AKHWAT BELAJAR TAJWID KE IKHWAN

30 May

11201887_10200540277106745_2220267824056769606_n.jpg

Akhwat atau ummahat kalo mau cari guru tajwid, mbok ya cari guru yg sama2 akhwat, insya Allah banyak koq akhwat yg pintar tajwidnya. Jangan malah nyarinya yg ikhwan, apalagi yg masih muda dan ganteng…hadeeuuhhh….entar malah gak konsen belajarnya. Gak peduli dia itu ustadz terkenal atau ustadz kampung, krn mereka juga manusia seperti kita, yg kadang keimanannya bisa naik turun.

Jika dijawab : walaupun kami belajar ke guru tajwid yg laki2, tapi kami belajarnya dibalik hijab atau ada pemisahnya, dan kami tidak saling melihat.


Ana tanggapi : emang bisa belajar tajwid tanpa talaqqi (berhadapan langsung)? Seandainya bisa, maka itu manfaatnya sangat sedikit. Makanya para ulama sangat menekankan utk belajar tajwid secara talaqqi atau saling berhadapan.

Gimana caranya si guru mengetahui lahn (kesalahan) membaca si murid jika tidak saling berhadapan? Bagaimana caranya si guru mengetahui gerakan bibir atau lidah si murid ketika belajar makharijul dan sifat huruf? Padahal itu perkara yg penting dalam belajar tajwid. Bacaan yg seharusnya mulut dimonyongkan, tapi tidak dilakukan murid maka itu termasuk kesalahan dalam tajwid. Maka itu tidak cukup belajar tajwid hanya melalui metode pendengaran saja.

Coba bayangkan seandainya gurunya laki2 dan muridnya akhwat, cantik lagi…kemudian si guru memperhatikan dengan seksama gerakan2 bibir dan lidah si akhwat tatkala membaca huruf2, ditambah lagi suaranya yg merdu dan lembut didengar…belum wajahnya yg cantik dan putih, bahkan kecantikannya adalah sesuai idamannya atau lebih cantik dari istrinya (jika si guru sudah beristri)…apa yg akan terjadi??
Hehe…mereka juga manusia seperti kita, bukan malaikat.

Maka itu bagi akhwat atau ummahat usahakan kalo cari guru tajwid yg sama2 akhwat aja…lbh aman dan terhindar dari fitnah insya Allah…
Sangat berat sekali menjaga hati ini dari fitnah wanita..

Lihatlah perkataan para ulama2 salaf terdahulu mengenai hal ini…

Berkata Imran bin Abdullah al-Khuza’iy : berkata Said bin Musayyab: Tidaklah aku mengkhawatirkan diriku terhadap sesuatu sebagaimana khawatirku terhadap(fitnah)wanita !” maka para murid-muridnya berkata:”Wahai Abu Muhammad bukankan orang dalam usia seperti anda sekarang tidak lagi berhajat kepada wanita dan tidak pula digemari wanita?! Maka Sa’id menjawab:” itualah unggkapanku (yang jujur) kepada kalian”, padahal ketika itu dia telah tua renta dan buta(siyar 4/241).

Berkata Ali bin Zaid: Berkata Said bin Musayyab kepada kami-padahal ketika itu ia telah berusia delapan puluh empat tahun dan telah buta sebelah matanya dan dia melihat hanya dengan yang sebelahnya: tidak ada yang kukhawatirkan terhadap diriku sebagaimana kekhawatiranku terhadap fitnah wanita”. (siyar 4/ 237)

Berkata Said bin Mussayyib:” Tidak lah syaitan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya)dengan wanita. (siyar 4/237).

Berkata Atho’ bin Abi Rabah rahimahullah : “Jika aku diamanahi untuk menjadi penjaga baitul mal maka aku yakin akan mampu menjaga amanah, namun aku tidak pernah merasa aman dari (fitnah wanita) sekalipun terhadap seorang budak wanita hitam yang jelek.(Siyar 5/87).

Berkata Abu Al-Malih:” aku pernah mendengar Maimun bin Mihran berkata:”Jika diperintahkan untuk menjaga Baitul mal lebih kusuka daripada diamanahi manjaga seorang wanita”. (siyar/ 77).

 

Akhwat atau ummahat kalo mau cari guru tajwid, mbok ya cari guru yg sama2 akhwat, insya Allah banyak koq akhwat yg…

Posted by Fitria Kurniawan on Wednesday, April 29, 2015

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: