MENDAKI BARENG JOMBLO

30 May

11407300_10200695524267827_1942349267255506290_n.jpg

Ada perasaan senang ketika ana melakukan perjalanan dengan mereka.
Dalam setiap langkah kami, ana selalu memperhatikannya.
Dari 21 orang kawan perjalanan, 11 orang dari mereka adalah Jomblo.
Tapi mereka adalah jomblo yg memiliki keistimewaan dari yg lain.

Mereka lebih memilih jomblo daripada harus berpacaran dengan wanita yg belum halal utknya.


Mereka masih memiliki rasa malu untuk mendekati wanita2 yg belum halal baginya, rasa malu karena iman mereka. Dan ana yakin, suatu saat nanti mereka cukup merasakan pacaran setelah menikah dgn wanita yg halal baginya, insya Allah.
Mereka juga jomblo yg tidak punya rasa cinta dan tidak punya kepedulian terhadap musik, dimana saat ini musik malah menjadi racun2 bagi para jomblo. Cukuplah bagi mereka mencintai Alquran yg berisi kalam2 Allah. Bahkan ketika kami berada di puncak Mahameru di ketinggian 3676 mdpl, masih ada dari mereka yg menyempatkan diri membaca Alquran…Subhanallah…


Begitu juga ketika masuk sepertiga malam terakhir, disaat kami banyak yg tertidur dan kedinginan di dalam tenda, ada dari mereka yg menyempatkan waktunya utk membaca Alquran. Sehingga suasanan saat itu terasa indah bagi kami.


Mereka juga jomblo yg selalu menjaga dan memperhatikan penampilan2 mereka, serta punya rasa tanggung jawab besar terhadap Islam, tidak mau sedikitpun mereka menampakkan aurat (terlihat paha) karena rasa malu mereka, dan juga tidak mau sedikitpun menjulurkan celana mereka di bawah mata kaki karena sengaja. Rasa cemburu mereka terhadap islam sangat besar walaupun mereka masih jomblo2 muda.
Tanggung jawab terhadap kebersihan, tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban membuat ana kagum dengan mereka. Tidak kami tinggalkan sampah sedikitpun di gunung, kecuali yg tersisa hanyalah jejak2 langkah kami.


Ketika masuk waktu shalat, yg pertama kali diperhatikan oleh mereka adalah shalat, walaupun kala itu kondisi sangat berat bagi kami utk shalat krn dinginnya cuaca dan sulitnya berwudhu. Tapi rasa semangat mereka mengalahkan hawa nafsunya. Ana yakin mereka bukanlah jomblo2 yg selalu kesiangan dan terlambat utk shalat Shubuh berjamaah di masjid.

Ini yg membuat ana senang berpetualang dengan mereka. Disaat sebagian orang mengkambing hitamkan mendaki gunung, disaat sebagian orang mencari2 kesalahan ttg mendaki gunung, disaat sebagian orang tidak suka dan alergi dengan mendaki gunung, justru kami malah semakin mencintainya, karena apa yg kami alami dan lakukan tidak seperti apa yg mereka sangka. Banyak manfaat yg kami dapat dari mendaki gunung. Benarlah apa yg dijadikan pepatah : Tak kenal maka tak sayang.
Kadang seseorang tidak menyukai sesuatu karena orang tsb belum mengenalnya. Tangan di dalam air tidak bisa merasakan tangan diatas api.

Keterangan : Foto ketika perjalanan menuju gn.Ayek2 (Semeru).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: