PANAHAN PADA MASA DAULAH ISLAMIYAH

29 May

10959720_10200272991584774_5152398520317315314_n.jpg

Sesungguhnya – sebagai skill militer, olahraga dan permainan yang mempunyai dalil yang kuat yang bisa dirunut langsung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – khasanah ilmu memanah ini sangatlah luas. Terutama di jaman Daulah Islamiyah dahulu, ilmu ini sangat berkembang didukung oleh kolaborasi antara: 1. para pakar yang menteorikan dan menulis berbagai buku Furusiyyah cabang memanah, termasuk Ibnu Qoyyim Al Jawziyah rahimahullah yang menulis Kitab Al-Furusiyyah, 2. para ahli panahan dan militer kekhalifahan/kesultanan sebagai pengguna, 3. para ulama yang mendukung dengan dalil2 Al Quran dan Hadits, 4. para pembuat dan pengrajin busur dan anak panah yang menyediakan produk2 yang berkualitas, semenjak abad 12, pusat produksi busur Daulah Islamiyah terletak di Kota Damaskus, sehingga terkenal apa disebut sebagai Busur Damaskus (Damascene Bow). Dan ilmu memanah kaum muslimin ini di jaman itu sangat terkenal dan menjadi rujukan oleh berbagai kebudayaan yang berinteraksi dengannya dari berbagai peloksok dunia.

Dan jenis busur yang digunakan oleh ummat muslim pada saat itu adalah jenis busur yang merujuk pada disain Busur Komposit Persia dan sejenisnya (turunan dan adaptasinya), sesuai dengan hadits Rasulullah yang menganjurkan agar ummat Islam mengadaptasi busur Persia, dan dengannya ummat akan menguasai berbagai wilayah dan menjaga agamanya.

Dan seperti cabang ilmu lainnya, ilmu memanah ini memiliki sanad yang bisa dirunut hingga ke jaman Rasulullah dan para sahabat. Contohnya Ibnu Qoyyim dalam Kitab Al Furusiyyah, pada pembahasan tentang panahan, beliau merujuk pada seorang pakar panahan yang bernama Abu Muhammad Abdurrahman Ath-Thabari (berbeda dengan Ibn Jarir Ath-Thabari seorang ulma ahli tafsir dan sejarah walau hidup di jaman yang sama) yang hidup di abad 9 yang menulis kitab panahan yang terkenal yang berjudul Kitab Wadih Fi’l Rami. Sedangkan Ath-Thabari ini merujuk pada para pakar mazhab panahan sebelumnya yaitu Ishaq Ar-Raqqi (abad 9 awal)), Tahir Al Balkhi (abad 8 akhir) serta Abu Hashim Al Mawardi (abad 8 awal). Dan dari para pakar yang tiga ini, ilmu panahan bisa dirujuk lagi hingga ke para sahabat ahli memanah seperti Abu Thalhah radhiyallahuanhu dan Saad bin Abi Waqqas radhiyallahuanhu.

Yang menarik adalah, kitab2 panahan ini sangat syarat dengan ilmu2 keagamaan di mana, biasanya 2 bab pertama selalu menjelaskan tentang dalil2 Al Quran dan hadits tentang pentingnya panahan serta peran panahan dalam jihad.

Hingga panahan mulai tergantikan oleh senjata api di abad 17-18, terhitung ratusan kitab tentang panahan yang beredar di wilayah Daulah Islamiyah yang statusnya berubah menjadi olah raga dan permainan yang dianjurkan, dan mungkin ada beberapa kitab yang sampai ke wilayah Nusantara.

Lalu bagaimana ilmu ini bisa hilang dari kaum muslimin? Jawabannya adalah ketika jaman penjajahan Bangsa Eropa ke berbagai wilayah, mereka menghancurkan dan menyita berbagai artefak busur peninggalan ummat terdahulu serta mengambil kitab2 panahan untuk dibawa ke negerinya masing2. Saya pribadi pernah melihat langsung kitab2 tersebut tersimpan di British Library di London, termasuk kopian dari kitab Ibnu Qoyyim yang berjudul Al-Furusiyyah. Walaupun ada beberapa kitab yang terselamatkan yang saat ini tersimpan di Istanbul Turki, serta Madinah. Kitab yang menceritakan panahan di Jawa pun ada yang tersimpan di perpustakaan universitas leiden di Belanda.

Lalu orang2 barat ini mempelajari ilmu panahan dan busur dari kitab2 tersebut yang dipadukan dengan ilmu memanah tradisi mereka sendiri hingga terus dikembangkan menjadi yg kita kenal sebagai panahan modern saat ini. Yang kemudian diperkenalkan kembali kepada kita di jaman ini sebagai olahraga, namun dengan melepaskan aspek2 keagamaannya.

Jadi, sesungguhnya mau belajar panahan modern atau klasik yang bersumber dari kitab2 masa lalu sesunggunnya semuanya itu berasal dari aspek2 tradisi panahan Daulah Islamiyah di masa lalu. Tinggal masing-masing memilih mana saja yang lebih mudah akses terhadap alat dan pelatih serta tentunya mana yg lebih menyenangkan hatinya.

Copas dari penjelasan Akh Irvan Pani Abu Aqilah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: