SHALAT ANTI MAINSTREAM YANG PERNAH KAMI LAKUKAN

29 May

11159524_10200517873426667_689766000106463272_n

Shalat anti mainstream yg dibolehkan yg pernah kami lakukan :

1. Kami pernah beberapa kali shalat sambil memakai alas kaki (sandal, sepatu, kaos kaki, atau lainnya) di tempat2 tertentu.

2. Kami sudah terbiasa shalat langsung di atas lantai (tanpa alas, seperti sajadah, kain, atau lainnya), begitu juga di atas tanah, rerumputan, batu2an, atau lainnya, baik ketika shalat di rumah maupun di luar.


3. Kami selalu menjamak (mengumpulkan 2 shalat menjadi 1 waktu) dan mengqashar (meringkas yg 4 rakaat menjadi 2 rakaat) shalat ketika safar, dan hampir tidak pernah menyempurnakan shalat, kecuali jika harus bermakmum kepada imam yg mukim.

4. Kami pernah shalat (fardhu atau sunnah) dengan menjaharkan (mengeraskan) semua bacaan (termasuk bacaan/dzikir ketika ruku, sujud, tahiyat, dll) bahkan disaat shalat yg sirr seperti zhuhur, ashar, agar di dengar oleh makmum, dengan alasan atau sebab tertentu. Salah satunya utk pengajaran ke keluarga (anak) atau murid.

5. Kami juga sering menyuruh ke keluarga (anak) atau murid untuk menjaharkan (mengeraskan) semua bacaan shalatnya (walaupun itu shalat zhuhur atau ashar) agar bisa didengar dan dikoreksi oleh kami, selama bukan shalat di masjid, dan bukan sebagai makmum.

6. Kami biasa menyempurnakan shaf ketika sedang (di dalam) shalat jika ada orang di sebelah kami yg shafnya tidak sempurna, seperti tidak menempelkan kaki, tidak lurus, menjauh, berada di posisi yg salah, atau lainnya, dengan cara menarik orang tsb, atau mendekatinya, atau menepuk badannya, dan semisalnya, selama kita tau tidak ada dampak mudharat dgn sebab itu (yg menyebabkan orang itu menjadi marah atau bermusuhan). Biasanya kami melakukannya ke keluarga atau kawan dekat, atau juga anak2.

7. Kami juga biasa menegur seseorang yg salah dalam shalatnya disaat kami sedang shalat. Cara menegurnya dengan gerakan badan (tanpa ucapan) seperti menepuk badannya, atau menginjak sedikit kakinya agar dia sadar/tau yg dilakukannya adalah salah. Biasanya kami melakukannya ke anak2 yg bercanda di dalam shalat, tidak serius/bersungguh2 ketika shalat. Dengan begitu anak2 tsb akan merasa selalu diawasi walaupun sedang shalat.

8. Kami juga pernah berjalan ketika shalat utk hajat yg sangat dibutuhkan, selama tidak menimbulkan gerakan yg banyak. Seperti berjalan sedikit utk membukakan pintu, bergeser utk memberi jalan agar orang lain bisa lewat, mengisi shaf yg terbuka atau menyempurnakannya, dll.

9. Kami juga kadang mempercepat shalat dari biasanya dalam kondisi2 tertentu. Biasanya kami cukup melakukan hal2 yg fardhu dan wajib dalam shalat saja, dan meninggalkan hal2 yg disunnahkan spt tidak membaca surah setelah membaca al fatihah, dll. Kondisi ini jika memang diperlukan, seperti khatib sudah berkhutbah, kajian sudah dimulai, ditunggu tamu/kawan, shalat 2 rakaat fajar (sebelum shalat shubuh), anak menangis, dll.

10. Kadang kami juga melaksanakan shalat witir langsung setelah selesai melaksanakan shalat isya, jika khawatir kami tidak mampu mengerjakannya sebelum shalat shubuh.

11. Kami juga pernah shalat sambil menggendong anak, jika dibutuhkan.

12. Kami pernah shalat sambil duduk dan berbaring dalam kondisi2 tertentu (seperti sakit atau di dalam kendaraan).

13. Kami pernah jadi pemborong masjid. Dalam 1 waktu kami yg adzan sendiri, kmd iqamat sendiri, kmd jadi imam sendiri dan jadi makmum sendiri.
Maksudnya karena tidak ada jamaah lain di masjid kecuali kami sendirian.

14. Kami pernah shalat sambil membaca mushaf/alquran. Caranya dengan memegang mushaf disaat kami berdiri (jika kondisi kami sebagai imam).

15. Kami pernah shalat sebagai makmum, sedangkan antara makmum yg satu dengan yg lainnya ada yg saling berhadap2an (bertemu muka). Jadi di hadapan kami ada makmum (sama 1 imam) yang badannya juga menhadap ke kami, dan kami bisa saling bertatap wajah.
Bingung???
(Jawabannya nanti kalo ada yg masih bingung).

16. Kami (laki2) juga pernah shalat sebagai makmum, sedangkan makmum perempuan ada yg mengambil posisi tepat bersebelahan dengan kami (disamping). Padahal seharusnya makmum perempuan posisinya dibelakang makmum laki2. Namun kondisi ini masih dibolehkan.
Bingung???
(Jawabannya nanti kalo ada yg masih bingung).

– Bersambung insya allah-

Ket :
– Penggunaan kata ‘kami’ dimaksudkan bahwa pelaku tidak hanya ana sendiri, bisa dari keluarga, kawan atau.saudara.
– Khusyu’nya shalat bukan berarti harus diam (tidak bergerak), tidak memikirkan apa2. Khusyunya shalat bisa dinilai dari ittiba’nya dia terhadap Sunnah. Sedangkan Rasulullah adalah manusia yg paling khusyu shalatnya, namun kadang2 beliau juga bergerak dalam shalat, atau lainnya.

Wallahu a’lam.

(Foto diatas hanya illustrasi)

 

Shalat anti mainstream yg dibolehkan yg pernah kami lakukan :1. Kami pernah beberapa kali shalat sambil memakai alas…

Posted by Fitria Kurniawan on Thursday, April 23, 2015

 

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: