SAHUR DI BUI (EPISODE 153 MALAM)

30 May

11391317_10200736648615910_22198584388842382_n.jpg

Ketika memasuki waktu sahur, kadang ana teringat waktu masih di dalam tahanan sekitar 2 tahun yg lalu. Saat itu memang bukan bulan Ramadhan, tapi ada sebagian dari para tahanan yg konsisten mengamalkan puasa sunnah.

Kondisi yang memaksa kami menjadi pemulung di dalam tahanan dan harus menghadapi ujian serba kekurangan dalam segalanya. Kami hanya diberi jatah makan 3x sehari, yaitu sarapan yg seadanya berupa 2 buah gorengan dan teh hangat yg ditaruh di dalam plastik, kemudian makan siang dan makan malam dengan porsi yg tidak begitu banyak.


Disinilah kami berpikir bagaimana caranya agar bisa sahur dengan jatah makanan seperti itu. Akhirnya kami mengambil inisiatif utk memakan setengah dari jatah makan malam kami. Padahal sebenarnya jika makan full saja jatah makan malam kami tidak membuat kami kenyang. Namun agar kami bisa sahur esok paginya, mau tidak mau kami hanya makan setengah jatah makan malam, adapun sisanya kami simpan untuk sahur. Terlihat makanan yg kami sisakan untuk sahur tinggal bebrp suap saja, sangat sedikit sekali, sekitar 5 suapan saja. Tapi ini sangat berharga bagi kami, sekaligus menjadi semangat kami untuk mengamalkan sunnahnya makan sahur.

Esok paginya ketika hendak sahur, kami semua berkumpul sambil membawa sisa makanan kami semalam. Kami kumpulkan makanan itu agar bisa dimakan bersama2. Namun sebelum itu, kami mendatangi box atau piring2 para tahanan yang tertumpuk di sudut kamar tahanan bekas makanan semalam. Kami berharap siapa tahu kami bisa mendapatkan sisa2 makanan mereka utk makan sahur kami. Dan alhamdulillah kami masih mendapatkan sisa2 makanan mereka yg masih menempel di box atau piring2 tersebut. Kami ambil sisa makanan tsb dan kami kumpulkan jadi satu, hingga semua box atau piring2 tsb bersih dari sisa makanan. Tidak banyak sisa makanan yg kami dapati, namun setidaknya itu bisa menambah jatah sahur kami. Barulah kemudian kami memulai sahur dari makanan yang berhasil kami kumpulkan. Adapun untuk berbuka, kami memakannya dari jatah sarapan pagi dan makan siang kami. Cukup untuk mengenyangkan perut2 kami.

Kadang karena sulitnya hidup, seseorang tidak mempedulikan rasa gengsi atau malunya. Mereka cukup berpikir bagaimana bisa bertahan hidup walaupun harus terhina atau mengorbankan rasa malunya. Disinilah ana menyadari betapa berharganya nikmat2 Allah, sehingga dengan nikmat tsb bisa menjadikan seseorang menjadi mulia dan terhormat. Kondisi kami saat itu tidak butuh kehormatan dan pujian dari orang lain. Yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana bisa bertahan hidup agar bisa tetap beribadah dan menjalani kewajiban kpd sang Khaliq, Allah Tabaraka Wa Ta’ala.

Walaupun kondisi makan sahur kami seperti ini, harus menjadi seorang pemulung, tapi ini juga merupakan nikmat dan rizki dari Allah. Kadang Allah juga memberi rizki lebih kepada kami. Ada kalanya ada seorang tahanan yg berbaik kepada kami memberi sebungkus mie instant agar bisa dimakan oleh kami. Walaupun sebungkus mie instant itu untuk dimakan 4 orang. Jika mie instant yg harganya 2rb rupiah menjadi barang berharga di dalam tahanan, bagaimana halnya makanan2 lain yg harganya lebih mahal dari itu? Bahkan sekedar mie instant saja sangat sulit kami dapatkan disini.

Kehidupan prihatin seperti ini yg menjadi pengalaman yg sangat berharga bagi kami. Ingin rasanya hati ini menangis jika ingat masa2 itu, disaat kehidupan sekarang jauh lebih baik dan merasa berkecukupan, semuanya sudah mudah untuk didapat. Mau makan mie instant semudah membalikkan telapak tangan, tinggal beli ke warung sebelah, mau beli satuan bahkan 1 karton sekaligus mampu. Namun nikmat yg seperti ini kadang sering membuat kita lupa dan lalai. Karena di tempat lain, masih banyak saudara2 kita yang sangat kesulitan hanya untuk mendapatkan 1 bungkus mie instant seharga 2rb rupiah, 1 buah gorengan untuk 3 orang, 1 gelas kopi hangat utk 5 orang, semua pemandangan2 seperti ituz sudah pernah kami lihat. Adapun kita, kadang kita tidak peduli dengan makanan seperti itu, bahkan makanan yg mahal sekalipun.

Inilah pentingnya rasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat2 yg telah diberikan-Nya untuk kita. Kelebihan nikmat dan harta yg kita dapatkan bisa mendorong kita utk memanfaatkan sebaik2nya, walaupun hanya sebungkus mie instant.

Ana masih ingat wajah sahabat2 ana yg duduk bersama ketika sahur itu. Kondisi sulit seperti itu tidak membuat kami sedih atau menangis, justru kami tertawa dan saling bercanda. Wajah2 mereka masih menempel dalam ingatan ana. Tapi ana tidak tau lagi bagaimana keadaan mereka sekarang. Yang ana tau, ada beberapa dari mereka.yg sudah merasakan dunia luar karena hukumannya tidak lama. Ada juga yg saat ini masih di dalam dan belum merasakan dunia luar walaupun sudah 2 tahun lebih berlalu, karena mereka mendapat hukuman yg panjang, lebih dari 10 tahun penjara.

Pengalaman adalah guru kita dan ilmu yg berharga. Dengan pengalaman seseorang akan mampu untuk melangkah ke depan tanpa keraguan lagi. Maka bersyukurlah kepada Allah yg telah byk memberi kita nikmat dan ilmu yg bermanfaat.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

 

SAHUR DI BUI (EPISODE 153 MALAM)Ketika memasuki waktu sahur, kadang ana teringat waktu masih di dalam tahanan sekitar…

Posted by Fitria Kurniawan on Monday, June 22, 2015

 

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: