MUJAHID YANG WAFAT DI ATAS KASUR

29 May

11084300_10200480268406565_3967273034594543982_n.jpg

Beliau (radhiyallahu anhu) telah menghabiskan usianya dengan berperang dan berjihad. Gelar pahlawan saja tidak cukup untuknya. Di tubuhnya terdapat sekitar 80 bekas luka sabetan pedang maupun anak panah. Seorang pemimpin sekaligus pahlawan yang selalu menjadi terdepan ketika berperang, karena seperti itulah tradisi kala itu dimana seorang pemimpin hendaknya berada di posisi terdepan ketika perang. Nyali seorang pemimpin harus lebih berani daripada prajurit2nya. Ketika seorang pemimpin memiliki sifat pengecut dan di belakang, maka musuh akan menjadi semakin besar dan mudah untuk mengalahkannya.


Itulah sifat seorang ksatria islam yang namanya selalu disebut oleh kaum muslimin selamanya. Nama yang tidak akan pernah terkubur dalam sejarah. Nama yang tidak terdapat padanya sifat pengecut dan tidak ditemukan dalam kamus dirinya. Tidak ada satupun musuh yang mampu membunuhnya, bahkan racun berbahaya sekalipun tidak kuasa untuk membunuhnya walaupun diminum olehnya. Beliau adalah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Seorang shahabat Rasulullah yg telah menghabiskan usianya untuk berperang dan berjihad menegakkan Tauhid di muka bumi. Yang selalu berharap mati syahid disetiap peperangan yg dilaluinya. Namun sayang, kematian di peperangan yang selalu beliau harapkan selalu tidak kunjung datang kepadanya. Beribu2 mil sudah beliau jelajahi untuk mencari kematian yang mulia ini yaitu syahid di medan jihad.

Namun ternyata kematian selalu menghindar darinya. Beliau tidak ingin akhir hidupnya diatas tempat tidur. Beliau selalu berharap agar akhir hidupnya berada di antara jasad2 kaum muslimin yg syahid di medan peperangan, dan dikubur bersama mereka tanpa kain kafan, cukup bersama pakaiannya yang penuh dengan darah, agar kelak dibangkitkan di hari kiamat dalam bentuk seperti itu, bersama pakaian dan darahnya yang siap menjadi saksi atasnya.

Namun Allah Maha Mengetahui segalanya. Dan Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba2Nya yang shalih. Kematian di tempat tidur mungkin lebih baik untuk Khalid bin Walid. Dan beliau berusaha menerimanya atas apa yang telah ditaqdirkan Allah untuknya. Hanya airmata dan tangisan yang bisa beliau lakukan disaat harus menerima kematian diatas tempat tidur.

Disaat menjelang wafatnya, beliau berkata, sedang air matanya tumpah membasahi wajahnya :

لقد شهدت ما ئة زحف أو زهاءها وما في بدني موضوع شبر إلا فيه ضربة أو رمية وها أنا أموت كما يموت البعير فلا نا مت أعين الجبناء وما من أعمل أرجي من (لا إ له إ لا الله ) وأنا أ تتر سها

”Aku telah ikut serta dalam berbagai pertempuran di mana. Seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan anak panah…. Kemudian inilah diriku tidak sebagaimana yang ku ingini, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta ! maka tidak akan tertidur mata orang-orang pengecut, dan tidak ada suatu amalan yang lebih ku harapkan dari kalimat Laa illaha illa Allah kecuali saya berlindung darinya.”

Itulah akhir kematian dari seorang pejuang, pahlawan Islam… Khalid bin Walid radhiyallahu anhu.

Ket : foto diatas hanya illustrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: