bisa saja melarang dalam pergaulan dan kehidupan umum beberapa hal yang sebenarnya mubah … di antara lelaki ada yang menyetuh baju perempuan dengan syahwat, sebagian ada yang melihat sandal perempuan dengan syahwat atau mendengar suara perempuan dari radio dengan syahwat lalu nafsunya bergejolak sehingga dzakarnya bergerak dengan sebab mendengar suaranya secara langsung atau dari nyanyian, atau dari suara-suara iklan atau dengan sampainya surat darinya … maka perbuatan-perbuatan itu seluruhnya disertai dengan syahwat dan semuanya berkaitan dengan perempuan. Kesemuanya itu boleh, karena masuk dalam keumuman dalil yang membolehkannya.

Dalam selebaran tanya jawab Hizbut Tahrir, tertanggal 8 Muharram 1390 H, mereka juga menyatakan sebagai berikut:

وَمَنْ قَبَّلَ قَادِمًا مِنْ سَفَرٍ رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً، أَوْ صَافَحَ ءَاخَرَ رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً، وَلَمْ يَقُمْ بِهَذَا الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ الْوُصُوْلِ إِلَى الزِّنَى أَوِ اللِّوَاطِ فَإِنَّ هَذَا التَّقْبِيْلَ لَيْسَ حَرَامًا، وَلِذَلِكَ كَانَا حَلاَلَيْنِ.

Barangsiapa mencium orang yang tiba dari perjalanan, laki-laki atau perempuan, atau berjabatan tangan dengan laki-laki atau perempuan, dan dia melakukan itu bukan untuk berzina atau liwath (homoseks) maka ciuman tersebut tidaklah haram, karenanya baik ciuman maupun jabatan tangan tersebut hukumnya halal (boleh).

Dalam selebaran yang sama, tertanggal 20 Shafar 1390 H, Hizbut Tahrir juga mengeluarkan fatwa yang sama:

فَلاَ يُقَالُ مَا هُوَ دَلِيْلُ إِبَاحَةِ تَقْبِيْلِ الْمَرْأَةِ، وَمَا هُوَ دَلِيْلُ إِبَاحَةِ مُصَافَحَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ مَا هُوَ دَلِيْلُ التَّكَلُّمِ مَعَ الْمَرْأَةِ، وَلاَ مَا هُوَ دَلِيْلُ إِبَاحَةِ سَمَاعِ صَوْتِ الْمَرْأَةِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا يَدْخُلُ تَحْتَ عُمُوْمَاتِ اْلأَدِلَّةِ، بَلِ الَّذِيْ يُقَالُ: مَا هُوَ دَلِيْلُ تَحْرِيْمِ تَقْبِيْلِ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ؟ فَيُقَالُ: دُخُوْلُ هَذَا التَّقْبِيْلِ تَحْتَ دَلِيْلِ تَحْرِيْمِ الزِّنَا يَجْعَلُهُ حَرَامًا، فَإِذَا لَمْ يَدْخُلْ يَظِلُّ مُبَاحًا حَتَّى يَثْبُتَ تَحْرِيْمُهُ بِدَلِيْلٍ مَا.

Jadi tidak bisa dikatakan apakah dalil yang membolehkan mencium wanita, apakah dalil yang membolehkan menjabat tangan wanita, apakah dalil yang membolehkan berbicara dengan wanita, apakah dalil yang membolehkan mendengarkan suasa wanita dan lain-lain yang masuk di bawah keumuman dalil-dalil. Justru yang perlu ditanyakan adalah, apakah dalil yang mengharamkan laki-laki mencium wanita yang bukan mahram? Pertanyaan ini dijawab, bahwa masuknya hukum ciuman di bawah dalil keharaman zina menjadikannya haram. Ketika ciuman ini tidak masuk, maka tetap dibolehkan sampai ada dalil yang menetapkan keharamannya..

– Membolehkan laki2 melihat aurat wanita :

Dalam selebaran yang terbit tanggal 8 Mei 1970, Hizbut Tahrir menyatakan,

اَلْمُرَادُ فِي النَّهْيِ عَنْ نَظْرِ الرَّجُلِ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَالْمَرْأَةِ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، الْمُرَادُ مِنْهُ الْعَوْرَةُ الْمُغَلَّظَةُ، أَيِ السَّوْءَتَانِ، وَهُمَا الْقُبُلُ وَالدُّبُرُ، وَلَيْسَ مُطْلَقَ الْعَوْرَةِ، أَمَّا الْمَحَارِمُ فَإِنَّهُمْ لَيْسُوْا دَاخِلِيْنَ فِي الْحَدِيْثِ.

Yang dimaksud dengan larangan laki-laki melihar aurat laki-laki, dan perempuan melihat aurat perempuan, maksudnya adalah melihat aurat besar yakni dua kemaluan, jalan depan dan jalan belakang, dan bukan aurat secara mutlak. Adapun mahram-mahram maka mereka tidak masuk dalam larangan hadits tersebut.

Dalam selebaran tertanggal 12 September 1973, Hizbut Tahrir mengeluarkan fatwa hukum,

جَمِيْعُ عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ حَلاَلٌ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا الْمَحْرَمُ، إِلاَّ السَّوْءَتَيْنِ أَيِ الْعَوْرَةَ الْمُغَلَّظَةَ لِوُجُوْدِ حَدِيْثٍ عَامٍّ بِشَأْنِهَا.

Semua aurat perempuan halal dilihat oleh mahramnya, kecuali dua kemaluan yaitu aurat besar karena adanya hadits yang umum mengenai aurat besar tersebut.

Pernyataan Hizbut Tahrir di atas menunjukkan bahwa seorang laki-laki boleh melihat aurat mahram perempuannya selain aurat besarnya, yaitu dua kemaluan depan dan belakang. Dengan kata lain, ia boleh melihat mahram perempuannya dalam pakaian baju renang yang hanya menutupi dua kemaluannya. Dua kemaluan itulah yang diharamkan dilihat oleh mahram laki-lakinya menurut Hizbut Tahrir.

Dalam bagian lain fatwa tersebut Hizbut Tahrir mengatakan:

اَلْمُرَادُ فِي النَّهْيِ عَنْ نَظْرِ الرَّجُلِ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ ، وَالْمَرْأَةِ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ ، الْمُرَادُ مِنْهُ الْعَوْرَةُ الْمُغَلَّظَةُ ، أَيِ السَّوْءَتَانِ ، وَهُمَا الْقُبُلُ وَالدُّبُرُ ، وَلَيْسَ مُطْلَقَ الْعَوْرَةِ، أَمَّا الْمَحَارِمُ فَإِنَّهُمْ لَيْسُوْا دَاخِلِيْنَ فِي الْحَدِيْثِ، لأَنَّ آيَةَ الْمَحَارِمِ عَامَّةٌ فَيَجُوْزُ لِلأَبِ أَنْ يَكْشِفَ سَوْءَةَ وَلَدِهِ لِيُعَلِّمَهُ اْلاِسْتِنْجَاءَ، وَيَجُوْزُ لِلْبِنْتِ أَنْ تَكْشِفَ عَوْرَةَ أَبِيْهَا وَتُسَاعِدَهُ عَلىَ اْلاِسْتِنْجَاءِ وَعَلىَ اْلاِسْتِحْمَامِ.

Yang dimaksud dengan larangan laki-laki melihar aurat laki-laki, dan perempuan melihat aurat perempuan, maksudnya adalah melihat aurat besar yakni dua kemaluan, jalan depan dan jalan belakang, dan bukan aurat secara mutlak. Adapun mahram-mahram maka mereka tidak masuk dalam larangan hadits tersebut, karena ayat tentang mahram bersifat umum, sehingga seorang ayah boleh membuka kemaluan anaknya untuk mengajarinya istinja’, dan seorang anak perempuan boleh membuka aurat ayahnya dan membantunya beristinja’ dan mandi.

Dalam fatwa ini, Hizbut Tahrir membolehkan seorang laki-laki melihat aurat mahramnya dalam keadaan bugil, apakah mahram itu masih kecil maupun sudah dewasa, baik dalam kondisi darurat maupun tidak darurat. Fatwa di atas tidak dapat diarahkan pada kondisi darurat, karena Hizbut Tahrir mengakui kondisi darurat terbatas pada soal makanan ketika seseorang diyakini akan meninggal bila tidak menjamah makanan yang haram sebagaimana selebaran Hizbut Tahrir yang terbit tanggal 7 Rabiul Awal 1390 H/12 Mei 1970.

 

Status edisi Manhaj.Fatwa2 Aneh Hizbut Tahrir :- Membolehkan laki-laki berjabat tangan dengan wanita yang bukan…

Posted by Fitria Kurniawan on Wednesday, April 8, 2015

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: