KOQ SHALATNYA LAMA? (DIALOG)

30 May

18720_10200754471661475_382701956008141691_n

Ikhwan A : “Ana pernah menjumpai beberapa imam shalat tarawih, ketika ruku atau sujud koq lama sekali? Lamanya bisa 1 menit atau hampir lama dengan berdirinya. Beda dengan tetangga sebelah yg 1 menit itu bisa selesai shalat 2 rakaat. Itu kenapa ya? Apa yg membuatnya lama seperti itu?”

Ikhwan B : “Karena memperpanjang ruku atau sujud juga ada sunnahnya.
Seperti hadits dari Hudzaifah radhiyallahu anhu yg menerangkan sifat shalat malamnya Rasulullah,
“…Kemudian, beliau pun ruku’, beliau pun mengatakan, “سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ” (artinya: “Maha Suci Rabbku yang Maha Agung”). Dan adalah (lama) ruku’nya hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau berucap, “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ“. Kemudian beliau pun berdiri panjang, hampir sama dengan ruku’nya. Kemudian beliau pun sujud, dan berkata, “سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى“. Dan adalah (lama) sujudnya hampir sama dengan berdirinya.” (H.R. Muslim)

Jangan sampai juga seperti tetangga sebelah yg ngotot shalat tarawih yg sunnah itu 11 rakaat, lebih dari 11 rakaat maka ga sunnah. Mereka hanya mengambil sunnahnya dari bilangannya saja, sedangkan sunnah tata caranya seperti sunnah bacaannya atau sunnah lamanya, dll tidak mereka ambil. Karena kalo benar2 mau nyunnah shalat tarawih seperti Nabi, maka tidak hanya mengikuti hanya dari jumlah bilangannya saja, tapi jg mengikuti dari tata caranya, bacaannya, lamanya, dsb. Ini hanya sindiran utk orang2 yg ngotot kalo shalat tarawih yg benar itu yg 11 rakaat, sdgkan lebih dari itu maka tidak benar atau salah. Terkecuali jika dia tidak ngotot seperti itu, tidak menyalahkan orang2 yg shalat tarawihnya lebih dari 11 rakaat, maka silahkan saja terserah mana yg mau diamalkan. Lha wong orang yg gak shalat tarawih sekalipun maka boleh2 saja karena hukum shalat tarawih bukanlah wajib (jika tidak dikerjakan maka berdosa).

Ikhwan A : “Bukan itu maksud pertanyaan ana. Yg ana maksud, kalo memang itu ada sunnahnya, jika menemui imam yg rukunya lama sekali, apa yg harus ana lakukan?”

Ikhwan B : “Ya sama tetap membaca dzikir2 yang dianjurkan selama ruku.”

Ikhwan A : “Ana sudah membaca dzikir ruku seperti
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ
Subhanaa robbiyal ‘azhim…
sebanyak 3x. Tapi setelah itu diam sampai imam bangun dari ruku.”

Ikhwan B : “Kenapa setelah itu antum diam? Antum baca aja terus dzikir itu berulang2 sampai imam bangun dari ruku. Jangan sampe diam dalam shalat.”

Ikhwan A : “Lha bukannya yg dianjurkannya hanya dibaca 3x saja? Seperti yg tertulis di buku2 ttg tata cara shalat.”

Ikhwan B : “Tidak hanya 3x saja, tapi boleh dibaca berulang2 sampai imam bangun dari ruku. Dzikir tsb (Subhanaa robbiyal ‘azhim) termasuk dari Wajib shalat, jangan sampai tidak dibaca. Wajibnya dibaca 1x, kalo tidak dibaca maka shalat kita tidak sempurna atau cacat karena telah meninggalkan yg wajib, adapun sunnahnya bisa dibaca 3x atau lebih atau terus diulang2.

Sedangkan anjuran tiga kali disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud,

إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ فِى رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Jika salah seorang di antara kalian ruku’, maka ia mengucapkan ketika ruku’nya “Subhanaa robbiyal ‘azhim (artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung)”, dibaca sebanyak tiga kali.”
(HR. Tirmidzi no. 261, Abu Daud no. 886 dan Ibnu Majah no. 890. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits dengan penyebutan membaca tiga kali seperti ini diriwayatkan oleh tujuh orang sahabat. Namun boleh-boleh saja membaca dzikir tersebut lebih dari tiga kali. (Lihat Shifat Shalat Nabi, hal. 115).

Ikhwan A : “Oh…ana ga tau kalo dzikir itu boleh dibaca lebih dari 3x. Baiklah kalo begitu, mulai saat ini ana mau membaca berulang2 selama ruku.”

Ikhwan B : “Kalo bisa ditambah bacaan dzikir yang lain, jangan itu saja.”

Ikhwan A : “Memang ada lagi bacaan yg lain ketika ruku?”

Ikhwan B : “Ya ada…banyak. Antum bisa membaca dzikir2 yg dianjurkan, bisa juga memperbanyak doa selama ruku. Yang tidak boleh adalah membaca Al Quran ketika ruku dan sujud.”

Ikhwan A : “Dzikir2 yg dianjurkan ketika ruku apa saja? Yang ada dalil shahihnya ya…”

Ikhwan B : “Antum membaca seperti yg di hadits.
Ketika ruku’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

“Subhanaa robbiyal ‘azhim (artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).” (HR. Muslim no. 772).

Atau boleh membaca dengan “subhana robbiyal ‘azhimi wa bihamdih”.

Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir disebutkan mengenai bacaan Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ruku’,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

“Subhanaa robbiyal ‘azhimi wa bi hamdih (artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung dan pujian untuk-Nya).” Ini dibaca tiga kali.
(HR. Abu Daud no. 870. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al Albani dalam Shifat Shalat Nabi, hal. 115. Kata Syaikh Al Albani hadits ini diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthni, Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Baihaqi).

Setelah itu boleh membaca bacaan lainnya, “Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii”.

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِى رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى » يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak membaca ketika ruku’ dan sujud bacaan, “Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku)”. Beliau menerangkan maksud dari ayat Al Qur’an dengan bacaan tersebut.”
(HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).

Atau juga bacaan ini,

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

“Subbuhun qudduus, robbul malaa-ikati war ruuh (artinya: Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -yaitu Jibril-).”
(HR. Muslim no. 487).

Semua bacaan2 itu boleh dibaca berulang2. Boleh juga ditambah dengan doa2 yg kita mau.

Ikhwan A : “Baiklah, nanti mau ana hafalkan dan amalkan dzikir2 tersebut.”

Ikhwan B : “Yang perlu diingat, diawal antum tetap membaca dzikir ‘Subhanaa robbiyal ‘azhim’ karena itu termasuk dari Wajib shalat, jangan ditinggalkan.”

Ikhwan A : “Siap boss! Jazakallah khair atas ilmunya.”

(Dialog ini terinspirasi dari kisah nyata)

Oleh: Abu Fahd Negara Tauhid.

 

 

Ikhwan A : "Ana pernah menjumpai beberapa imam shalat tarawih, ketika ruku atau sujud koq lama sekali? Lamanya bisa 1…

Posted by Fitria Kurniawan on Sunday, June 28, 2015

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: